Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Kencan


__ADS_3

Pagi ini Navya benar-benar susah untuk bangun dari tidurnya. Dia dan Diana mengobrol sampai larut. Padahal dia ada janji dengan Alvi, mereka akan pergi jalan-jalan berdua hari ini. Berkencan.


Diana juga mengantuk sebenarnya, tapi tugas yang diberikan Alvi sudah menunggu dirinya. Mau tidak mau dia harus bangun dari kasur empuk milik resort bintang lima itu. Dia sudah membangunkan Navya tadi, sebelum keluar kamar tapi hanya di iya kan saja oleh gadis itu yang kembali mendekap guling dalam pelukannya.


Semua keluarga sudah kembali sejak subuh. Mereka sudah saling berpamitan tadi malam saat acara berakhir. Hanya Navya, Alvi, Ryan dan Diana yang tinggal di sana.


Ponsel Navya berdering berulang kali, sebelum akhirnya dia mengangkat tanpa membaca nama si penelepon.


"Hhmmm..Halo...." Suara serak khas bangun tidur. Alvi menarik nafasnya gugup saat mendengar suara Navya yang masih serak.


"Saya sudah di depan pintu." Alvi bicara dengan lembut dari speaker handphone.


"hmmm.. ya..." Di depan pintu Alvi tersenyum, membayangkan Navya pasti masih bergelung di bawah selimutnya. Dia sudah mengetahui dari Diana tadi kalau ternyata Navya belum bangun.


"Navya...." Masih mencoba membangunkan gadis itu.


"Iya Mas..." Oh akhirnya sadar, siapa yang menelepon.


"Saya ada di depan pintu kamar kamu."


Sekali lagi menegaskan namun suaranya masih lembut berbicara.


"Hmmm... iya... Apa????!!!!!" Melihat jam di layar ponselnya dan lalu terdengar dia menjerit sambil menutup mulutnya, berfikir Alvi tidak akan mendengar suaranya. Sementara panggilan belum terputus dan handphone sudah jatuh di atas tempat tidur. "Sebentar ya Mas." Ucapannya sedikit berteriak karena jarak handphone jauh dari wajahnya.


Mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya. Dia memang memakai pakaian lengkap, piyama tidur. Tapi merasa kurang sopan jika menemui Alvi dengan memakai pakaian seperti itu. Akhirnya mengambil sebuah handuk mandi dan menutup bagian depan tubuhnya dan berlari ke arah pintu. Namun dia tidak membukanya lebar-lebar. Rantai pengait pintu masih terpasang. Alvi sedikit mengintip, Navya berdiri di balik pintu.


"Saya belum siap-siap Mas. Maaf..." Suaranya terdengar sungkan dan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Saya akan tunggu kamu. Atau kita bisa sarapan di dalam kamar saja kalau kamu mau."


"Mas Alvi belum sarapan?"


"Belum."


"Mas sarapan duluan saja, kalau menunggu saya kelamaan."


"Hanya menunggu kamu bersiap saja, tidak akan membuat saya bosan. Saya belum terlalu lapar juga."


"Iya Mas." Lalu Navya membuka rantai pengait pintu. Menarik pintu agar Alvi bisa masuk. Mereka saling mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Saya siap-siap dulu ya Mas." Di jawab anggukan kepala saja oleh Alvi, sambil dia berjalan ke sofa di ruang tamu dan Navya masuk ke ruangan lainnya.

__ADS_1


Hampir satu jam waktu yang di habiskan gadis itu untuk bersiap. Akhirnya dia keluar dengan menggunakan pakaian santai. Dress selutut bertangan pendek dengan motif daun yang terlihat cerah. Rambutnya yang masih agak lembab di gerai begitu saja. Polesan make up tipis membuat kesan natural dan segar di wajahnya. Alvi tersenyum melihat penampilan Navya yang seperti ini.


Makanan sudah tersedia di atas meja saat dia sudah selesai.


"Ayo makan. Maaf saya tidak bertanya dulu apa yang mau kamu makan." Menunjuk beberapa menu yang sudah tersedia di atas meja.


"Tidak masalah." Lalu duduk di sofa lain, bukan di sebelah Alvi. Mereka menikmati sarapan dengan suasana yang agak aneh. Dulu biasanya mereka akan sambil mengobrol dengan bebas, tapi entah kenapa pagi ini berbeda.


Meski sudah saling mengucapkan kata cinta, namun ternyata malah tercipta kecanggungan yang sangat terasa di antara mereka. Seperti masih bingung harus bersikap bagaimana sebagai sepasang kekasih.


Akhirnya kegiatan sarapan yang terasa sangat aneh itu berakhir. Mereka keluar dari resort menuju tempat yang sudah di atur oleh Diana dan Ryan. Ngomong-ngomong hari ini Alvi memakai pakaian yang berbeda dari biasanya, kaos pendek berwarna putih namun sangat pas di tubuhnya sehingga membuat otot perut dan lengannya terbentuk. Dan penampilannya membuat Navya beberapa kali mengulum senyum. Dia menyukai nya.


Apalagi tangannya sedang digenggam dengan erat oleh pria di sampingnya. Navya diam saja saat tanpa permisi Alvi meraih ujung jarinya sambil melangkah masuk ke dalam lift tadi. Tanpa aba-aba dia juga menyambut perlakuan itu dengan mengaitkan tangannya lebih erat dalam genggaman Alvi. Senyum lebar terbit di bibir pria itu. Seakan tautan tangan mereka telah mengungkapkan perasaan cinta yang saling berbalas.


"Kita mau kemana?"


"Kemanapun kamu mau."


"Tapi saya tidak tahu tempat bagus di daerah sini, saya tidak tahu mau kemana. Terserah Mas saja."


Mereka sedang ada di dalam mobil. Sebenarnya Alvi sudah punya rencana kemana mereka akan pergi, tapi dia ingin mendengar pendapat Navya. Mungkin saja ada tempat yang ingin ia kunjungi. Ia akan menurut saja.


"Ehhmmm tapi kalau boleh, nanti saya ingin melihat-lihat di toko souvernir.bAda yang mau di beli." Kalau perempuannya selalu begini ya kan, tadi waktu di tanya bilangnya terserah. Padahal di dalam hatinya ada yang diinginkan. Alvi tersenyum mengangguk.


Hanya sekitar dua puluh menit jarak yang ditempuh dari resort ke tempat yang sudah di persiapkan oleh Ryan dan Diana. Masih dengan suasana pantai. Sebenarnya resort milik Mahendra Group yang baru saja di resmikan memiliki pemandangan pantai yang paling indah di daerah itu. Namun karena kepopulerannya, tempat itu menjadi sangat ramai.


Alvi ingin menikmati kebersamaan dengan Navya di suasana pantai yang santai, tenang dan nyaman.


"Kenapa harus ke sini. Pantai di resort kan juga bagus Mas?"


"Ya, saya hanya ingin suasana yang lebih nyaman. Di sana terlalu ramai." Navya mengangguk paham.


Mereka berjalan seperti tadi saat turun dari mobil, bergandengan tangan. Di tepi pantai terdapat beberapa gazebo nyaman yang tersusun. Salah satunya di hias khusus agar tercipta kesan romantis untuk sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu. Terdapat bantal duduk yang nyaman dan sebuah meja, ada seikat bunga mawar merah di atasnya. Tirai putih yang menghiasi tiang gazebo melambai-lambai tertiup angin pantai yang tidak terlalu kencang.


"Kamu suka?" Sambil memberikan buket mawar merah pada Navya. Anggukan antusias dan senyum Navya memberikan kebanggaan tersendiri bagi Alvi.


Mereka duduk sambil menikmati hembusan angin dan pemandangan pantai yang mempesonakan mata. Bukannya tidak ada orang lain yang menghuni pantai selain mereka, tapi memang situasi pantai yang dipilihnya jauh dari keriuhan dan anak-anak.


Tiga orang pelayan datang menyajikan dua buah kelapa muda, beberapa cemilan, potongan buah dan air mineral. Navya memperhatikan apa yang mereka lakukan. Menunduk dan pergi setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.


Alvi mendekatkan satu buah kelapa ke depan Navya. Lalu dia meminum miliknya sendiri. Navya hanya melihat saja Alvi menyeruput air kelapa muda.

__ADS_1


"Kenapa tidak minum?" Menatap heran Navya yang sedang memandangi dirinya.


Dia mendekat ke arah Alvi, membuat pria itu sedikit menggeser tubuhnya. Lalu meraih sedotan yang ada di buah kelapa milik Alvi dan menyeruputnya tanpa permisi. Apa yang Navya lakukan membuat Alvi terkejut, hingga dia tidak bisa bicara apapun. Hanya memperhatikan gadis di sebelahnya yang sedang asyik menyeruput air kelapa miliknya.


Sadar kalau dia sedang di perhatikan, Navya menoleh.


"Boleh kan?" Alvi tersenyum senang, lalu tangannya refleks mencubit pipi Navya lembut.


...💙💙💙...


Setelah makan siang romantis di tepi pantai, mereka berjalan-jalan di pusat penjualan souvernir. Sesuai permintaan Navya, mereka akan berjalan menyusuri pertokoan di area itu. Tidak hanya menjual berbagai macam souvernir, ada juga gerai-gerai makanan yang menjajakan kuliner khas daerah dan luar daerah.


Yang paling digandrungi adalah penjual eskrim. Di tengah cuaca daerah tepi pantai yang panas, eskrim adalah pilihan yang cocok untuk menyegarkan dan memanjakan lidah.


Navya sudah selesai dengan kegiatan belanjanya yang cukup lama. Padahal dia hanya membeli beberapa barang saja, mumpung sedang di sana ada sesuatu yang ingin ia beli untuk dirinya sendiri. Tapi berjalan bergandengan tangan dengan Alvi membuat dirinya bahagia dan nyaman, jadi dia hanya alasan keluar masuk toko karena tidak cocok dengan model atau warnanya. Dan sang pria Bucin itu juga tidak sadar Navya sudah mengerjai dirinya, dia hanya sedang menikmati kebersamaan dengan gadis yang sedang ia genggam tangannya sekarang.


"Kamu mau eskrim?" Menunjuk box eskrim yang ada di seberang jalan setelah mereka keluar dari salah satu toko souvernir.


"Mau Mas."


"Kamu duduk di sana. Biar saya yang beli." Navya duduk menunggu di sebuah kursi tidak jauh dengan tempat dia dan Alvi berdiri tadi. Sementara Alvi menyebrang jalan untuk membeli kudapan dingin yang lumer saat sudah menyentuh lidah itu. Kalian suka eskrim rasa apa guys?? 🍦🍦


Alvi kembali dengan satu buah eskrim stroberi di tangannya. Memberikan pada Navya lalu duduk di sebelahnya.


"Kenapa cuma beli satu?" Alvi hanya menggeleng yang diartikan Navya bahwa dia tidak mau.


Navya mulai menikmati eskrim stroberi di bawah tatapan penuh cinta dari pria di sampingnya. Sebelah tangannya terjulur menghapus noda eskrim di pinggir bibir Navya. Jelas wajahnya langsung kaku seperti tersengat listrik dan tercipta rona merah di pipinya. Dia malu. Melahap lagi krim dingin itu untuk mencairkan suasana.


"Mas memang gak suka eskrim?" Bertanya serius pada Alvi sambil lanjut memakan lagi eskrim nya.


"Saya suka."


"Terus kenapa cuma beli satu?" Seketika Alvi meraih pergelangan tangan Navya yang sedang memegang cone eskrim lalu memakan es krim itu dari tangan Navya. Navya terkejut dengan apa yang dilakukan Alvi. Sama persis seperti yang ia lakukan di pantai tadi.


"Sepertinya kalau begini, rasanya lebih nikmat." Tersenyum lagi. Membuat Navya jadi berdebar dan masih menatap Alvi.


(Yahh si Alvi gak tau aja, ada cara lain makan eskrim yang lebih nikmat.. Nanti ya kalo udah halal 🤭)


" Awas eskrim nya cair Vy. Saya gak akan kemana-mana kok, jangan di lihat terus." Navya terkekeh pelan mendengar ucapan Alvi. Mereka duduk di sana sampai Navya menghabiskan eskrim nya, sambil sesekali menyuapkan pada Alvi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2