
"Kamu gak turun dulu?" Tawar Hana saat mobil Dafin sudah berhenti di parkiran depan apartemen.
"Aku langsung pulang ya, gak apa-apa kan?"
"Hmmm.. ya.. Aku paham." Gadis itu tersenyum tenang.
Dafin menggenggam tangannya lagi. "Kamu gak marah?"
Hana menggeleng sambil tersenyum. "Kamu tenang aja. Aku gak marah kok. Kamu sama Navya mau ke rumah Mami kan?" Dafin mengangguk pelan.
"Ya udah, pasti mereka sedang menunggu kalian. Aku akan sabar, tapi aku gak sabar untuk lusa." Dafin mencium punggung tangan Hana lembut sebagai seorang ucapan terimakasih nya.
"Kita akan menjemput kebahagian kita." Lalu mereka berpelukan, Dafin mencoba meyakinkan lagi dirinya bahwa hatinya memang ingin bersama Hana.
Setelah itu Hana turun, mobil Dafin belum bergerak sampai Hana melewati pintu lobi apartemen dan menghilang dari pandangannya. Lalu dia kembali mengendarai mobilnya untuk kembali ke rumah. Sebelumnya dia mampir ke apotek untuk membeli krim pereda nyeri.
***
Finny dan juga Damar sudah menyambut mereka di teras. Saat Dafin mengabari bahwa mereka akan datang dan menginap di sana, sang Ibu sangat senang. Dia mempersiapkan banyak menu makan malam untuk anak dan menantunya.
Setelah mengantarkan Hana, Dafin langsung pulang. Sebelumnya dia membeli obat pereda nyeri tapi karena khawatir kaki Navya kenapa-kenapa dia juga memanggil dokter langganan keluarga nya agar mengobati kaki Navya. Padahal Navya sudah menolak tapi bukan Dafin namanya kalau dia bisa di bantah.
Dafin turun dari mobil, kemudian membukakan pintu di sebelah Navya. Melihat sang anak memapah Navya, Finny dan Damar merasa ada yang tidak beres.
"Kaki kamu kenapa sayang?" Tanya nya panik saat melihat kaki Navya di perban sambil menghampiri mereka. "Kamu gimana nih Fin, gak bisa jagain istri kamu."
"Mami, nanti aja ngomelnya. Biar mereka masuk dulu, Kasin Navya." Finny juga membantu Navya untuk berjalan masuk ke rumah. Membimbing mereka langsung ke meja makan.
Setelah merek semua duduk, Finny memberikan tatapan tajam ke arah Dafin. Navya menatap ke arah ibu mertua dan suami di sebelahnya secara bergantian. Lalu melihat ke arah Damar yang hanya tersenyum lucu sambil mengedikkan bahunya.
"Mami, ini bukan salah Mas Dafin kok. Vya jatuh waktu di kantor."
"Di kantor? Maksudnya di kantor Al?"
__ADS_1
"Iya Mi." Dan jawaban itu membuat Dafin menjadi merasa terselamatkan dari tuduhan Finny. Dia tersenyum ke arah Mami, seakan-akan mengatakan ' benarkan, bukan salahku'.
Mami masih belum percaya, dia masih menatap tajam ke arah Dafin. "Iya-iya... Tadi aku yang menelpon Vya, dan aku gak jemput dia langsung di depan lobi. Tapi di seberang jalan...."
"Nah kan, kamu tuh ya... kan mami udah bilang jagain istri kamu." Dafin bahkan belum selesai bicara tapi Finny sudah mengomel. Sementara Navya terkejut Dafin mengakui, Dafin juga bersalah atas cederanya Navya. Biasanya dia tidak akan peduli bahkan jika dia bersalah sekali pun.
"Mami, udah gak apa-apa. Ini gak sepenuhnya salah Mas Dafin. Tadi Vya ya g kurang hati-hati. Nih juga tadi Mas Dafin yang panggil dokter ke rumah, dia juga beliin obat oles buat Vya. Mas Dafin jagain Vya kok.
"Beneran..?" Tanya nya pada Dafin.
"Mami boleh gak percaya sama Dafin, tapi masa' mami gak percaya sama Navya?" Sahut Damar santai.
"Iihhh Papi... tega sama anak sendiri." Raut wajah Dafin berpura-pura sedih. Tapi mereka semua tertawa dan Dafin juga ikut tertawa.
Navya merasa senang. Ini yang dia impikan dari dulu. Bahkan jika Dafin bukanlah suaminya, dia ingin saat mereka duduk bersama seperti ini mereka akan disatukan dengan kehangatan. Dia bersyukur Dafin sudah mulai berubah, walaupun saat ini Dafin sedang bersandiwara Navya tetap bahagia.
***
"Apa kamu perginya gak bisa di tunda Fin?" Finny, Damar dan Dafin sedang duduk di teras samping. Sementara Navya sudah diantar ke kamarnya untuk beristirahat.
"Tapi istri kamu sedang sakit."
"Tadi Kak Al sudah nelpon Dafin, dia bilang Navya tidak usah bekerja dulu besok."
"Bukan masalah itu. Sebagai suaminya, pasti Navya butuh kamu saat dia sedang sakit begitu." Damar memperjelas ucapan istrinya.
"Kan ada Mami dan Papi. Mami juga senang kan dia di sini."
"Haduuuhh si Dafin ini, gak paham-paham."
Damar hanya tersenyum, sementara Dafin pura-pura bingung. Bukan dia tidak tau maksud ibunya. Tapi memang dia tidak mungkin membatalkan rencananya, apalagi membuat kecewa Hana. Sesungguhnya dia juga khawatir dengan kondisi Navya. Tapi dia mencoba mengabaikan.
"Dafin ke kamar dulu ya Mi. Mau liat Navya, Dafin juga ngantuk."
__ADS_1
"Iyaa... eh kamu ingat, istri kamu masih sakit. Di tahan dulu."
Dafin terkejut dengan ucapan Finny. Tapi dia hanya geleng-geleng kepala saja sambil kembali berjalan meninggalkan sepasang suami-istri itu. Tidak mungkin dia melakukan itu, bukan karena Navya sedang sakit. Tapi memang dia tidak pernah melakukan apapun kan. Mungkin belum.
Ceklek
Dafin membuka pintu dan menutup nya kembali secara perlahan. Dia mendekati Navya yang sedang tertidur di sofa. Dafin merasa kasihan, lalu dia mengangkat tubuh Navya dan memindahkan ke ranjang.
Dafin berniat untuk tidur di sofa, namun dia melihat ke arah pintu. Mereka sedang berada di rumah orangtuanya, terkadang Mami bisa saja masuk ke kamar mereka seenaknya. Akan jadi masalah jika Mami melihat mereka tidur terpisah. Makan Dafin memutuskan untuk tidur di sebelah Navya.
Untuk beberapa saat Dafin tidak bisa tidur, dia hanya melihat ke arah langit-langit kamar. Kemudian dia memiringkan tubuhnya menghadap ke punggung Navya yang membelakangi dirinya. Menatap punggung lemah itu, yang bergerak seirama hembusan nafas sambil menerawang hal-hal yang mereka lewati beberapa waktu belakangan ini.
Setiap pagi, air putih sudah tersedia di atas meja dekat tempat tidur. Selesai mandi stelan jas dan segala perlengkapan lainnya sudah ada di atas tempat tidur yang sudah rapi. Kopi dan sarapan ringan sudah tertata rapi di meja makan. Dan selain sarapan bersama setiap pagi, akhir-akhir ini mereka sering makan malam bersama. Hanya jika Dafin tidak sedang ada janji dengan Hana, dan tentunya tanpa sepengetahuan Navya.
Entah apa yang terjadi pada diri Dafin, bukannya sedang bersandiwara ataupun hanya menuruti permintaan Navya untuk menganggap nya ada tapi apa yang dia lakukan akhir-akhir ini adalah murni tanpa di buat-buat. Termasuk sikapnya pada Navya.
Tiba-tiba lamunannya terhenti, ketika wajah tenang dan lembut itu tiba-tiba sudah berada di hadapan Dafin. Walaupun tidak begitu dekat, namun Dafin merasakan jantungnya berdebar. Tanpa dia sadari tangan nya terangkat untuk menyentuh wajah itu.
Derrrttt...derrrttt...
Tangan nya terhenti seketika, menggantung di udara sebelum dia bisa membelai pipi halus Navya. Beralih melihat benda yang baru saja bergetar di atas meja di sebelah tempat tidur nya. Pesan masuk dari Hana.Gadis itu mengirim foto dirinya, sedang memakai Baju pengantin yang kemarin dia pilih untuk pernikahan mereka.
Sejenak Dafin terdiam, melihat foto Hana bergantian dengan sosok gadis yang sedang berbaring di sebelah nya. Menarik nafasnya dalam sambil memejamkan matanya sebentar, kemudian dia membalas pesan dari Hana.
Dafin:
"Cantik.. ❤️.."
Hana:
"Akan lebih cantik saat aku ada di samping kamu nanti ❤️"
Dafin bimbang, dia benar-benar bingung sekarang. Beberapa hari yang lalu dia sudah sangat yakin dengan rencananya. Menikahi Hana, diam-diam. Namun malam ini dia merasa sangat bersalah pada Navya. Tapi membatalkan rencana pernikahan pada besok lusa maka akan sangat menyakiti Hana.
__ADS_1
Dafin bingung pada dirinya sendiri, ini seperti bukan dirinya. Dafin yang tidak peduli pada siapapun kecuali orangtuanya dan tentunya Hana yang sejak dulu selalu setia memberikan semangat serta mendengar kan semua keluh kesahnya. Lantas saat ini dia malah peduli dengan perasaan Navya.