
Tujuan utama sebenarnya Alvi datang adalah untuk menemui Navya dan melihat keadaannya. Alasan mengambil laporan perusahaan hanya agar Tante dan om nya tidak curiga dengan perhatiannya pada Navya. Walaupun Dafin sudah lebih dulu menyadari, tapi Alvi tidak peduli pada Dafin. Sebab dia tau bahwa Dafin juga sedang mempermainkan Navya karena masih menjalani hubungan dengan Hana. Bahkan mereka akan menikah diam-diam.
Dengan kedatangannya tadi, dia juga berhasil membuat Navya setuju menemani dirinya besok untuk ke acara perjamuan penting. Tentunya sudah atas persetujuan Finny, soal Dafin Navya yang akan mengatakan nanti.
"Kaki kamu sudah baikan?" Alvi menunjuk dengan matanya.
"Oh, sebenarnya sudah baikan kok Pak. Cuma Mas Dafin aja tadi yang berlebihan." Dia bicara sambil manyun, mengingat Dafin memperlakukan dirinya berlebihan. Tapi dia juga suka.
"Kalau mau, kamu boleh cuti sehari lagi."
"Eh, jangan pak. Besok saya bisa masuk kantor kok. Lagipula saya kan sudah tugas saya menemani Bapak bertemu klien.
"Kamu yakin?" Navya mengangguk dengan antusias. Dia merasa tidak enak, orang-orang di kantor sudah banyak yang merasa iri padanya. Bukan tidak sering Navya mendapat perlakuan khusus dari Alvi.
"Ya sudah, besok saya jemput kamu. Kamu belum bisa naik mobil sendiri kan?"
"Gak usah Pak, saya di antar supir Mami aja. Atau bisa naik taksi."
"Ya gak apa-apa lah sayang, biar Al yang jemput kamu besok." Tiba-tiba Finny datang sambil membawa secangkir kopi untuk Alvi.
"Tapi Vya kan gak enak Mi." Bisik Navya, namun masih bisa di dengar Alvi.
"Tapi supir Mami sedang tidak masuk sayang, dia cuti sampai lusa. Dan mami gak akan izinkan kamu naik taksi dengan keadaan kamu begitu. Tante minta tolong jemput Navya ya Al."
"Saya gak keberatan Tante."
"Besok pagi sekalian saja kamu sarapan di sini Al. Kamu mau kan?"
"Dengan senang hati Tante. Besok Al akan datang lebih awal."
Begitulah akhirnya, tadinya dia hanya ingin menjenguk Navya tapi tanpa perlu usaha keras dia mendapatkan banyak keuntungan. Navya bahkan bersedia masuk kerja dan dijemput olehnya. Dia merasa, seakan semesta mendukung dirinya untuk dekat dengan Navya.
Senyumnya mengembang sempurna, Ryan bahkan ikut tersenyum melihat raut wajah ceria Alvi. Tapi saat ini dia harus melaporkan sesuatu terkait kecelakaan yang menyebabkan orang tua Alvi nya meninggal dunia.
"Maaf Pak, mengganggu kebahagiaan Bapak?"
Alvi jadi salah tingkah, wajah bahagia tadi langsung berubah menjadi seperti biasanya. Dingin dan tenang, namun tetap tampan.
"Apa yang kamu temukan?"
Ryan bicara sambil tetap fokus menyetir. "Kecelakaan yang di alami Tuan Indra besar kemungkinan tidak ada hubungannya dengan Tuan Damar Pak. Beliau kebetulan ada di lokasi sesaat setelah insiden itu terjadi. Seseorang memberikan laporan palsu pada Tuan Besar Sultan dengan mengatakan bahwa Tuan Damar adalah dalang di balik kecelakaan itu."
"Lalu, apa kamu tau siapa orang yang sudah membuat kakek ku membenci Om Damar?"
"Hendra Wijaya.."
Alvi menarik nafas dalam. Dia tau siapa Hendra Wijaya. Dia adalah adik Damar, satu ayah beda ibu.
"Dan satu hal lagi Pak." Ryan merasa ragu untuk menyampaikan ini, tapi ada hubungannya dengan penyelidikan yang dia lakukan perihal kecelakaan dan masa lalu keluarga Mahendra. Cepat atau lambat dia harus menyampaikan juga pada Alvi.
"Katakan."
"Malah kecelakaan yang di alami Ibu Navya dan orangtuanya dulu adalah rencana Tuan Besar Mahendra."
__ADS_1
Alvi tidak menjawab apapun. Dia mengepalkan tangan sambil menutup matanya.
"Saya akan selidiki lagi Pak, saya menduga ada banyak kesalahpahaman antara keluarga Mahendra dan Wijaya."
"Selidiki semua dengan jelas. Jangan sampai ada kesalahan."
"Baik Pak."
***
"Sayang.... Tempat ini sangat indah dan nyaman."
"Kamu suka? Besok kita akan lihat tempat pernikahan kita, lebih indah daripada ini. Kamu pasti tidak sabar?"
Hana mengangguk antusias dan langsung memeluk laki-laki di sebelahnya itu.
"Terimakasih Sayang."
"Navya, kamu sedang apa?"
Entah kenapa pikiran Dafin ada pada Navya, padahal dia sedang bersama Hana. Gadis itu sedang mengoceh, membicarakan rencana pernikahan mereka besok. Tapi Dafin malah memikirkan Navya.
"Sayang... " Dafin tidak menjawab. "Fin? Dafin?" Hana menggoyangkan tubuh Dafin hingga lelaki itu tersadar.
"Hmmm.. Ya?!"
"Kamu melamun?" Hana heran dengan sikap Dafin, yang sejak keberangkatan mereka tadi dia lebih banyak diam.
"Enggak. Aku hanya sedang menikmati suasana di sini. Bersama kamu." Mencoba tersenyum, namun Hana bisa melihatnya. Itu senyum yang dipaksakan.
"Tapi aku masih mau sama kamu di sini... "
"Sayang, kamu lupa? Besok kita menikah, setelah itu kamu bebas kapan pun bersama ku."
"Kamu janji?"
"Apapun sayang. Aku akan selalu ada buat kamu."
"Oke..."
Ketika Hana bersedia kembali ke kamar, Dafin pun segera kembali ke kamarnya. Sedari tadi dia sudah menahan geram, melihat pesan masuk dari Navya yang mengatakan besok pagi dia sudah akan masuk kerja. Dan Alvi yang menjemputnya. Sebenarnya hal itu biasa saja, karena setelah pernikahan mereka, beberapa kali Alvi pernah menjemput ataupun mengantar Navya. Namun kali ini entah mengapa Dafin merasa tidak terima dan tidak tenang. Apalagi dia bisa melihat perhatian Alvi pada istrinya bukan sekedar sikap Bos pada pegawainya, atau kakak sepupu kepada adiknya. Lebih dari itu, Alvi memang menyukai istrinya.
"Halo Mas Daf...."
"Kamu dimana?" Dia langsung menodong Navya dengan pertanyaan.
"Vya di rumah Mami Mas."
"Kenapa kamu masuk kerja? Harusnya kamu cuti saja sampai aku pulang."
Terdengar Navya tertawa kecil di seberang sana. "Kenapa tertawa?" Dia semakin gusar.
"Ya abisnya Mas Dafin lucu. Vya kan bukan kerja bangunan, ya walaupun Vya sering ke proyek pembangunan sama Pak Alvi. Tapi kan Vya cuma kerja di kantor, kaki Vya juga udh mendingan kok. Lagipula besok Vya cuma nemenin meeting sama klien penting."
__ADS_1
"Ya tetap saja, kamu harus sembuh dulu."
"Gak apa-apa Mas, tadi Pak Alvi juga bawain Vya flatshoes, kebetulan Vya lupa bawa kemarin. Dan besok katanya kita cuma meeting aja, setelah itu dia antar Vya pulang."
"Kamu ngerasa gak sih, perhatian Alvian ke kamu itu berlebihan?" Dafin jadi semakin gusar.
"......" Navya terdiam, kenapa Dafin tiba-tiba bicara begitu. Bukan karena perhatian Alvi, tapi kenapa Dafin jadi peduli dengan sikap Alvi yang baik pada Navya. Navya heran, tapi bohong kalau dia tidak menganggap itu sebagai tanda cemburu. Ya Dafin cemburu.
"Navya?"
"Mas Dafin udah makan?"
"Kenapa jadi bahas makan? Aku sedang membahas kamu dan Alvi?"
"Mas Dafin cemburu?"
"....." Tercekat. Dafin juga tidak tau kenapa dia harus peduli.
"Mas Dafin??"
"Aku ngantuk. Mau tidur."
"Iya Mas. Selamat malam."
"Hmmm."
Dafin langsung mematikan panggilan telepon nya. Mendadak jantung nya berdebar saat Navya menodong nya dengan kata cemburu. Kemudian dia mengetik sesuatu pada layar ponselnya dan mengirimkan pesan pada Navya.
"Ingat, jangan kemana-mana setelah pulang kerja."
Dia langsung meletakkan ponsel itu di atas tempat tidur, tanpa berniat menunggu balasan dari Navya.
Tak lama benda pipih di sebelahnya berbunyi kembali. Tertera nama Hana di sana. Dia tak langsung menjawab, menarik nafas perlahan untuk menetralkan debaran jantung nya. Seakan Hana bisa melihatnya, tidak mau ketahuan bahwa dia baru saja bicara dengan sang istri.
"Sayang, kenapa dari tadi nomor kamu sibuk terus?" langsung bicara saat panggilan nya sudah tersambung.
"Oh itu, tadi Papi yang telpon. Kamu kenapa belum tidur?"
"Aku kangen sama kamu. Aku gak sabar untuk besok."
"Aku juga, tapi kamu harus istirahat. Kamu gak mau kan besok ada yang punya mata panda? Riasan nya jadi tidak sempurna."
"Aaaaa... iya iya... kamu benar. Aku tidur dulu sayang."
"Iya..."
"I love you..."
"love you too..."
Setelahnya malah Dafin yang tidak bisa tidur. Saat ini tidak mengerti apa yang dia rasakan, apa yang sebenarnya dia inginkan. Dulu pernikahan dengan Hana yang dia ingin perjuangkan, sekarang malah dia bimbang. Merasa bersalah pada seorang wanita yang sudah lebih dulu berstatus istrinya. Namun jika dia membatalkan rencananya dengan Hana, bukankah dia akan menyakiti hati wanita yang sudah setia menemani dirinya, selalu memberikan waktu dan perhatian untuk Dafin selama ini.
Epilog:
__ADS_1
Gadis itu tersenyum mendapatkan pesan ultimatum dari sang suami, merasa saat ini dia sudah mulai berhasil mengambil hati laki-laki yang dulu selalu bersikap dingin padanya.
Meskipun bukan kata-kata cinta, tapi dari pesan yang Dafin kirimkan bisa di artikan Navya bahwa suaminya sedang cemburu pada Alvi.