
Kak, apa kakak benar-benar mencintai Mas Dafin?"
Hana mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Navya. Bukannya menanggapi permintaan maafnya, malah Navya memberinya pertanyaan itu.
"Vy, aku gak pantas buat Dafin. Aku hanya memanfaatkan dia. Membuat nya benci sama kamu. Aku akan minta dia menceraikan aku, agar kalian bisa menjalani pernikahan kalian deng bahagia."
"Kak. Yang Vya tanya kakak mencintai Mas Dafin atau tidak?"
Hana menarik nafasnya tanpa suara. Menyembunyikan kegugupan di depan Navya. Dengan mantab ia menjawabnya. "Tidak. Aku tidak pernah benar-benar mencintai Dafin. Aku hanya ingin Dafin membalas kan dendam untuk ku. Jika beruntung aku bisa menikmati kesenangan dan harta kekayaan keluarga Wijaya dengan menikahi dia." Hana bicara dengan yakin, tapi matanya menatap ke arah lain. Bukan Navya sebagai lawan bicaranya.
"Aku akan melepaskan Dafin, karena memang aku tidak mencintai dia." Berusaha bicara dengan tegas dan tegar.
Sarah meremas jari-jarinya dalam diam. Dia ikut menahan kepedihan yang sedang di rasakan oleh Hana. Tapi dia tidak mau ikut campur dengan keputusan Hana. Dia sudah berjanji bahwa akan mendukung apapun yang akan menjadi pilihan anaknya. Jadi dia dan Yamin hanya bisa diam saja.
"Baiklah kalau kak Hana yakin ingin melepaskan Mas Dafin. Vya jadi tenang untuk menerima kembali Mas Dafin menjadi suami Vya."
"Jujur, keyakinan Vya pada Mas Dafin sudah jauh berkurang. Membuat Vya sendiri tidak yakin untuk mempertahankan pernikahan kami. Tapi sekarang Vya mungkin bisa mempertimbangkan untuk memberi Mas Dafin kesempatan memperbaiki semuanya."
Hana berusaha tersenyum untuk menutupi kepedihan hatinya. "Semoga kalian bahagia ya Vy."
"Terimakasih kak. Vya sudah memaafkan kakak." Vya memeluk Hana dengan tulus. Ada titik air mata saat Hana masih berada di dalam pelukan Navya. Gadis itu tidak tahu karena Hana buru-buru menghapus nya saat mereka saling melepaskan pelukan.
Sarah dan Yamin juga menutupi kesedihan mereka dengan senyuman. Berbahagia untuk Navya. Mereka mendoakan agar anak-anak yang sama-sama mereka sayangi mendapatkan kebahagiaan di kemudian hari. Melupakan segala kepedihan karena takdir yang sudah merenggut kebersamaan dengan orang-orang yang mereka sayangi.
Navya berpamitan, memeluk semua orang. "Mungkin besok siang Mami dan Papi akan datang ke sini."
__ADS_1
"Iya Nak, kami akan menunggu."
"Vya pamit ya..."
Mereka bertiga mengantarkan Navya sampai di teras rumah. Masuk setelah mobil gadis itu hilang di balik pagar. Hana menjatuhkan tubuhnya, terduduk di lantai sambil menangis.
"Ya ampun Hana, jangan begini sayang." Sarah dan Yamin buru-buru mengangkat tubuh Hana dan memapah nya untuk duduk di sofa.
"Bu, keputusan Hana tidak salah kan. Hana harus melepaskan Dafin untuk Navya. Dia yang lebih berhak atas Dafin." Sambil menangis dia bicara.
Orangtuanya hanya bisa diam dan iku menangis. Karena merek juga ikut andil dengan apa yang di alami Hana sekarang. Setidaknya jika sejak dulu mereka jujur pada Hana tentang siapa mereka sebenarnya, anaknya tidak akan melakukan kesalahan dengan menjadi pendendam. Bahkan jika Dafin tidak bisa menjadi miliknya, lelaki itu tidak akan membencinya seperti ini.
"Hana tidak menyesal melepaskan Dafin Bu. Hanya saja Hana merasa bersalah padanya." Sambil menyentuh perutnya yang masih rata. "Hana sudah menjauh kan dia dari ayahnya. Hana membuatnya tidak memiliki ayah."
Yamin mendekati anaknya, memeluk gadis itu untuk memenangkan. "Nak, ikuti kata hatimu. Jika semua ini berat, kamu bisa jujur dan mengatakan semuanya. Tapi dengan catatan, apapun keputusan mereka kita tidak boleh menolaknya."
"Tapi Nak, suatu saat cepat atau lambat Dafin juga harus tau tentang anak kalian."
Hana bangun dari pelukan ayahnya. Mengusap air matanya. "Jika suatu saat Dafin harus tau, setidaknya kehadirannya tidak akan menghalangi keputusan Dafin dan Hana untuk membangun kembali pernikahan mereka. Hana berjanji, kami tidak akan mengganggu kebahagiaan keluarga mereka."
Kali ini dia tersenyum, meyakinkan dirinya bahwa dia akan kuat. Dia harus kuat bersama janin yang ada di dalam kandungannya. "Hana bisa, kami pasti bisa bertahan kan. Hana punya Ayah dan Ibu. Dia memiliki Kakek dan Nenek yang akan sangat menyayangi dirinya. Dia sini juga banyak kakak-kakaknya yang akan sayang juga padanya."
"Hana benar kan Bu?!" Sarah juga tersenyum walaupun masih ada jejak air mata di wajahnya. Mengangguk setuju dengan kata-kata anaknya.
"Dia juga tidak akan suka jika dia tau keberadaannya sudah mengusik kebahagiaan orang lain." Hana memeluk kembali orangtuanya bersamaan. Mereka memberikan kekuatan untuknya dan mendukung keputusan Hana.
__ADS_1
***
Navya datang ke suatu tempat sebelum pulang. Di sudah membuat janji bertemu dengan seseorang sudah menunggu nya atas perintah Alvi. Pria itu tidak bisa menemani Navya sore itu meskipun dia sangat ingin. Karena Alvi masih berada di luar negri. Tapi dia berjanji akan menemui Navya di rumah sakit besok pagi-pagi. Seperti yang sudah mereka rencanakan.
"Apakah Anda Ibu Navya Putri." Dia langsung menghampiri Navya saat gadis itu melangkah mendekati pintu lobi bangunan yang tidak terlalu tinggi itu.
"Benar Pak, saya Navya." Navya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Pria itu agak sedikit canggung menerima uluran tangan Navya. Tapi dia menyambutnya tapi dia buru-buru melepaskan.
"Saya di minta Tuan Alvian Mahendra untuk membantu semua urusan Anda. Mari ikuti saya."
"Baik Pak. Terimakasih."
Navya berjalan mengikuti lelaki yang seumuran dengan Papinya. Naik ke lantai tertinggi dari gedung itu sambil membawa sebuah map coklat di tangganya. Ada sesuatu yang ingin Navya lakukan lagi selain menemui pihak rumah sakit dan dokter kandungan besik. Dia meminta bantuan Alvi juga untuk bisa secepatnya meyelesaikan urusannya di gedung ini.
Dalam setiap langkah nya menuju sebuah ruangan di lantai tertinggi gedung tersebut dia berdoa dan meyakinkan hatinya sekali lagi, semoga apa yang sudah menjadi keputusannya kali ini adalah yang terbaik untuk kebahagiaan semua orang. Termasuk juga untuk dirinya sendiri.
Semoga keputusanku kali ini bisa memberikan jalan yang terbaik untuk semua nya. Setelah ini hanya harus membujuk Mami.
Ada satu lagi keinginan Navya selama ini yang tidak pernah ia utarakan pada siapapun. Jangan kan berusaha untuk mewujudkannya, memikirkan nya saja ia hindari. Karena dulu Finny sangat tidak ingin jauh darinya. Dan dia tidak ingin membuat wanita yang sudah memberikan cinta yang tulus untuknya itu sedih. Sekarang sudah saatnya dia menghidupkan kembali impiannya dan berusaha mewujudkannya. Navya ingin membahagiakan dirinya sendiri. Agar tidak ada lagi yang menganggap dirinya selalu bergantung dengan keluarga Wijaya.
Kali ini beberapa hal yang ia lakukan tetap harus merepotkan seseorang. Hanya orang itulah yang bisa membantu nya agar semuanya berjalan lancar. Tapi Alvi sama sekali tidak keberatan. Apapun asal itu Navya, Alvi akan dengan senang hati melakukannya.
Bersambung..
Jangan lupa like dan komentar yaa... 👍👍🙏🙏🥰🥰🥰 Biar makin semangat nulisnya...
__ADS_1
Yang ikhlas memberikan hadiah juga boleh, author akan sangat berterimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍