
Nenek sudah beristirahat di kamar. Alvi mengajak Navya untuk mengobrol di balkon. Mereka sudah duduk selama lima menit, tapi tidak sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Neni baru saja membawakan dua gelas coklat panas ke hadapan mereka.
Bagaimana aku mengatakannya. Semoga dia tidak keberatan. Alvi
Aku sudah siap, harus siap. Dia pasti ingin memberitahukan soal rencana pernikahannya. Navya.
Navya menarik nafas panjang, dia mencoba memulai walaupun awalnya Alvi yang mengajak untuk bicara.
"Saya ingin menikah."Alvi mengatakan itu sambil menatap lurus mata Navya. Mata mereka bertemu beberapa detik sebelum Navya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ada sedikit guratan kecewa di garis wajahnya. Walaupun dia sudah tau sebelumnya, tapi jika Alvi mengatakan langsung di telinga nya sekarang kenapa rasanya sangat sakit.
"Oh ya, Mas gak bercanda kan?"
"Iya.."
" Kenapa tiba-tiba?" Tanpa sadar ia bertanya dan membuat Alvi mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Navya.
" Emmm... Ma..maksud saya kenapa tiba-tiba Mas bilang ini ke saya, apa nenek, kakek dan Mami sudah tau?"
Alvi mengangguk. "Kamu tau kan, saya selalu menunggu kamu? Tapi sepertinya mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Sambil menyeruput coklatnya Navya mengangguk.
"Maafkan saya Mas."
" Saya selalu menunggu kamu, menunggu jawaban kamu ketika kamu sudah benar-benar yakin dengan perasaan kamu tapi sepertinya sekarang saya sudah tidak punya kesabaran menunggu. Saya minta maaf."
Navya tertawa mengusir canggung yang tercipta, namun tawanya terasa hambar. Sementara Alvi hanya diam.
"Kenapa Mas minta maaf, ya tidak apa-apa lah. Lagi juga Mas berhak bahagia." kemudian ia tertunduk dan bicara seperti putus asa. "Meskipun itu bukan dengan saya. Selamat ya Mas..." Ucapnya sambil tersenyum menutupi kesedihannya.
Bagi Alvi senyumnya seperti dipaksakan.
Senyum yang hambar..
" Boleh saya bertanya sesuatu sama kamu ?"
" Hmm... Boleh kok.."
" Apa selama ini kamu tidak pernah sedikitpun punya perasaan pada saya ? Sedikit saja ?" Alvi bertanya serius.
Vya memejamkan mata sebentar, lalu ia tersenyum dan meyakinkan hatinya. " Apa itu penting sekarang ? Maksud saya Mas sudah akan menikahi wanita lain, kenapa Mas harus bertanya seperti itu lagi ke saya?"
" Maaf, saya hanya penasaran. Saya sudah pernah jujur pada kamu tetntang perasaan saya. Bahkan sebelum kamu menikah dengan Dafin, saya sudah mencintai kamu, sudah terbiasa dengan kehadiran kamu."
Navya menghela nafasnya berat, ntah apa yang dia rasakan sekarang, Navya bingung. Dia pikir dia belum siap menerima Alvi, karena dia merasa masih takut untuk menjalin hubungan serius. Takut dia bukanlah wanita yang tepat untuk mendampingi Alvi. Tapi mendengar kabar pernikahan Alvi kenapa dadanya perih seperti di remas. Namun dia mencoba berusaha melawan itu semua. Apalagi mendengar pertanyaan Alvi soal perasaanya. Apa itu penting sekarang, bahkan kalau dia menjawab Dia mencintai Alvi, Apakah Alvi akan membatalkan pernikahannya begitu saja. Tidak mungkin kan, apa yang akan dipikirkan Nenek tentang dirinya, dan apa dia akan menghancurkan perasaan wanita lain yang tidak salah apa-apa.
__ADS_1
"Seandainya saya bilang, saya sudah membuka hati, mulai terbiasa dengan kehadiran Mas dalam hidup saya, terbiasa dengan semua perhatian Mas dan..." Mata Vya mulai memanas.
"Dan mulai mencintai Mas Alvi.. Gak akan ada yang berubah kan m, Mas tetap akan menikah dengan pilihan Mas. Dan saya bukan wanita yang dengan santainya bisa menghalangi kebahagian orang lain hanya untuk keegoisan diri saya sendiri."
"Maafkan saya Vy."
Vya kembali mencoba tertawa ceria dan memukul lengan Alvi,," Apasih Mas.. kenapa minta maaf. Kan tadi saya bilang seandainya, tenang aja saya akan tetap menganggap Mas sebagai sahabat saya dan kakak laki-laki yang paling baik."
Alvi tersenyum tipis, tapi dia bahagia. Dia merasakan kejujuran dalam setiap ucapan Navya tentang perasaannya.
"Jadi apa yang bisa saya lakukan?"
"Yang pertama, seperti keinginan saya tadi, saya mau kamu ada di acara itu. Jadi kamu harus pastikan kalau kamu akan datang. Karena saya akan melamar pada saat peresmian nanti."
Masih ragu dan berfikir. "Kamu bilang kamu adik saya, sahabat saya, jadi bagaimana saya akan bahagia kalau kamu tidak ada. Saya harus membatalkan acaranya kau kamu tidak mau."
Navya melotot. Alvi tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ini bukan sekedar ancaman, maka jika Navya mengaku soal perasaannya besar kemungkinannya Alvi akan secepatnya membatalkan rencana pernikahannya.
"Oke, saya akan usahakan ya."
"Kamu boleh mengajak Elma, kalau kamu mau."
"Yang benar?" Alvi mengangguk yakin. Akhirnya Navya benar-benar akan berusaha untuk bisa ikut datang ke acara itu. Demi kebahagiaan orang-orang yang yang paling penting dalam hidupnya.
"Apa itu?"
Memberikan sebuah buku pada Navya, saat membuka isinya dia sangat takjub melihat gambar koleksi gaun pengantin terbaru milik seorang desainer terkenal. Navya sangat takjub, dia suka sekali melihat gambar-gambar gaun cantik seperti itu. Dulu dia juga ingin coba menggambar desain busana, tapi dia merasa gambar nya kurang bagus. Jadi dia lebih suka membuat desain perhiasan.
"Saya mau kamu memilih dua gaun dari koleksi terbaru di katalog ini."
Navya melihat covernya, tanggal yang tertera adalah dua bulan lagi.
"Ini belum di rilis Mas?"
"Iya benar, ini hasil rancangan terbaru Eldiana Mauza. Belum ada yang di luncurkan. Pameran akan di adakan dua bulan lagi, jadi saya menginginkan gaun yang didesain khusus untuk calon istri saya."
Hmmm... Aku jadi iri. Tapi apa hak ku untuk iri pada Diana. Aku sendiri yang secara tidak langsung menolak pria yang duduk di depanku ini.
"Tapi kenapa saya yang memilih?"
"Saya kan sedang membuat kejutan, jadi dia tidak tau kalau saya ingin melamarnya, dan gaun ini akan jadi hadiah khusus dari saya."
"Oh iya, benar juga."
"Kamu pilih dua, yang satu untuk gaun pernikahan dan satu lagi untuk kamu. Yang akan kamu pakai di acara peresmian hotel nanti."
__ADS_1
"Saya? Tidak perlu lah Mas." Navya mengibaskan tangannya, menolak.
"Ini hadiah dari saya, apa kamu tega menolak pemberian saya?"
Navya menghela nafas, mengalah. "Baiklah. Saya akan pilih yang lebih mahal." Dia dengan tatapan licik tapi membuat pria itu tertawa.
"Terserah kamu. Besok siang gaun yang kamu pilih akan di kirim ke sini, kamu bisa lihat dan mencobanya. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa mengganti modelnya."
"Secepat itu?"
Alvi mengangguk
"Dan satu lagi." Navya yang sedang membolak-balikkan katalog dan mulai memilah gaun, beralih memfokuskan matanya pada Alvi. Apa lagi? Itu arti tatapan matanya.
"Saya minta kamu buatan desain satu set lengkap perhiasan, setelah itu kirim pada saya."
Navya paham maksudnya, pasti perhiasan itu untuk diberikan pada calon istrinya juga.
"Apa tidak apa-apa? Saya yang membuatnya? Saya masih amatir loh..."
"Saya yakin dengan kemampuan kamu."
Navya masih ragu, bagaimana jika nanti hasilnya kurang bagus. Bukankah akan membuat istrinya kecewa.
"Anggap saja ini hadiah istimewa yang saya minta dari kamu."
"Ya sudah, ini karena Mas yang meminta nya."
"Terimakasih ya."
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melihat senyum kebahagiaan kalian nanti. Tapi aku akan lakukan yang terbaik yang aku bisa.
Senyumnya Navya mengembang menutupi kepedihan hatinya. Dia kemudian melanjutkan memilih gaun sesuai permintaan Alvi.
"Saya sudah membuat cincin untuk lamaran. Kamu mau lihat?"
"Boleh..." Alvi memperlihatkan sebuah gambar sepasang cincin pernikahan di handphonenya. Navya agak terkejut saat ponsel sudah beralih ke tangannya. Memperhatikan dengan teliti gambar cincin yang ada di depannya. Sebenarnya dia masih belum yakin dengan apa yang ia pikirkan, namun semakin di lihat semakin mirip.
"Menurut kamu bagaimana? Bagus kan?"
"I.. iya... bagus kok Mas." Sambil mengembalikan ponsel miliknya Alvi.
"Ini juga desain khusus, tidak akan ada di pasaran." Alvi merasa bangga dan bahagia saat mengatakannya, karena dia akan memberikan hal-hal yang istimewa untuk calon istrinya nanti.
Bersambung
__ADS_1