
"Tolong maafkan saya Mbak. Saya mencintai Mas Alvi." Navya berlari mendekati Alvi yang berdiri di samping Diana.
"Mas, saya benar-benar mencintai Mas Alvi. Jangan pergi Mas."
"Maaf Navya, saya memang pernah mencintai kamu. Tapi saya tidak bisa, kamu sudah membuat saya kecewa, saya menunggu kamu cukup lama, melakukan semuanya demi kamu. Sekarang sudah terlambat."
"Kamu harusnya tau diri, Alvi sudah memilih aku. Kami sudah menikah." Diana merangkul lengan Alvi dengan erat.
"Seandainya kamu mengatakan saat sebelum semuanya terjadi, mungkin saya akan pertimbangkan lagi."
"Itu artinya Mas masih mencintai saya kan."
"Iya Alvi memang mencintai kamu, tapi sekarang sudah terlambat. Kami sudah sah menjadi suami istri, kamu jangan pernah mengganggu pernikahan kami. Jangan muncul di hadapan suamiku lagi." Diana menolak bahunya dengan kasar.
"Tidak, tolong, jangan... Berikan saya kesempatan." Dia memeluk Alvi, tidak membiarkan pria itu pergi bersama istrinya.
"Hei, Navya. Sadar.."
"Tidak, jangan pergi Mas, tolong jangan pergi. Jangan tinggalkan saya sendiri." Sementara Alvi mencoba melepaskan pelukan Navya di tubuhnya.
"Navya .... Hei.... Navya... Bangun..." Navya merasa ada yang menepuk-nepuk pipinya, lalu dia membuka mata perlahan, merasa aneh dengan situasi yang terjadi. Pemandangan sangat berbeda dengan apa yang terlihat sebelumnya. Dia ada di kamarnya. Melihat ada dua orang yang ia kenal sedang berdiri di dekat tempat tidur nya.
"Saya ada di sini, belum pergi." Alvi tersenyum geli, posisinya masih dipeluk oleh Navya. Suaranya membuat gadis itu menjerit dan refleks mendorong tubuh Alvi dari pelukan. Untung saja tubuh Alvi bisa menopang jadi dia tidak terjatuh dari tempat tidur.
Sementara Elma dan Pak Hendra yang masih berada di dalam ruangan mengulum senyum melihat tingkah Navya. Dia malu sendiri karena melihat mereka bertiga ada di kamarnya. Melihat dia sedang mengigau dalam mimpinya.
Aaaaa... bagaimana ini. Ada dengan ku, kenapa aku mimpi begitu sih.
"Kamu sudah baikan? Kamu pingsan tadi setelah pulang kuliah." Suara Alvi membuat dirinya menoleh pada pria itu.
Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Langit sudah gelap rupanya. Itu artinya dia pingsan cukup lama.
"Sssshhhh..." Dia memijit pelipisnya, masih terasa pusing di kepalanya. Bukan sakit yang di buat-buat karena dia sedang malu.
"Kamu masih pusing?" Mengangguk tapi tidak berani menatap Alvi lagi. Pria itu mengerti kalau Navya sedang menahan malu. Dia menoleh pada Pak Hendra dan Elma yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
"Tinggalkan kami berdua."
"Baik Mas." Hendra menunduk lalu berjalan ke arah pintu.
"Vy, aku pulang dulu. Saya permisi Tuan." Alvi mengangguk, menjawab Elma.
Navya menoleh juga akhirnya. "Terimakasih sudah mengantarku kak." Elma hanya tersenyum, lalu keluar dari kamar Navya setelah menundukkan kepalanya pada Alvi.
__ADS_1
"Makanlah dulu, ini sudah malam. Tadi kata Elma, kamu sudah pusing sejak di kampus. Apa kamu tidak sarapan tadi pagi?" Dia menggeleng.
Alvi menghela nafasnya berat. Dia mengambil piring berisi makanan dari atas meja lalu memberikan pada Navya. Gadis itu masih tidak mau melihat Alvi, matanya menatap ke arah lain saat menerima piring yang di sodorkan Alvi. Pria itu terkekeh.
"Kenapa tertawa?" Navya mengangkat wajahnya melihat Alvi, Sementara Alvi langsung merubah mimik wajahnya dan menggeleng cepat.
"Tidak, siapa yang tertawa. Saya hanya mengkhawatirkan kamu. Tadi Pak Hendra mengabari saya kalau kamu pingsan setelah turun dari mobil Elma."
"Jadi Mas datang ke sini karena saya pingsan?"
"Tidak juga sih, saya memang sudah di jalan menuju ke sini." Kecewa dia, wajahnya berubah masam.
"Ooh... benar juga, sudah jam pulang kantor."
Hahaha.. Bodohnya aku, masih berharap dia khawatir padaku.
"Kamu masih pusing? Atau saya panggilkan dokter saja ya?" Mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Menggeleng. " Tidak usah, Saya minum obat saja."
"Hhmmm.. baiklah. Setelah makan jangan lupa minum obatnya." Menunjukkan obat di atas meja yang tadi disiapkan oleh Hendra.
"Mas?" Alvi yang sudah akan beranjak, tertahan karena Navya memanggilnya.
"Tolong lupakan apa yang terjadi tadi." Navya bicara sambil menunduk malu, tidak berani menatap Alvi.
"Karena kamu memelihara saya tadi?" Sambil tertawa, dia sedang menggoda gadis itu.
" issshhhh... harus ya disebutkan?" Alvi tertawa lagi, membuat Navya makin malu.
"Kenapa minta maaf? Kamu kan hanya bermimpi. Siapa yang bisa mengatur dia akan bermimpi seperti apa ketika tidur. Itu bukan masalah, tidak usah dipikirkan."
"Terimakasih Mas."
"Lagipula saya tidak tau apa yang kamu mimpikan. Memang nya apa yang terjadi di mimpi kamu?" Alvi tersenyum menggoda Navya lagi.
"Hah??" Jadi panik dia.
"Tidak ada kok. Saya cuma lapar tadi." sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Tapi kamu tadi seperti takut di tinggal pergi oleh seseorang."
"I..iya itu.. kan saya sedang lapar. Jadi saya mau beli bakso, tapi tukang baksonya sudah akan pergi."
__ADS_1
Alvi tersenyum. Navya terlihat lucu kalau sedang bingung begini. Siapapun tidak akan percaya dengan jawabannya, anak kecil mungkin bisa ia bohongi tapi tidak dengan dirinya. Alvi hanya tersenyum saja, pura-pura percaya walaupun Navya juga tau kalau Alvi tidak akan semudah itu percaya.
Terserahlah dia percaya atau tidak, kalau dia memang tidak tau aku bermimpi apa itu lebih baik kan.
"Tolong jaga kesehatan kamu ya, saya sudah sering bilang kan, saya tidak akan pernah memaafkan diri saya kalau sampai terjadi apa-apa dengan kamu."
"Iya Mas. Maaf." Alvi bangun dari duduknya, berdiri dan mengusap kepala Navya.
"Ya sudah. Kamu habiskan makanannya, minum obat lalu istirahat. Saya keluar dulu." Lalu melangkah meninggalkan kamar Navya.
Membuat gadis itu terpaku. Dia menyentuh kepalanya yang di usap oleh Alvi tadi. Ada guratan sedih di wajahnya. Sebentar lagi tidak akan seperti ini, Alvi tidak akan pernah perhatian lagi padanya.
Tapi beberapa detik kemudian dia mengingat lagi mimpi konyol nya tadi. Memukul pelan kepala nya dan menyesali perbuatannya.
"Hiiiii apa sih. Kok aku bisa mimpi begitu. Tapi kan tadi dia bilang, dia tidak tau aku mimpi apa, itu artinya aku tidak sampai menyebutkan namanya kan. Tapi kalau dia bohong bagaimana, berarti Kak El dan pak Hendra juga mendengar.
Aaaaa.... pokoknya aku malu sekali. Tadi aku bahkan memeluk Mas Alvi. Di depan kak El dan Pak Hendra juga...." Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu merenung lagi sambil menggigit sendok di mulutnya. Kalau menggeleng lagi mengingat mimpi anehnya.
Tanpa Navya sadari, sepasang mata sedang tersenyum lucu melihat tingkahnya dari balik pintu.
Sampai kapan kamu akan menyembunyikan perasaan kamu Navya.
***
"Saya tidak mau ini terulang lagi!" Alvi marah sekali saat mengetahui Navya pingsan. Dia panik dan langsung ngebut menuju rumah nya. Sebenarnya tadi dokter sudah memeriksanya, tapi Alvi sengaja tidak memberitahu Navya. Asam lambung gadis itu kambuh lagi tapi tidak separah saat Alvi membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang Navya tidak boleh setres dan harus menjaga pola makannya dengan baik.
"Maafkan kami." Neni dan Hendra menunduk, menyesal karena mereka kecolongan tadi pagi. Navya pergi ke kampus dan tidak menyentuh sarapannya, tanpa diketahui oleh mereka.
"Persiapan penebangan mereka setelah keadaan Navya lebih baik. Saya akan berangkat besok siang bersama dengan Nenek."
"Baik Mas."
"Neni, perhatikan nutrisi Navya selama beberapa hari ini sebelum keberangkatan."
"Baik Mas. Akan saya tidak akan melakukan kesalahan lagi."
"Pak Hendra, urus masalah kampus Navya agar dia bisa beristirahat dulu di rumah. Suruh Elma ke sini untuk menemaninya."
"Baik Mas, segera saya lakukan semuanya."
Mereka undur diri dari ruangan kerjanya. Alvi memejamkan mata, memijat dahi nya yang agak pusing.
Hampir saja kacau. Sedikit lagi. Alvi, kamu harus sabar sedikit lagi.
__ADS_1
Bersambung