Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Senyuman Navya


__ADS_3

"Kita berangkat sekarang." Alvi sudah ada di depan meja kerja asisten nya. Mereka akan ada janji meeting di Kafe milik seorang klien.


"Siap Boss." Langsung berdiri sambil membawa notebook dan tas tangan milik nya.


Navya sedikit berlari untuk mengimbangi langkah panjang Alvi. Ryan sudah menunggu mereka di dalam mobil di depan lobi perusahaan.


Sampai di sana mereka di sambut oleh si pemilik yang merupakan klien Alvi dan seorang manager kafe. Meeting akan berlangsung di ruangan pribadi miliknya.


Meeting yang di selingi makan siang itu berlangsung santai karena klien nya merupakan teman kuliah Alvi saat menjalani pendidikan S2 di luar negri. Membicarakan pekerjaan sekaligus reuni, karena mereka baru bertemu sejak lulus kuliah.


"Pak, saya permisi ke luar sebentar."


"Ya, silahkan."


Urusan pekerjaan mereka sudah selesai, jadi hanya mengobrol ringan saja tentang kenangan masa kuliah mereka. Navya jadi kurang nyaman, karena merasa tidak nyambung dengan pembahasan mereka maka dia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman yang ada di area kafe bertema outdoor itu.


Navya sedang duduk di sebuah kursi taman saat mata nya menangkap sosok seseorang yang ia kenal. Pria itu sendirian dengan secangkir minuman di depannya. Navya memutuskan menghampiri, ingin bertanya pria itu datang bersama siapa.


Namun bahkan sebelum Navya menjangkau meja dimana Ega sedang duduk, gadis itu mendengar suara yang tidak asing di telinga nya. Ega yang menyadari kehadiran Navya seketika berdiri dan terlihat bingung, haruskah ia memberitahu kedatangan Navya. Tapi Navya meletakkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Ega untuk diam. Ega hanya menunduk hormat padanya dan membiarkan dirinya mendengar pembicaraan Dafin dan Papi.


Dafin beranjak dari kursinya, terkejut saat melihat sang istri tiba-tiba ada di sana.


"Vya?"


Navya hanya tersenyum miris.


"Navya aku...."


"Mas Dafin sama Papi, lagi makan siang." Navya berjalan mendekati Damar yang masih duduk, juga terlihat terkejut dengan kehadiran Navya di sana. Navya menyalami Damar.


"Kamu sedang apa di sini Sayang?" Damar yang bertanya.


"Vya baru selesai meeting sama Pak Alvi. Tapi beliau masih bicara dengan klien. Papi dan mas Dafin udah lama di sini?"


"I..iya.. lumayan. kita baru saja selesai. Papi juga mau pulang." Damar bangun dari duduknya.


"Hmm... ya udah, hati-hati ya Pi."


"Papi duluan... Salam buat Al."


"Nanti Vya sampaikan Pi." Damar berlalu dari sana bersama Ega, melewati Dafin sambil menepuk bahu anak lelakinya pelan. Seperti memberi keyakinan, bahwa ia bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.


"Navya bisa kita bicara?"


"Vya sedang bekerja Mas, bisa kita bicara di rumah saja?"


"Tapi aku ingin bicara sekarang."

__ADS_1


"Mas, ini tempat umum. Bukan hal yang baik kita membahas masalah rumah tangga di tempat seperti ini."


Alvi tengah berdiri tidak jauh dari tempat ia dan Navya berada, menatap ke arah mereka. Menyadari itu, Dafin mendekati Navya dan mengecup kening gadis itu.


"Oke, aku kan tunggu kamu di rumah." Tidak ada reaksi dari Navya, Dafin pun pergi dari sana meninggalkannya dalam diam. Senyum hampa tersemat di bibirnya.


"Kamu baik-baik saja?" Alvi sudah ada di depannya.


"Saya gak apa-apa Pak. Kenapa Bapak keluar?"


"Oh, saya sudah selesai ngobrolnya, ayo kita kembali ke kantor." (Padahal Alvi tidak mau membiarkan Navya sendirian karena menunggunya)


"Iya Pak."


Mereka berjalan menuju parkiran mobil, Navya heran kenapa kunci mobil ada di tangan Alvi.


"Loh, Mas Ryan kemana Pak?"


"Dia harus mengurus sesuatu, jadi dia pergi duluan." Alvi meminta kunci mobil pada Ryan, ia ingin menyetir sendiri dan kembali berdua saja dengan Navya. Sementara Ryan di jemput oleh supir kantor. (Ryan: Pergi di antar olehku, sekarang dia menyuruhku pulang sendirian 😭. Dasar Bos Bucin)


"Ohh begitu."


Dalam perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan. Hanya membahas pekerjaan dan hasil meeting tadi.


"Loh pak kenapa kita belok, ke kantor kan lurus saja."


"Gak apa-apa Pak."


Navya ikut saja, toh dia pergi bersama orang yang menggajinya. Jadi dia tidak termasuk bolos kerja kan. Meskipun saat ini rasanya dia ingin sendiri saja. Tidak tidak terkejut dengan sebagian pembicaraan yang ia dengar tadi. Sebagian hatinya lega, tau isi hati suaminya. Tapi sebagian besar dia cemas, Dafin tidak ingin memilih, pria itu mencintai mereka berdua. Tidak mungkin Navya akan bertahan dengan keadaan ini, bagaimana jika Dafin juga ingin menikahi Hana. Dia tidak sanggup untuk berbagi.


Meskipun saat ini ia tau hubungan Dafin dengan Hana, yang Navya harapkan adalah perlahan perhatian Dafin akan bisa ia rebut dan lelaki itu bisa melepaskan Hana untuk memilih bersama dirinya.


Melamun, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Alvi tau gadis itu tidak baik-baik saja, maka dari itu ia berinisiatif mengajak nya ke suatu tempat yang mungkin ingin dia datangi saat ini. Sebelum itu dia berhenti di sebuah minimarket.


"Mau apa Pak?" Sadar kalau mobil berhenti.


"Saya mau beli air mineral."


"Biar saya saja Pak yang beli." Sudah membuka safety belt-nya.


"Tidak usah, biar saya saja. Kamu istirahat saja di mobil."


"Tapi Pak... " Hanya melempar senyum kemudian keluar tanpa menunggu Navya menyelesaikan kata-katanya.


Sebenarnya Navya merasa tidak enak, kenapa jadi Alvi yang keluar dan membeli air minum. Harusnya itu kan tugas nya, Alvi itu bos nya.


Beberapa menit kemudian Alvi terlihat keluar dari minimarket dengan satu buah kantong plastik besar di tangan nya. Navya memandang Bos-nya itu, berjalan menuju ke mobil. Lelaki mapan dan tampan, kenapa belum menikah bahkan tidak punya pacar. Apa ada wanita yang dia tunggu. Atau standar pilihan nya sangat tinggi, sehingga beberapa wanita kenalannya belum ada yang pas di hati.

__ADS_1


Pikirannya buyar saat Alvi membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.


"Kamu melamun lagi?" Alvi tersenyum melihat Navya yang terkejut saat dia masuk ke dalam mobil barusan.


"Hah?! Enggak kok Pak. Emang kapan saya melamun." Sanggah nya.


"Ini buat kamu." Dua buah coklat berukuran besar dia sodorkan kepada Navya.


"Coklat? Untuk apa Pak?"


"Ya untuk dimakan Navya.." Dia meraih tangan Navya lalu meletakkan coklat tersebut di atasnya.


"Maksud nya Bapak beli coklat ini untuk saya?"


Alvi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya kuat. Mengambil sebatang coklat dari tangan Navya, membukanya, mematahkan sebagian kecil lalu menyuapkan kepada Navya. Di todong oleh Alvi, membuat Navya refleks membuka mulutnya. "Begitu cara menggunakan nya."


Navya tersenyum lucu melihat ekspresi wajah Alvi yang sedikit jengkel karena dirinya.


"Nah, ternyata saya tidak salah. Kamu tersenyum lagi setelah makan coklat."


Navya jadi heran, apa maksud lelaki di depannya ini. "Seseorang pernah mengatakan, 'Coklat adalah kebahagiaan yang bisa kamu makan'. Saya tidak tau benar atau tidak, tapi yang saya tau kebanyakan wanita menyukai coklat. Apalagi saat mereka sedang bersedih."


"Jadi maksud Bapak memberi saya coklat karena saya sedang bersedih?"


"Yah, itu yang saya lihat. Sejak tadi saya seperti supir taksi membawa seorang penumpang yang sedang murung."


"Saya minta maaf Pak, saya tidak bermaksud cuek sama Bapak." Dia panik sendiri, tanpa sengaja suasana hatinya membuat orang lain merasa tidak nyaman.


Selalu, kepanikan Navya itu membuat Alvi gemas sendiri. "Gak masalah, saya ngerti kok keadaan kamu. Makanya saya mau mengajak kamu ke suatu tempat."


Navya semakin penasaran kemana Alvi akan membawanya. Tapi dia tidak enak jika menolak, Bos nya itu sudah terlalu baik padanya.


"Tapi kamu janji, jangan sedih lagi. Saya mau kalau sedang bersama saya kamu harus selalu tersenyum."


"Memangnya Bapak Badut?! Terus kalau Bapak lagi marah, apa saya juga harus senyum?"


"Hmmm.. boleh juga, mungkin saja senyuman kamu bisa meredakan amarah saya."


"Hahaha... Bapak ada-ada saja."


"Tidak percaya, kamu boleh mencobanya kapan-kapan."


Epilog


"Ryan, kamu minta supir kantor menjemput kamu. Saya mau mengajak Navya ke suatu tempat."


"Baik Pak Bos." (Ryan : 🥲 Demi Bos yang lagi Bucin sama istri orang)

__ADS_1


__ADS_2