Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Dafin dan Hana


__ADS_3

Sore itu saat Dafin dan Navya beranjak pulang dari Panti Asuhan, Hana mengintip dari balik jendela kamarnya. Melihat mobil Dafin yang perlahan menghilang dibalik pagar kemudian beralih membaca kembali pesan yang sedari tadi masuk ke Hp nya.


"Kaki kamu bagaimana? Apa masih perih?


Jangan lupa oleskan lagi obat yang tadi aku berikan.


Han, maafkan aku. Aku benar-benar ke sana untuk menemui kamu, melihat keadaan kamu. Navya hanya sebagai alasan saja, agar tidak ada yang curiga dengan kedatanganku ke sana.


Besok aku akan menjemputmu, kita bertemu di halte yang tidak jauh dari Panti. Tolong jangan marah lagi. Aku sayang kamu."


"Aku juga sayang kamu Fin. Aku hanya takut kehilangan kamu." Lirih dia bicara sambil memandang wajah Dafin di layar ponselnya.


Esok hari, Hana berkemas dan bersiap kembali ke kota. Setelah makan siang dia berpamitan pada Bu Sarah dan Pak Yamin.


"Kamu naik apa Nak?" Suara Pak Yamin yang bertanya. "Mau Bapak antar?"


"Gak usah Pak, Hana naik Taksi online saja. Hana sudah pesan, nanti menunggu di halte depan."


"Oh begitu. Kamu hati-hati ya, kabari Bapak sama Ibu kalau sudah sampai."


"Iya Pak. Hana pamit ya." Dia menyalami pasangan suami istri yang sudah dia anggap sebagai orang tua kandungnya itu.


Sejak kedatangan Dafin dan Navya kemarin sore Sarah tidak banyak bicara. Sepertinya banyak sekali yang ia pikirkan. Dia hanya memeluk erat Hana sebelum gadis itu pergi. Pelukan yang menyalurkan begitu banyak kasih sayang yang bercampur kekhawatiran. Semoga apa yang ia pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Semoga ini hanya kesalahpahaman ku saja." Batinnya sambil menatap langkah Hana yang menghilang di balik pintu.


"Pak, aku ke warung sebentar ya."


"Iya Bu."


Sarah keluar dan berjalan hampir tergesa-gesa. Mengikuti langkah Hana diam-diam. Dari jarak yang tidak terlalu dekat, tapi dia bisa melihat Hana sudah sampai dian apa yang dia lakukan. Terlihat Hana sedang menelepon seseorang, namun Sarah tidak dapan mendengar apa yang di bicarakan. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan Hana. Sarah tidak mungkin salah, dia mengenali mobil itu. Mobil Dafin. Bukan hal yang biasa jika seorang Bos menjemput karyawan nya, untuk kasus Dafin dan Hana bisa di maklumi karena mereka berteman sejak dulu. "Tapi kenapa tidak menjemput langsung di Panti saja."


Namun pemandangan aneh terjadi, Dafin keluar dari mobil. Mengambil alih tas yang dipegang Hana, menyimpan di kursi belakang. Lalu dia membukakan pintu untuk Hana. Kemudian Hana masuk sambil Dafin mengelus kepala gadis itu sambil tersenyum.


Sarah terkejut. Tidak mungkin apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


***

__ADS_1


"Kamu masih marah?" Sejak tadi saat mereka bertemu, Hana lebih banyak diam.


"Kamu menyukai Navya kan ?"


Dafin lalu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Dafin melepaskan safety belt nya, lalu dia duduk dengan posisi melihat ke arah Hana.


"Han, aku minta maaf. Jujur, mungkin sikapku sekarang sedikit melunak pada Navya. Tapi aku gak bisa bilang kalau aku cinta sama dia. Aku masih mencintai kamu sayang."


"Itu semata-mata hanya, aku kasihan sama dia. Aku mulai sadar, mungkin dulu aku hanya salah paham. Dia tidak bermaksud merusak kebahagiaan keluarga ku ataupun aku. Dia juga kehilangan orangtuanya saat itu, wajar saja bila orangtuaku sangat menyayangi dia. Mereka bersahabat sejak lama. Aku hanya mencoba mengerti keadaan."


"Dan selama kami tinggal bersama, tidak sekali pun Navya tidak bersikap baik padaku. Aku hanya merasa tidak ada alasan untuk aku mempertahankan rasa benci ini."


Hana tersenyum miris. Ini yang dia takutkan, benar terjadi kan. Bukan tidak mungkin, kepedulian yang mulai timbul di diri Dafin untuk Navya lama kelamaan bisa berubah menjadi cinta. "Fin, kamu ingat tidak? Dulu sebelum kita saling mencintai, kita juga butuh waktu untuk bisa jadi teman. Sampai akhirnya kita merasa nyaman satu sama lain. Kamu dan dia, setiap hari bersama, bukan hal yang sulit untuk bisa menumbuhkan rasa di antara kalian."


"Apalagi kamu sendiri yang sudah membuka kesempatan itu."


Teringat sesuatu, Hana lalu secara tiba-tiba melihat ke dalam mata Dafin.


"Apa kalian sudah...???"


Hana tertawa, tapi ada cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya.


"Belum, itu artinya kapanpun itu bisa saja terjadi. Iya kan? Yah, kalian punya hak untuk itu. Aku tidak bisa mencegah..."


Dafin membungkam bibir Hana dengan bibirnya. Air mata Hana mengalir, terasa juga oleh Dafin. Melepaskan ciumannya, Dafin menangkup wajah Hana. Membuat gadis itu memandang penuh padanya.


"Kamu bisa. Kamu bisa melakukan apapun, mencegah, melarang aku, kamu punyak hak atas aku."


"Maafkan aku. Aku pastikan, aku tidak akan pernah menyentuhnya. Kamu percaya sama aku?"


Hana menjawab dengan anggukan kepala.


"Kalau sudah gak marah senyum dong."


Dia menurut, dan memberikan sebuah senyuman pada Dafin sebagai jawab bahwa dia sudah memaafkan nya.


"Nah begitu kan manis. Istri siapa dulu."

__ADS_1


" Apaan sih kamu..." Lalu mereka tertawa bersama. "Makasih ya sayang."


"Dan hari ini, kita akan bersenang-senang. Aku seharian akan menemani kamu, dan ini... " Dia mengambil ponselnya, lalu meletakkan di belakang jok mobilnya.


"Aku akan tinggalkan ini di sini biar gak da yang akan mengganggu kita. Sekarang kamu bilang kita mau ke mana?


"Kemana aja asalkan sama kamu."


"Oke Tuan Putri. Saya akan setia mengantarkan Tuan Putri kemanapun."


***


"Sayang, dari tadi Hp kamu bunyi terus. Coba cek aja, mana tau penting."


"Kamu gak marah kalau aku lihat?"


Hana menggeleng sambil tersenyum. Mereka baru saja masuk ke dalam mobil, setelah menghabiskan waktu di Taman Wisata Puncak, sebuah tempat yang menyediakan berbagai macam wahan permainan yang terletak di dataran tinggi kota tersebut. Menjajal semua wahana permainan di Taman itu sambil berteriak sebebasnya, seperti yang pernah mereka lakukan sebelum Dafin berangkat ke luar negeri dulu.


Hana merindukan masa-masa seperti itu. Karena saat Dafin kembali dari pendidikan nya di luar negeri, bukannya melepas rindu malah hubungan mereka harus menghadapi tantangan baru. Secara tiba-tiba Dafin harus menikah dengan wanita lain, sesuatu permintaan kedua orangtuanya.


Dafin mengambil Hp nya, dan melihat banyak sekali pesan dan panggilan. Dari Navya, Ega bahkan Papi. "Papi ke kantor siang tadi."


"Oh iya, kamu ada meeting dengan bagian keuangan kan harusnya siang tadi, sama Pak Damar juga."


"Iya, aku lupa."


"Maafin aku ya Fin. Gara-gara aku, jadwal kamu jadi kacau."


"Gak apa-apa sayang, biar aku yang urus nanti. Bukan salah kamu, aku memang mau menghabiskan waktu sama kamu hari ini. Tapi besok, kamu gak boleh bolos lagi." Ucapnya sambil mencolek hidung Hana.


"Baik Bapak Dafin." Menaikkan tangan di kepala, membuat gaya hormat.


"Ayo kita pulang. Aku kangen sama kamu." Mengedipkan mata, yang dengan mudah di artikan sesuatu oleh Hana.


"iihhh... Dasar kamu nakal." Dafin tertawa sambil menjalankan mobilnya menuju apartemen Hana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2