Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Gugup


__ADS_3

Berusaha menenangkan diri dan menetralkan debaran jantung nya karena takut, Navya mengetuk pintu ruangan itu.


" Tok, Tok..!"


Navya masuk, mengamati ruangan yang berwarna dominan Navy dan putih itu sangat luas, rapi dan wangi.


" Permisi Pak." Berjalan masuk lalu berdiri tidak jauh dari Meja Alvi.


" Hmmm"


" Yan, Kamu boleh keluar" Alvi berbicara pada pengawalnya yang masih berdiri setia di belakangnya.


" Baik Pak." Balas nya dengan sopan dan tegas.


Sambil memeriksa berkas di atas meja dia melirik gadis yang masih berdiri di depannya. Gadis itu masih berdiri dengan gugup, tertunduk memandang ujung sepatu high heels nya sambil meremat jari-jarinya. Alvi tersenyum tipis mengamatinya.


" Kamu mau terus Berdiri di sana?" Kata Alvi tapi tidak menghentikan kegiatannya.


" Ya!?" Karen gugup, dia menyahuti Alvi dengan suara agak keras.


Lalu dia tertunduk lagi.


" Duduk!" Perintah Alvi.


" I..iya pak." Vya langsung duduk di depan meja Alvi. Vya masih tertunduk memandang tangannya di atas pahanya, menunggu Alvi membuka suara sambil berdoa dalam hatinya agar Alvi tidak memarahinya di hari pertamanya bekerja. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya demi mengurangi rasa takutnya.


Alvi tersenyum geli melihat gadis di depannya sangat gugup. "Kenapa dia kelihatan gugup begitu, aku bahkan belum bicara apapun."


Alvi mengakhiri senyumnya.


" Siapa nama kamu ?"


" Navya, Pak."


Menghentikan pekerjaannya, lalu mengambil sebuah map di laci meja kerjanya, dan membukanya perlahan. Membaca ulang CV gadis itu.


" Ini pertama kalinya kamu bekerja, benar?" Tanya Alvi.


" Benar Pak."


" Sudah tahu apa saja tugas kamu di sini ?"


" hmm. Tadi Pak Bayu dan Mbak Lisa sudah menjelaskan beberapa Pak." Vya mencoba menjawab dengan tenang.


" Oke, kalau begitu saya mau siang ini janji makan siang saya bersama Klien dimundurkan ke jam 2 siang. Saya ada keperluan diluar. Kamu bisa minta bantuan Lisa."


"Siap Pak. " Tanpa sadar Vya menjawab seperti itu. Alvi mengerutkan alisnya mendengar jawaban Vya.


Vya sampai menutup mulutnya, sadar kalau jawabannya kurang pantas. " Maaf Pak".


Alvi hanya menggeleng sambil tersenyum tapi Vya tidak melihatnya.

__ADS_1


" Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kamu."


" Baik Pak."


Navya keluar dari ruangan Alvi dengan perasaan lega. Awalnya dia berfikir Bosnya akan memarahinya, tapi ternyata tidak sama sekali.


***


Sementara itu di kediaman Darma Wijaya.


" Sayang... Mami kangen banget..." Finny Wijaya berlari menyambut Sang Anak ketika melihatnya turun dari mobil.


Dafin membalas pelukan Ibunya dan mengusap punggung wanita itu, " Mami apa kabar ?" Tanya nya pada Finny.


" Baik sayang..." Puji Finny saat mengurai pelukannya. Kemudian Dafin beralih memeluk Papinya.


" Papi sehat ?"


" Seperti yang kamu lihat Nak.."


" Ayo masuk, kita makan dulu. Kamu pasti lapar kan ? Mami udah masak makanan kesukaan kamu." Melingkar memeluk lengan anak nya, Finny mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Mereka bertiga duduk di Meja makan, Finny mengambilkan makanan untuk putra kesayangannya. " Kamu makan yang banyak ya."


" Makasih Mi.. O ya, tumben aku gak liat dia?"


Finny menatap Dafin, ia tau siapa yang Dafin maksud. " Oh, Vya sudah berangkat bekerja. Ini hari pertamanya jadi dia pergi pagi-pagi sekali. Gak mau telat kayanya."


" Gak sayang, katanya Vya mau mencari pengalaman dengan usahanya sendiri." Finny menjelaskan pada Dafin.


Dafin mengangguk saja, "Baguslah, dia cukup tau diri juga ternyata. Aku pikir dia akan selamanya membuat hidupnya nyaman di rumah ini."


***


Navya sedang fokus dengan pekerjaannya, menjadwalkan ulang kegiatan Alvi untuk nanti siang. Tadi beberapa menit keluar dari ruangannya, Alvi meminta Vya menyiapkan buah segar untuknya. Memesankan tempat untuk makan siang di sebuah restoran yang diminta Alvi. Menyiapkan beberapa dokumen untuk meeting besok. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Navya dan teman-temannya yang lain sudah membereskan meja kerja mereka. Menunggu Bos mereka keluar dari ruangannya baru mereka akan menyusul pulang. Mereka memilih mengobrol namun masih duduk di meja masing-masing, berniat mengakrabkan diri.


Kemudian Pintu di depan mereka terbuka, Alvi keluar dari ruangannya. Navya dan staf yang lain berdiri.


" Sore Pak.."


Dafin hanya mengangguk membalas sapaan mereka. Kemudian masuk ke dalam Lift. Sebelum pintu lift tertutup, Alvi masih sempat melihat ke arah Navya sampai pintunya tertutup sempurna, " Aku masih penasaran apa hubungannya dia dengan Papa dan Mama, kenapa dia datang ke makam waktu itu."


***


Navya sudah berada di dalam mobil bersama Lisa. Dia menawarkan untuk mengantar Lisa pulang, karena rumah mereka yang searah.


" O ya Vy, kok kamu bisa diterima jadi asistennya Pak Alvi ? Karena setahu aku, persyaratan untuk jadi asisten nya itu cowok."


Sebenarnya Lisa sudah penasaran dari tapi pagi saat Bayu memperkenalkan nya pada Navya.

__ADS_1


" Aku juga gak ngerti mbak, Pak Bayu juga sudah menjelaskan sih waktu interview. Aku juga aneh sih mbak, mau ngelamar kerja malah gak teliti." Vya terkekeh mentertawakan dirinya sendiri. " Tapi aku juga bingung kenapa aku bisa diterima."


" Tapi tadi Bapak gak galak kan ke kamu?"


" Gak kok mbak, biasa aja."


Setelah mengantar Lisa, Navya langsung pulang ke rumah. Pasal nya dari jam pulang kantor tadi sang Mami sudah beberapa kali menelpon dan menanyakan keberadaannya.


Tepat jam 7 malam Vya sampai di rumah. Satpam membukakan pintu gerbang saat Navya membunyikan klakson mobilnya.


" Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam.. Sudah pulang sayang." Sahut Finny menjawab salam dari Navya. Finny, Damar dan Dafin sedang bersantai menonton TV di ruang keluarga.


" Iya Mi." Menyalami kedua orangtuanya dan kemudian dia menyalami Dafi. " Apa kabar Kak ?"


" Baik." Jawab Dafin namun matanya tidak memandang Navya, dia hanya sibuk menonton TV.


Navya bersusah payah menahan sesak ketika berhadapan dengan Dafin. Dafin selalu seperti itu padanya, dingin. Namun dia selalu menutupi itu dari Damar dan Finny. Dia tidak mau hubungan mereka menjadi tidak harmonis karena kehadirannya dalam keluarga itu.


"mmhh... ya udah mi, Vya bersih-bersih dulu ya."


Pamitnya.


" Iya sayang, nanti langsung turun untuk makan malam ya." Pinta sang Mami.


" Iya mi."


Setelah membersihkan diri Navya turun untuk makan malam bersama sesuai permintaan Finny. Setelah makan mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Navya sebenarnya nya tidak begitu nyaman ada di sana. Tapi untuk menghargai Damar dan Finny ia pun ikut.


" Gimana hari pertama kamu Vy?" Tanya Damar.


" Ya begitulah Pi, Vya masih harus banyak belajar. Bos Vya juga baru beberapa hari menjabat di Perusahaan itu. " Vya menjelaskan pada Damar.


" Coba kamu kerja di tempat Papi aja. Ntar Dafin juga kerja sama Papi. Bisa belajar banyak sama Dafin dan Papi." Kata Navya.


Dafin melirik Navya, hal yang sama juga Navya lakukan ke Dafin. Sehingga pandangan mereka bertemu, namun Vya langsung menunduk. Tak berani menatap Dafin .


"Huhh!! Jangan harap ! Siapa juga yang mau mengajari dia. Aku tidak mengusirnya saja sudah untung." Batin Dafin.


"Iya kan Sayang ?!" Finny bertanya pada Dafin.


" Gak Apa-apa lah mi. Biarkan dia belajar mandiri dulu, biar banyak pengalaman. " Jawab Dafin datar.


Semetara Navya hanya tersenyum.


" Iya sih, Tapi kamu kalo gak betah di kerjaan kamu yang sekarang, kami bilang aja ya Vy. Pindah aja ke perusahaan Papi." Ujar Finny.


" Iya Mami." Jawabnya untuk menyenangkan Finny.


Damar hanya geleng kepala melihat kelakuan istrinya. Walaupun istrinya selalu memaksakan keinginannya pada anaknya tapi dia tau kalau Finny hanya ingin yang terbaik untuk mereka.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2