Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Mas Alvi


__ADS_3

Senja hampir menghilang, tapi langit di ujung barat masih membiaskan jingga. Terpantul di air danau yang tenang. Navya dan Alvi sedang duduk di bawah temaram senja. Navya mengajak Alvi untuk bicara dari hati.


"Saya minta maaf." Navya membuka pembicaraan. Ngomong-ngomong mereka sedang berada di taman kota tempat dimana Navya melihat Dafin sedang bersama Hana waktu itu.


"Untuk?"


"Saya gak bisa membalas perasaan Bapak."


Alvi tersenyum. "Jangan bilang tidak, hanya Belum."


Navya heran. Menatap Alvi dari samping. Tanpa ia sadari Alvi pun menatapnya hingga mata mereka terkunci. satu detik, tiga detik, lima detik. Sampai akhirnya Navya mengalihkan matanya ke arah lain.


"Izinkan saya menunggu sampai kamu membuka hati."


"Tapi sebentar lagi saya akan pergi, dalam waktu yang tidak sebentar."


"Saya tetap akan menunggu kamu."


"Bapak mengerti perasaan saya pada Mas Dafin kan, walaupun saya merelakan dia bersama wanita yang dia cintai tapi saya butuh waktu untuk melupakan semuanya."


"Itu tidak akan membuat saya lelah menunggu kamu membuka hati."


"Pak... Saya takut membuat Bapak kecewa." Navya menatap Alvi lagi.


"Saya saja yakin sama kamu, kenapa kamu meragukan diri kamu sendiri."


Alvi menggeser tubuhnya, duduk menghadap Navya dan pandangan mereka bertemu lagi seperti tadi. "Navya, tolong izinkan saya menunggu kamu. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Jangan hiraukan perasaan saya terhadap kamu, hanya jalani saja hari-hari kamu dengan nyaman dan tanpa beban. Anggap saya sebagai Alvi yang tidak pernah mengakui perasaannya pada Navya."


Jangan rubah sikap kamu terhadap saya, biarkan saja waktu yang akan menentukan takdir. Apakah saya bisa merebut hati kamu atau tidak suatu hari nanti.


Dan izinkan saya membuat kamu terbiasa dengan kehadiran saya."


Navya menghela nafasnya pasrah. Jujur saja sekarang dia belum memikirkan soal cinta. Cintanya baru saja ia relakan demi kebahagiaan keluarganya. Dia belum siap memulai cerita cinta yang baru.


"Bapak yakin apapun keputusan saya, Bapak tidak akan menyesal?"


"Saya hanya ingin kamu bahagia"


Navya memegang tangan Alvi. Dia tidak sadar, apa yang sedang ia lakukan sudah membuat hati si pemilik tangan itu berdebar-debar. "Terimakasih banyak atas semua yang sudah Bapak lakukan untuk saya."


"Dan jangan pernah memilih saya hanya karena kamu merasa berhutang budi." Navya terkejut, tapi selanjutnya dia tersenyum sambil melepaskan tangan Alvi.


"Ternyata Bapak sangat waspada ya."


Alvi membalas nya dengan tertawa kecil.


Tiba-tiba rintik hujan turun, orang-orang yang ada di taman itu membubarkan diri. Mencari tempat untuk berteduh. Hal yang sama di lakukan oleh Alvi dan Navya. Mereka berlari menuju ke tempat dimana mobil Alvi terparkir. Namun belum sempat sampai di mobil, hujan sudah turun dengan derasnya.


"Bagaimana ini Pak, hujannya deras sekali.'


"Hemm.. padahal sedikit lagi saja kita sampai di mobil." Sambil menunjuk ke arah mobilnya berada tidak jauh dari tempat mereka berteduh. "Kamu di sini saja, saya akan ke mobil dan mengambil payung."


"Tapi Bapak bisa basah nanti."


"Gak masalah." Belum sempat Alvi melangkahkan kakinya untuk menerjang derasnya hujan, ada petir menggelegar.


Navya memeluk tangan Alvi dan membenamkan wajahnya di bahu laki-laki itu. "Pak, saya takut."


Alvi terpaku. Beberapa detik kemudian Navya tersadar dengan apa yang dia lakukan. "Maaf Pak. Saya kaget." Buru-buru melepaskan tangannya dari lengan Alvi.


"Ya, gak masalah."


Alvi tidak jadi mengambil payung. Sementara dia harus segera mengantarkan Navya pulang. Sampai akhirnya dia menemukan ide agar mereka bisa masuk ke mobil. Alvi membuka jas nya. Navya memperhatikan apa yang Alvi lakukan.

__ADS_1


Alvi mengangkat jas nya ke atas dengan kedua tangan, membentangkan untuk menutupi kepala. "Ayo."


"Bapak yakin?"


"Sepertinya hujannya akan lama. Kamu tidak mau kan di sini terus sampai tengah malam."


Mau tidak mau Navya mengikuti ide Alvi. Navya berdiri di dekat Alvi, tepat di bawah jas nya ia bentang di atas kepala mereka berdua. Lalu mereka berlari bersama ke arah mobil Alvi.


Di dalam mobil Navya mengusap lengannya yang basah terkena air hujan dengan tisu.


"Kamu basah?"


"Enggak kok Pak, hanya sedikit."


Alvi mengambil sebuah jaket dari kursi belakang dan memberikan pada Navya.


"Kamu pakai ini, biar kamu tidak kedinginan."


Navya menerima nya sambil tersenyum. Lalu memakainya. Alvi menjalankan mobilnya menembus hujan. Sebelum pulang, Alvi mengajak nya makan malam dulu.


Saat makan malam mereka membahas soal keberangkatan Navya untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Alvi sudah membantu mengurus semua keperluan Navya di sana, termasuk tempat tinggal. Dan Navya juga bisa sambil bekerja di perusahaan milik Mahendra Group tanpa menggangu jadwal pendidikan nya.


Tinggal meminta izin pada keluarga saja. Masih seminggu lagi dari jadwal keberangkatan, Navya masih punya waktu untuk membujuk Maminya. Karena pasti wanita itu akan membuat banyak drama untuk menahan Navya agar tidak pergi.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan untuk bisa membujuk Tante ?"


Navya tampak berfikir sebentar. Lalu dia melihat Alvi lagi. "Bisa tidak saya minta tolong lagi sama Bapak?" Tatapannya agak di buat-buat seperti memohon.


Alvi mengulum senyum melihat tingkah Navya yang menggemaskan menurut nya.


"Memang apa yang bisa saya lakukan, sejak kapan Tante Finny percaya dengan ucapan saya."


"Ya setidaknya Bapak bisa bantu saya untuk membujuk dan meyakinkan Mami kan."


"Hhmmmm... boleh saja. Tapi ada syaratnya."


"Syarat?" Navya heran, Alvi meminta syarat. Apa minta makan bersama lagi.


Alvi mengangguk yakin. "Ya. Itupun kalau kamu mau."


"Apa syarat nya?"


"Jangan panggil saya Bapak lagi. Saya belum setua itu. Lagipula saya buka bos kamu lagi sekarang."


Navya tertawa geli. Siapa yang bilang Alvi sudah tua, hanya saja itu sebagai bentuk hormat Navya padanya. "Jadi saya harus panggil apa ?"


"Apa lah... asal jangan Bapak."


"Bos?"


"Saya bukan bos kamu."


"Tapi saya sudah terbiasa dengan panggilan itu. Bapak Presdir." Navya terkekeh karena Alvi jadi kesal, walaupun mimik wajahnya di buat-buat.


"Saya baru ini loh liat Bapak Alvian Mehendra merajuk."


Dia menghela nafasnya. Menyerah saja. Dia juga tidak mau memaksa Navya dan membuatnya tidak nyaman.


"Terserah kamu saja lah."


"Tapi Bapak janji tolong saya sekali lagi ya untuk membujuk Mami."


"Iyaa, tapi bukan yang terakhir kali... Saya kan sudah bilang, saya akan selalu ada untuk kamu kapanpun kamu minta."

__ADS_1


Navya tersenyum. Senyum yang selalu membuat Alvi merindukan dirinya.


Mereka pulang setelah makan malam dan puas mengobrol. Navya merasa nyaman bisa mengobrol banyak dengan mantan bosnya itu. Alvi selalu bisa menjadi teman yang baik untuknya.


Mereka tiba di depan rumah Damar pada pukul sebelas malam. Navya sudah meminta izin sebelumnya pada Finny.


"Kamu istirahat dulu, besok pagi saya akan ke sini untuk bicara dengan Tante. Kalau sekarang mungkin mereka sudah tidur." Alvi melirik ke arah bangunan rumah yang lampu nya sudah padam sebagian. Menandakan aktivitas orang-orang di dalamnya sudah berkurang.


Navya mengangguk. "Saya duluan ya Pak." Sambil membuka pintu mobil.


"Navya!" Panggilan Alvi membuat Navya menahan pintu yang sudah terbuka sedikit. Menoleh pada si pemanggil.


"Selamat malam, selamat istirahat."


"Bapak juga." Jawabnya sambil tersenyum.


"Navya." Memanggil lagi saat Navya sudah akan keluar dari mobilnya.


Menoleh lagi dan mendapati Alvi tersenyum. "Hanya ingin memanggil." Tapi malah membuat Navya terkekeh lucu. Navya turun dan menutup pintu mobil.


Alvi melambaikan tangan pada Navya.l, sudah akan menginjak gas. "Tunggu." Kali ini Navya yang memanggil. Alvi menoleh bingung.


Navya menundukkan kepalanya sambil tersenyum malu-malu. "Terimakasih Mas Alvi." Lalu langsung berbalik dan menghilang di balik pagar tinggi rumah keluarga Damar.


Alvi tercengang, hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sampai dia tersadar bahwa Navya sudah tidak ada lagi di sana. Senyum mengembang di bibirnya mewakili isi hatinya. Bahkan sampai di rumah pun Alvi masih terngiang-ngiang suara Navya yang memanggil nya dengan sebutan Mas Alvi.


***


Selesai mandi, Alvi bahkan tidak bisa tidur. Malah memandangi wajah Navya yang ada di ponselnya. Wajahnya langsung berubah kesal saat ada yang menggangu keasyikannya menikmati wajah Navya.


Kak Bima Calling


Ck. Berdecak kesal tapi di angkat juga.


"Ada apa kak?"


"Apa? Kamu sedang asyik menghayalkan istri orang?"


"Dia akan resmi bercerai besok."


"Terserah. Aku harus kembali ke Negara A. Tuan Mahendra meminta aku kembali secepatnya. Cepat kembali dan urus proyek Mahendra Group."


"Kak sabar dulu, sebentar lagi saja. Proyek itu membutuhkan kamu, aku masih belum bisa fokus mengurus nya. Setidaknya sampai Navya berangkat ke luar negeri."


Terdengar hembusan nafas kesal dari seberang telepon. "Seminggu lagi, setelah itu aku tidak perduli dengan urusan kamu."


"Iya... iyaa... Sebenarnya siapa yang jadi bos nya sih di sini."


"Terserah...!" Alvi malah tertawa mendengar Bima kesal padanya.


"Kak, menginap lah di rumah. Aku sudah kembali."


"Apa?" Suara Bima seperti orangnya akan keluar dari layar ponsel. Sampai Alvi menjauhkan benda itu dari telinga nya.


"Kamu sudah kembali tapi tidak memberi tahu ku."


"Bukannya anak buah kakak banyak, apa tidak ada yang memberi tahu kalau aku sudah di sini. Mereka kan mengikuti kemanapun Navya pergi."


"Bodoh, memangnya apa yang mau mereka lakukan. Walau aku yang memerintah mereka, tetap saja kamu yang menggaji mereka. Sejak kapan mereka berani memata-matai mu." Alvi tertawa lagi mengejek Bima.


"Ya sudah aku ke sana. Siapkan makanan, aku lapar."


"Iya... iya..." Alvi mematikan panggilan tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2