Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
The First


__ADS_3

Alvi tidak menyangka ternyata di dalam jubah handuk yang gadis itu pakai, Navya mengenakan baju tidur yang minim bahan. Membuat Alvi tanpa sadar langsung bangun dari duduknya dan merengkuh tubuh Navya. Gadis itu membeku, merasakan hangat saat tubuh kekar Alvi yang mendekapnya. Dia bahkan bisa merasakan debaran jantung pria itu dari belakang tubuhnya. Atau itu adalah debaran jantung Navya sendiri. Ia tidak tau. Yang pasti saat ini mereka merasakan debaran yang sama.


Alvi mulai menciumi bahu dan leher Navya, merasai aroma parfum yang menguat dr tubuhnya. "Mas?"


"Kenapa harus malu? Kamu melakukan ini untuk ku kan?"


Navya membisu tapi wajahnya memerah karena malu. "Aku membuka mata sekarang atau nanti sama saja." Satu kecupan mendarat di bahu Navya.


Dia membalikkan tubuh Navya agar menghadap dirinya. Tapi Navya malah mengalihkan pandangannya, tidak mau bertemu pandang dengan Alvi.


Lucunya, dia malu-malu.


Alvi meraih dagu Navya, menggerakkannya agar gadis itu menatap dirinya.


"Kenapa kamu masih malu-malu begini, aku suka dengan pakaian kamu." Mendekatkan bibirnya di telinga Navya dan berbisik."Tapi aku lebih suka dengan yang memakainya."


"Iiihhh Mas..." Memukul lengan suaminya, lalu menutup wajahnya. Alvi tersenyum dengan tingkah Navya yang menurut nya menggemaskan.


Apa dulu dia juga bersikap begini saat akan melakukan dengan Dafin. Alvi langsung menggeleng kuat, kenapa sekarang dia malah memikirkan masa lalu Navya bersama Dafin. Padahal malam ini adalah milik mereka berdua.


Perlahan Alvi menarik tangan Navya yang menutupi wajahnya. Kemungkinan mengecup bibir mungil milik Navya, agak lama mereka melakukannya. Setelah itu Alvi menggendong istrinya dan perlahan merebahkan Navya di atas ranjang. Alvi melanjutkan serangannya, sambil tangannya bergerilya di beberapa bagian tubuh Navya membuat jantung gadis itu berdetak hebat. Sambil menurunkan tali baju tidur Navya, ciuman Alvi sudah berpindah ke leher dan di dada, membuat bekas memerah. Navya yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan seperti itu masih merasa canggung dan kaku, bahkan saat kecupan Alvi mendarat di lehernya dia berusaha menahan suaranya dengan memejamkan mata karena merasa malu. Tubuh Navya yang tegang disalahartikan oleh Alvi.


Gelagat tubuh Navya membuat Alvi berfikir bahwa Navya masih belum sepenuhnya menerima dirinya atau belum siap melakukan hubungan ***** dengan dirinya. Karena yang Alvi tau Navya pasti sudah berpengalaman, tapi kenapa dia kaku dan canggung seperti ini.


Alvi menghentikan kegiatannya, membuat Navya bingung. Tatapan nya penuh tanya, yang bisa terlihat di bawah temaram lampu tidur. "Ke, kenapa Mas ?"


Alvi bergeser dari tas tubuh Navya lalu menarik nafasnya dalam. Perlahan dia menutup tubuh Navya dengan selimut, dia tersenyum getir. "Kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksa. Kita bisa melakukannya jika kamu sudah siap." Jelas Navya bingung dengan ucapan Alvi. Navya melihat ada kekecewaan di mata pria itu.

__ADS_1


"Tidur lah. Kita istirahat saja malam ini." Navya masih bingung dengan sikap Alvi yang tiba-tiba ini. Alvi sudah akan berbaring saat Navya memegang lengan suaminya itu.


"Kenapa Mas? Apa ada yang salah dengan sikap Vya? Kenapa Mas tiba-tiba begini?"


Alvi mengecup kening Navya sebelum menjawab pertanyaannya. "Tidak ada. Aku, hanya mau kamu tidak terpaksa melakukannya. Ayo kita tidur saja." Tersenyum dan mengusap pipinya.


Navya menarik lagi lengan Alvi, membuat pria itu menoleh sepenuhnya padanya. Navya bangun dan duduk bersandar sambil memegang selimut sampai menutupi dadanya. "Apa yang membuat Mas berfikir Vya belum siap?"


"Entahlah, aku merasa kamu belum sepenuhnya membuka hati kamu. Atau karena aku orang yang berbeda dengan yang pernah menyentuh kamu sebelumya. Navya, aku tidak mau memaksa kamu. Aku bisa memahami, melupakan orang yang pernah ada di dalam hati dan hidup kita memang tidak mudah. Aku masih bisa bersabar menunggu kamu."


Navya semakin bingung dengan ucapan Alvi. "Vya gak ngerti Mas. Apa yang sedang Mas pikirkan?"


Alvi mengusap wajahnya lalu menarik nafas panjang. Berusaha mencari kata-kata yang tepat agar Navya tidak tersinggung. "Tubuh kamu Navya, respon tubuh kamu seperti kamu belum terbiasa dengan aku. Seperti tidak nyaman ketika aku menyentuhmu. Atau karena aku bukan Dafin."


Navya terkejut, saat Alvi menyebutkan nama Dafin. Kenapa harus mengungkit Dafin. Navya merasa aneh, kenapa kali ini Alvi harus mengungkit masa lalunya. Padahal dia tidak pernah sejauh ini dengan Dafin dulu, Dafin hanya menciumnya tidak lebih.


Navya masih diam, yang lagi-lagi disalahartikan oleh Alvi. "Sayang, aku benar-benar tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai hati dan diri kamu siap sepenuhnya." Tanpa aba-aba Navya mendaratkan ciuman yang membuat Alvi terdiam membeku karena terkejut tapi kemudian membalas ciuman Navya. Tangan gadis itu merangkak dari lengan menuju bahu Alvi, mengusap perlahan. Alvi pun mengangkat tangannya dan meletakkan di pinggang dan bahu sang istri.


"Aku mau Mas. Aku mau jadi milik kamu seutuhnya." Alvi yang sudah diselimuti gairah langsung mendorong Navya dengan tubuhnya, hingga mereka berdua jatuh di atas ranjang. Dan....... (Terjadilah yang mereka inginkan 🤭✌️ "Maaf aku belum pandai mendeskripsikan hal2 yang tiiiiiiiiit ini.)


...💙💙💙...


Alvi masih berdiri di balkon apartemen. Sambil sesekali dia melirik Navya yang sudah tertidur pulas karena lelah setelah kegiatan mereka tadi.


Pria berwajah tampan itu tidak bisa tidur sekarang, entah karena bahagia atau karena masih tidak percaya dengan kenyataan yang sebenarnya. Senyuman belum pupus dari bibirnya, mengingat kejutan yang ia terima. Hatinya masih berdebar, rasanya ingin berteriak karena saking bahagianya dia. Tidak menyangka bahwa dia adalah pria pertama yang menyentuh sang istri.


Teringat saat tadi dia dan Navya memulai penyatuan mereka, Alvi tersentak karena reaksi yang diberikan Navya. Alvi berhenti menatap tidak percaya pada sang istri yang sedang meringis sambil mencengkram bahunya kuat. Membuat Alvi menarik kembali dirinya.

__ADS_1


"Na,, Navya, kamu?"


Navya dengan wajah merona dan matanya yang sayu, tersenyum malu-malu sambil mengangguk. Alvi semakin terkejut dan tidak percaya.


"Kamu yang pertama Mas." Perasaan Alvi membuncah, bahagia dan bangga. Dia refleks memeluk Navya, semangat dan gairahnya semakin berkobar.


"Kamu serius kan?" Masih bertanya lagi. Navya mengangguk dalam pelukannya. Kemudian dia melanjutkan lagi serangannya.


"Aku akan melakukannya perlahan." Navya mengangguk malu.


.......(Ya begitu lah yaa 🤭🤭🤭)........


Alvi sempat mengucapkan kata maaf pada Navya. Yang di tanggapi sekenanya oleh gadis itu, karena ia sedang kelelahan. Dia sudah tertidur dalam pelukan Alvi dalam hitungan menit.


Alvi masih menggumam kan permohonan maafnya walaupun Navya sudah terlelap. Sambil mengecup seluruh bagian wajah istrinya. Dia sangat menyesal sudah berprasangka buruk soal perasaan Navya, soal kesiapan gadis itu untuk memulai kehidupan bersamanya. Padahal dia sendiri sangat ikhlas menerima Navya, walaupun dia sendiri bukanlah yang pertama untuk Navya. Tapi bisa-bisanya ia mengungkit masa lalu, saat wanita pemilik hatinya sudah benar-benar menyerahkan diri padanya. Alvi benar-benar mengutuki kebodohan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu. Ternyata respon tubu Navya adalah karena ia belum pernah di sentuh sejauh itu oleh pria manapun. Alvi adalah yang pertama melakukannya.


Di sela-sela kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, Alvi teringat sesuatu. Membuat ia berdecak kesal. Berjalan ke arah meja tempat tidur untuk mengambil ponselnya. Dia sempatkan mengecup kening Navya sebelum berjalan menuju balkon lagi. Kemudian menutup pintu, takut Navya akan mendengarkan percakapannya dengan orang yang akan ia hubungi.


"Kak, temui pengusaha bernama Bagas Handoko. Berikan dia peringatan untuk jangan pernah muncul di hadapan Navya. Kalau perlu pura-pura tidak melihat jika bertemu Navya.


Bisa-bisanya dia menyatakan perasaannya pada Navya, padahal dia tau Navya sudah bersuami.


"Tidak perlu memutuskan kontrak kerjasama, aku hanya ingin dia menjauhi istriku."


POV Bima


"Dasar Bucin, kenapa juga si Bagas ini bisa kenal dengan Navya.

__ADS_1


"Hah! Menambah pekerjaan ku saja. Belum rampung urusan resepsi, sekarang ada lagi.


"Kapan aku bisa cari pacar sih."


__ADS_2