Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Saling Menjaga Hati


__ADS_3

"Kalau kamu tidak ingin ke kantor kamu istirahat saja. Aku harus ada di rumah sakit pagi ini." Dafin bersiap-siap setelah selesai mandi, dia akan ke rumah sakit sebelum Mami datang. Tadi subuh dia menelepon untuk mengabari Navya ada di rumah sakit. Padahal dia juga tidak tau keadaan Navya yang sebenarnya.


Sebenarnya Hana berat hati membiarkan Dafin yang terburu-buru pergi. Dia masih ingin sarapan bersama, membuat sarapan kesukaan suaminya. Tapi dia masih harus bersabar.


Awalnya Dafin bingung bagaimana mengabari Mami, apa nanti Alvi akan mengatakan Navya sakit karena kehujanan di taman. Karena mengikuti dirinya dan Hana. Pikiran nya sudah kacau. Beruntung Alvi membantu dirinya membuat alasan agar Mami tidak curiga.


"Saya bukan orang yang akan mencari keuntungan dari celah kesalahan orang lain. Saya ingin Navya menyadari sendiri perasaan saya tulus untuk nya."


Maka dia mengatakan pada Mami, Navya merasa tidak enak badan dan demam tinggi saat tengah malam tadi. Lalu ia memutuskan membawa Navya ke rumah sakit. Begitu lah akhirnya Mami dengan kepanikannya memberondong Dafin dengan berbagai pertanyaan.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? Kamu mual-mual gak? Atau pusing? Kamu ada ingin makan sesuatu gak?" Navya menggeleng bingung. Kenapa Mami heboh begini sih, menodong pertanyaan yang sering juga aneh.


"Navya masuk angin kali Mi. Kak Al tuh, dia nyuruh Navya kerja sampai malam."


Navya melotot padanya, Alvi yang sudah membantunya dan mengantarkan dia ke rumah sakit. Malah Dafin menyalahkannya.


"Sayang, kamu gak usah kerja lagi deh. Kan udah ada Dafin yang nafkahi kamu. Lebih baik kamu fokus sama kehamilan aja."


"Mami, ini bukan karena Pak Alvi kok. Kemarin Vya capek dan ngantuk banget, jadi pas pulang kerja langsung ketiduran. Lupa kalau belum makan malam." Dia melirik sekilas Dafin yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ada rasa bersalah dalam dirinya, tapi dari tadi dia bahkan tidak berani meminta maaf.


"Ya sudah, pokoknya Mami mau kamu istirahat dulu di rumah. Jangan bekerja dulu." Benar, lebih baik ia istirahat dan cuti dari pekerjaannya untuk sementara. Alasan itu sangat tepat agar ia bisa menghindari Alvi saat ini. Bertemu setiap dengan seseorang menyimpan perasaan khusus untuknya, rasanya seperti kurang nyaman.


"Iya Mi, Vya akan istirahat dulu sementara."


***


Finny dan Dafin menemani Navya sampai sore di rumah sakit. Sore itu Navya mengatakan bahwa dia sudah merasa jauh lebih baik dan ingin pulang saja. Dengan izin dokter akhirnya ia diperbolehkan istirahat di rumah. Kali ini dia sendiri yang meminta untuk tinggal di rumah Finny saja. Dengan senang hati sang Mami membawanya pulang.


Dafin masih mengurus administrasi saat Hana datang untuk menjenguk Navya. Tanpa sepengetahuan Dafin, Hana sudah sampai di depan kamar rawat. Mengetuk pintu dan membukanya saat sudah dipersilahkan oleh orang yang berada di dalam.

__ADS_1


"Selamat sore Tante, Vya.."


"Oh Hana.. Sini masuk sayang."


Hana tersenyum sungkan, lalu mendekat ke tempat dimana Finny sedang membantu Navya bersiap untuk pulang.


"Sudah mau pulang?" Melihat Navya sudah tidak lagi memakai baju pasien dan selang infus sudah di lepas.


Navya hanya tersenyum sekenanya, dia tidak tau harus bersikap bagaimana pada orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sekaligus madu nya.


"Iya, Navya meminta pulang dan istirahat di rumah saja. Dafin sedang mengurus administrasinya."


"Oh begitu.."


Pintu terbuka, Dafin terkejut melihat siapa yang ada di dalam ruangan Navya. "Hana..?"


Hana tersenyum dan menunduk sopan. "Saya datang untuk melihat Navya."


Hana berdenyut melihat bagaimana Finny memperlakukan Navya, padahal hanya membantu gadis itu bersiap saja. Dia ingin seperti itu, dia yang harusnya mendapatkan itu sejak dulu. Tapi Navya sudah merampas segala nya, termasuk Dafin.


"Semuanya sudah di urusan oleh Kak Al Mi, Vya boleh pulang kapan saja. Kak Al menanggung semua biaya nya." Dafin mendekati Maminya.


"Ya ampun, anak itu... Kamu harus berterima kasih pada Alvi." Navya teringat lagi pada Bos nya itu, bagaimana sekarang dia akan menyikapi nya. Apa harus berhenti bekerja.


"Iya... iya..." Malas sekali rasanya menghubungi kakak sepupu nya itu.


"Vya yang akan menghubungi pak Alvi nanti Mi." Dafin ingin protes sebenarnya, tapi ia urungkan karen ada Hana di sana.


"Han, kamu ikut ke rumah aja yuk sekalian. Kamu sedang tidak sibuk kan?"

__ADS_1


"Eehhmm Hana pulang saja Tante."


"Gak apa-apa Kak, ikut saja. Kaka juga baru datang kan. Nanti Mas Dafin yang akan mengantar kakak pulang." Hana menatap Navya, merasa ada yang tersirat dari ucapannya. Seakan dia mengetahui hubungan Navya dan Dafin.


Dafin tidak bereaksi. Mencegah ataupun mendukung keputusan Mami dan Hana akan membuat masing-masing istrinya merasa tidak nyaman. Jadi dia diam saja.


"Ayo Han, nanti kita makan malam bersama."


Finny terus memaksa dirinya, mau tidak mau dia mengiyakan ajakan mereka. Walaupun dia masih belum mempersiapkan diri bagaimana saat berhadapan dengan Damar nanti. Damar sudah tau perihal pernikahannya dan Dafin.


"Iya, baik Tante."


"Dafin, ambil kursi roda untuk istri kamu."


"Emangnya kamu belum bisa berjalan?" Tanyanya pada Navya.


"Gak usah Mi, Vya bisa jalan sendiri kok."


"Tuh kan, Vya bisa kok Mi."


"Kamu tuh ya, gak ada perhatian nya sama istri. Ya sudah kamu gandeng Navya." Lagi-lagi relung hati Hana berdenyut, Finny begitu memanjakan gadis itu. Harusnya aku yang di sana! Begitulah kira-kira isi hatinya.


"Iya... Mami..." Dafin kikuk sendiri, karena ada Hana di sana tapi dia harus menuruti perintah sang Mami.


"Vya mau sama Mami aja jalannya." Navya langsung menggandeng tangan Finny. Wanita itu tersenyum dan tidak lagi menjawab. Dia juga senang Navya bersikap manja padanya. Putri kecilnya itu sudah lama tidak seperti itu padanya.


Dan Akhirnya Dafin yang membawa barang-barang milik Navya, diikuti Hana di sampingnya. Mereka saling menatap tapi tak bisa berkata apa-apa. Ada sedikit rasa bersalah di mata Dafin saat menatap Hana, gadis itu hanya tersenyum samar saja. Jujur hatinya memang tidak baik-baik saja saat ini tapi dia harus menahannya.


Sama seperti Hana, Navya sendiri juga tengah menahan gejolak dalam hatinya juga. Memikirkan perasaan dan kesehatan wanita yang sedang ia genggam tangan nya...

__ADS_1


"Maafkan Vya Mi. Suatu saat nanti, Mami hari tau semuanya, tapi untuk sekarang biarlah begini dulu."


Bersambung


__ADS_2