Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Sibuk


__ADS_3

Mereka sudah tiba di apartemen Alvi setelah perjalanan panjang. Ryan menjemput mereka di Bandara.


"Mas, kenapa kita tidak tinggal di rumah besar ? Neni dan Pak Hendra pasti sudah menunggu kita."


"Hmmm... aku hanya ingin berduaan saja. Sama kamu." Langsung memeluk Navya yang masih berdiri melihat-lihat isi apartemen mewah milik Alvi. "Nanti setelah resepsi baru kita tinggal di sana." Alvi mengecup kepala Navya, lalu bahunya.


"Apa sih Mas, Vya belum mandi." Dia menggoyangkan tubuhnya saya Alvi memeluk dari belakang. "Tapi kan kasihan mereka harus repot-repot mengantarkan makanan ke sini." Saat mereka masuk, apartemen sudah di rapikan oleh pelayan. Makanan juga sudah tersedia di atas meja makan. Hendra sudah mengatur semuanya sesuai perintah Alvi.


"Itu sudah tugas mereka. Kamu tidak perlu melakukan apapun." Bibirnya mencium leher Navya. Membuatnya menggeliat geli.


Hmmm... kapan kamu selesai datang bulan sih.


"Apa masih lama?"


"Hah?"


"Itu, apa masih lama?"


"Apanya ?" Bertanya sambil tertawa. Pura-pura tidak tahu apa yang di maksud suaminya.


Alvi menghela nafas berat. " Sayang, kamu sedang meledekku ya." Mencubit pinggang Navya lalu menggelitik gadis itu.


"Haha... ampun Mas. Ampun. Maaf."


Alvi berhenti saat Navya sudah terlihat lelah tertawa. Mereka sudah berada di atas sofa sekarang. Sofa itu baru di ganti, ukurannya lebih besar. Alvi sengaja membelinya karena dia dan Navya akan tinggal sementara di sana.


"Jadi kapan selesainya?"


"Beberapa hari lagi. Tiga atau empat hari mungkin." Alvi terlihat manyun dan tidak bersemangat. Navya mengusap pipi suaminya. " Sabar ya Mas. Kita mandi dulu ya, setelah itu kita makan."


Dia berjalan masuk ke kamar, meninggalkan Alvi yang masih duduk di sofa tanpa menunggu jawaban pria itu. Alvi menatap pintu kamar yang tertutup. Ada pikiran aneh yang terlintas di kepalanya.


Dia tidak begitu antusias, seperti hanya aku yang menginginkannya. Wajar saja, karena hal itu bukanlah yang pertama kalinya baginya.

__ADS_1


Buru-buru dia menepis anggapan itu. Tidak seharusnya dia berfikir begitu. Aku sendiri yang memilih Navya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Yang paling penting adalah aku mencintai Navya. Dan dia juga mencintaiku.


Mereka berdua sudah berada di meja makan, Alvi selesai mandi saat Navya menyusun peralatan makan meja. "Kamu menemukan peralatan makannya?"


"Hmm.. iya... Pelayan menyusun dengan rapi di sana. Jadi mudah menemukannya." Menunjuk lemari di atas wastafel.


"Aku bahkan tidak tau kalau itu di simpan di sana."


"Masa sih? Jadi Mas ngapain aja kalau sedang di sini?"


"Semua di siapkan oleh Ryan, tapi saya lebih sering makan di luar." Ucapnya santai sambil menyuap makanan ke mulutnya.


Navya mengangguk paham. "Tapi mulai sekarang, Vya akan menyiapkan semua keperluan Mas."


Alvi tersenyum menanggapi ucapan istrinya. "Baiklah, tapi aku tidak mau istri ku terlalu lelah. Kamu bisa minta bantuan Hendra atau Neni saat kamu kerepotan."


"Siap Bos."


......💙💙💙......


Neni dan seorang pelayan sedang menyiapkan sarapan saat Navya dan Alvi keluar dari kamar.


"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Nona.." Ucapnya sopan. Pelayan di belakangnya ikut membungkuk memberi salam pada Navya dan Alvi. "Selamat untuk pernikahan Anda berdua."


"Neni, kenapa begitu formal. Panggil seperti biasa saja." Navya mendekati dan memeluk Neni. "Panggilan Neni tidak nyaman di telinga."


"Tapi Anda sudah sah menjadi majikan saya Nona, itu tidak pantas dan... " Dia menoleh pada Alvi yang masih memperhatikan interaksi antara Navya dan Neni. Alvi mengangguk dan tersenyum. Neni menyerah akhirnya.


"Baiklah Mbak."


"Nah begitu dong."


Begitulah Navya, istriku memang rendah hati. Alvi bangga dengan sikap istrinya. Nani mempersilahkan pasangan suami istri itu untuk sarapan. Sementara ia dan pelayan mengerjakan pekerjaan lain.

__ADS_1


"Sayang, beberapa ini aku dan Diana agak sibuk. Mungkin kamu harus pulang sendiri. Nanti aku akan suruh Hendra untuk menjemput kamu. Kamu tidak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa Mas. Mas fokus saja dengan pekerjaan di kantor, Vya juga bisa pulang sendiri. Jangan merepotkan Pak Hendra."


"Jangan pulang sendiri, biar Hendra jemput kamu di kampus."


Navya tertawa lucu. "Mas, Vya kan bukan anak kecil lagi."


"Tapi kamu istri ku sekarang."


"Iya...iya... siap sayang."


"Oke, kalau sudah selesai kita berangkat sekarang." Navya mengangguk, Alvi akan mengantarkannya ke kampus.


Hari-hari mereka benar-benar sibuk, tidak hanya Alvi, Navya juga sedang fokus dengan ujiannya. Mereka hanya bertemu saat malam hari dan sarapan pagi. Terkadang Alvi pulang saat Navya sudah tidur, tapi dia tetap bangun untuk menyambut suaminya, menyiapkan sesuatu yang Alvi butuhkan. Menyiapkan air untuk mandi atau membuatkan minuman hangat jika Alvi menginginkannya.


"Maaf ya sayang.." Merasa bersalah ketika Navya terbangun saat dia membuka pintu kamar.


"Gak apa-apa Mas." Navya tersenyum memaklumi.


Pagi harinya Alvi berangkat lebih pagi, jadi dia tidak bisa mengantarkan Navya ke kampus.


"Kamu tidak apa-apa kan, di antar Hendra?"


"Iya sayang. Jangan khawatir. Pergi sendiri juga bisa kok."


"Tapi aku yang tidak mengizinkan."


"Iya Sayang.... Vya akan tunggu Pak Hendra."


"Doakan pertemuan pagi ini berjalan baik, setelah itu aku tidak akan lembur lagi."


"Vya selalu doakan Mas kok, hati-hati ya." Mencium tangan Alvi, Alvi balas mencium kening Navya lalu kedua pipinya dan bibirnya tidak terlewatkan.

__ADS_1


__ADS_2