
Sore hari di kafe Star, meja nomor 5. Dari pintu masuk, meja itu sudah terlihat mencolok karena dekorasinya yang berbeda dengan meja yang lain. Disekelilingnya kelopak bunga mawar putih bertebaran. Di atas meja yang di alasi dengan kain berwarna merah, juga terdapat seikat bunga mawar putih dan sebuah lilin aromaterapi untuk membuat suasana menjadi romantis.
Alvi sudah duduk di salah satu kursi di Meja yang di dihias dengan istimewa itu. Mengambil bunga mawar itu dan mencium aromanya.
Kafe itu terlihat sunyi, tidak ada pengunjung seperti biasa. Menjelang sore biasanya pengunjung sangat ramai, karena merupakan salah satu tempat yang paling favoritkan oleh kamu muda. Letak nya strategis dengan pemandangan tepi pantai yang indah apalagi jika sudah tiba saat matahari terbenam. Tanpa di dekorasi berlebihan pun, setiap sudut kafe sudah terkesan romantis.
Tapi sore ini, kafe yang biasanya ramai itu memang sudah sengaja di pesan khusus seluruhnya. Tidak ingin ada pengunjung lain yang datang, karena si pemesan ingin bicara secara pribadi dengan seseorang.
Alvi menatap sinis buket bunga di tangannya. Aku bahkan bisa memberikan buket yang lebih besar dan indah daripada ini. Gumamnya.
"Maaf Tuan. Ini meja saya." Seorang pria mendekat dan merampas bucket bunga mawar yang ada di tangan Alvi. Dia terlihat kesal. Tapi Alvi juga menatap tidak suka padanya.
"Jadi Anda sudah memesan untuk meja ini ya ?" Masih duduk santai di kursinya.
"Iya, dan saya minta Anda pergi sekarang."
Alvi berdiri tepat di depan pria itu. Tersenyum, namun mampu membuat pria di depannya bergidik. "Tapi maaf, saya sudah menyewa seluruh kafe untuk sore ini. Termasuk meja yang sangat istimewa ini." Sambil mengusap meja di depannya.
"Saya sudah membayar duluan." Dia masih kekeh, tidak mau kalah.
Alvi tersenyum lagi, lalu mengeluarkan dompetnya, mengambil banyak lembaran uang dan meletakkan di atas meja.
"Aku akan ganti biaya reservasi meja dan dekorasi yang sangat indah ini."
Mengambil lagi beberapa lembar. "Juga untuk harga bunga dan coklat yang kau berikan pada Navya tadi pagi." Matanya terbelalak, siapa sebenarnya laki-laki ini. Kenapa dia tau soal surat, coklat dan bunga yang ia kirim pada Navya.
Laki-laki ini menakutkan sekali.
Alvi sedikit memajukan wajahnya, dan bicara di dekat telinganya. "Tapi aku minta, jangan pernah berusaha mendekati Navya lagi. Sekalipun hanya untuk menoleh padanya."
Dadanya berdebar. Siapa sebenarnya pria ini, kenapa menakutkan begini. Navya bahkan belum mengetahui identitas dirinya, sebagai pengagum rahasia gadis itu. Tapi pria di depannya sudah mengintimidasi dirinya.
"Aku tidak ingin melakukan hal yang merugikan dirimu sendiri." Alvi meninggalkan pria yang masih penasaran siapa dirinya sebenarnya.
__ADS_1
Namun sepertinya si pengagum rahasia itu belum menyerah, berbalik dan bicara dengan suara yang lantang. Menantang Alvi.
"Bawa lagi uang Anda, Saya bukan laki-laki yang akan mundur hanya dengan ancaman seperti ini."
Alvi berhenti, wajahnya berubah jadi kaku. Lalu menghela nafasnya kasar. Dia sudah menahan diri sejak tadi, tapi kalau sudah begini sepertinya dia harus lebih tegas.
"Baiklah, semua ada di tanganmu. Aku sudah bicara dan meminta mu dengan cara yang baik." Menurut Alvi caranya sudah baik, padahal jelas-jelas dia sedang mengancam tadi. Alvi bicara tanpa berbalik, setelah nya dia pergi meninggalkannya begitu saja.
Pria itu merasa kesal sekali. Datang ke sini berharap Navya akan memenuhi undangan rahasia darinya. Bukannya bertemu Navya, malah seorang laki-laki misterius yang datang.
Dia duduk dan membanting bucket mawar dengan keras ke lantai. Dia merogoh saku celananya saat merasakan getaran handphone. Heran sebenarnya melihat nama yang tertera di layar handphone nya, kenapa tiba-tiba menelpon.
"Halo Pak." Suara berubah lebih lembut dan sopan.
"Baik Pak, besok pagi saya akan menghadap ke ruangan rektor." Masih menyisa kebingungan di wajahnya, kenapa tiba-tiba dia dipanggil oleh rektor. Apa dia akan dipromosikan.
Setelah rasa kesalnya pada Alvi dan gagalnya rencana kencan rahasia dengan gadis pujaannya, dia tersenyum kali ini. Berfikir panggilan tiba-tiba dari atasannya adalah sebuah berita positif untuk perkembangan karirnya sebagai Dosen muda di kampus tempat Navya berkuliah.
***
"Siang Pak Marco." Navya tersenyum dan menyapanya. Dia terkejut melihat Navya dan Elma yang berdiri di sebelahnya. Ekspresinya sulit di tebak, antara terkejut, kesal tapi takut untuk menatap mereka. Dia buru-buru pergi dan menjauh tanpa membalas sapaan Navya.
"Pak Marco kenapa ya Kak El."
"Entahlah, mungkin dia sedang buru-buru. Ayo kita ke kelas." Elma menarik tangan Navya agar segera pergi dari sana meski Navya masih menyisa kebingungan. Beberapa waktu yang lalu dosennya itu sangat ramah, malah menawarkan diri untuk menjadi teman berdiskusi jika Navya memerlukan bantuan dalam tugas-tugas kuliahnya. Tapi barusan dosen muda itu seperti ingin menghindari dirinya.
"Kak kira-kira Pak Marco ada masalah apa ya. Biasanya dia kan orang yang ramah, kenapa dia jadi seperti menghindari kita tadi."
"Kenapa kamu jadi perhatian dengan pak Marco?"
"Tidak sih, hanya aku merasa aneh saja. Apa yang salah dari aku, sampai semua orang menjauh dariku." Mulai sendu wajahnya, sekarang jadi mengingat Alvi. Yang katanya ingin menjadi sahabat malah terkesan seperti menjauhi dirinya.
Navya makin merasa kehilangan, merasa rindu dan cemburu yang mulai muncul. Alvi sering mengajak Diana untuk makan malam bersama di rumah, dengan alasan ada masalah perusahaan yang membutuhkan perhatian khusus. Seperti beberapa hari yang lalu, Diana datang dan nenek terlihat sangat dekat dengannya. Membuat Navya agak sedikit iri dengan keakraban mereka.
__ADS_1
"Kenapa bicara begitu? Bukannya kamu sudah ada Tuan Presdir Mahendra?!" Elma menggoda Navya.
Navya tersenyum kecut. "Kakak jangan mengejek aku." Elma tertawa. Dia tau kenapa gadis di depannya jadi galau beberapa hari ini. Dia cemburu melihat kedekatan Alvi dengan sekretaris nya. Walaupun tidak jujur, tapi sangat terlihat dari wajah dan gelagatnya.
"Kak, sepertinya aku sudah kena karma." Ucapnya sedih.
"Karma?" Mengangguk putus asa. "Memang dosa apa yang sudah kamu lakukan?"
"Aku memberikan harapan tidak pasti pada seorang pria yang sudah sangat baik dan tulus. Sekarang aku jadi orang yang membuat harapan kosong pada diriku sendiri. Di mataku saat ini hanya ada wajah Mas Alvi, di ingatanku hanya ada namanya, sekarang aku merasa ada yang hilang dari hari-hari ku."
Elma menepuk bahu Navya lembut. "Aku pantas mendapatkan semua ini kak. Aku menyia-nyiakan perasaannya yang dulu sangat setia dan sabar menunggu aku. Kini dia sedang berusaha melupakan aku dan mengejar wanita lain, padahal aku yang mendukung hal itu sebelumnya tapi malah sekarang aku yang merasa tersiksa.
"Sepertinya aku sudah terbiasa dengan semua perhatiannya. Tapi aku yang tidak pernah bisa menyadari bahwa aku sudah mencintai Mas Alvi."
Menjatuhkan kepalanya di bahu Elma. Gadis itu diam-diam tersenyum mendengar pengakuan perasaan Navya yang tiba-tiba ini.
"Katakan saja semuanya. Dia berhak tau kan."
"Kak, tidak semudah itu. Apa yang dia pikirkan tentang aku, di saat dia sudah membuka hati untuk wanita lain, dengan seenaknya aku datang mengatakan bahwa aku jatuh cinta padanya. Aku seperti mempermainkan perasaannya." Navya makin frustasi, kepeduliannya sangat menyiksa dirinya sendiri.
"Apalagi kalau Diana juga mulai tertarik dengan Mas Alvi, bukankah aku akan jadi wanita yang merusak hubungan orang lain." Elma ingin tertawa rasanya, tapi dia sekuat hati menahan. Masih tetap menepuk-nepuk pelan pundak dan Navya. Seperti memberikan semangat pada gadis itu.
Epilog
Diruang Rektor.
"Ini surat pemindahan Anda." Tanpa aba-aba dia menyerahkan Suran keputusan perpindahan Marco ke universitas lain yang ada di luar kota.
"Apa maksud dari semua ini Pak?"
"Saya mohon maaf Pak Marco, saya hanya menyelamatkan diri saya. Posisi saya sebagai rektor juga di pertaruhkan."
Lalu menunjukkan foto seseorang di dalam majalah redaksi kampus. Saat itu Marco yang merupakan pengagum rahasia Navya itu baru menyadari, tanpa sengaja dia sudah menyinggung orang yang memiliki kekuasaan tertinggi di universitas tempat dia bekerja.
__ADS_1
Aku tidak perduli apal hubungan antara dia dan Navya, aku harus bersyukur hanya di pindah tugas dan tidak dipecat.
Bersambung