
Navya bingung dengan sikap Alvi. Bosnya itu yang ia tahu selama ini sangat selektif memilih makanan. Kenapa dia dengan mudah meminta bertukar makanan dengannya. Dan Alvi mengambil makanan miliknya yang sudah dia makan. Navya merasa tidak enak sendiri. Bahkan saat makan tadi dia mendadak tidak berselera, namun untuk menghormati Alvi mau tidak mau ia habiskan juga. Sementara Alvi memakan habis makanan yang ia bawa tadi dengan lahap dan tanpa rasa canggung.
"Masakan kamu enak. Saya suka."
Ucapan terakhir Alvi ketika Navya hendak meninggalkan ruangannya siang tadi. Navya hanya tersenyum paksa, bukan dia tak senang ada orang yang memuji masakan nya. Tapi entah kenapa saat mengucapkan itu, Alvi memberikan tatapan yang berbeda padanya. Membuat dia jadi salah tingkah.
***
Navya sudah sampai di rumah, mobil sang suami sudah terparkir rapi di halaman rumah mereka. Tumben sekali Dafin sudah ada di rumah jam segini. Navya bergegas keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
Dafin sedang duduk di depan TV sambil memainkan ponselnya. Wajahnya menoleh sebentar saat Navya melangkah menuju ke arah nya. Tanpa aba-aba Navya meraih tangannya lalu mencium nya., hal itu membuat Dafin terkejut dan langsung menarik cepat tangannya.
"Mas udah pulang?"
"Hmm... "
"Vya bersih-bersih dulu yaa, setelah itu Vya masak buat Mas. Mas mau makan apa ?"
"Terserah."
"Ya udah, Vya mandi dulu."
Dafin hanya mengangguk menjawab perkataan Navya, tapi pandangannya tidak beralih dari ponselnya. Hanya melirik saat gadis itu sudah menaiki anak tangga.
Navya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia memperhatikan isi kamar mandi nya, seperti ada yang berbeda.
"Kenapa ada dua?" Terdapat dua buah handuk yang tergantung di sana dan juga terdapat beberapa perlengkapan pria di dalam ruangan itu. Namun karena terburu-buru, dia tidak terlalu memikirkan hal itu.
Setelah selesai mandi, Navya membuka lemari untuk mengambil pakaian rumahan milik nya. Dia terkejut karena ada pakaian pria di dalam lemari nya. Secara refleks dia menoleh ke arah meja kaca, di sana juga terdapat beberapa kosmetik pria.
"Kenapa ada perlengkapan Mas Dafin di sini?!"
__ADS_1
Navya bergegas memakai baju, dan segera turun ke bawah untuk mencari keberadaan Dafin. Lelaki itu masih ada di tempat tadi dimana Navya meninggalkannya.
"Mulai sekarang aku akan tidur di kamar atas."
Seakan dia tau apa yang akan Navya katakan, sebab mata gadis itu penuh tanya sejak dia turun dari tangga.
"Kenapa ?" Tanpa sadar kata itu keluar dari bibir nya yang membuat Dafin mengerutkan Dahinya.
"Kenapa? Memang apa yang salah?"
Dengan santainya Dafin malah menjawab pertanyaan Navya dengan pertanyaan.
"Maksud Vya, waktu itu kan Mas Dafin gak mau sekamar dengan Vya. Kenapa sekarang malah...."
"Udah la, status kita suami istri kan. Jadi tidak ada salahnya kan kalau kita tidur di kamar yang sama." Dafin memotong kalimat Navya bahkan saat dia belum selesai bicara.
"Sudah sana, kamu bilang mau memasak."
"Hmmm..."
Navya masih bingung dengan sikap Dafin. Pagi tadi dia bahkan tidak mau meminum kopi buatannya, sekarang Dafin meminta dirinya memasakkan makan malam. Dan perihal kamar tidur, Navya tidak tau apa yang dia rasakan sekarang. Tapi jantung nya berdegup kencang sekali mengingat bahwa dia akan tidur bersama Dafin. Tiba-tiba pipi nya merona.
"Sadar Navya... sadar.... " Gumamnya sambil menepuk-nepuk pipi nya sendiri.
Lebih setengah jam Navya sudah menyelesaikan dua jenis masakan. Dia menatanya di atas meja makan. Setelah membereskan peralatan masaknya dia kemudian berniat memanggil Dafin untuk makan.
"Loh, Mas mau kemana?" Dafin terlihat sudah memakai jaket dan memegang kunci mobil.
"Oh, mendadak tadi Ega menelpon ku. Katanya ada yang harus aku periksa sebentar di kantor. Aku keluar sebentar ya, kamu udah masaknya?"
Navya hanya mengangguk. "Ya sudah kamu makan duluan saja, jangan tunggu aku."
__ADS_1
Navya tidak menjawab, dia merasa tidak senang. Namun Dafin terlihat tidak perduli sama sekali. Kenapa perubahannya mendadak sekali.
Navya hanya mengangguk. Entah lah, dia merasa seperti dipermainkan. Sesaat yang lalu dia merasa sikap Dafin sedikit lunak padanya, Dafin seperti seorang suami sungguhan. Navya sempat memberi harapan pada dirinya sendiri, bahwa dia bisa mewujudkan rumah tangga yang sebenarnya dan mencoba melupakan tujuan Dafin menikahi dirinya karena dendam.
Tapi kedatangan seseorang beberapa saat setelah Dafin pergi, membuat dia sadar ternyata semua yang pria itu lakukan tadi adalah sebuah antisipasi. Pantas saja dia pulang cepat, dia memindahkan sendiri semua barang-barang nya ke kamar Navya. Bersikap berpura-pura menginginkan masakan Navya, ternyata dia tau bahwa Finny dan Damar akan berkunjung ke rumah mereka.
"Sayang apa kabar?"
"Mami, Papi.... Vya seneng banget mami dan papi datang. Vya baik-baik aja Mi."
Membawa kedua orangtuanya duduk di ruang santai, kemudian dia membawakan teh beserta cemilan. "Jangan repot-repot sayang, kamu pasti lelah."
"Enggak kok, kalo Mami dan Papi ke sini capek nya Vya hilang. Kita makan yuk, Vya udah masak tadi."
"Ya ampun, si Dafin ini. Mami udah bilang tadi jangan kasi tau kamu kedatangan kami. Malah dia nyuruh kamu masak." Navya terkejut dengan pernyataan Finny.
Kan memang Mas Dafin gak bilang kalo Mami mau datang, apa karena ini dia gak menolak waktu aku mau bikin makanan buat dia. Dia tau Mami dan Papi akan datang.
"Vya, sayang... kok melamun?"
"Eh, enggak kok Mi. Vya gak apa-apa kok, Vya seneng bisa masak buat Mami dan Papi."
"Lagian kenapa sih kamu gak mau pakai jasa IRT ? Nanti Papi yang cariin, kan kamu pasti capek ngerjain semuanya. Belum lagi kamu bekerja di kantor." Kali ini Damar yang buka suara.
Semakin heran Navya, bukan dirinya yang tidak mau. Tapi Dafin memang tidak menginginkan, dia mau semua pekerjaan di kerjakan oleh Navya.
"Iya tuh, Dafin juga sih. Nurut aja kemauan kamu. Kalo kamu capek kan Dia juga yang rugi." Finny mengatakan itu sambil tertawa menggoda Navya.
Navya tertawa canggung. "Gak apa-apa Mi, Vya mau menyiapkan semua keperluan Mas Dafin sendiri."
"Ya seenggaknya urusan beberes rumah dan pakaian pakai jasa orang. Yang selebihnya baru kamu kerjakan sendiri."
__ADS_1
Vya mau Mi, Tapi gak mungkin Vya ambil keputusan ini tanpa persetujuan Mas Dafin.