Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Benci


__ADS_3

Cukup lama keluarga itu berkumpul, sampai setelah selesai makan malam barulah Finny dan Damar serta Dafin dan Navya pulang ke kediaman mereka masing-masing.


"Sayang Mami dan Papi gak mampir ke rumah kalian yaa. Lain kali kami pasti akan ke sana."


"Iya Mi, gak apa-apa. Vya duluan ya Mi, Pi." Pamit Navya pada mertuanya. Setelah tadi dia menyalami kakek dan neneknya. Sementara Alvi tidak keluar dari ruang kerjanya bahkan selama mereka makan malam bersama, Ryan yang membawa kan makan malamnya ke ruang kerja.


"Aku duluan ya Pi." Dafin berpamitan sambil membunyikan klakson mobilnya seraya menjalankan kuda besi itu keluar dari pelataran rumah mewah Mahendra.


Sepasang mata sedang memperhatikan mobil yang perlahan meninggalkan area taman dan melewati gerbang utama. Dia sengaja mengurung dirinya di ruang kerja milik nya. Padahal urusan nya dengan Ryan sudah selesai sebelum makan malam. Namun Alvi tidak ingin pertemuan bahagia antara Nenek dan Tante Finny terganggu dengan suasana hatinya yang sedikit kacau saat melihat kebersamaan Navya dan Dafin. Walaupun dia curiga pernikahan mereka tidak berjalan seperti yang terlihat.


Hanya beberapa menit saja Navya dan Dafin sudah sampai di rumah mereka. Selama perjalanan yang tidak lama itu, mereka hanya membisu. Tak ada yang membuka suara. Sampai ketika Navya sudah membuka pintu dan akan turun dari mobil, Dafin memanggil nya.


"Aku mau keluar." Navya menoleh, sudah malam begini Dafin mau kemana.


"Aku ada urusan. Kamu gak harus tau kan." Tau arti tatapan Navya. "Kamu kunci saja pintu, aku bawa kunci sendiri."


Navya tidak menjawab apapun, memang benar dia tidak punya hak untuk melarang ataupun bertanya. Tapi setidaknya Dafin bisa melihat situasi kan, ini sudah jam 10 malam. Kenapa dia tega meninggalkan Navya sendirian saja di rumah. Namun benar, dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah Dafin.


"Sudah sana turun!"


"Iya Mas." Navya belum membuka pintu rumah, Dafin sudah menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah mereka. Navya hanya bisa menatap nanar.


Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Navya turun dari kamarnya sambil membawa beberapa pekerjaan. Dafin belum pulang jadi dia memutuskan untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan yang belum selesai, sekalian menunggu Dafin. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke Hp nya.

__ADS_1


"Kamu belum tidur?"


Pertanyaan Alvi sedikit aneh, seakan dia tau kalau Navya memang belum tidur. Belum sempat membalas sudah ada pesan baru yang masuk.


"Maaf kalau saya mengganggu istirahat kalian."


"Enggak kok Pak. Saya belum tidur.


Saya sedang mempersiapkan berkas untuk meeting hari Senin."


"Apa ada yang mau Bapak bicarakan ?"


"Kamu istirahat saja. Sudah malam. Masih ada waktu beberapa hari lagi."


"Ya sudah, jangan begadang terlalu malam. Jaga kesehatan kamu."


"Selamat malam."


Navya merona membaca pesan dari Alvi, jantung nya berdegup kencang. Kenapa bosnya terlalu perhatian seperti ini. Dia pikir ada yang ingin Alvi bicarakan soal pekerjaan ketika dia menghubungi nya malam-malam begini. Tapi dia hanya mengucapkan selamat malam. Navya sampai melihat kearah pintu, takut tiba-tiba Dafin pulang. Dia merasa seperti istri yang sedang selingkuh saja.


"Baik Pak. Selamat Malam."


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Namun Dafin belum juga pulang. Navya masih setia di ruang tv, walaupun Dafin tidak meminta dirinya menunggu tapi Navya merasa tidak tenang jika Dafin belum sampai di rumah. Dia ingin menghubungi pria itu, namun tidak berani.

__ADS_1


Akhirnya Navya tertidur di sofa. Pukul dua dini hari Dafin pulang. Dia menuju ke dapur untuk mengambil minuman, saat melewati ruang TV dia melihat Navya tertidur di sana tanpa bantal ataupun selimut.


"Kenapa dia tidur di sini."


"Hei .. Navya... Bangun!"


Tapi Navya tidak juga bangun dari tidurnya. Dafin berniat untuk memindahkan tubuh Navya ke kamarnya. Namun saat dia menunduk akan mengangkat tubuh Navya, seketika dia teringat dengan pembicaraan nya dengan Hana saat mereka bertemu tadi.


"Kenapa aku yang seperti simpanan kamu sih?! Kamu bilang kamu akan selalu ada buat aku. Tapi dari tadi kamu malah gak angkat telpon aku."


"Maaf sayang. Aku kan sudah bilang sama kamu, keluarga ku sedang berkumpul. Terpaksa aku harus berada di sana bersama mereka."


"Dan dia juga kan. Lalu kalian harus berperan menjadi suami istri yang harmonis. Begitu kan? Selalu begitu! Semua demi orang tua kamu, demi Mami kamu."


"Hana. Apa aku salah? Aku melakukan ini semua demi Mami, demi orang tua ku. Hanya beberapa bulan saja."


"Dan selama menuju enam bulan itu apapun bisa terjadi Dafin. Kamu bisa saja mencintai dia, kalian bersama setiap hari, tidak ada yang tidak mungkin. Kamu harus sadar, Navya sudah membuat kamu menderita Fin, dia sumber penderitaan kamu, dia merebut keluarga kamu dari aku, dia merebut perhatian mami dan papi kamu, dia tidak seharusnya ada dalam hidup kalian. Dan seandainya tidak ada Navya, aku Fin, aku yang harusnya menikah dengan kamu sekarang. Aku yang harusnya di asuh oleh orang tua kamu dari awal, aku yang jadi bagian dalam keluarga kamu dan aku yang harusnya Mami kamu jodoh kan dengan kamu. Lihat sekarang, karena Navya kamu harus diam-diam menemui aku." Hana bicara sambil menangis, dia menyalahkan Navya dalam setiap jalan hidup yang tidak sesuai harapannya dulu. Dafin memeluk tubuh nya yang bergetar.


"Maafkan aku Hana. Aku akan pikirkan cara agar kita bisa bersama. Dan Navya, aku janji walaupun kami tinggal serumah, aku akan menjaga jarak dengannya. Kamu harus percaya padaku."


Dafin tersadar, kenapa dia harus melakukan itu. Dia tidak seharusnya melakukan hal-hal seperti ini. Dia tidak perduli pada gadis di depannya ini. Dia adalah sumber dari ketidakbahagiaan dalam hidupnya, dia adalah orang yang sudah merebut segala perhatian keluarga nya. Seketika matanya berubah tajam. Dia membenci Navya.


Lalu dia meninggal kan Navya, benar-benar membiarkannya tidur di sofa dan Dafin masuk ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2