
"Al, gila Lo. Gue udah nyampek di kafe malah lo suruh gak usah masuk, gue lapar tau."
Chandra masuk ke dalam ruangan kerja Alvi, dia bahkan belum menutup pintu dengan sempurna tapi sudah mengomel pada laki-laki yang sedang duduk di belakang meja kerjanya. Saat di Kafe Emerald tadi Chandra sebenarnya sudah sampai, namun saat dia akan turun Alvi malah mengirimkan pesan padanya agar dia tidak usah masuk. Pertemuan mereka di tunda secara sepihak oleh sahabatnya itu.
Alvi hanya diam saja. Tidak menggubris ocehan sahabatnya itu. Dia hanya melirik dengan ekor matanya lalu kembali fokus pada pekerjaan nya.
"Woy Al! Gue lagi ngomong. Malah di cuekin."
"Jadi kamu mau saya pesankan makanan?"
"Gak usah, gue udah makan."
"Baguslah kalau begitu. Kita bisa bicarakan tentang pekerjaan sekarang."
"Tadi aja meeting di tunda, sekarang udah sore malah mau ngomongin kerjaan."
"Tadi siang mood saya sedang buruk."
"Badmood apa karena mau berduaan sama sekretaris cantik Lo?!"
Alvi bangun dari kursinya lalu berjalan menuju sofa dimana Chandra sedang duduk. "Kamu mau saya batalkan kontrak kerjasama ini atau bagaimana?" Ucapnya sambil meletakkan beberapa berkas di depan Chandra.
"Eeittsss... sabar dulu bos. Gitu aja ngambek. Eh ngomong-ngomong, mana Navya?"
"Pulang."
"Lah itu muka kenapa lebam gitu?" Alvi menatap tajam pada sahabat nya yang hari ini sedang cerewet sekali menurutnya.
"Tuan Chandra, bisa kita bersikap profesional sekarang?" Ucap Ryan yang entah darimana datangnya, tiba-tiba sudah ada di dalam ruangan itu. Membuat Chandra kaget.
"Iya.. iya.. Profesional apanya. Bos kamu nih yang gak profesional. Gara-gara mau makan berdua sama sekretaris nya, meeting sama gue di cancel gitu aja." Gumamnya namun masih di dengar oleh Alvi dan Ryan.
"Eehhheemmm!"
__ADS_1
"Iya... iya... Maaf..." Teriak Chandra saat Alvi menarik kembali berkas yang harus ditandatangani olehnya. Tanpa disadari oleh Chandra, Alvi tersenyum tipis melihat kelakuan sahabat nya itu. Chandra merupakan sahabat nya, selain Ryan dia akan menceritakan segala hal pada Chandra. Termasuk perasaannya pada Navya. Walaupun Alvi terkesan cuek dan dingin, dia adalah orang yang sangat pengertian terhadap sekelilingnya.
***
Dafin menarik Navya meninggalkan Alvi dan Hana. Membawa nya masuk ke dalam mobil lalu keluar dari area Kafe.
"Mas Dafin apa-apaan sih? Pak Alvi gak salah..."
"Diam Kamu!" Dafin membentak Navya dengan keras, hingga membuat gadis itu takut dan langsung terdiam diam. Sepanjang perjalanan yang Navya tidak tau akan kemana Dafin membawanya, mereka hanya membisu satu sama lain. Dafin mengemudikan mobilnya dengan kencang, Navya sebenarnya takut tapi dia tidak berani bicara apapun setelah Dafin membentak nya tadi.
Ternyata Dafin membawa Navya pulang ke rumah mereka. Memberhentikan mobil di depan rumah, Dafin turun dan membanting pintu dengan keras. Kemudian membukakan pintu untuk Navya dengan kasar lalu menariknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Mas, sakit...." Merasakan perih pada lengannya karena Dafin mencengkeramnya dengan kuat. Setelah menutup pintu rumah, Dafin mendorong Navya ke arah dinding. Mengungkung Navya dan membuatnya tidak bisa bergerak.
"Mas tolong jangan begini." Dia berusaha untuk melepaskan tangan nya yang dipegang dengan kuat oleh Dafin.
"Kenapa? Kamu diam saja saat Alvi memegang tangan kamu."
"Mas, bukan begitu. Itu gak seperti yang Mas Dafin pikirkan." Navya mencoba menjelaskan, namun Dafin tidak mau mendengarkan.
"Kenapa Mas Dafin peduli??" Navya malah ikut emosi.
"Karena kamu istriku. Aku suami kamu Navya. Kamu sudah lupa kalau kamu itu sudah menikah denganku?!"
Navya tersenyum miris. "Bukannya ini semua sandiwara untuk Mas Dafin. Cuma aku yang menganggap pernikahan ini ada. Mas Dafin apa pernah peduli dengan status kita, pernah Mas Dafin memperlakukan Vya sebagai istri jika buka di depan orang lain. Apa pernah Mas Dafin peduli pada perasaan Vya?"
Navya tidak bisa membendung air matanya yang sudah mengalir di pipinya.
"Kenapa sekarang harus membesarkan masalah seperti ini. Pak Alvi sedang membantu Vya, dia baru saja menolong Vya dari orang yang ingin melecehkan Vya. Bukannya berterima kasih, Mas Dafin malah memukul nya."
"Jangan berlagak cemburu, itu sama saja Mas Dafin mempermainkan perasaan Vya. Saat ini Vya masih sadar diri untuk tidak merasa di cintai oleh mas Dafin. Jadi lebih baik Vya berusaha mengubur perasaan Vya untuk Mas Daf...."
Dafin membungkam kata-kata yang keluar dari bibir gadis itu dengan menciumnya. Navya entah karena terkejut, tubuhnya tidak berkutik sama sekali. Bahkan dia sampai memejamkan matanya dan jantung nya berdebar hebat.
__ADS_1
Dafin melepaskan ciumannya saat merasa Navya hampir kehabisan nafas. Dia menempelkan dahi mereka satu sama lain dengan nafas yang menderu.
"Benar. Aku cemburu. Aku tidak ingin kamu dekat dengan siapapun kecuali aku. Aku suami kamu. Dan kamu berhak untuk merasa dicintai olehku. Jadi jangan berfikir untuk menghilangkan semua perasaan kamu."
Pandangan mereka bertemu, tatapan mata Dafin saat ini benar-benar jauh sekali dari biasanya. Yang cuek, dingin dan penuh kebencian. Kali ini ia menatap lembut pada gadis yang sudah beberapa kali ia sebut sebagai istri hari ini.
Dafin membelai rambut Navya lalu mengecup keningnya agak lama. Navya betul-betul bingung mengartikan sikap Dafin saat ini. Yang pasti dia merasakan jantung nya berdebar sangat hebat.
"Kamu bebas mengekspresikan perasaan kamu. Kamu berhak atas aku. Paham?"
Navya tidak bicara apapun dan tidak berani menatap langsung mata Dafin, dia hanya mengangguk pelan.
Drrrtt.... Drrrtt....
Getaran ponsel Dafin memberikan rasa lega bagi Navya yang sejak tadi seperti kekurangan oksigen. Dia bahkan menarik nafas dalam-dalam dan menetralkan debaran jantungnya saat Dafin mencoba mengambil ponsel di kantongnya.
"Aku angkat telepon sebentar."
"Iya.."
Dafin berjalan ke pintu depan, sementara Navya menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Mengingat apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Dafin membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum. Dia bahkan tidak menyadari Dafin memperhatikan dirinya.
"Navya.."
"Eh, iya Mas. Mas mau minum? Mau Vya buatkan teh?"
"Sebenarnya aku mau, tapi aku harus harus mengurus sesuatu."
"Oh Ya, kenapa Mas Dafin tiba-tiba sudah pulang? Dan gak kasi kabar?"
"Oh, itu... nanti aku jelaskan. Aku pergi dulu." Bukannya berjalan ke arah pintu malah dia maju mendekati Navya. Kembali jantungnya berdebar. Ternyata Dafin mau mencium keningnya.
"Soal kak Al, nanti aku yang hubungi dia. Sekalian aku minta maaf."
__ADS_1
"Iya Mas.."
Bersambung