
Tanpa menunggu Dafin, akhirnya Navya makan bersama Finny dan Damar.
"Dafin pasti ngerepotin kamu kan sayang!? Dia itu susah banget, kalo makan suka pilih-pilih menu. Kamu tau sendiri kan, kalo dia itu suka makanan pedas. Dulu aja sebelum dia ke luar negeri, Bibi di rumah kita harus nyiapin beberapa menu berbeda biar Dafin mau makan."
"Enggak terlalu kok Mi, Mas Dafin gak terlalu banyak menuntut."
Mana pernah dia protes, makan masakan aku aja gak mau.
"Tapi pelan-pelan nanti kalian akan terbiasa dengan pribadi masing-masing, yang penting saling pengertian saja." Ujar Damar menambahi.
"Iya Pi, Vya akan berusaha." Jawabannya sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong Dafin kenapa lama sekali sih? Emank dia bilang mau kemana?"
"Tadi sih bilangnya mau ke kantor, ada yang mau Ega bicarakan." Damar menoleh sepenuhnya pada Navya.
"Ngapain juga malam-malam begini ke kantor. Kan bisa besok aja, atau Dafin juga bisa nyuruh si Ega yang datang ke rumah." Navya terdiam, apa yang Finny katakan benar. Dafin itu kan bosnya, lantas kenapa dia menurut sekali ketika Ega meminta dia ke kantor di jam segini.
Damar hanya diam sambil memperhatikan raut wajah Navya yang juga ikut berubah setelah mendengar ocehan istrinya. Damar lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan sebuah pesan pada seseorang, saat Finny mengajak Navya untuk melihat-lihat ruangan rumah mereka.
***
"Kamu sudah enakan ? Atau masih pusing? Mau aku antar ke dokter ?" Dafin menyentuh kening Hana untuk memastikan keadaan gadis itu.
"Hmmmm aku cuma capek aja, tapi abis liat kamu aku lebih baik." Dafin tertawa, lalu mencubit hidung wanita yang tengah memeluk dirinya.
"Kamu modus kan.. Aku tau, kamu baik-baik aja."
"Yaa abisnya, kamu tadi buru-buru pulang. gak pamitan juga sama aku. Gak sabar banget pengen ketemu istri."
"Bukan gitu, kan tadi aku sudah bilang kalau Mami dan Papi akan datang ke rumah, aku harus memindahkan barang-barang ku ke kamar Navya." Dafin melihat angka di jam tangan nya, sudah satu jam dia berada di apartemen Hana.
"Terus maksud nya kamu sekarang tidur sekamar sama dia?" Hana mendongak demi melihat wajah Dafin.
__ADS_1
"Ya enggak lah, cuma pindahin barang-barang aja takutnya Mami tiba-tiba masuk kamar."
"Kamu harus janji, kamu gak akan tidur sama dia."
"Iya aku janji, kita udah berulang kali kan bahas ini." Dafin kembali melihat jam di tangan nya.
"Kenapa sih? Dari tadi kamu liatin jam terus? Kamu mau pulang?"
"Gak apa-apa kan? Gak enak ada orang tua ku di sana. Takut nya mereka curiga, aku cuma bilang akan keluar sebentar."
Hana menghela nafasnya berat.
"Ya baiklah." Sambil melepaskan pelukannya di pinggang Dafin, yang kemudian pria itu berdiri dan bersiap untuk pergi. Tapi Hana hanya duduk diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu gak antar aku?"
"Kamu bisa keluar sendiri kan."
"hmmm.. okee... aku pergi."
"Han, kita bahas ini besok ya. Aku harus pergi."
"Ini yang aku takutkan, kamu gak lagi memprioritaskan aku. Semakin buat aku takut kehilangan kamu. Makanya aku mau kita nikah."
Dafin menarik nafas kasar. Dia berjalan mendekati Hana lagi, menunduk dan mencium keningnya. "Aku pulang dulu, besok kita bahas lagi. Kamu istirahat saja." Hana hanya memejamkan matanya. Dia lelah, entah kenapa dia merasa takut sejak Dafin tinggal serumah dengan Navya. Dulu memang Dafin pernah ingin mengajak nya kawin lari, tapi dia menolak. Beralasan Dafin harus membuat Navya merasakan penderitaan dulu, dan Hana juga ingin menikah dengan restu kedua orang tua Dafin. Tapi sekarang dia yang ragu dengan Dafin. Sementara Dafin meninggalkan dirinya tanpa bicara apapun lagi.
"Aku takut Fin, aku takut kecewa lagi."
***
"Mi, Vya ke atas sebentar ya." Navya berniat untuk berganti pakaian karena bajunya basah saat dia membereskan peralatan makan dan dapur.
"Iya sayang."
__ADS_1
Tak lama kemudian Dafin pulang dan menghampiri Damar dan Finny yang sedang bersantai di ruang TV. "Kamu dari mana ?"
"Oh, Dafin ada kerjaan sedikit Mi." Sementara Damar hanya diam, dia tidak menanggapi jawaban Dafin.
"Mami dan Papi sudah makan?"
"Sudah, kamu sendiri?"
"Dafin tadi malam di luar, udah lapar soalnya. Oh ya, Vya dimana?"
"Dia lagi di kamar, mungkin lagi ganti baju."
"Oh.. Dafin juga mau ganti baju ya Mi." Dafin berjalan menuju kamar yang biasa dia gunakan. Finny dan Damar memperhatikan Dafin, merasa heran kenapa Dafin bukannya naik ke lantai atas.
"Kamu bilang mau ganti baju?" Seketika langkah kaki itu terhenti, Dafin menjadi kikuk.
"Kamar kalian bukannya di atas?" Damar mulai curiga dengan gelagat anak nya. Tapi Dafin hanya tertawa. Dafin kemudian naik ke atas menuju ke kamar Navya.
Hampir saja..!
Dafin masuk ke dalam kamar,m tanpa mengetuk pintu, bisa-bisa Mami dan Papi nya tambah curiga. Di dalam kamar dia tidak menemukan Navya, namun suara air dari dalam kamar mandi menjadi jawaban keberadaan gadis itu. Dafin mengganti pakaian di dalam ruangan itu, saat sudah membuka kemejanya Navya tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan mendapati Dafin sedang bertelanjang dada. Mereka sama-sama terkejut, Navya hampir saja berteriak kalau saja Dafin tidak segera berlari ke arahnya dan membekap mulutnya.
"Kamu jangan bikin keributan! Kamu mau Mami dan Papi naik ke sini dan curiga ?"
Navya menggeleng, lalu perlahan Dafin melepas tangannya dari mulut Navya. Jantung Navya berdegup kencang selain karena melihat Dafin tidak memakai baju, jarak mereka tadi sangat dekat.
"Sana kami keluar dulu. Nanti aku menyusul."
Perintah itu hanya di balas anggukan oleh Navya sambil dia berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan tidak karuan.
Navya sudah duduk bersama Finny dan Damar, lalu Dafin menyusul mereka. Tanpa ragu dia duduk di sebelah Navya.
"Sayang, buatkan aku kopi ya. " Pintanya pada Navya yang langsung di iyakan oleh nya. Jantung Navya semakin berdebar mendengar panggilan Dafin, walaupun itu hanya sekedar sandiwara karena ada orang tuanya di sana.
__ADS_1
Setelah selesai Navya membawanya ke hadapan Dafin, dan pria itu langsung menyeruput kopi buatannya. Navya hanya memperhatikan Dafin yang dengan tenang meminum kopi buatannya. Padahal sebelumnya dia menolak apapun yang Navya sajikan. Malam itu Dafin memperlakukan Navya seperti seorang istri ya g di cintai, demi menunjukkan pada orangtuanya bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia. Lagi-lagi bersandiwara, kalau saja itu bukan sebuah sandiwara Navya akan sangat bahagia. Namun Navya hanya bisa bermimpi.