Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Pesta Part 2


__ADS_3

Navya berjalan menuju lobi, Dafin sudah menunggu nya sambil duduk di sofa dan memainkan ponselnya.


" Mas Dafin..." Berdiri tepat di depan Dafin. Si pemilik nama langsung melihat ke arah sumber suara. Satu detik, dua detik, tiga detik hingga beberapa detik selanjutnya dia hanya diam, memandang gadis yang tadi memanggilnya.


" Mas ??" Dafin terpana melihat penampilan Navya.


" Hmmm ya..!" Langsung berdiri dan mencoba menutupi keterkejutannya.


"Apa sih yang ada di kepalaku. Bagaimana aku bisa berfikir kalau dia itu...cantik.."


" Masuk sekarang?"


" Ya.. Ayo.." Saat Navya hendak berbalik, Dafin menarik tangannya. Navya heran, dia menatap tangannya dan Dafin bergantian.


"Kamu gak ingat status kita?" Ucap Dafin menjelaskan tindakannya. Dan Navya langsung paham bahwa beberapa undangan di sini juga rekan bisnisnya Papi yang waktu itu datang ke acara pertunangan mendadaknya. Mereka berjalan bergandengan menuju tempat acara. Saat mereka memasuki ruangan itu, ada sepasang mata yang sedang berusaha menahan gejolak di hati nya. Apalagi saat netra hitamnya menangkap tangan mereka yang saling terpaut.


"Hei Brother..." Chandra yang lebih dulu menyapa mereka. Mereka saling berpelukan.


"Makin tampan aja, semenjak punya gandengan." Dafin membalasnya dengan senyuman.


"Apaan sih Lo.." ucapnya sambil menepuk bahu Chandra.


Alvi juga menyapa Dafin dengan akrab. Meski mereka tidak terlalu dekat, tapi dulu mereka cukup sering bertemu karena Chandra.


"Terimakasih sudah datang Fin."


"Hmmm... yaa.. sama-sama."


"Aku tinggal dulu sebentar. Kamu nikmati pestanya ya."


Alvi lalu beranjak dari sana, sementara Navya merasa sikap bos nya agak aneh, terlihat begitu dingin.


"Mas, saya sama teman-teman kantor dulu ya." Navya meminta izin dan Dafin menyetujui dengan anggukan kepala. Navya tidak menghindari Dafin, hanya saja ia lebih nyaman bersama teman sekantornya dari pada duduk di sebelah Dafin.


***


Beberapa saat kemudian acara dimulai, tampak seseorang sedang berjalan menuju panggung yang menjadi pusat pesta tersebut.


"Selamat malam untuk semua tamu kehormatan kami, terimakasih atas kehadirannya pada acara malam ini. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa acara ini dibuat untuk menyambut pemimpin baru PT. Sinar Mega. Namun sebelum itu saya ada kejutan untuk Bapak Alvian, selaku Presdir kita yang baru."


Alvian yang sedang duduk di meja khusus VVIP bersama sang nenek sedikit heran. Dia melihat ke arah Rima,, namun Rima hanya tersenyum.

__ADS_1


" Mari kita berdiri semua, untuk menyambut kehadiran seseorang yang istimewa... Tuan Sultan Mahendra... " Sang pembawa acara menyebutkan nama sang Kakek yang tiba-tiba masuk dari pintu utama, dan di sambut tepuk tangan oleh semua tamu. Mereka sangat mengenal siapa Sultan Mahendra, pemilik perusahaan raksasa Mahendra Grup. Sementara Alvi yang terkejut langsung berdiri dan berjalan dengan bahagia menuju tempat kakeknya berdiri. Mereka berpelukan, Alvi terkejut dengan kehadiran Sultan. Sebab yang ia tahu, kakeknya tidak bisa hadir pada acara malam ini.


"Kakek kenapa tidak memberitahu Al kalau akan datang."


"Bukan kejutan namanya kalau kakek beri tahu !?"


Mereka berjalan menuju ke meja dimana Rima berada, suami istri itu kemudian saling berpelukan.


Navya melihat adegan haru itu, ia teringat kedua orangtuanya. Alvi juga sama seperti dirinya, tapi Alvi masih memiliki kakek dan nenek yang sangat menyayangi dia sebagai gantinya. Dan Navya sendiri, dia punya Damar dan Finny sebagai orangtuanya saat ini.


"Saya persilahkan kepada Tuan Sultan Mahendra untuk naik ke atas panggung."


Sultan melepas pelukannya pada Rima dan berjalan menuju pusat acara.


"Selamat malam untuk semua hadirin yang terhormat. Tanpa berlama-lama saya ingin menyampaikan bahwa cucu kesayangan saya Alvian Zander Mahendra tidak lagi akan memimpin PT. Sinar Mega." Semua yang hadir di sana terkejut mendengar penuturan Sultan. Apa sebenarnya yang terjadi. Bukankah informasi yang mereka terima sebaliknya. Alvi juga tidak luput dari rasa penasaran, apa sebenarnya yang kakeknya maksud.


"Tapi mulai saat ini Alvian Zander Mahendra akan menjadi pemimpin utama di Perusahaan Mahendra Grup. Dia akan menjabat sebagai Presiden Direktur Mahendra Grup." Sultan memanggil Alvi dengan gerakan kepala untuk naik ke atas panggung.


Semua hadirin di sana memberikan tepuk tangan yang meriah mengiring langkah Alvi yang berjalan menuju panggung. Sang kakek lalu memeluknya dengan bangga.


Sultan mengurai pelukannya dan kembali berbicara.


Lalu ia memberikan kesempatan kepada Alvi untuk memberi kata sambutan.


"Selamat malam semuanya. Terimakasih atas kesempatan ini, Terimakasih juga sudah bersedia hadir dalam acara malam ini. Saya sungguh tidak menyangka, bahwa orang yang paling saya sayangin akan memberikan kejutan dengan kehadirannya. Kalian yang mengenal beliau pasti tahu bagaimana seorang Tuan Sultan Mahendra menjalankan bisnis dan perusahaan sehingga Mahendra Grup menjadi perusahaan raksasa dan memiliki cabang di beberapa kota tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Bahkan terkadang beliau menganggap kantornya adalah rumah. Dan saya rasa sekarang Kakek ingin menebus semua rasa bersalahnya pada Nenek karena Kakek lebih mencintai pekerjaannya dari pada nenek." Semua hadiri tertawa mendengar ucapan Alvi, sementara Sultan melotot kepada Alvi.


"Saya merasa belum siap untuk ini, karena saya takut tidak bisa menjalankan Mahendra Grup sebaik Kakek, Saya masih butuh banyak belajar. Tapi tidak ada yang bisa membantah seorang Sultan Mahendra bukan ?" Mereka semua tertawa lagi. Memang siapa yang bisa meledek Sultan Mahendra, selain cucu kesayangannya.


"Dan selain kepada Kakek dan Nenek saya, saya berterimakasih kepada para petinggi perusahaan dan seluruh karyawan Mahendra Grup baik di kantor pusat maupun kantor cabang dan anak perusahaan di bawah naungan Mahendra Grup. Semua ini juga atas kerja keras kalian. Di sini sebagai Pemimpin yang baru Saya mohon kerjasamanya, karena kalian merupakan bagian penting dalam keberlangsungan Mahendra Grup kedepannya. Terimakasih kasih semuanya."


Alvi lalu turun dari panggung, kembali ke mejanya lalu memeluk Sultan dan Rima bergantian.


"Baik, hadirin dipersilahkan duduk kembali. Kami ucapkan selamat kepada Bapak Alvian Zander Mahendra, semoga nantinya Mahendra Grup akan semakin berkembang di bawah kepemimpinan Anda. Acara akan kita lanjutkan dengan hiburan dan untuk para tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah tersedia."


***


Acara berlanjut dengan suasana yang lebih santai. Lantunan lagu dari beberapa penyanyi terkenal yang menjadi hiburan selama acara berlangsung. Sejak tadi Alvi disibukkan oleh sang kakek yang mengajaknya bertemu dengan beberapa kolega bisnisnya. Banyak dari mereka yang berusaha memperkenalkan Alvi dengan anak perempuan mereka ikut hadir, dan beberapa lainnya sekedar memberikan informasi bahwa mereka memiliki anak perempuan yang cantik.


Alvi mencoba melepaskan diri dari sang Kakek, ia terlalu muak mendengar beberapa rekan bisnis kakek menyodorkan anak perempuan mereka untuk dikenalkan padanya.


Alvi beralasan ingin menemui temannya, padahal dia mencoba mencari keberadaan seseorang. Ada yang tiba-tiba menepuk bahunya.

__ADS_1


" Woiii... cari siapa ?" Chandra seakan tahu apa yang dipikirkan Alvi.


"Tidak ada."


" Dia di sana, bersama tunangannya." Chandra menunjukkan dimana Navya duduk bersama Dafin. Alvi menatap nanar pada pasang itu.


"Kenapa harus Navya, Lo bisa milih. Ada banyak yang antri buat jadi pasangan Lo."


Alvi tersenyum. " Aku gak tau, Aku hanya merasa dia berbeda. Padahal aku baru mengenal nya."


"Tapi Lo harus move on bro, dia udah punya orang."


" Biar takdir yang bicara" Ucapnya santai sambil menepuk bahu Chandra dan berlalu dari sana.


Dia menuju ke Meja nenek nya. Di sana sang nenek sudah duduk dengan seorang wanita yang sedikit lebih muda dari Rima dan disampingnya ada seorang gadis cantik. Alvi merasa sudah salah melangkah, sepertinya dia terjebak.


"Sayang, sini... Kenalkan ini Tante Vida dan ini putrinya Airin." Rima memperkenalkan mereka pada Alvi. Alvi menyalami mereka bergantian. Terlihat gadis itu tersenyum saat bersalaman dengan Alvi.


" Nak Alvi, ini putri saya. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan nya di LN. Kalau ada waktu kapan-kapan kalian bisa pergi berdua agar bisa lebih akrab."


"Ya mungkin lain kali Tante, Kalau Saya tidak sedang sibuk." Tampak gadis itu bereaksi mendengar ucapan Alvi. Dia terlihat antusias, begitu juga ibunya.


" Saya permisi sebentar Tante, Nek Navya ada di sana bersama Dafin. Nenek mau bertemu?"


Alvi mencoba menghindari dua orang ibu dan anak itu.


" Oh ya, ayo kita ke sana. Vida, saya tinggal dulu yaa..." Sepertinya Rima juga tidak begitu menikmati pertemuannya dengan Vida dan Airin.


"Untung kamu datang Nak, nenek sudah bosan mendengar dia memuji-muji putrinya." Ucap Rima saat mereka sudah pada jarak aman. Alvi tersenyum mendengarnya. Ini juga rencana Alvi untuk membawa neneknya menemui Navya, agar Navya tidak berduaan dengan Dafin.


"Berarti Al sudah menyelamatkan nenek kan."


Lalu mereka tertawa bersama.


" Navya..." Alvi yang menyapanya lebih dulu.


"Ah,,, Nenek. Mas kenalkan ini neneknya Pak Alvi." Rima memandangi wajah Dafin, saat Dafin mengulurkan tangan untuk menyalami namun Rima malah memeluknya. Ntah kenapa Rima tiba-tiba ingin sekali memeluk nya. Rima merasa mengenal Dafin begitu dekat. Dafin sampai terkejut, begitu juga dengan Navya dan Alvi. Tapi Dafin membiarkan saja apa yang Rima lakukan.


"Maaf Nak, Nenek hanya senang bertemu dengan kamu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2