Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Navya Patah Hati


__ADS_3

Alvi memang sudah jarang menghubungi Navya, paling hanya bertanya apakah Navya sudah sampai di kampus atau belum, apakah Navya sudah sampai di rumah atau belum. Tapi setiap hari dia akan datang ke rumah. Entah untuk sarapan atau makan malam. Baik sendiri atau dengan Diana.


Namun sikapnya saat bertemu Navya sama sekali tidak berubah, dia masih bicara dengan ramah pada Navya. Benar-benar seperti sahabat atau seorang kakak. Seperti malam ini dia sudah datang sejak sore, menemani nenek bersantai sambil minum teh.


Navya masuk dan mendengar suara tawa nenek dan Alvi yang sedang duduk di depan kolam renang. Dia berniat untuk mendekat sampai dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Al akan langsung melamarnya untuk menikah Nek, mungkin saat peresmian hotel kita Minggu depan."


"Apa kamu sudah yakin?"


"Iya Nek, orangtuanya juga sudah setuju."


"Jika dia menolaknya, bagaimana?"


"Tidak akan, Al yakin. Lagipula langsung menikah itu lebih baik. Proses pendekatan kami akan lebih mudah.Nenek juga kan sudah tidak sabar ingin memiliki cucu mantu, Al akan wujudkan sebentar lagi."


Terlihat nenek mengusap kepala Alvi dengan sayang. Tatapan matanya sendu bercampur bahagia, dia teringat pada anaknya Indra yang merupakan orang tua Alvi.


"Nenek doakan kamu akan selalu bahagia, siapapun yang menjadi pendamping kamu semoga bisa menjadi istri dan menjadi ibu yang baik nantinya."


"Aamiin.. "


"Apa kamu sudah bicara dengan Navya?"


Alvi terdiam, wajahnya agak berubah. "Belum."


Alvi memejamkan matanya, sambil menghela nafas panjang. "Nanti dia pasti akan tau. Ada saatnya. Biar Al saja yang beri tau."


Aku sudah tau.


Gadis itu tersenyum, padahal hatinya merasakan sakit yang amat dalam. Mundur perlahan, berbalik namun tanpa sengaja bertemu Neni yang sedang berdiri di belakangnya sambil membawa nampan berisi potongan buah untuk diantarkan pada Alvi dan Rima. Navya menunduk sambil mengusap ujung matanya yang berair. Tidak mau jika ketahuan Neni bahwa dia sedang menangis karena mendengar pembicaraan Alvi dan Nenek.


"Mbak Navya, kenapa berdiri di sini?"


"Tidak apa-apa Neni."


"Di sana ada Nyonya besar dan Mas Alvi."

__ADS_1


"Iya, tapi saya mau mandi dulu saja. Baru pulang, nanti saya akan ke sana menemui mereka." Lalu berjalan tanpa menunggu jawaban dari Neni. Wanita itu melihat Navya yang langsung berlari menaiki tangga.


Di kamar nya, Navya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Menghidupkan shower dan mengguyur tubuhnya di bawah air, untuk menyembunyikan air matanya yang mengalir. Navya merasa ada yang hilang dari hidupnya saat mendengar Alvi akan melamar gadis lain. Dia tau bahwa laki-laki itu sudah move on darinya dan mulai membuka hati pada orang lain, tapi saat mendengar langsung dari bibir pria itu kenapa rasanya seperti ada yang menghujam di dadanya.


Apa ini karma buatnya, karena sudah membuat Alvi menunggu dirinya begitu lama. Bahkan dengan yakinnya dia menyuruh Alvi mencari wanita lain saja. Saat semua yang ia ucapkan terjadi, hatinya seperti tidak bisa menerima.


Sudah terlambat. Alvi sudah yakin untuk memilih wanita itu. Dia yang terbaik untuk Alvi. Navya masih punya hati untuk tidak menyakiti orang lain. Biarlah dia simpan saja perasaan cinta pada Alvi yang sudah tumbuh entah sejak kapan. Entah sejak dia membiarkan dirinya terbiasa dengan kehadiran Alvi dalam hidupnya atau sejak dia mulai merasa kehilangan pria itu.


Navya menertawakan dirinya sendiri dalam suara tangisnya. Dia yang tidak peka dengan perasaan Alvi padanya, dia yang terlalu lama ragu bahwa hatinya bisa menerima Alvi, dia yang tidak yakin bisa menjadi sumber kebahagiaan pria itu.


Dia sadar, jadi begini yang dirasakan Alvi dulu


saat dia melihat Navya bersama Dafin. Rasa cinta yang di rahasiakan saja sudah membuat hati tersiksa apalagi melihat orang yang dicintai sedang bersama dengan orang lain.


Sekarang Navya sudah tidak bisa mundur lagi, tidak bisa mengembalikan keadaan seperti saat Alvi setiap saat berusaha mencuri hatinya dengan segudang perhatian yang ia lakukan. Bahkan setelah perceraian nya dengan Dafin, secara terang-terangan Alvi selalu menunjukkan cintanya pada Navya.


"Navya, kamu bodoh!" Mengutuki dirinya sendiri.


Tidak mungkin lagi sekarang dia mengakui perasaannya, bahwa dia sudah jatuh cinta. Selama ini Navya sendiri yang sembunyi, tidak berani keluar dari rasa tidak percaya dirinya. Jadi kenapa sekarang dengan tidak tahu malunya dia muncul dan menghancurkan rencana Alvi untuk melamar gadis lain. Navya tidak akan sekejam itu dan dia masih punya harga diri.


Cukup lama dia mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil menangis dan menyesali yang terjadi. Navya keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dan lega. Dia sudah memutuskan akan berusaha menerima. Sama seperti dia menerima pernikahan Dafin dan Hana, meski kali ini entah kenapa rasanya lebih sakit.


"Nenek...." Dia menyapa sebelum mendekati cucu dan nenek itu. Pandangan mereka beralih pada suara gadis yang berdiri di depan pintu kaca. Alvi tersenyum senang melihat Navya si sana.


"Vya, kata Neni kamu sudah pulang dari tadi?"


"Iya Nek, tadi Vya mandi dulu. Lalu berbaring sebentar, kepala Vya sedikit pusing."


"Kamu sakit Vy? Wajah kamu terlihat agak pucat."


Jangan perhatian begitu, tolong. Nanti aku tidak bisa merelakan kamu dengan Diana.


"Enggak kok, mungkin tadi hanya kelelahan."


"Kamu jangan terlalu lelah, juga harus pikirkan kesehatan kamu."


"Iya Mas, terimakasih." Navya mengangguk dan tersenyum.


Aku bisa gila. Lebih baik mulai sekarang kamu tidak perduli padaku Mas, dari pada aku tersiksa begini.

__ADS_1


"Iya sayang, kamu juga harus jaga diri dan kesehatan."


Benar kata nenek, sebentar lagi tidak akan ada yang menjagaku.


"Iya Nek, Vya akan perhatikan kesehatan."


"Ya sudah, ayo kita makan malam." Rima mengajak mereka masuk ke dalam, karena waktu juga sudah menunjukkan jam makan malam.


"Setelah makan, kami minum obat dan vitamin. Nanti saya akan minta Pak Hendra menyiapkannya."


Navya hanya mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Alvi.


"Kakek kemana Nek?"


"Kakek sedang meninjau finishing hotel, hanya tinggal beberapa persen saja sampai acara peresmian minggu depan." Alvi yang menjawab.


"Jadi Mas juga akan ke sana?"


"Iya, rencananya begitu. Mungkin lusa saya akan berangkat."


"Kakek akan membuat acara pesta peresmian yang mewah, kita juga harus ke sana." Nenek mengatakan dengan antusias. Tapi wajah Navya agak sedikit muram.


"Kamu ikut kan Vy?" Alvi yang bertanya.


"Ehm, Vya lihat nanti ya Mas."


"Saya mau kamu ikut, karena awalnya itu adalah proyek kita saat kamu masih menjadi sekretaris saya dulu. Saya mau kamu juga ada di sana."


Navya tampak berfikir. Dia juga tidak enak kalau menolak permintaan Alvi, tapi apa dia akan bisa tahan melihat adegan romantis yang akan di pertontonkan Alvi dan Diana dalam acara kejutan lamaran nanti.


"Kenapa sayang?" Rima menyadarkan Navya yang melamun. Keraguan Navya terlihat jelas di mata Alvi, dia bahkan tidak berani menatap pria itu.


"Eehhmm Vya akan kabari nanti ya Nek. Jadwal kuliah Vya sepertinya padat minggu depan."


Melihat wajah kecewa Alvi dan Nenek, Navya sedikit tida tega sebenarnya. "Tapi Vya akan usahakan. Kalau bisa, Vya akan kabari nenek atau Mas Alvi." Sambil meraih tangan Nenek di atas meja, mencoba memberikan harapan. Navya butuh berfikir dan melapangkan hati, jika dia ikut dia harus memiliki hati yang luas untuk ikut tersenyum bahagia melihat kebersamaan Alvi dengan wanita pilihannya. Dia juga merindukan orang-orang di sana, Mami, Bu Sarah, adik-adik Panti dan ziarah ke makam orangtuanya.


Alvi terlihat lega, begitu juga Nenek. Hampir saja dia turun tangan jika Navya benar-benar tidak bisa meluangkan waktu untuk datang ke peresmian hotel mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2