
" Navya itu cantik yaa."
" Hmmm.."
" Kamu gak suka sama dia ?"
" Nek, Navya sudah bertunangan. Dan tunangannya itu Dafin, teman Al waktu di LN."
" Nenek tahu, Nenek kan cuma tanya, kamu suka gak sama Navya!? Itu aja."
Alvi yang sedang memeriksa laporan di ponsel nya, kemudian mengalihkan pandangannya pada sang Nenek. " Nek, siapapun tidak akan ada yang bisa menolak Navya. Dia itu cantik, baik, pintar dan sopan. Tapi kan tidak baik mengharapkan seseorang yang sudah memiliki hubungan yang jelas dengan orang lain."
Kata-kata itu sudah menjawab pertanyaan Nenek yang penasaran. Namun benar yang dikatakan Alvi, tidak baik menaruh harapan pada wanita yang sudah jadi milik orang lain.
Rima hanya bisa berdoa semoga Alvi bisa mendapatkan gadis sebaik Navya nantinya.
***
Keempat anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul di ruang santai keluarga. Ruangan yang terhubung dengan kolam renang melalui pintu kaca yang besar. Bi Ana, Art yang sudah bekerja di rumah itu dari Finny dan Damar menikah, sedang menghidangkan empat cangkir teh hangat dan potongan kue keju pemberian Nek Rima yang Navya bawa.
" Kamu kok beli kue keju sih Vy, kan mami bisa beliin."
"Dikasih bosnya loh Mi." Dafin yang menjawab.
"Iya Mi, tadi dikasi Pak Alvi."
"Kayaknya enak Mi, Papi mau dong." Damar meminta pada istrinya.
"Enakan juga buatan Mami" Finny agak sewot, tapi tetap memberikan potongan kue itu pada Damar. Dafin dan Navya sama-sama tersenyum melihat kedua suami istri itu.
Damar memakan kue itu, lalu menyuapkan sedikit pada Finny. Saat merasakan kue itu, Finny tiba-tiba terdiam, lalu menatap kue yang masih ada di atas meja. Sementara Damar melanjutkan makannya, " Emmmhh,, beneran enak loh kue nya. Rasanya mirip sama buatan Mami."
" Iya kan Pi, tadi Vya juga berfikir begitu waktu pertama kali makan tadi. Krim kejunya itu khas sekali seperti buatan Mami. Mas Dafin mau ?"
"Nanti aku ambil sendiri." Tapi netra nya menatap sang Ibu yang tiba-tiba terdiam. "Mami kenapa ?" Damar dan Navya ikut menatap ke arah Finny saat Dafin bertanya demikian.
"Hah? Oh, mami gak apa-apa kok. Kalian makam lagi aja kue nya ya. Mami mau ke kamar dulu." Tanpa persetujuan mereka Finny melangkah menuju kamarnya.
" Mami kenapa? Masa' iya gara-gara kue, mami jadi ngambek gitu!?" Damar heran melihat perubahan istrinya.
__ADS_1
"Iya, apa Mami marah sama Vya ya."
" Kamu tuh, makanya kalo ngomong dipikir dulu. Pasti Mami ngambek gara-gara kamu puji kue buatan orang lain." Dafin sedikit kesal dan menyalahkan Navya.
" Sudah-sudah, jangan berantem. Biar Papi yang lihat Mami. Kalian di sini saja."
Damar meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
Navya dan Dafin duduk dalam diam. Dafin sedang sibuk dengan ponselnya, Navya memperhatikan, mencari kesempatan untuk bicara.
" Mas.."
"Hmm..." Masih menatap layar ponselnya.
" Kenapa tiba-tiba Mas mau menikah dengan Navya?"
Dafin membeku, jari-jarinya yang tadi lincah tiba-tiba saja tak bergerak. Tapi sebisa mungkin dia menetralkan wajahnya yang tadi sedikit terkejut dengan pertanyaan Navya, dan segera memfokuskan pandangannya pada gadis di depannya. " Kenapa lagi?! Kalau aku tanya, kenapa kamu mau menerima pernikahan ini?"
" Vya hanya tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah memberikan hidup mereka untuk Vya. Bagiku, kebahagian mami dan papi di atas segalanya."
" Kalau begitu sama, Aku hanya tidak suka melihat mami kecewa, itu saja."
" Tapi..."
" Ya. Kedepannya aku hanya berharap semoga sepenuhnya hati Mas Dafin bisa menerima aku."
Tapi Dafin tidak menjawab. Meneruskan langkahnya menuju kamarnya. "Berharap saja Navya, aku bahkan sudah merencanakan penderitaan untuk hidupmu."
" Aku akan menerima semua ini dengan ikhlas, Allah sudah memberikan ujian yang sulit bahkan saat aku belum mengerti apapun. Tapi dia jua memberikan kebahagian yang lebih sebagai gantinya. Sekarang aku hanya harus menjalani semua ini dengan ikhlas juga, Demi mami. Seperti aku yang mencoba menerima mas Dafin, mungkin dia juga berusaha menerima aku. Bukankah cinta akan datang jika terbiasa dan mencoba menerima. Semoga saja." Batin Navya sambil menatap mengikuti langkah Dafin .
***
" Mami..?"
"Mas... kue itu rasanya kenapa persis seperti buatan mama." Menoleh menatap Damar, Finny tersenyum namun wajahnya menampilkan kesedihan yang dalam. "Aku rindu Mama. Aku gak tau apa kabar mama sekarang."
" Kan aku udah sering bilang, kalau kamu mau kita bisa temui Mama. Kita cari tau kabar nya dari alamat rumah kamu yang lama. Aku yakin mereka masih tinggal di sana."
" Tapi apa kamu yakin, Mama mau menerima aku? Dan Papa? Aku masih ingat kemarahan Papa pada kita, dia bahkan tidak melihat kita saat kita pergi dari rumah itu." Finny menangis mengingat kejadian waktu dia pergi meninggalkan rumah nya.
__ADS_1
" Sekarang aku tanya sama kamu, kamu belum mau menemui orangtuamu karena kamu takut mereka tidak menerima kita atau kamu yang masih kecewa dengan penolakan mereka? Coba kamu tanya diri kamu sendiri !" Damar mengajak Finny duduk di pinggir tempat tidur mereka. Damar bersimpuh di hadapan istrinya, menggenggam tangannya.
" Kamu juga seorang ibu, apakah Dafin dan Navya tidak pernah melakukan kesalahan? Pernahkan? Saat mereka datang ke kamu, meminta maaf, aku tau kamu akan langsung memeluk mereka. Melupakan kesalahan mereka. Tapi ketika mereka yang kecewa pada keputusanmu, kamu akan biarkan mereka menenangkan diri, atau introspeksi diri, lalu kita akan bicara baik-baik saat hati kita masing-masing sudah tenang. Hingga mereka akan menerima kembali pelukan kamu. Menurutku begitu juga yang Mama kamu rasakan saat ini, aku yakin dia menunggu kamu pulang."
" Kamu benar Mas, mungkin ini keegoisan ku. Bukan salah papa dan mama, kita yang tidak sabaran. Terutama aku. Maafkan aku ya Mas, keputusanku yang membuat orangtuaku membenci kamu. "
Damar berdiri dan memeluk Finny, " Tidak apa-apa. Suatu saat kalau Allah mempertemukan kita dengan mereka, setidaknya mereka bisa melihat kalau kita bahagia. Aku yakin, di balik kemarahan orang tua, doa mereka tidak putus untuk anak-anaknya. Termasuk kebahagiaan kita selama ini, pasti campur tangan dari doa mereka."
" Kamu benar, setelah pernikahan Dafin dan Navya, aku akan bawa mereka bertemu nenek dan kakeknya."
" Ya, kita akan sama-sama membawa mereka bertemu mama dan papa."
" Oh ya Mas, kamu pernah bertemu dengan bos Navya tidak ?" Sambil mengusap air mata di pipinya, Finny teringat sesuatu saat membahas orangtuanya.
" Hmmm.. Sepertinya Wijaya Group belum pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat Vya bekerja. Lagipula Navya bilang, bosnya itu baru pindah ke negara ini kan !?"
" Tapi waktu acara penyambutan Dafin, dia datang. Ternyata dia juga teman Dafin waktu kuliah di LN."
" Oh ya, Papi gak tau. Navya atau Dafin gak mengenalkan dia ke Papi. Emank kenapa sih Mi?"
" Dia mirip banget sama Mas Indra."
" Trus kenapa? Apanya yang aneh ? Kan biasa sih kalo ada orang yang mirip gitu."
" Iihh Papi gimana sih ? Ingat gak Papi, dulu Fiza pernah bilang kalo Mama ke LN bawa anaknya Mas Indra? Mungkin aja kan dia anak nya Mas Indra !?"
" Tapi kalau memang dia anaknya Indra, kenapa nama perusahaannya bukan Mahendra Group? Navya bekerja di PT. Sinar Mega. Itu kan perusahaan baru, masih belum genap 5 tahun berdiri."
" Ya mungkin aja itu cabang perusahaan kan Pi. Kita juga ga tau kan. Perusahaan Papa kan besar, banyak anak cabang perusahaannya."
" Ya ada benarnya juga sih. Ya sudah, nanti Papi coba cari tau ya."
" Iya Pi, nanti Mami juga mau tanya sama Navya. Kalau benar dia memang anak Mas Indra, kita bisa lebih mudah mencari informasi tentang Mama."
" Semoga benar ya Mi."
Bersambung
Assalamualaikum... Haii Haiii para reader yang baik hati.. Maaf beberapa hari gak update. Banyak tugas di real life yang ngantri. 😅😅😅
__ADS_1
Semoga kita semua sehat selalu yaa...
Selamat melanjutkan membaca MKT 🥰🥰🥰🥰