Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Interview


__ADS_3

Alvian keluar dari kamarnya menuju meja makan. Nek Rima sudah ada di sana menunggunya untuk sarapan, " Pagi Nek.." Sapanya pada sang Nenek.


"Pagi Al... Kamu pagi begini sudah rapi, mau langsung ke kantor?"


"Iya Nek, hari ini Aku ada meeting pagi dengan semua petinggi perusahaan, dan ada beberapa agenda yg lain. Aku kan belum punya Sekretaris pribadi, jadi belum ada yang mengatur jadwal kegiatanku Nek. Jadi aku harus berangkat pagi untuk mengurus semuanya." Dia menjelaskan kepada Nek Rima.


"Oo begitu, ya sudah.. tapi kamu sarapan dulu..." sambil menyerahkan secangkir kopi dan sspotong roti isi ke depan Alvi.


" Makasih Nek...." Alvi tersenyum, hanya pada neneknya dia bisa tersenyum manis begitu. Tapi kepada orang lain, dia sulit untuk tersenyum.


Dia menikmati sarapannya dengan tenang, sampai saat nenek nya bicara " Nanti kamu kalo cari sekretaris itu cewek cantik...."


" Uuhhukk Uhhhukk.... " Alvi tersedak.


" ehhh, kenapa sih ??" Panik Nek Rima menyerahkan air putih kepada Alvi. "Pelan-pelan dong makannya sayang." sambil mengusap-usap punggung Alvi.


"Gak apa-apa Nek.."


Nek Rima lalu kembali duduk di kursinya, " Ya maksud nenek itu biar kamu gak kaku banget, dulu waktu kamu ngurus perusahaan kakek di LN, Bima yang jadi sekretaris kamu."


"Tapi Bima kan melakukan semua tugasnya dengan baik Nek. Sampai hal-hal pribadi aku juga dia bisa tangani." Alvi melanjutkan sarapannya.


" Memang iya, tapi kalau sekarang kamu cari asisten wanita kan gak apa-apa, biar sedikit berbeda gitu suasananya."


Alvi menghela nafasnya dan menatap neneknya "Nek, aku mau bekerja bukan liburan."


Neneknya masih belum menyerah bicara dengan cucunya,"Ya kan siapa tau lama-lama kamu bisa dekat sama sekretaris kamu. Trus cocok, trus meni..."


Dia menyela bahkan sebelum nenek nya selesai bicara, "Aku sudah selesai Nek, aku berangkat sekarang ya".


Tidak menjawab, nenek hanya diam lesu. Alvian yang tidak mendengar suara dari wanita berharga dalam hidupnya itu berhenti melangkah lalu menghampiri nya, "Nek, nenek tau kan kalau aku sayang sama nenek. Aku belum bertemu yang cocok."


Nenek Rima masih tidak ingin melihat cucunya "Tapi kamu tidak pernah membawa siapa pun wanita untuk bertemu nenek. Bagaimana kamu


bisa menentukan yang cocok ?!"


Dia memeluk nenek nya, " Nenekku sayang, aku masih ingin fokus mengurus perusahaan dulu."


" Baiklah, tapi nenek tidak tau apakah nenek masih sempat melihat cicit nenek nanti.." Masih merajuk.


Alvian memejamkan matanya dan menarik nafas berat " Nek, kenapa bicara seperti itu. Oke aku janji aku akan berusaha mencari calon cucu menantu untuk Nenek. Sudahlah, jangan seperti ini lagi. Aku harus berangkat." Berusaha membujuk nenek Rima.

__ADS_1


" Iya baiklah... sana berangkat. Hati-hati.." Alvian pamit seraya menyalami nenek nya sebelum berangkat.


***


"Kamu yakin sayang, gak mau kerja di perusahaan papi ?" Damar bertanya pada, pasalnya Vya yang baru saja menyelesaikan masa kuliahnya memilih untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain.


"Iya Lo Vy, kalo di kantor papi kan kamu ga perlu susah-susah interview segala. Apalagi cuma jadi sekretaris kan. Ya udah jadi sekretaris papi aja sekalian." Finny menimpali.


" Justru itu lah yang Vya hindari mi, Kalau begitu Vya bakalan di anggap ga punya kemampuan dong." Navya coba menjelaskan ketidaknyamanannya jika bekerja di perusahaan papinya.


" Ya udah, kamu ikut seleksi perusahaan aja seperti calon karyawan yang lain. Mami yakin kok kamu pasti lolos." Finny masih berusaha membujuk putrinya.


"Tetap aja mi,, karyawan yang lain akan menganggap kalo Vya ikut tes cuma formalitas aja. Vya di kira bisa lulus karena Papi. " Vya menyakinkan lagi keputusannya.


" Duhh keras kepalanya anak ini ketularan siapa sih... pusing mami." Sang ibu cemberut.


" Ya dari mami nya " Jawab Damar pelan.. tapi Finny mendangarnya..


" Papi......! "


Gelak tawa Damar dan Navya pecah melihat Finny semakin cemberut.


" Vya janji akan menuruti apa yang bikin mami bahagia. Tapi untuk masalah pekerjaan, biar Vya berusaha sendiri dulu ya mi. Mami jangan khawatir, mami percaya kan sama Vya ?"


" Mami... Yakin deh sama putri kesayangan mami." Damar kemudian membujuknya.


" Iya deh... iya ... mami doakan hari ini interview nya lancar.. dan kamu di terima bekerja."


" Aamiin...." mereka mengucapkan nya bersamaan


" Ya udah Vya berangkat ya Mami, Papi..." Vya berpamitan sambil menyalami Damar dan Finny, tidak lupa ia mencium pipi maminya.


" Hati-hati sayang ..." Balas sang ibu.


" Siaaap Ibu Ratukuu.... " Ledeknya dengan gaya hormat.


" Dasar anak nakal." Ibunya mendelik sementara Damar terkekeh melihat tingkah putri angkatnya itu.


***


Navya sedang menunggu giliran untuk interview. Pemandangan aneh yang ia lihat adalah di sekelilingnya tidak ada mahkluk yang dijuluki Wanita seperti dirinya. Semuanya pria. Para pria-pria itu pun terheran-heran melihat Navya ada di sana.

__ADS_1


"Aku tidak salah jadwal kan, hari ini interview khusus pelamar calon sekretaris"


Navya melihat lagi pengingat jadwal di ponselnya. "Aku tidak salah kok, benar hari ini jadwal interview sekretaris pribadi."


Dia coba menenangkan dirinya, bahwa memang kebetulan pelamar yang lain adalah laki-laki dan ada pelamar wanita yang belum hadir.


Setelah menunggu beberapa waktu, "Navya Putri Wisnu" Yang memanggil nya sedikit terkejut saat menyebutkan namanya. Hal itu diamati oleh Vya, " Silahkan masuk.."


Dia bergegas masuk ke dalam ruangan interview, "Selamat pagi Pak.." Sapa Navya Ramah..


" Ya,, silahkan duduk.." jawab kepala HRD sambil membaca CV Navya.


" Maaf Bu Navya,, Sebelumnya apa Anda sudah membaca baik-baik syarat untuk calon sekretaris pribadi ?"


Navya bingung, " Maksdunya Pak ?"


Wanita itu tersenyum, " Begini Bu, syarat utama bagi calon sekretaris adalah berjenis kelamin Pria, Karena Presedir kami yang baru hanya ingin sekretaris pribadinya itu seorang Pria." Pelan kepala HRD menjelaskan.


"Hahhh, Syarat macam apa itu, apa istri bosnya yang memberi syarat itu! Posesif banget sih" gumamnya dalam hati "Maaf Pak, saya tidak membaca dengan teliti. Tapi apa tidak ada kesempatan buat saya, mungkin bisa dipertimbangkan lagi dengan CV saya gitu ?!"


"Saya mohon maaf, itu syarat utama dari Presedir kami Bu. Tapi jika nanti ada lowongan diposisi yang lain saya bisa menghubungi Anda. Karena saya lihat nilai-nilai Anda cukup memuaskan. Kami bisa pertimbangkan, itu pun kalau Anda bersedia."


" Oh Baik Pak, Terimakasih banyak. Permisi Pak." Vya berpamitan.


" Sama-sama.."


Navya berjalan keluar dari gedung perusahaan itu. Ponselnya berdering, dan dia merogoh isi tasnya untuk mencari keberadaan ponselnya. Tiba-tiba " Dugh!" Dia menabrak seseorang.


"Awww." Navya kehilangan keseimbangannya tapi dengan sigap Pria tersebut memegangi tubuh Navya yang hampir terjatuh.


Pandangan mereka bertemu sesaat. Sang Pria menatapnya intens, "Gadis ini yang kemarin ada di makam." Tatapannya membuat Navya sedikit tidak nyaman.


" Emmm Maaf Mas, bisa lepasin saya?!" Navya berusaha berdiri dan si Pria melepaskan dekapannya perlahan.


" Saya minta maaf Mas,,Saya beneran gak liat tadi. " Vya menundukkan kepala nya berulang seraya meminta maaf pada pria itu yang tak lain adalah Alvi.


" Hmm.. gak masalah."


" Permisi Mas." Navya kemudian berlalu dari hadapan Alvi.


Alvi tersenyum tipis melihat tingkah Navya. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju lift khusus menuju lantai tertinggi gedung megah itu namun pikirannya tertuju pada kehadiran Navya di sana "Kenapa dia ada di sini ?!". Alvi penasaran.

__ADS_1


__ADS_2