Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Menyimpan Perasaan


__ADS_3

Pagi ini Sultan dan Rima akan melakukan penerbangan sesuai rencana mereka yang ingin menikmati hari tua bersama dengan berkeliling dunia. Semua keluarga mengantarkan, tidak terkecuali Dafin.


Rima memeluk satu persatu dari mereka. Paling lama dia memeluk Alvi. " Kamu jaga diri Al. Fin, Mama titip keponakan kamu ini ya."


"Mami tenang saja, Al akan baik-baik saja."


"Al bukan anak kecil Nek."


"Ya seandainya kamu sudah menikah, Nenek tidak akan cemas meninggalkan kamu."


Alvi hanya tersenyum menanggapi.


Kemudian Rima memeluk Dafin dan Navya "Nenek titip Kakak kalian ya."


"Ma, mama tenang saja. Mama hanya harus bersenang-senang bersama Papa. Kalian harus tetap menjaga kesehatan dan jangan sampai kelelahan." Pesan Finny pada sang Mama.


"Ayo, kita harus berangkat sekarang." Kakek Sultan mengingatkan.


"Baiklah.. "


Namun Sultan berjalan mendekati Damar dan mengajak nya bicara sebentar.


"Aku titip Alvian, aku percayakan dia padamu. Aku yakin, kamu sangat menyayangi dia "


"Alvian adalah anak yang kuat, persis seperti Ibunya, dia tidak akan kenapa-kenapa hanya ketika tidak bersama Anda. Tapi Anda jangan khawatir, saya akan menjaganya."


Semua orang memperhatikan, namun tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Mari kita pergi.." Ajaknya pada sang istri.


Setelah mengantarkan kepergian Sultan dan Rima, mereka kembali pada kegiatan masing-masing.

__ADS_1


"Mami dan Papi ada pertemuan, kami akan pergi duluan." Finny yang duluan membuka suara.


"Kami juga akan ke kantor Mi."


"Kamu bareng sama saya saja..."


"Gak usah, biar aku yang mengantarkan istri ku." Dafin memotong perkataan Alvi yang mengajak Navya untuk pergi bersama, sambil mendekati Navya dan memeluk bahunya.


Navya melihat kedua pria itu bergantian dan melihat sekilas tangan Dafin yang bertengger di bahunya. Sementara Alvi tersenyum menanggapi, berusaha mengalihkan pandangannya dari bahu Navya.


"Baiklah. Saya duluan." Jelas dia kecewa. Dafin tau itu.


Selain harus bersandiwara menjadi pasangan yang harmonis bersama Navya saat di depan umum, Dafin suka sekali menggoda Alvi dengan membuat nya cemburu.


Finny merasa senang melihat anak dan menantunya semakin hari semakin dekat.


Keputusanku menikahkan mereka tidak salah, mereka pasangan yang serasi.


"Ya sudah, kalian hati-hati ya sayang."


Akhirnya Dafin mengantarkan Navya ke kantornya. Sebenarnya dalam perjalanan itu ada yang ingin Dafin sampaikan.


"Besok sore aku akan ke luar kota selama tiga hari. Kamu lebih baik ke rumah Mami saja dulu untuk sementara." Dafin bicara sambil fokus menyetir. Seketika Navya menatap lelaki yang ada di depan kemudi itu.


"Kalau dari rumah Mami ke kantor Vya agak jauh, kalau Vya sendiri di rumah aja gimana?"


"Kamu di rumah Mami aja. Jangan bikin orang khawatir."


"Mas Dafin khawatir sama Vya?" Dia terlalu senang sampai lupa dengan siapa dia bicara.


Dafin tersenyum sinis. "Jangan kepedean lah. Mami yang pasti akan khawatir banget kalau kamu sendirian di rumah." Dan bisa-bisa Mami malah minta aku mengajak nya. bisa gagal semua rencana ku dan Hana.

__ADS_1


Navya mengangguk setuju, Finny pasti akan jadi orang yang paling heboh kalau Navya sendirian di rumah.


"Ya udah, Vya di rumah Mami aja. Mas pergi sendiri atau sama siapa gitu?"


"Kamu mulai berani banyak tanya ya, sejak kapan kamu mau tau semua urusanku?"


"Maaf Mas, Vya cuma nanya aja kok."


Navya sudah mulai merasa nyaman ketika bersama Dafin, sejak permintaannya seminggu yang lalu sikap Dafin padanya sedikit berubah. Sekarang Dafin sering berkomunikasi dengan Navya, walaupun itu hanya sekedar meminta kopi, menyiapkan pakaian atau yang lainnya. Meskipun nada bicaranya masih ketus tapi Navya tidak masalah, asalkan Dafin menganggap dirinya ada. Dafin juga sudah mau memakan masakan Navya, gadis itu mulai belajar memasak dan makan makanan pedas untuk mengimbangi kebiasaan Dafin.


"Dengan siapa aku pergi bukan urusan kamu."


"Iya iya,, Vya tau.. Maaf." Navya akhirnya diam dan tidak bicara apapun lagi. Dafin melirik sekilas pada gadis itu, benar saja dia diam.


"Aku pergi dengan Hana." Dafin menjawab sendiri pertanyaan Navya tadi. Diam-diam Navya tersenyum mendengar itu.


"Ooh... "


"Cuma itu? Kamu sama sekali gak keberatan?"


Dafin bingung sendiri dengan apa yang dia ucapkan. Navya juga heran dengan kata-kata Dafin dan membuatnya menoleh pada suaminya.


"Ya memang kenapa? Mas Dafin ada urusan pekerjaan keluar kota, bukannya hal biasa seorang bos pergi bersama sekretaris nya. Kan gak mungkin Mas Dafin pergi sama aku."


Dafin hanya diam, dia tidak menjawab kalimat panjang yang Navya jabarkan. Sementara Navya masih tersenyum, entah kenapa dia merasa bahagia. Dafin berpamitan padanya saat akan ada pekerjaan di luar kota, itu merupakan awal yang baik menurut Navya. Artinya Dafin menganggap dirinya penting untuk tau apa yang suaminya lakukan.


Kenapa gadis ini begitu naif. Apa dia tidak pernah berfikir kalau aku ada hubungan lain dengan Hana. Wanita lain pasti akan cemburu jika suaminya bersama wanita lain. Atau apa karena dia tidak punya perasaan apapun padaku. Kenapa tiba-tiba aku ragu Apa dia benar-benar sudah memanfaatkan kebaikan keluarga ku, selama ini dia bertahan mencoba menjalani peran istri walaupun aku tidak pernah memperlakukan dirinya dengan baik. Apa sih yang aku pikirkan, Navya tetaplah orang yang sudah merebut perhatian Mami dan Papi dari aku. Dafin


Akhirnya, sedikit demi sedikit Mas Dafin bisa berubah. Gak masalah dengan sikap dan kata-kata nya yang ketus, tapi dia peduli padaku itu sudah membuat aku yakin bisa mewujudkan pernikahan kami menjadi pernikahan yang sebenarnya. Aku berharap akan ada waktu yang tepat untuk kami bisa menyatukan perasaan kami. Navya


Mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing-masing sampai akhirnya mobil Dafin berhenti di lobi kantor Navya.

__ADS_1


"Nanti sore aku jemput kamu, aku akan izin pada Alvi biar kamu bisa pulang lebih cepat."


"Iya Mas." Kemudian Navya menyodorkan tangan nya. Tapi Dafin hanya menatap nya, akhirnya Navya sendiri yang meraihnya dan mencium punggung tangan nya. Lalu Navya bergegas keluar dari mobil sebelum mendengar protes dari Dafin. Selama beberapa hari terakhir Navya sering sekali melakukan hal-hal di luar dugaan Dafin. Seperti yang barusan dia lakukan. Walaupun awalnya protes tapi selanjutnya Dafin tetap melakukannya. Hal itu membuat Navya senang.


__ADS_2