Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Tidak Menyangka


__ADS_3

Navya terkejut, hingga dia tak tau harus apa. Bahkan riuhnya tepuk tangan di depan sana seakan tidak terdengar di rungu nya. Dia melihat Dafin, bingung mengartikan ekspresi wajahnya. Bingung. Itu yang dia rasakan sekarang. " Kenapa dia malah tersenyum, apa dia sudah tau semua ini. Apa cuma aku saja yang tidak tahu apa-apa. Tapi kenapa ? Dia bahkan membenciku selama ini, kenapa dia menerima semua ini dan biasa saja. Dia marah, harusnya marah kan?!" Navya belum bisa percaya apa yang sudah Damar sampaikan tadi.


" Sayang...." Finny datang menghampiri nya, kalau memeluknya. " Mami ingin kamu selamanya ada di samping Mami Nak, seperti janji Mami pada Ibu mu, Hafizah." Damar mengelus rambut Navya.


" Kami menyayangi mu Nak." kata Damar, Lalu Navya sadar mereka sedang berada di depan banyak pasang mata. Masih melihat mereka sebagai pusat perhatian. Kemudian Finny mengurai pelukannya dan melihat Navya sambil tersenyum bahagia. Navya melihat Finny dan Damar bergantian. Mereka berdua sangat bahagia.


" Senyum Mami dan Papi.. Apa aku bisa menghancurkan hati mereka saat ini. Aku sudah janji akan selalu membahagiakan mereka. Senyum Mami adalah hidupku. Tapi kak Dafin, apa yang dia rasakan sekarang!?"


" Heeeiii sayang.... bengong!?"


Kata Finny tertawa.


Damar memanggil Dafin dengan gerakan kepala. Lalu Dafin mendekat dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Mengambil benda berbentuk lingkaran, bertahtakan berlian yang indah.


" Will you marry Me, Navya Putri ?"


Navya semakin tidak mengerti dengan perubahan Dafin yang tiba-tiba ini.


" Wahhh sepertinya Nona Navya benar-benar terkejut dengan lamaran ini. Sampai bengong begitu" Suara dari pembawa acara membuat Navya tersadar lagi, dia gugup. Melihat lagi Damar dan Finny bergantian. Mereka berdua mengangguk meyakinkan Navya.


Ragu dia menjulurkan tangan kirinya perlahan. Lalu tangannya di pegang Dafin yang tidak sabaran, dan memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Para undangan yang hadir, kembali bertepuk tangan meriah.


Setelah nya Dafin mengecup cincin yang sudah tersemat di jarinya. Navya benar-benar tidak percaya, ini seperti bukan Dafin. Bagaimana bisa Dafin menerima nya sebagai seorang istri sementara sebagai adik saja Dafin enggan memandang nya.


Finny memeluk keduanya bergantian, " Terima kasih sayang... Mami bahagia sekali." Katanya saat sedang memeluk Navya.


Dan apalagi yang bisa Navya lakukan, selain ikut tersenyum. Dia bahagia melihat senyum di wajah Finny tapi apa sebenarnya yang terjadi dengan Dafin dia masih belum mengerti.


" Tersenyum lah Navya. Anggap saja ini hal yang paling bahagia dalam hidup mu. Karena stelah ini aku tak akan pernah membiarkan mu tersenyum."


***


Di dalam ruangan itu bukan hanya Navya yang terkejut dengan acara lamaran mendadak tersebut. Alvi bahkan mengepalkan tangannya dalam diam. Di saat orang-orang bertepuk tangan meriah dan ikut merasakan kebahagiaan keluarga kecil di panggung depan sana, dia malah memberikan pandangan kecewa.


Dia masih duduk di meja nya. Sementara Chandra sedang mengambil santapan makan malam.


" Lo gak makan Al ?" Chandra sedang menikmati seporsi dimsum pedas.


" Masih kenyang." Katanya.


" Haii Fin." tepat di belakang Alvi, Dafin sedang berjalan bersama Navya ke arah mereka.


Alvi memutar kepalanya. " Chan, Hai Al.." Dafin menyapa mereka. Navya terkejut, matanya membola sempurna. Tidak menyangka akan bertemu bosnya di sana. Bahkan menyaksikan pertunangan mendadaknya tadi. Dia merasa seperti sekretaris yang tidak sopan, tidak mengundang bosnya dalam acara itu. "Ck." Tapi dia juga kan tidak tau kalau akan ada acara seperti ini.


" Apa kabar kamu ?" Dafin bertanya pada Alvi.

__ADS_1


" Aku baik. Selamat atas pertunangan kamu."


Dafin tersenyum miring menanggapi.


Dafin memperkenalkan " Ini.."


" Navya, sekretaris ku." Alvi menyela ucapan Dafin. Chandra malah tekekeh.


" Oh ya,, wah kebetulan sekali."


Navya tersenyum, " Malam Pak. " Ucapnya sungkan.


" Saya gak nyangka, ternyata kamu tunangan Dafin. Selamat yaa..." Dia menjabat tangan Navya.


" Makasih Pak."


" Baru malam ini.. " Jawab Dafin datar. " Oh ya, aku ke sana dulu Al. Kamu nikmati acaranya ya." Kemudian Dafin berlalu dari sana.


" Bisa kita ngobrol sebentar ?" Ajak Alvi. Navya mengangguk mengikuti langkah Alvi.


"Mau ngomong apa sih Pak Alvi, apa dia marah ya karena aku tiba-tiba bertunangan. Kalau aku di pecat bagaimana."


Lalu mereka sedikit menepi dari keramaian.


" Saya baru tahu kalau orang tua kamu sudah meninggal. Maaf." Alvi berujar pelan.


" Saya juga kehilangan orang tua saya saat berumur 8 Tahun." Navya tercekat. Pak Alvi juga yatim piatu seperti dirinya. Dia baru tahu. Di kantor tak pernah ada yang membicarakan ini, atau hanya Navya yang tidak tau.


" Saya turut bersedih Pak." Dia bicara sambil melihat Alvi.


" Berarti kita sama ya." Alvi tersenyum pada Navya. Navya hanya tertawa. Tawa yang menurut Alvi sangat indah. Baru kali ini dia melihat Navya tertawa begitu.


" Bapak lucu." Lalu dia terdiam. "Maaf Pak". Kenapa dia bisa tidak sopan begitu.


" Santai saja, di sini saya temannya Dafin. Kita bukan sedang bekerja." Alvi coba mencairkan suasana. Tapi Navya tetap merasa tidak enak.


" Oh ya.. Saya pernah melihat kamu di makam di daerah D. Apa makan orang tua kamu ada di sana ?" Alvi bertanya secara langsung.


" Kok Bapak bisa tau ?" Navya memfokuskan tatapan matanya pada Alvi.


" Tenang aja, saya gak ngikutin kamu kok waktu itu. Kamu ingat pernah menabrak seseorang di sana ?" Navya tampak berfikir, mengingat kejadian waktu terkahir kali dia pergi ke makam orangtuanya.


" Haa!!! Jadi itu bapak ?" Dia menghadap sepenuh nya ke Alvi. Menundukkan kepalanya berulang " Maafin saya Pak" Navya panik, bahkan dia juga menabrak Alvi di Lobi perusahaan di hari ia di interview. " Maaf kan saya, saya sudah dua kali menabrak Bapak. Saya benar-benar gak sengaja."


"Hahahaha.. Santai aja. Waktu itu kamu juga ga kenal saya kan."

__ADS_1


" Tapi tetap saja Pak. Trus bapak ngapain di sana ?" Navya bertanya penasaran.


" Karena makam orang tua saya juga di sana."


" Kok bisa kebetulan gitu ya Pak." Alvi hanya tersenyum. Tapi dia malah makin merasa ini kebetulan yang aneh.


" Siapa nama orang tua kamu ?" Tanya nya penasaran.


" Navya..?!" Bum sempat Navya menjawab pertanyaan Alvi tapi Finny datang menghampiri mereka yang sedang berbincang.


" Ya Mami..." Finny terkejut melihat Alvi.


" Mi, ini Pak Alvi. Dia bos Vya sekaligus temannya kak Dafin."


" Malam Tante, Saya teman Dafin saat di LN."


Finny diam terpaku. Sejenak dia menatap dalam kepada Alvi. Sampai Navya menegurnya. " Mami?"


" Ah , i.. iya... Kamu tampan sekali." Dia mengusap wajah Alvi tanpa sadar. Navya heran melihat sikap maminya.


Sementara Alvi hanya diam menerima perlakuan Finny. " Mami ? Kenapa sih ?" Tegur Navya lagi. " Kenapa Mami memanggil Vya?"


" Oh ,Papi mau mengenalkan kamu dengan rekan bisnisnya." beralih menatap Navya. " Mami duluan ya Sayang." Lalu Finny berlalu dari sana.


" Iya Mi.. Pak saya tinggal dulu ya.. "


" Hhmmm Ya, silahkan."


" Kenapa dia mirip sekali dengan Mas Indra. Tapi gak mungkin, Mama dan anak nya mas Indra kan sedang di LN. Apa mereka sudah kembali" Finny masih penasaran dengan Alvi.


" Tapi kalau dia bosnya Vya, Vya bilang dia bekerja di Sinar Mega, bukan Mahendra Group."


" Kamu mikirin apa sih?" Dari tadi aku panggil kok diem aja.


" Ah,, enggak kok Pi. Mami ngantuk. " kilahnya


" Sebentar lagi acara nya selesai kok. Atau Mami mau pulang sekarang. Biar Papi suruh Amir antar Mami pulang."


" Nggak usah Pi, gak enak kan sama tamu yang lain. Mami duduk di sini aja."


" Ya udah. Sebentar Papi panggil Vya buat temenin Mami ya."


Finny menjawab dengan anggukan kepala. Dia sangat ingin berbicara banyak dengan bos Navya. ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya... 🥰🥰🥰❤️❤️❤️


__ADS_2