
Navya merasakan hawa dingin membelai tubuhnya. Suara hujan terdengar dari luar rumah. Perlahan membuka mata lalu duduk untuk mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Dia memperhatikan sekelilingnya.
"Aku ketiduran di sini." Seketika matanya menangkap jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Lalu pandangannya mengarah ke pintu kamar Dafin. "Mas Dafin sudah pulang apa belum ya!?" Navya berjalan menuju jendela untuk melihat. Mobil yang terparkir di garasi di sebelah mobilnya sudah menjawab pertanyaan nya.
Aku memang sama sekali tidak penting baginya, bahkan ketika dia pulang pun dia tidak membangunkan ku.
Navya memulai kegiatan paginya, setelah memasukkan pakaian ke mesin cuci kemudian dia merapikan ruangan. Kecuali kamar Dafin, karena si pemilik masih belum keluar dari kamarnya. Setelah itu dia membuat sarapan dan menata nya di meja makan. Kopi untuk Dafin juga sudah dia letakkan di sana. Mencoba mengetuk pintu kamar Dafin Navya mencoba membangun kan si pemilik kamar itu.
cklek
Navya mundur saat terdengar pintu kamar terbuka. Dafin sudah memakai setelan rapi dan siap berangkat ke kantor. Selalu terlihat tampan.
"Mas Dafin sudah bangun..."
"Kamu gak bisa liat ? Memang nya ada orang tidur dengan pakaian seperti ini!?" Dafin melewati Navya yang berdiri di depan kamarnya menuju ke meja makan tanpa ingin mendengarkan jawaban Navya. Menyeruput kopi yang sudah tersedia di atas meja. Namun tiba-tiba dia meletakkan cangkir kopi itu kembali ke tempatnya dengan kasar hingga membuat isinya tumpah sedikit, hal itu membuat Navya yang sudah akan duduk di kursinya kaget.
"Kamu bisa bikin kopi gak sih? Kopinya gak manis." Dafin bicara seraya meninggalkan meja makan.
"Mas Dafin, makan dulu."
Dafin berhenti dan berbalik menghadap Navya.
"Kamu bikin kopi aja gak bisa, mana mungkin aku bisa yakin kalau masakan kamu itu bisa diterima mulutku. Aku gak nafsu."
"Tapi Mas, kan sayang makanannya." Ucap Navya sambil berjalan menghampiri Dafin.
Namun Dafin tetap tidak menghiraukan perkataan Navya. Dafin langsung masuk ke dalam mobil saat Navya sampai di teras kemudian Dafin melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah tanpa menatap Navya sedikit pun.
Sementara Navya kembali ke meja makan untuk sarapan, dia menatap ayam goreng dan Capcay udang yang dia masak. Jika dia sendiri yang menghabiskan tidak akan sanggup. Dia berfikir untuk membawanya ke kantor sebagai bekal makan siangnya. Lalu dia beralih pada kopi yang masih tersisa banyak di cangkir. Dia cicipi minuman berwarna hitam itu, seketika matanya membulat.
Aku rasa tidak ada yang salah dengan kopi ini. Rasanya manis dan pas dengan takaran kopi yang sering aku buat untuk Papi dan Pak Alvi. Bukannya selera kopi Papi dan Mas Dafin itu sama!? Kenapa mas Dafin bilang tidak enak.
Pukul tujuh kurang Navya sudah berada di dalam mobilnya menuju ke gedung Mahendra Group. Pagi ini dia cukup santai, karena Dafin berangkat lebih pagi dari biasanya. Jadi dia bisa dengan cepat merapikan kamar pria itu dan bersiap berangkat bekerja. Seperti pagi ini dia sampai di kantor lebih dulu dari teman sesama staf di lantai khusus Presdir.
__ADS_1
Bahkan di lobi gedung juga belum begitu banyak karyawan yang datang. Hanya terlihat beberapa karyawan serta OB dan OG yang sedang membersihkan ruangan.
Navya sampai di mejanya dan mempersiapkan beberapa hal termasuk jadwal kegiatan Alvi.
"Hai Vya, tumben udah datang."
"Eh, iya Kak. Di rumah sudah beres semua jadi aku langsung berangkat aja."
"Ini bekal kamu? Bukannya kamu sering makan di luar sama Pak Alvi." Navya melihat ke arah bekal yang dia bawa tadi.
"Oh iya, hari ini gak ada jadwal meeting keluar di jam makan siang. Karena di rumah gak ada yang makan jadi aku bawa aja."
"Oh gitu... ya udah, aku ke mejaku dulu ya..." Wanita yang juga merupakan staf sekretaris itu berjalan menuju ke mejanya.
'"Iya Kak." Navya kemudian mempersiapkan pekerjaan nya sambil menunggu bos nya datang, dimulai mengecek jadwal Alvi di tabletnya.
***
Suara intercom di meja nya membuat Navya buru-buru mengangkat panggilan tersebut.
"Keruangan saya sekarang."
"Baik Pak."
Sesegera mungkin Navya menemui lelaki itu di ruangan nya. Alvi tersenyum saat Navya sudah ada di dalam ruangan nya.
"Kamu sudah makan?" Langsung saja bertanya, walaupun bahasa nya masih formal namun nadanya terdengar santai.
"Saya, belum Pak. Bapak mau saya pesankan apa untuk makan siang ?"
"Oh tidak usah, Ryan sudah membelinya tadi. Kamu bisa temani saya makan di sini?" Ajaknya sambil menunjuk dia buah kotak makanan di atas meja sofa dengan matanya.
Navya menggigit bibirnya bingung, bagaimana nasib bekal yang dia bawa. Sementara teman-temannya pasti sudah pergi ke kantin atau ke pusat kuliner di luar gedung untuk makan siang. Dia belum menjawab apapun. Karena menolak berarti tidak menghargai bosnya, walaupun Alvi merupakan saudara iparnya sendiri.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Tenang saja, saya tidak memesan makanan yang terlalu pedas."
"Bukan begitu Pak, tapi saya minta maaf. Saya membawa bekal tadi." Bukannya terkejut, Alvi malah tersenyum.
"Oh, saya pikir kenapa. Ya sudah kamu ambil saja bekal kamu. Kita bisa makan bersama di sini." Kini gadis itu yang merasa aneh.
"Tidak apa-apa, nanti biar yang satu lagi Ryan yang makan." Sepertinya Alvi memiliki rencana. 😏
"Baik Pak, saya ambil dulu."
Mereka sudah duduk di sofa di ruangan Alvi saat Ryan masuk untu memenuhi panggilan Alvi.
"Yan, kamu ambil ini untuk makan siang. Navya membawa bekal ternyata"
Ryan dengan sopan mengambil kotak makan yang Alvi sodorkan. Setelah menunduk dia kemudian meninggalkan ruangan itu. Navya memang sudah mulai bisa mengurangi kecanggungan saat bersama Alvi. Selain status pria itu yang merupakan sepupu dari Dafin, Alvi juga meminta nya jangan bersikap terlalu formal jika mereka sedang tidak dalam posisi bekerja.
Alvi melirik Navya yang sudah membuka kotak bekalnya. Dia mulai menyuapkan Nasi dan lauk yang di masak tadi ke dalam mulutnya. Senyum samar tercetak di bibir pria itu.
"Vy.."
"Iya Pak?!" Navya mengangkat wajahnya menatap Alvi.
"Saya tidak selera dengan makanan ini. Untuk kamu saja."
Navya terkejut, melihat Alvi dan kedua kotak makanan yang ada di atas meja itu bergantian. Mana mungkin dia bisa menghabiskan keduanya.
"Loh, bukannya Bapak yang minta?"
"Tapi saya mendadak jadi tidak berselera. Sepertinya makanan masakan kamu lebih enak." Tanpa aba-aba Alvi mengambil kotak bekal di depan Navya dan memakannya.
"Loh Pak, tapi kan..." *I*tu sudah aku makan.
"Ini. Kamu saja yang makan yaa. Saya makan bekal kamu." Ucapnya sambil mendorong kotak makan milik nya dengan ujung jarinya ke hadapan Navya.
__ADS_1
Navya tidak dapat bicara apapun. Sikap Alvi mengejutkan baginya.