
"Mari saya ajak Mbak Navya berkeliling rumah, setelah itu saya akan tunjukkan kamar Mbak Navya." Suara Hendra membuyarkan lamunan Navya.
Soal kamar, Navya teringat sesuatu. "Ehhm... begini. Tadi saya sudah meminta izin pada Mas Alvi. Teman saya diperbolehkan untuk tinggal di sini. Bisakah menyiapkan kamar juga untuknya?"
"Tentu saja Mbak. Saya kan minta pelayan menyiapkan kamar nanti." Hendra menyanggupi permintaan nya. Sementara itu Neni berpamitan untuk menyiapkan makan malam.
Tak lama kemudian Elma pun kembali dari toilet. Dia ikut bergabung dengan Navya dan Hendra berkeliling rumah itu. Navya sangat antusias melihat setiap sudut ruangan yang terasa hangat dan nyaman. Apalagi melihat taman dan kolam renang di bagian samping.
"Dulu Mas Alvi sering sekali bermain di sini. Berenang bersama Tuan Indra dan Non Syifa."
Melihat foto-foto masa kecil Alvi yang bahagia dan ceria saat kedua orangtuanya masih hidup. "Dia berubah setelah orangtuanya meninggal. Jadi lebih pendiam, tidak suka banyak berinteraksi dengan orang lain. Kecuali orang-orang terdekat saja."
Anehnya saat dengan ku, Dia bisa banyak bicara.
Mereka naik ke lantai dua, dimana ada tiga buah kamar di sana. Hendra membawa Navya ke sebuah kamar yang terlihat cukup besar.
"Ini kamar Mbak Navya. Mas Alvi sendiri yang meminta saya menyiapkan kamar ini untuk Anda. Saya harap Anda menyukainya."
Navya masuk dan memperhatikan sekeliling kamar itu. Dia tersenyum dan berjalan ke arah pintu kaca besar. Kamar itu menghadap langsung ke kolam renang dan di kejauhan tampak pemandangan malam kota yang berhias kelap kelip cahaya lampu. "Kalau anda bangun besok pagi, pemandangan nya akan lebih indah." Jelas Hendra.
"Terimakasih banyak Pak."
"Sudah tugas saya Mbak. Kalau ada yang Mbak butuhkan, jangan sungkan memberitahu saya. Saya permisi. Saya akan mengantar Mbak Elma ke kamarnya juga." Lagi-lagi menunduk sopan pada Navya.
***
Selesai mandi Navya baru saja ingin menelpon Alvi untuk berterima kasih. Tapi belum sempat menekan nomor Alvi di ponselnya, ketukan di pintu membuat Navya urung melakukannya.
"Mbak Navya, makan malam sudah selesai."
"Baik Neni." Menjawab dari dalam ruangan. Navya keluar dari kamarnya bersamaan dengan Elma yang sudah menunggu di depan tangga. Dia tersenyum saat Navya melihat ke arahnya.
"Kak Elma, kenapa kakak di sini? Oh ya, dimana kamar kakak?"
"Aku menunggu kamu. Kamarku ada di bawah."
" Ya ampun, kakak kenapa tidak memanggil atau masuk saja ke kamar ku tadi."
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak mau mengganggu kamu."
Navya hanya tersenyum. "Ayo kita makan kak."
Elma mengangguk dan berjalan di sebelah Navya untuk turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Neni dan pak Hendra sudah menunggu mereka di dekat meja makan. Mempersilahkan Navya dan Elma untuk duduk dan menikmati makan malam.
"Pak Hendra, Neni, mari makan bersama." Sebelum mendudukkan tubuhnya Navya mengajak mereka berdua untuk ikut makan bersama-sama.
Tentu saja mereka berdua terkejut dan saling pandang.
"Tidak Mbak. Kami tidak mungkin..."
"Ayo Pak, mungkin kalau tidak ada kak Elma saya akan merasa sendirian di sini. Saya suka makan bersama keluarga, kita bisa sambil mengobrol." Elma juga menatap kedua orang itu dengan pandangan datar.
Bagaimana kami bisa di anggap sebagai keluarga. Kami hanya di perintahkan menjaga dan melayani anda. Batin Hendra dan Neni.
Karena Hendra dan Neni tidak juga bergerak, Navya mendekati mereka dan ingin menarik tangannya. Hendra yang sudah menduga apa yang akan dilakukan Navya, menghindar saat tangan gadis itu hampir menggapai tangan nya.
"Baiklah. Kami akan makan bersama Anda." Hendra mengalah, dia hanya berharap tidak akan disalahkan nanti.
Sekali lagi Elma hanya memperhatikan mereka. Akhirnya Hendra dan Neni ikut makan malam bersama di meja makan bersama Navya dan Elma. Mereka sedikit canggung berada di satu meja dengan Navya. Tidak menyangka juga kalau Navya adalah orang sebaik itu. Dia bahkan mengobrol bersama. Elma yang tidak terlalu banyak bicara, hanya menjawab jika Navya menanyakan sesuatu.
Mereka masih bercengkrama di meja makan saat telepon rumah berbunyi. Neni bergegas mengangkatnya. Beberapa saat kemudian dia kembali.
"Mbak, ada telpon dari Mas Alvi. Katanya ingin bicara dengan Mbak."
"Oh baiklah. Terimakasih Neni." Bangun dan berjalan menuju telepon.
"Kamu sudah selesai makan?"
"Iya sudah. Mas sendiri sudah makan?"
"Belum. Tadi kamu menelpon saya, ada hal yang penting?"
"Hmmm.. saya cuma ingin berterimakasih. Kamar nya bagus." Senyum laki-laki itu terbit. Merasa puas dan bangga dengan apa yang dia persiapkan.
"Kamu terlalu banyak berterima kasih. Saya merasa tidak nyaman."
"Tapi bicara soal nyaman. Ada satu hal yang membuat saya tidak nyaman."
"Ada apa? Apa masakan Neni tidak sesuai selera kamu atau ada sikap pegawai Hendra yang tidak sopan?" Alvi hampir gusar.
"Tidak.. Tidak... Semuanya sudah lebih dari cukup." Navya agak ragu, namun dia memang harus mengatakannya. Dia melirik ke arah meja makan, memastikan bahwa mereka tidak akan mendengar apa yang akan dia katakan.
"Saya tidak nyaman, karena Pak Hendra dan Neni terlalu sungkan. Saya kan bukan majikan mereka, justru saya di sini merepotkan mereka." Alvi terkekeh di sebrang telepon.
Karena kamu calon majikan mereka, jadi mereka harus terbiasa untuk menghormati kamu.
__ADS_1
"Bisa tidak Mas bilang, jangan selalu menunduk jika bicara dengan saya. Saya juga jadi tidak enak karena ada Elma di sini."
"Memang kenapa dengan Elma?" Navya merasa aneh dengan pertanyaan Alvi.
"Ehmmh maksud saya, dia itu teman yang baru kamu kenal kan? Apa dia akan berani berkomentar."
"Memang benar sih. Tapi saya mohon, katakan pada Pak Hendra dan Neni agar jangan terlalu sungkan. Saya lebih senang jika mereka bersikap dan bicara seperti keluarga saja
"Bukan sedikit-sedikit menundukkan kepala pada saya. Saya sangat tidak nyaman dengan perlakuan mereka yang terlalu sopan."
Kamu memang berbeda Navya, banyak wanita di luar sana yang ingin di layani dan di hormati. Menikmati kemewahan dan kesenangan. Kamu malah lebih suka beramah-tamah dengan pelayan.
Pak Hendra dan Neni adalah pekerja terbaik Nenek. Mereka sangat tau bagaimana harus bersikap pada keluarga Mahendra. Apalagi kamu adalah orang yang spesial untuk ku. Dan mereka tau itu.
Tapi apapun yang membuat kamu nyaman, saya akan lakukan.
"Ya baiklah. Saya akan mengatakan nanti. Apapun asalkan kamu nyaman dan betah. Tapi jangan meminta lebih jika Nenek dan Kakek sudah datang ke sana. Kamu tidak mungkin akan makan bersama dengan mereka seperti sekarang."
"Hmmm... saya mengerti. Terima......."
"Jangan berterima kasih lagi. Saya lakukan ini bukan untuk mendapatkan pujian kamu." Navya tersenyum.
"Saya tutup dulu ya. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan."
"Iya Mas."
"Kamu cepat istirahat. Besok pagi-pagi akan ke kampus."
"Siaaap Boss." Sambil dia tertawa pelan.
Aahh... Alvi sangat merindukan gadis itu. Sekarang Alvi membayangkan wajahnya, senyum dan tertawanya.
"Navya!"
"Ya?"
"Saya merindukan kamu."
Tuut..tuut...tuut....
Belum sempat menjawab, panggilan itu sudah diputuskan Alvi. Navya yang awalnya terkejut kemudian tersenyum lucu. Kenapa Alvi jadi menggemaskan begitu.
Bersambung
__ADS_1