
Kecanggungan begitu terasa di antara Dafin dan Hana. Dengan alasan masih pusing, Navya meminta duduk di belakang bersama Finny. Mereka pulang dengan mobil Dafin, sementara mobil Finny di bawa pulang oleh supir nya.
Navya memperhatikan mereka berdua, lebih banyak diam selama perjalanan pulang. Sesekali mereka membicarakan tentang pekerjaan. Setelahnya mereka akan diam lagi. Hingga akhirnya sampai di rumah saat langit sudah temaram.
Kepulangan mereka disambut oleh Bi Ani yang segera mengambil alih barang bawaan dari tangan Dafin sambil menyapa Navya.
"Mbak, udah baikan? Bibi sudah masak makanan kesukaan Mbak Navya loh.."
"Udah Bi, makasi banyak yaa." Menjawab sambil tersenyum ramah.
"Sama-sama Mbak." Interaksi itu tidak luput dari tatapan Hana. Begitu beruntungnya Navya, semua orang menyayangi dirinya. Mendapatkan kemewahan dan perhatian
"Ya udah, Bi Ani siapkan makan malam aja. Saya lapar." Dafin yang bicara agak jutek.
"Baik Mas." Bi Ani menjawab dengan ekspresi cemberut yang di buat agak berlebihan. Membuat Finny tersenyum lucu lalu memukul bahu Dafin. Kamu ketus banget, begitu lah kira-kira maksud Finny.
"Bapak sudah pulang Bi?"
"Bapak baru saja pulang Bu, mungkin sedang istirahat di kamar." Finny yang bertanya.
"Oh ya sudah. Bibi siapkan makanan di meja ya, sebentar lagi jam makan malam."
"Baik Bu." Setelah membawakan barang-barang Navya, Bu Ani segera ke dapur menyiapkan makan malam.
"Hana, Tante titip Navya ya. Tante mau mandi dulu."
"Iya Tante." Finny mengelus kepala kedua gadis itu bergantian. Hana merasa tersentuh, Finny juga menyentuh pucuk kepalanya dengan lembut.
"Aku keluar sebentar." Dafin juga ikut meninggalkan kamar. Tinggal mereka berdua. Hana hanya bisa menatap langkah Dafin yang hilang di balik pintu.
Hening sesaat.
Navya sedang memilih kata untuk bicara dengan kakak angkat nya itu.
"Kak?"
Tidak menjawab, dia hanya mengalihkan pandangannya pada si pemanggil.
"Sampai kapan kakak akan menutupi hubungan kakak dengan Mas Dafin ?" Hana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Navya tau, sejak kapan!?
"Kamu bicara apa?" Masih mencoba menyembunyikan semua itu.
__ADS_1
"Kak, aku tau semuanya. Termasuk pernikahan kalian. Kenapa kakak tega melakukan itu? "
"Tega? Kamu salah sangka Navya, aku hanya mempertahankan yang harusnya jadi milikku."
"Tapi apa yang kakak lakukan akan menyakiti semua orang. Tante Finny dan keluarga keluarga, bahkan Bu Sarah akan kecewa."
Hana tersenyum tipis. "Tapi sejak dulu, semua orang tidak peduli dengan perasaanku. Tidak ada yang menyayangi aku. Tidak ada yang melihat keberadaan ku. Jadi bagaimana aku harus peduli dengan mereka.
"Yah mungkin kamu berfikir aku konyol. Sejak Dafin datang ke Panti Asuhan dulu, Dafin hanya mau bicara dengan ku, hanya dia yang peduli padaku. Mungkin karena saat itu kami adalah dua orang yang sama-sama di kecewakan. Dafin juga membenci kamu, karena kamu sudah mengusik keluarga nya yang bahagia sebelum kamu hadir.
Sejak aku tau, yang akan menjadi keluarga baruku adalah keluarga mereka. Aku sudah membayangkan akan selalu bersama Dafin selamanya. Tapi sore itu, aku pikir Tante Finny akan menjemput ku. Dengan bahagia aku mengemasi barang-barang ku, tapi ternyata mereka hanya membawamu. Kamu merebut calon keluarga baruku."
"Kak, aku tidak tau apa-apa saat itu. Aku bahkan tidak mengerti apa yang terjadi. Bagaimana kakak bisa menyalahkan aku!?"
"Iya benar, Tante Finny yang salah. Dulu dia berjanji akan membawaku dan menyayangiku. Tapi dia malah mencampakkan aku begitu saja dan mengganti aku denganmu.
Saat aku berhasil membuat Dafin mencintai aku, kamu malah mengambil dia juga. Kamu juga salah Navya, Kamu menikahi Dafin itu adalah kesalahan kamu." Nafas Hana mulai menderu, menahan emosinya.
"Selain mencuri kesempatanku untuk hidup senang dan memiliki keluarga, kamu merebut orang yang aku cintai." Lolos juga air matanya.
"Kak, aku gak bermaksud merebut Mas Dafin dari siapapun. Aku setuju karena itu permintaan Mami. Tapi Mas Dafin juga tidak menolak, kalau aku tau kalian berpacaran saat itu, aku juga pasti tidak akan setuju. Kenapa kakak tidak mencegahnya?"
"Kenapa? Karena aku yang memintanya." Lalu menoleh pada Navya. "Aku mau, dengan pernikahan ini Dafin bisa membantu aku membalas dendam pada kamu, juga pada Tante Finny. Sesuai rencana awal, Dafin harus menceraikan kamu, meninggalkan kamu, saat kamu mulai mencintainya.
Suaranya mulai melemah. "Tapi aku tidak menyangka, saat dia mencoba membuat kamu jatuh cinta, Dafin malah luluh padamu juga. Kamu bahkan hampir merebut hatinya. Harusnya dia secepatnya membalaskan dendam ku padamu dan orangtuanya, bukan malah mengulur waktu begini. Aku takut dia semakin tergoda oleh kamu, jadi aku minta dia menikahiku."
"Kakak harus nya tidak melakukan itu kak, sama saja kakak merusak rumah tangga kami."
"Navya, apa kamu bermimpi? Dari awal, Dafin sudah berniat akan menceraikan kamu saat pernikahan kalian berusia enam bulan. Dafin tidak akan bisa melepaskan aku, dia mencintai aku. Jadi kamu lebih baik mundur saja, tanpa perlu menunggu sampai enam bulan."
"Vya gak bisa kak, Mami tidak akan bisa menerimanya. Mami sudah berharap banyak dari pernikahan kami. Itu akan menghancurkan kebahagiaannya."
"Lalu bagaimana dengan ku, aku bahkan tidak tau dimana orang tuaku Navya, aku tidak punya siapa-siapa. Kalian egois." Kali ini Hana tidak dapat menahan lagi, air mata lolos begitu saja di pipinya. Menyesali dirinya, kenapa dia dilahirkan jika mereka akan membuangnya.
"Aku mulai melupakan orangtuaku yang sudah mencampakkan aku, berharap menemukan kebahagiaan di tempat lain tapi ternyata aku mengalaminya dua kali, dicampakkan lagi oleh Tante Finny. Dan aku tidak ingin kehilangan satu lagi yang harusnya jadi milikku, Dafin.
Jika kamu tidak mengambil posisiku, pasti aku yang akan menikah dengan Dafin.
Susah payah aku membuat dia mencintai ku dan percaya padaku bahwa dia harus membalas dendam padamu, aku tidak akan membiarkan dia meninggalkan aku karena kamu."
"Kak, tolong jangan begini. Mami Finny orang yang baik. Kalau dia tau semuanya dia akan terluka, kasihan dia kak." Navya bangun dari tempatnya dan mendekati Hana, mencoba memegang tangannya. Tapi langsung di tepis oleh Hana.
__ADS_1
Hana tersenyum sinis. "Apa kalian pernah memikirkan aku? Jadi untuk apa aku peduli dengan kalian.
"Aku benci kalian berdua. Kamu dan Tante Finny harus merasakan kesakitan ku." Kemudahan dia berjalan keluar dari kamar itu. Navya tidak bisa berkata-kata lagi, air mata tumpah di pipinya. Dia tidak menyangka bahwa jalan hidupnya sudah menyakiti orang lain. Apa mereka tidak sadar, Navya kalau saja dia bisa menolak, dia tidak mau takdir seperti ini. Dia ingin orangtuanya tetap hidup, ingin menikahi seseorang karena mereka saling jatuh cinta.
Tanpa Hana sadari, Dafin berdiri di depan pintu. Melihatnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dafin mendengar percakapan mereka.
"Dafin?"
Lelaki itu tersenyum, bingung dengan apa yang baru saja dia dengar, apa benar Hana yang ia percaya, ia cintai, gadis remaja yang terlihat menyedihkan kala itu hanya memanfaatkan dirinya untuk balas dendam.
"Han, aku mau kita bicara berdua." Dafin berjalan duluan meninggalkan Hana. Gadis itu menyusulnya. Saat melewati ruang tamu, mereka tak sengaja bertemu dengan Damar dan Finny.
"Loh, kalian mau kemana? Sebentar lagi makan malam."
"Hana ada urusan mendadak Mi, jadi dia mau pulang."
Gadis itu diam saja, tidak ingin bicara apapun.
"Dafin akan antar Hana Mi."
"Kamu bisa pesanan dia taksi kan Fin, kenapa harus repot-repot mengantarkan." Damar bicara sambil berjalan menuju ruang tengah.
Finny terkejut, suaminya kenapa jadi ketus begitu. Perkataan Damar membuat Hana bereaksi.
"Saya bisa pulang sendiri. Permisi."
Tanpa peduli ucapan Papinya, Dafin mengejar Hana. Finny tentu saja bingung dengan sikap mereka semua, seakan ada yang mereka sembunyikan.
Segera dia menyusul suaminya yang sedang ada di ruang keluarga.
"Pi, kenapa Papi seperti tidak suka dengan Hana? Biasanya Papi tidak bersikap seperti itu pada orang lain!?"
"Tidak apa-apa Mi. Papi hanya kesal saja, dia tamu di sini, Mami bahkan sudah memintanya untuk ikut makan malam. Tapi dia pergi begitu saja padahal kita sudah mau makan, malah meminta Dafin mengantarnya pula."
"Iya sih Pi, tapi Mami merasa ada yang aneh dengan mereka."
"Sudah lah Mi jangan terlalu dipikirkan, panggil saja Navya untuk makan."
"Iya Pi."
Bersambung
__ADS_1