Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Sedang Cemburu


__ADS_3

"Siapa Bagas?"


"Ya?" Kenapa Mas Alvi tiba-tiba bertanya soal Bagas. Dari mana Mas Alvi tau.


"Sepertinya kamu dekat sekali dengan Bagas itu. Sampai-sampai kamu sangat ingin bertemu dengan dia."


"Dari mana Mas tau soal Bagas?" Apa dia dengar pembicaraanku dengan ibu tadi.


"Tadi saya tidak sengaja mendengar, kamu dan Ibu bicara soal Bagas. Kamu terlihat antusias." Nada bicaranya ini agak ketus, menunjukkan ketidaksukaan.


Navya memerhatikan raut wajah Alvi yang masih menggenggam tangannya erat. Pria itu sedang kesal, tapi mencoba menahan diri di depan istrinya.


Seperti sudah mendapat kesimpulan yang benar, Navya tertawa lucu tapi malah membuat Alvi semakin cemberut.


"Kenapa tertawa?"


"Mas cemburu ya?"


"Enggak."


"Iya."


"Enggak."


"Jujur aja. Kalau Mas cemburu Vya senang kok." Sambil mengusap-usap pipi pria di sampingnya.


Alvi menghela nafas, menyerah. Dia mencubit pipi Navya gemas. "Aku tidak suka kamu bicara tentang pria lain, apalagi dengan ekspresi yang begitu antusias."


Navya semakin tertawa. Alvi yang sedang cemburu ternyata menggemaskan begini. Navya lalu mengajak Alvi untuk bangun.


"Mau kemana?"


"Ayo ikut dulu." Menurut saja kemana langkah Navya membawanya. Menelusuri jalan setapak di area taman, dia mengenali tempat ini, lalu langkah mereka berhenti. Navya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Alvi masih memperhatikan apa yang sedang Navya lakukan. Saputangan berwarna biru yang juga dikenali Alvi.


"Mas masih ingat?"


Alvi tersenyum dan mengangguk.


"Ini benda berharga buat kita, benda yang pertama kali Mas berikan untuk Vya. Di tempat ini."


Alvi memeluk Navya dan mencium keningnya. "Kamu masih ingat." Navya mengangguk.


"Vya ingat banget. Mas gendong Vya sampai ketiduran. Sampai-sampai Vya gak tau kalau Mas sudah pulang sama nenek."


"Sekarang aku juga masih sanggup menggendong kamu." Sudah ingin mengambil posisi menggendong.


"Hahahah... jangan, malu kalau nanti dilihat anak-anak."

__ADS_1


"Tapi Mas juga harus tau, secara tidak langsung Bagas adalah orang yang mempertemukan kita di sini." Alvi menyipitkan matanya, seakan bertanya apa maksud Navya.


"Bagas dulu tinggal di sini. Usianya hanya beberapa bulan lebih tua dari Vya. Jadi kami di besarkan bersama oleh ibu, kadangkala kami akur seperti kakak beradik tapi tidak jarang juga kami bertengkar. Mungkin kami lebih mirip anak kembar.


Pada hari Mas Alvi datang ke sini bersama nenek, Vya sedang bermain bersama Bagas dan kami berkejar-kejaran karena dia menjahili Vya. Lalu saat itu Vya terjatuh. Dan Mas Alvi datang membantu Vya. Sejak kepindahan Vya ke rumah Mami, kami tidak pernah bertemu. Sampai Vya tau dari Bu Sarah, kalau Bagas di adopsi oleh sebuah keluarga dan di bawa pindah ke luar negeri."


"Jadi apa aku harus mencari si Bagas itu lalu berterima kasih padanya karena sudah menjahili kamu dan membuat kamu menangis?" Navya tidak bisa menahan tawanya, gemas sendiri melihat tingkah suaminya.


"Bukan begitu, harus nya kan Vya yang berterima kasih padanya, karena dia Vya di pertemukan dengan pangeran tampan yang sekarang menjadi suamiku."


Navya berdiri menghadap suaminya, menggenggam tangan Alvi dan meletakkannya di pipi.


"Mas adalah laki-laki satu-satunya yang ada di hati dan hidup Vya sekarang. Sampai kapan pun akan selalu seperti itu."


Alvi masih diam, belum menjawab. Navya mengusap pipi laki-laki yang ia cintai itu. "Udah dong senyum, jangan cemburu lagi, orangnya juga sedang tidak ada di sini kan."


Alvi menarik Navya ke dalam pelukannya. "Aku akan cemburu bahkan jika kamu memikirkan laki-laki lain. Aku tidak mengizinkan siapapun menarik perhatian kamu. Kamu mengerti?" Navya tersenyum dan mengangguk. Dia baru menyadari ternyata suaminya begitu posesif.


Mereka masuk ke dalam rumah saat seorang anak memanggil, menyampaikan pesan Bu Sarah yang mengatakan bahwa makan siang sudah siap. Bergandengan tangan melewati kebun bunga milik almarhum sang Ibu, Navya tidak dapat menyembunyikan senyuman bahagianya karena sosok laki-laki di sampingnya begitu mencintainya. Seakan merasa Hafizah dan Wisnu ada di taman itu sedang melihat mereka berdua, dia ingin menunjukkan pada orangtuanya bahwa dia sudah bahagia sekarang bersama pria yang sangat mencintai dirinya dan juga ia cintai.


"Ayah, Bunda, Navya bahagia. Semoga kalian juga bahagia dan tenang di sana."


Di tempat lain, Bagas sedang berfikir siapa sebenarnya yang sudah menikahi Navya. Selama ini dia selalu mencari tau soal Navya. Sampai Navya menikah dengan Dafin, Bagas mulai menyerah dan tidak lagi mengirim orang untuk mengawasi Navya. Namun sebuah kabar mengejutkan membuat dia semangat lagi, saat Navya memutuskan berpisah dari Dafin.


Dia berniat mengejar Navya di negara tempat gadis itu menjalani kuliahnya. Tapi bertepatan dengan kondisi perusahaannya sedang tidak baik, jadi Bagas memilih fokus dulu mengurus perusahaan. Sekarang Dia kembali untuk mencari tau kabar Navya lagi, langsung dari Bu Sarah.


Dia sengaja datang ke tempat dimana dia di besarkan oleh orang tua Navya, berharap bisa bertemu Navya. Tapi hanya Sarah yang ia temui. Sambil mengobrol ia bertanya soal Navya, hatinya seperti diremas saat dengan bahagianya Bu Sarah mengatakan Navya baru saja menikah. Bagas bahkan tidak bertanya siapa suami Navya sekarang, karena dia terlanjur kecewa dan memilih pergi secepatnya meninggalkan Panti setelah memberikan beberapa barang-barang kebutuhan dan amplop berisi uang pada Bu Sarah.


Bagas berencana ingin mengganggu pernikahan Navya.


Ketika Navya tinggal bersama keluarga Wijaya, mereka masih sering bertemu saat sesekali Finny membawa Navya ke Panti.


namun sejak Bagas di adopsi oleh keluarganya saat ini, mereka sudah tidak pernah bertemu.


Awalnya Bagas merindukan Navya sebagai teman yang selalu ia jahili ketika mereka sama-sama tinggal di Panti Asuhan. Walaupun jahil, Bagas menyukai Navya. Gadis kecil itu sangat perhatian padanya dan yang paling sering bermain dengannya. Pun sejak bayi, Hafizah mengurus mereka berdua seperti anak kembar karena usia mereka yang tidak jauh berbeda.


Ketika dia meminta orang suruhannya mengawasi Navya, Bagas mulai jatuh hati. Gadis kecil itu telah tumbuh dewasa dan cantik. Kebaikan hatinya masih terpelihara hingga dia dewasa, membuat Bagas semakin menyukainya.


Navya, aku harus mendapatkan kamu.


"Siapkan tiket pesawat ke negara X untuk malam ini."


"Baik Bos."


...💙💙💙...


"Mas?"

__ADS_1


"Hemm?" Sedang fokus mengemudi, tapi sebelah tangannya menggenggam tangan Navya.


"Sejak kapan Mas... ehhmmm... mencintai Vya?" Malu-malu dia bertanya, penasaran sejak kapan Alvi mulai menyukai dirinya.


"Kenapa kamu bertanya itu?"


"Gak apa-apa, Vya cuma penasaran."


"Sejak aku melihat kamu di makam orang tua ku, aku sebenarnya penasaran siapa kamu sebenarnya. Tapi tiba-tiba saja kamu menghilang sebelum aku sempat bertanya. Tapi ternyata takdir mempertemukan kita berdua."


"Maksudnya sebelum di perusahaan, kita sudah pernah bertemu?"


Alvi mengangguk. "Saat di pemakaman ketika aku baru tiba dari luar negeri."


Navya teringat sesuatu dan dia terkekeh.


"Apanya yang lucu?"


"Jadi alasan Mas menerima aku jadi sekertaris Mas....."


"Ya, karena itu kamu. Rasa penasaran ku terobati waktu kamu sudah bekerja di Perusahaan. Kamu selalu menjadi pusat perhatianku."


"Kenapa sih Mas gak mau punya sekretaris perempuan?"


"Haha.. aku juga tidak tau."


Navya meliputi Alvi dengan tatapan sinis. "Aneh."


"Aneh juga suami kamu kan."


Navya mengangguk sambil menempelkan kepala di bahu Alvi. "Tapi sayang banget."


"Ngomong-ngomong kenapa dulu Mas gak pernah bilang suka sama Vya?"


"Mau bagaimana lagi, belum sempat menarik perhatian kamu, om Damar sudah mengumumkan pertunangan kalian. Aku bukan pria jahat yang dengan mudah mengganggu hubungan orang lain.


Apalagi dulu kamu terlihat begitu mencintai Dafin..."


"ssshhhh... semua itu sudah lewat. Sekarang hanya kita. Vya akan selalu mencintai Mas Alvi. Hanya Mas Alvi."


"Terimakasih sayang. Aku juga mencintai kamu." Membelai rambut Navya dengan lembut.


Apa kamu tau, betapa sulit aku menahan sakit hati saat kamu bersama Dafin. Tapi bahkan aku tidak punya Hak untuk cemburu."


"Iya-iya... Sekarang Vya adalah milik Mas Alvi seorang." Menggenggam tangan Alvi dan menciumnya.


Navya tersenyum geli melihat Alvi. Dia baru tau, ternyata suaminya sangat pencemburu.

__ADS_1


Jadi selama ini secara tidak langsung aku sudah menyiksa Mas Alvi dengan berada di dekatnya, dia sudah lama memendam perasaannya padaku. Perlakuan khusus yang selama ini orang bicarakan ternyata benar. Aku yang tidak peka. Kalau saja aku tau, mungkin aku akan menjauhinya dulu. Bagaimana pria sempurna sepertinya bisa mencintai aku. Tapi jika aku menjauh, apa mungkin kami bisa bersama seperti ini. Tuhan begitu baik, mempertemukan aku dengan Mas Alvi dan orang-orang yang menyayangi aku.


Bersambung


__ADS_2