
Ternyata kedatangan Alvi ke kota itu sudah di ketahui oleh semua orang kecuali Navya. Dia mengatakan pada orang-orang yang ada di rumah agar tidak memberitahu Navya, begitu juga dengan Rima yang akan sampai pagi itu.
Navya bingung sendiri dengan hatinya, dia merasa senang Alvi memutuskan akan tinggal di kota itu. Tapi di pikirannya, entah kenapa dia belum bisa menerima Alvi. Dia takut mengartikan perasaannya, jika itu bukan cinta, bagaimana dia akan bersikap nanti. Sejujurnya jika melihat pria itu ada di dekatnya, Navya merasa di lindungi, merasa nyaman. Navya di bayang-bayangi perasaan balas budi. Juga Dafin, meskipun dia melepaskan Dafin untuk Hana, tidak semudah itu dia bisa melupakannya. Dafin adalah cinta pertama bagi Navya, butuh waktu untuk bisa benar-benar menghilangkan Dafin. Dan pergi ke luar negeri adalah salah satu usaha untuk menghindari pertemuan dengan Dafin dan Hana.
Usaha Navya tidak sia-sia sebenarnya, selama satu bulan ini Alvi sedikit banyak membantu Navya untuk move on. Dia yang selalu memberi perhatian dari jauh, tidak pernah lupa menanyakan kabar Navya, itu membuat Navya jadi agak terbiasa dengan kehadiran Alvi. Jika beberapa menit saja Alvi terlambat memberi kabar, Navya akan merasa ada yang hilang. Seperti halnya pagi tadi. Hatinya akan gelisah jika Alvi tidak mengabari nya, namun pikirannya menahannya untuk lebih dulu menghubungi Alvi.
Setelah makan malam mereka berjalan-jalan sebentar di sekitar taman kota. Navya menikmati waktunya bersama Alvi, begitu juga pria itu. Senyum Navya menjadi lampu hijau baginya, bahwa gadis itu sedang berusaha untuk memberikan Alvi kesempatan memiliki hatinya.
"Kamu turunlah, langsung istirahat." Mobil memasuki halaman rumah yang luas.
"Loh, Mas mau kemana? Kan sudah malam !?" Bingung Navya, kenapa Alvi menyuruhnya turun sementara pria itu seperti tidak akan ikut masuk ke dalam rumah.
"Saya tinggal di apartemen. Lebih dekat dengan kantor sebenarnya."
"Kenapa tidak tinggal di sini? Ini kan rumah Mas?"
"Kalau kamu mau menikah dengan saya, saya akan tinggal di sini bersama kamu."
Pipinya memerah. "Apa sih Mas.."
Alvi tertawa melihat Navya yang jadi malu. "Tidak mungkin saya tinggal di sini juga, walaupun rumah ini milik saya bukan berarti saya bebas tinggal bersama gadis yang tidak memiliki hubungan apapun dengan saya. Rasanya tidak pantas."
"Tapi kan ada Nenek di sini."
"Tetap saja aneh rasanya. Tidak apa-apa, besok pagi saya akan ke sini. Kita sarapan bersama."
"Atau saya saja yang mencari tempat tinggal lain. Saya bisa tinggal bersama kak Elma. Dia baru saja mengontrak sebuah tempat tinggal baru."
"Tidak.. tidak...! Kamu tetap di sini, saya sudah berjanji pada Tante Finny untuk memastikan keadaan kamu aman dan nyaman."
__ADS_1
"Tapi kan..... "
"Sssttt.... " Alvi menempelkan telunjuknya di bibir Navya. "Saya lakukan semuanya untuk kebaikan kamu, jadi tolong jangan membantah saya."
Navya menghela nafasnya, menyerah. Alvi tidak bisa dibantah kalau soal seperti ini, jadi Navya hanya bisa pasrah dan menurut saja. Baik sekali lelaki ini. Kenapa Navya sulit sekali untuk mengaku cinta.
"Saya tidak tahu bagaimana membalas apa yang sudah Mas lakukan. Rasanya saya tidak pantas mendapatkan semua ini. Maafkan saya, perasaan Mas sangat tulus tapi jujur saya masih bimbang."
"Vy, jangan pernah terbebani oleh perasaan saya ke kamu. Saya sudah bilang, saya tulus melakukan semuanya untuk kamu. Saya tidak meminta balasan apapun dari kamu, apalagi kamu menerima saya hanya untuk membalas apa yang sudah saya lakukan.
"Saya masih berharap, kamu membuka hati kamu hanya jika kamu sudah benar-benar mencintai saya. Bukan karena balas budi."
Navya masih tertunduk. Itulah masalahnya, Navya belum bisa benar-benar memisahkan mana perasaan cinta dan balas budi. Maka saat dia ingin membuka hati untuk Alvi, perasaan ragu akan muncul dan membuat nya mundur lagi.
"Sudah jangan dipikirkan, kamu masuk dan istirahat. Besok pagi saya akan ke sini menjemput kamu juga sarapan bersama nenek dan kakek."
"Hati-hati Mas."
Alvi tersenyum dan mengangguk. Membunyikan klakson sekali lalu mobil melaju perlahan. Navya masih berdiri di sana Sampe mobile Alvi menghilangkan melewati gerbang utama.
***
Seperti yang ia katakan, sejak pagi Alvi dan Ryan sudah tiba di rumah besar tempat dimana Navya tinggal. Alvi menikmati teh bersama nenek dan kakeknya di taman sambil mengobrol.
"Jadi, bagaimana perkembangan hubungan kalian?" Rima mencari tahu soal Alvi dan Navya.
"Nek, Navya butuh waktu. Melupakan Dafin juga tidak secepat itu kan."
"Tapi Nenek sudah tidak sabar ingin menggendong cicit Nenek. Kamu lihat nenek sudah sakit-sakitan, entah mungkin nenek tidak akan sempat melihat anak kamu nanti."
__ADS_1
Alvi memeluk neneknya dari samping, sambil mengusap-usap bahu wanita tua tersebut. "Jangan bicara seperti itu Nek, nenek pasti akan melihat Alvi menikah. Dan menggendong cicit Nenek."
"Kakek heran, kenapa kamu menghabiskan waktu hanya untuk seorang gadis yang bahkan tidak bisa melihat ada laki-laki yang benar-benar mencintai dirinya. Masih banyak wanita di luar sana rela mengantri untuk berkenalan dengan kamu."
"Kek Navya itu istimewa bagi Alvi."
"Apa kata orang nanti, kamu menikahi bekas istri sepupu kamu. Seorang CEO muda, pewaris kerajaan bisnis Mahendra sukses, menikah dengan janda dari adik sepupunya."
"Kek!" Alvi berusaha menahan emosinya. Rima mengusap lengannya, agar Alvi lebih tenang.
"Kakek tidak masalah jika kamu ingin menikah dengan dia, tapi seenaknya dia meminta kamu menunggu. Mau sampai berapa lama lagi Al, kamu berhak untuk bahagia. Walaupun bukan dengan Navya."
Alvi diam. Bicara hanya akan memancing emosi.
"Nak, kakek kamu benar. Kamu berhak untuk memilih. Jika Navya belum siap menerima kamu, tidak seharusnya kamu menghabiskan waktu menunggunya. Kamu juga berhak bahagia, Nenek juga ingin melihat kamu bahagia."
Alvi masih tidak menjawab. Mereka akan terlibat perdebatan jika Alvi menanggapi ucapan kakek. "Alvi akan pikirkan." Kerena memang apa yang dikatakan nenek dan kakeknya tidak salah. Namun dia benar-benar berharap Navya secepatnya membuka hati untuknya. Karena Alvi tulus mencintai Navya.
Namun siapa sangka pembicaraan mereka tanpa sengaja terdengar dengan jelas oleh Navya. Kata-kata Kakeknya semakin membuat pertimbangan besar dalam hati gadis itu. Benar, yang orang lain tau dia adalah seorang janda, walaupun Dafin tidak pernah menyentuh dirinya, tapi status yang ia sandang pasti akan mempengaruhi Alvi nantinya.
Apalagi dia adalah bekas istri sepupu Alvi sendiri. Apa kata orang-orang nantinya. Mereka akan berkomentar buruk tentang Alvi, itu tidak akan baik untuk pria itu. Navya jadi merasa tidak pantas ada di samping pria itu.
Navya mundur perlahan, naik lagi ke kamarnya. Ada yang menetes di pipinya, tidak dapat ia bendung. Bagaimana dia bisa tidak tau malu, malam tadi dia bahkan tidak bisa tidur karena berfikir. Dia meyakinkan hatinya bahwa dia akan mencoba membuka hatinya untuk menerima Alvi. Walaupun dia belum yakin kalau dia sudah jatuh cinta, dia ingin mencoba mencintai Alvi.
Tapi kata-kata Sultan sudah menampar dirinya secara tidak langsung. Seakan menyadarkannya bahwa masih banyak wanita yang lebih pantas bersanding dengan Alvi, bukan seperti dirinya. Dia akan membawa pengaruh buruk untuk masa depan Alvi, statusnya hanya akan membuat Alvi mendapatkan banyak hujatan. Navya semakin membangun tembok keraguan yang besar di hatinya untuk mencintai Alvi.
Rasanya Navya ingin pergi saat itu juga dari sana. Tapi sikapnya akan menimbulkan banyak kekacauan, akan membuat orang-orang khawatir dan malah merepotkan. Jadi dia mencoba berhenti menangis, membasuh wajahnya dengan air. Memoleskan lagi make up tipis di wajahnya yang sempat rusak ke dia menangis tadi. Navya kembali turun ke bawah untuk bergabung dengan Alvi, Rima dan Sultan di meja makan seperti tidak pernah mendengar apa-apa.
Bersambung
__ADS_1