
"Navya!" Malah melamun, pertanyaan Elma bahkan belum dia jawab. "Bagaimana perasaan kamu padanya?"
"Aku belum yakin kak. Aku memang terbiasa dengan semua perhatian yang dia berikan. Tapi cinta, apa aku sudah jatuh cinta, aku belum yakin."
"Karena sesekali aku pernah membayangkan bahwa Mas Alvi akan melakukan hal yang sama seperti Mas Dafin." Navya terkekeh, menertawakan dirinya sendiri. "Aku konyol sekali kan kak, mungkin karena aku pernah mencintai seseorang lalu akhirnya aku dengan rela melepaskan dia untuk wanita lain. Bukankah mencintai berarti aku harus berusaha mempertahankan. Jadi bagaimana sebenarnya mencintai kak, aku masih belum yakin."
Elma menggenggam tangan Navya di atas meja. Memberikan keyakinan dan menguatkan gadis itu. "Vy, tidak semua laki-laki sama. Lagipula keadaan kamu dengan mantan suami kamu berbeda dengan sekarang. Dulu kalian bersama karena terpaksa,m. Tapi mungkin Pak Alvian berbeda, sejak dulu dia sudah mencintai kamu kan. Dia bahkan bersedia menunggu kamu. Jadi bisa di pastikan dia tidak akan mengecewakan kamu."
"Mungkin kakak benar, tapi aku tetap belum bisa meyakinkan lagi hatiku. Kalau suatu saat Mas Alvi akhirnya menemukan seseorang yang lebih baik daripada aku, aku tidak akan menyesal. Dia berhak untuk itu."
"Dan kamu rela melepaskan lagi orang yang kamu cintai untuk orang lain?"
"Mencintai seseorang bukan hanya sekedar harus bersama, melihat dia bahagia juga termasuk cara mencintai kan."
Elma tersenyum. Secara tidak langsung Navya mengakui bahwa dia sudah mencintai Alvi.
***
"Saya jemput kamu." Panggilan telepon dari Alvi. Navya senang harusnya, tapi dia keras kepala. Sudah membulatkan tekad untuk menjauhi Alvi.
"Saya ada kuliah tambahan. Mas pulang saja duluan."
"Saya kan tunggu kamu di tempat parkir."
"Tidak usah, saya akan pulang bersama kak Elma nanti."
"Baiklah, kamu hati-hati."
Navya menutup teleponnya lebih dulu sebelum Alvi memutuskan panggilan. Siang tadi pria itu mengirimkan pesan, bertanya apakah Navya sudah makan atau belum. Tapi dia hanya menjawab sekenanya saja.
Beberapa hari sudah Navya melakukan hal-hal yang tidak biasa hanya untuk menghindari pertemuan dengan Alvi. Seperti pergi ke kampus lebih pagi sebelum Alvi datang ke rumah. Mengatakan akan pulang terlambat jika Alvi ingin menjemputnya. Pura-pura sudah tidur jika Alvi datang menemuinya. Tetapi pria itu tidak pernah merasa kesal, dia cukup pengertian pada Navya. Tetap saja mengirimkan pesan, menelpon saat Navya sedang tidak ada kelas atau saat jam makan siang. Masih terus memberikan perhatiannya.
Akhir pekan ini memaksa Navya untuk tetap berada di rumah. Elma mengatakan bahwa dia ada keperluan jadi Navya tidak ada teman untuk pergi keluar sekedar menghindari Alvi, pasti pria itu akan datang untuk menghabiskan sepanjang hari bersama kakek dan nenek. Mau tidak mau Navya harus bertemu dengannya hari ini.
Navya turun ke bawah untuk ikut menyiapkan sarapan bersama Neni. Masih sepi. Neni juga tidak ada di dapur, pak Hendra apalagi, tidak kelihatan. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang membereskan rumah dan pengawal di depan.
"Kamu mencari siapa?" Navya terkejut ketika dari belakangnya Alvi muncul. Memejamkan mata lalu berbalik menghadap Alvi. Pria itu sedang memakai kaos berlengan pendek, dengan celana pendek, dan handuk kecil di lehernya. Rambutnya yang klimis dan tubuhnya berkeringat menandakan ia baru saja selesai berolahraga.
Lengannya terekspos, Navya pernah melihatnya sekali saat Alvi terluka setelah menolong dirinya yang hampir tertimpa balok di proyek. Lengan kekar yang berulang kali pernah menyelamatkan Navya, dada bidang yang beberapa kali tanpa sengaja pernah dipeluknya.
Pemandangan di depannya membuat Navya sedikit terpana, tapi sekali lagi suara Alvi mengagetkannya.
"Kamu mencari Neni?"
"Itu, hmmm.. iya... Kenapa sepi sekali. Nenek juga tidak kelihatan." Sambil celingukan.
__ADS_1
"Nenek dan kakek ada urusan mendadak, mereka berangkat malam tadi. Mungkin setelah kamu masuk kamar dan tidur."
"Lalu Mas Alvi?"
"Maaf, saya menginap di sini malam tadi. Karena nenek buru-buru pergi mengajak Neni dan Pak Hendra juga. Saya khawatir kalau kamu sendirian di rumah."
Navya tersenyum. Kenapa malah meminta maaf, Alvi bebas untuk datang kapan saja. Rumah itu miliknya. Lagipula dia tidak sendirian juga, walaupun tidak ada Neni dan Pak Hendra, tapi masih ada dua orang pelayan dan pengawal di depan.
"Kenapa harus meminta maaf, ini kan rumah Mas."
"Ayo sarapan bersama, saya akan ganti baju dulu."
Mau tidak mau Navya tidak bisa menolak kali ini. Tapi dia harus menyiapkan jawaban jika Alvi bertanya perihal perubahan sikap Navya selama ini. Dia mengangguk lalu berjalan ke arah meja makan sementara Alvi masuk ke kamarnya.
Pelayanan menawarkan untuk membuatkan sarapan, tapi Navya menolak. Navya akan membuatnya sendiri. Navya memutuskan untuk membuat sandwich, telur dadar, dan jus buah untuk sarapan dia dan Alvi.
Semua sudah selesai saat Alvi keluar dari kamarnya. "Ayo makan Mas." Alvi mengangguk dan duduk di kursinya. Ngomong-ngomong mereka seperti sepasang suami-istri yang sedang menikmati sarapan pagi. Namun tidak ada kemesraan yang terlihat.
Mereka hanya menyantap makanan mereka dalam diam. Navya melirik Alvi sekilas, kenapa tiba-tiba Alvi tidak banyak bicara. Biasanya dia yang akan membuka pembicaraan lebih dulu.
Baru menyadari Alvi memakai pakaian semi formal. Kalau hari biasanya dia akan memakai setelan jas lengkap, karena akan ke kantor. Tapi kali ini dia memakai kemeja tanpa dasi, dan di balut blazer tanpa kancing. Kalau hanya di rumah kan tidak perlu memakai pakaian sebagus itu.
"Mas mau keluar?"
Alvi mengalihkan pandangannya pada Navya. "Ya?"
"Oh, ada yang ingin saya beli untuk teman saya yang berulang tahun. Kalau kamu tidak keberatan saya ingin kamu ikut dan membantu saya memilih.
"Tapi saya...."
"Saya mohon, kali ini saja." Alvi memohon, Navya sulit menolak jika sudah berhadapan dengan Alvi secara langsung. Makanya dia lebih suka menghindari Alvi sebelum bertemu dengannya, karena tatapan mata pria itu seolah menghipnotis dirinya.
Navya akhirnya mengalah, kali ini saja. Tidak baik juga jika terus menolak. "Baiklah, tapi saya ganti baju dulu."
"Saya akan tunggu."
***
Tidak lama kemudian Navya sudah turun dan bersiap pergi bersama Alvi. Mereka menuju sebuah pusat perbelanjaan mewah.
"Teman Mas yang berulang tahun pria atau wanita?"
"Pria dan Wanita. Yang pria adalah rekan bisnis saya berusia hampir limapuluh tahun. Yang satunya seorang wanita muda."
Navya penasaran, seorang wanita. Siapa? Bukankah selama ini Alvi pernah punya teman wanita. Tapi Navya tidak berani bertanya siapa, bukankah seharusnya dia senang jika wanita itu adalah teman istimewa. Mencoba untuk tidak ambil pusing untuk siapa Alvi membeli Hadiah.
__ADS_1
Mereka masuk ke sebuah toko perhiasan. Navya sangat antusias, dia bisa melihat berbagai macam model dan bentuk perhiasan. Memiliki galeri seperti ini adalah mimpinya, suatu saat dia akan mewujudkan keinginan tersebut.
Akhirnya Navya memilihkan sebuah penjepit dasi yang terbuat dari emas putih berhiaskan tiga buah berlian kecil di ujungnya. Serta sebuah jam tangan mewah yang sudah di pesan Alvi sebelumnya. Kedua hadiah itu untuk rekan bisnis Alvi.
Sekarang Navya sedang memilih jam tangan untuk di hadiah Alvi pada satu orang temannya yang lain, seorang wanita. Ada yang menusuk di hati Navya, padahal tadi dia sudah tidak peduli. Sesak bercampur penasaran, Siapa sebenarnya yang akan Alvi berikan hadiah ini. Tapi dia tetap tenang dan berpura-pura tidak peduli.
Selesai membeli hadiah, Alvi mampir dulu ke kantor. Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Seseorang menelpon dan menunggu dirinya di kantor, ada berkas yang harus segera ditandatangani. Ini kali pertama Navya pergi ke gedung pusat Mahendra Group. Tidak jauh berbeda dengan yang ada di negara mereka. Gedung mewah yang menjulang tinggi. Bertuliskan Mahendra di bagian puncaknya.
Navya turun dari mobil dan berjalan mengikuti Alvi di depannya. Seperti yang kenal dulu, Alvi dalam mode bekerja akan selalu serius dan tegas. Masuk ke lift, naik ke lantai gedung paling tinggi. Ryan sudah menyambut mereka saat keluar dari lift khusus.
Menunduk dan menyapa Navya lewat senyuman singkat. Ryan membuka pintu agar Alvi dan Navya masuk ke ruangan nya.
"Suruh dia ke ruangan saya."
"Baik Pak."
Ryan menutup pintu pelan saat Navya dan Alvi sudah masuk ke dalam ruangan Presdir.
"Duduklah..." Navya duduk di sofa yang di tunjuk Alvi. "Saya tidak akan lama, kamu tidak keberatan kan?"
"Enggak kok." Navya melihat sekelilingnya, ruangan itu hampir sama sama besar dengan ruangan Alvi saat Navya masih menjadi sekretaris nya dulu. Tapi sama nyamannya, wanginya dan kesan mewah yang tidak jauh berbeda.
Ceklek.
Pintu terbuka. Seorang wanita cantik masuk ke dalam, berambut gelombang dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan pintar. Cantik, elegan dan jaga tegas terlihat dari cara dia berjalan. Dia agak terkejut sebenarnya saya ada Navya di dalam ruangan Alvi.
Lalu pandangannya beralih pada Alvi yang sudah duduk di belakang meja kerjanya. Alvi mengangguk, dia mengartikan sebagai isyarat Alvi menyuruh dia segera mendekat.
Navya memperhatikan, gadis itu mirip dengan seseorang. Tapi Navya tidak mengingat siapa. Namun mata gadis itu walaupun sedang memakai kacamata, Navya seperti tidak asing dengan nya.
Dia tidak duduk di depan meja kerja, melainkan berdiri di sebelah Alvi sambil menjelaskan sesuatu di laptop yang ada di meja Alvi. Navya memperhatikan kedekatan mereka. Walaupun hanya sebatas membahas pekerjaan, tapi Alvi tidak pernah sedekat itu dengan seorang wanita. Kecuali dirinya.
Navya menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandangannya. Mengambil ponsel lalu memainkannya, hanya menggulirkan layar ke atas dan ke bawah. Perhatian nya masih belum teralihkan juga dari dua orang di depannya. Sesekali dia melirik.
Alvi mengulum senyum, mengetahuinya Navya diam-diam memperhatikan dirinya dan wanita di sebelahnya. Beberapa menit kemudian mereka selesai mendiskusikan pekerjaan, Alvi memberi tandatangan pada berkas yang dibawa gadis itu. Saat dia akan berpamitan pada Alvi, pria itu mencegahnya.
Alvi berjalan ke arah sofa tempat dimana Navya duduk. Mengambil sebuah tas yang di ketahui Navya isinya adalah jam tangan wanita yang tadi mereka beli.
"Ini untuk kamu." Menyodorkan tas itu padanya. Gadis itu terkejut, melirik sekilas pada Navya.
"Ini apa Pak?"
"Untuk kamu."
Seperti mengetahui isinya lalu gadis itu menolak. "Pak tidak perlu...."
__ADS_1
"Ambil saja. Ini pemberian dari saya." Alvi memotong ucapannya. Membuatnya tidak bisa menolak. Akhirnya mengambil tas ayang di sodorkan Alvi, berterimakasih lalu menunduk pada Alvi dan Navya sekilas dan keluar dari ruangan.
Bersambung