Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Tempat Terbaik


__ADS_3

"Pak, kita mau ke makam?" Dia tau jalan itu, sudah lama sejak ia mulai sibuk bekerja dan menikah, ia jarang melewatinya.


Senyuman Alvi menjawab pertanyaannya. "Saya harap tebakan saya benar, kamu pasti merindukan mereka."


Navya tidak berkata apa-apa lagi, Alvi benar dia memang merindukan orang tuanya di kondisi nya yang seperti sekarang. Tempat terbaik untuk bersandar adalah orang tua. Bukannya Finny tidak bisa menjalankan peran itu, tapi masalah yang sekarang ia hadapi akan berdampak buruk jika wanita itu mengetahuinya.


"Ayo turun." Mobil sudah terparkir rapi di area makam, dekat dengan penjual bunga."Saya akan membeli bunga."


Tapi gadis di samping nya belum bereaksi, Alvi menutup kembali pintu mobil yang sudah ia buka sedikit.


"Navya?"


Navya mengusap pipinya yang basah karena air mata yang menetes tanpa bisa ia bendung. Mencoba menyembunyikan bahwa ia baru saja menangis.


"Kamu menangis? Atau kamu sedang tidak mau ke makam orang tua kamu?"


"Enggak kok Pak, gak apa-apa. Saya hanya terharu. Bapak bisa tau apa yang saya rasakan."


"Mungkin karena kita sama, kita kehilangan tempat terbaik ketika kita masih sangat membutuhkan mereka." Sambil memandang ke arah makam Indra dan Syifa yang bisa terlihat dari area parkir.


"Dulu saat saya ada masalah, saya selalu datang ke sini. Mengadukan apa yang membuat hati saya tidak nyaman. Karena saya tidak mau menambah beban pikiran untuk nenek."


"Terimakasih ya Pak. Bapak sudah banyak sekali membantu saya. Saya tidak tau bagaimana membalas nya."


"Mudah saja, saya minta kamu harus bahagia, selalu tersenyum dan jangan terluka. Itu sudah cukup buat saya." Terpaku, permintaan itu untuk kebahagiaan dirinya. Alvi meminta dirinya bahagia.


"Ayo turun." Tidak mau menunggu tanggapan Navya, Alvi langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju ke kios penjual bunga.


Navya yang masih terkejut dengan perkataan Alvi, mau tidak mau turun juga mengikuti Bos nya. Lelaki itu membeli empat ikat bunga untuk di letakkan di makam kedua orangtuanya dan orang tua Navya. Lalu mereka berjalan ke makam orang tua Navya terlebih dahulu.


Memanjatkan doa untuk keduanya, Navya lalu tertunduk di antara makan keduanya. Beberapa saat kemudian, bahunya bergetar. Walaupun tidak terdengar isak tangis, namun Alvi tau gadis itu sedang menangis sambil bicara di dalam hati tentang kegalauan yang ia rasakan. Alvi tidak mencegahnya, dibiarkannya Navya mengungkapkan emosi dan kesedihannya.


Alvi memberikan saputangan yang langsung diterima oleh Navya untuk mengusap air mata wajah nya. Lalu dia berdiri, masih terlihat bekas air mata di netra hitam miliknya, namun hatinya sudah merasa lega.

__ADS_1


"Bagaimana? Sudah lebih baik?"


Mengangguk dan memberikan senyuman pada Bosnya. "Makasih ya Pak. Saya merasa lebih tegar."


"Saya senang mendengarnya. Saya mau ke makam orang tua saya, kamu ke mobil saja duluan."


"Saya mau ikut Pak, sejak kecil saya selalu ikut Mami ke makam om Indra dan Tante Syifa, apa alasannya sekarang saya tidak menziarahi makam mereka." Senyum mengembang di wajah Alvi, wanita yang ia sayangi ternyata sejak dulu sudah sering mengunjungi makam ayah dan ibunya. Hal sepele seperti ini bisa membuat Alvi merasa senang.


"Ayo."


Sampai di makam orangtuanya, dia mendekat sambil meletakkan bunga yang ia bawa tadi. Navya ikut berjongkok di sebelahnya. Sikap membuat Alvi merasa sangat bahagia. Dia menatap wajah Navya yang sedang memejamkan mata, memanjatkan doa untuk orangtuanya. Lalu ia beralih menatap dua pusara di depannya.


"Papa, Mama.. Dia Navya, gadis kecil yang sejak dulu datang ke sini untuk mendoakan kalian. Dia gadis yang aku cintai dan cintaku sangat tulus, meskipun aku belum bisa memiliki dirinya, atau mungkin aku tidak akan pernah bisa memilikinya. Walaupun dia bukan milikku, tapi aku hanya ingin melihatnya bahagia."


***


"Pak, saya belum ingin pulang. Saya belum tau apa yang akan saya katakan pada Mas Dafin nanti." Sudah berada di dalam mobil yang melaju keluar dari komplek pemakaman.


"Lalu kamu mau kemana? Ke rumah Tante Finny?"


"Di dekat sini ada taman, saya ingin ke sana kalau Bapak tidak keberatan."


"Saya tidak keberatan sama sekali."


Hanya menempuh jarak 10 menit dari area pemakaman, mereka tiba dia sebuah taman di pinggiran kota. Banyak bangku yang semuanya menghadap ke kolam air pancur besar yang terdapat di tengah taman. Playground yang dia sediakan untuk anak-anak. Pada sore hari seperti sekarang, banyak keluarga kecil yang berkunjung ke sana. Walaupun tidak seramai pada saat weekend tapi tempat itu tidak pernah sepi oleh mereka yang ingin menghabiskan waktu bersenang-senang bersama keluarga dan anak-anaknya. Apalagi ada deretan foodtruck dan kios-kios cemilan yang berjajar rapi di area food court yang dapat memanjakan lidah dan perut para pengunjung.


Alvi dan Navya duduk di salah satu bangku taman yang berada di bawah pohon rindang.


"Kamu mau saya belikan sesuatu?"


"Enggak, gak usah Pak. Saya masih punya ini." sambil mengeluarkan sebatang coklat yang tadi sudah di buka Alvi.


"Tadi ada yang bilang, coklat adalah kebahagiaan yang bisa di makan. Jadi saya ingin berbagi kebahagiaan itu juga." Menyuapkan satu bagian coklat pada lelaki di sebelahnya dan di terima dengan senang hati.

__ADS_1


"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?"


"Ya Boleh."


"Kenapa Bapak belum menikah?"


Alvi diam terpaku. Dia harus menjawab apa. "Saya juga tidak pernah melihat Bapak bersama seorang wanita."


"Mungkin karena saya terlalu fokus dengan perusahaan, awalnya dulu saya pernah dekat dengan seorang gadis. Tapi hanya sebatas teman dekat saja, tidak pernah ada kata pacaran. Tapi ternyata dia memanfaatkan kedekatannya dengan saya untuk kepentingan pribadi. Dan mengatakan pada orang-orang bahwa kami bertunangan. Sejak saat itu saya memilih untuk fokus kuliah dan menyelesaikan studi saya agar bisa membantu kakek di perusahaan."


"Lalu sekarang, kenapa Bapak tidak mencari calon istri?"


"Navya, kalau kamu tidak dijodohkan dengan Dafin, apa yang lakukan kamu untuk mendapatkan suami?"


"Loh kok jadi tanya saya, kan saya duluan yang nanya Bapak."


Dafin tertawa, karena berhasil mengelabui Navya. "Apa salahnya kamu jawab, siapa tau jawaban kamu bisa menjadi inspirasi buat saya."


"Bapak aneh."


"Sebenarnya saya mencintai seseorang, saya sangat ingin memiliki nya. Tapi sepertinya sulit."


"Bapak kan belum mencoba, kenapa sudah menyerah? Apa Bapak sudah menyatakan perasaan Bapak?"


"Hmmmm... Saya takut. Takut dia menjauh dan tidak nyama ada di samping saya. Maka saya masih bertahan menyimpan perasaan saya."


"Kenapa begitu? Bapak kan laki-laki mapan, tampan dan baik hati. Gadis mana yang tidak mau sama Bapak. Jadi Bapak harus percaya diri dan berani berjuang untuk cinta Bapak."


"Tapi dia mencintai orang lain, bagaimana saya bisa merebut hati nya kalau yang dia lihat dengan hatinya hanya orang itu. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan nya."


"Bapak yang sabar ya, saya doakan suatu saat Bapak bisa bersama dengan orang yang Bapak cintai dan mencintai Bapak."


*Kamu Navya, orang itu kamu. Tapi kamu tidak menyadari cinta saya untuk kamu. Saya ingin mengatakan saya mencintai kamu Navya tapi takut kamu akan pergi dari saya. Tapi jahatnya saya selalu berusaha merebut perhatian kamu agar kamu terbiasa merasakan dalamnya cinta saya, dan berdoa agar kamu melihat saya sebagai orang yang mencintai kamu.

__ADS_1


Saya mencintai kamu Navya, sudah terbiasa mencintai kamu*.


Bersambung


__ADS_2