Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Ke Panti Asuhan


__ADS_3

"Kamu udah selesai? Aku udah sampai di parkiran."


"Sudah Mas. Sebentar, Vya turun ya.."


"Hmmm..."


Ini pertama kalinya Navya akan mengunjungi Panti bersama Dafin. Biasanya dia akan ke sana sendiri atau terkadang bersama Finny.


Tidak butuh waktu lama, Navya sudah terlihat keluar dari gedung Mahendra Group. Dafin menurunkan separuh kaca mobil dan melambaikannya ke arah Navya untuk memberi tahu keberadaannya. Dengan senyum cerah saya melihat suaminya, dia berjalan cepat menuju mobil Dafin.


"Kenapa jalan buru-buru begitu. Kalau kamu jatuh lagi gimana? Apa kamu berharap Bos kamu yang ganteng itu nolongin kamu lagi?"


Navya hanya menanggapi dengan senyum. "Pak Alvi gak ada. Dia gak masuk kantor hari ini."


"Oh ya? Kenapa?"


"Katanya gak enak badan."


"Gak enak hati mungkin." Ucap Dafin sambil melakukan mobilnya keluar dari area parkir gedung Mahendra Group.


"Kok gitu? Mas Dafin gak ngomong aneh-aneh kan sama Pak Alvi?"


"Kemarin aku menghubungi dia. Aku cuma bilang minta maaf soal salah paham di kafe. Itu saja."


"Tapi tadi dia agak aneh."


"Tadi? Tapi kamu bilang dia gak masuk?"


"Ya, Vya coba menelpon Pak Alvi dan bertanya keadaan dia aja."


"Kamu tuh jangan berlebihan, nanti dia bisa besar kepala. Bisa-bisa dia malah naksir kamu."


"Ya gak mungkin lah Mas."


"Mungkin aja, kan kalian hampir setiap hari sama-sama. Bisa aja dia punya hati sama kamu. Pokoknya kamu harus jaga jarak sama Kak Al."


"Tapi kan Mas....."


"Udahlah gak usah dipikirin, paling dia cuma capek aja makanya gak ke kantor."


"Oh ya, aku udah beliin beberapa keperluan untuk adik-adik di Panti dan cemilan." Sambil menunjuk ke arah kursi belakang dengan gerakan kepalanya. Dafin sengaja mengalihkan pikiran Navya dari Alvi. Dan itu pasti berhasil, karena Navya terlihat antusias.


"Wahhh... makasi banyak ya Mas. Mas udah perhatian sama orang-orang di Panti." Refleks dia memegang tangan karena senang.


"Sama-sama... kalau ada lagi yang mau kamu tambahkan, kita bisa mampir untuk membelinya."


"Hmm... oke..."


***

__ADS_1


Hana sedang bersantai di teras samping, saat mobil Dafin memasuki pelataran rumah Panti Asuhan Cinta Kasih. Seorang anak berusia enam tahun datang menghampirinya.


"Kakak...kakak.... liat deh di depan, ada mobil keren datang."


"Mobil?"


"Iya..."


Tanpa bertanya lagi, Hana langsung berjalan cepat ke arah depan. Anak-anak lainnya sedang berkerumun, tapi Hana tidak bisa melihat siapa yang ada di tengah-tengah mereka. Di sana juga ada Bu Sarah dan Pak Yamin yang sedang duduk berbincang dengan seorang pria.


Hana tidak asing dengan postur tubuhnya. Benar saja saat dia terlihat mencari-cari sesuatu dan melihat ke sekelilingnya, tatapan mereka bertemu. Dafin mencuri senyum, benar tebakannya bahwa Hana pasti pulang ke Panti.


Hana tidak menyangka Dafin bisa tau dia ada di Panti dan datang untuk menemui dirinya. Dia hampir luluh, sesaat sebelum dia melihat Navya berdiri di antara anak-anak dan berjalan menghampiri Dafin, Bu Sarah dan Pak Yamin Yang sedang duduk.


Hana tersenyum miris. Ternyata Dafin datang mengantarkan Navya, pikirnya. Hana langsung masuk lagi ke dalam tanpa berniat menyapa mereka. Melihat itu, Dafin kemudian beralasan ingin ke toilet dan masuk ke dalam mengejar Hana. Di halaman belakang akhirnya Dafin menemukan Hana.


"Hana..."


"Tega kamu Fin. Kedatangan kamu sempat membuat aku berfikir bahwa kamu ke sini untuk menemui aku. Tapi ternyata..."


"Ya memang begitu kenyataannya Sayang."


"Sssshhht... Kamu gila, jangan panggil aku seperti itu sekarang."


"Kenapa? Kamu takut ada yang mendengar? Kamu takut ada yang akan tahu hubungan kita, tapi kamu tidak paham kenapa aku datang bersama Navya."


"Navya adalah alasanku agar bisa datang ke sini Sayang. Kalau aku datang sendiri, Bu Sarah akan bertanya soal Navya. Apa aku harus bilang kalau aku datang untuk kamu."


Hana terdiam dan menatap Dafin. Mulai memahami penjelasannya. Tapi rasa kesal dan kecewa gadis itu belum luntur sepenuhnya.


"Hana... Please... Aku minta maaf sayang. Masalah kemarin, kamu tau kan di sana ada kak Alvian. Masa aku harus diam saja melihat istriku di pegang tangannya oleh pria lain."


"Jadi maksud kamu?"


"Cuma akting sayang. Menunjukkan pada mereka kalau aku adalah suami yang sedang cemburu."


"Kamu yakin? Aq merasa kamu akhir-akhir ini beda dari biasanya...."


"Hana Mas Dafin? Kenapa ngobrol di sini? Ayo sama yang lain ngumpul di depan." Tiba-tiba Bu Sarah muncul tanpa mereka sadari.


"Oh, iya Bu. Tadi kebetulan ketemu Hana di sini, kita lagi ngomongin soal kerjaan."


"Oh begitu. Tapi tadi Mbak Navya nyariin Mas Dafin."


"Oke kalau begitu saya ke depan dulu ya Bu, Hana."


Mereka berdua mengangguk sopan.


"Hana tolong bantu Ibu menyiapkan Teh dan cemilan ya."

__ADS_1


"Baik Bu."


Bu Sarah membuka beberapa cemilan yang di bawakan oleh Dafin dan Navya dan menatanya ke dalam beberapa piring saji. Ada beberapa kue dan puding yang dia beli di InFy Bakery, yang tak lain adalah toko kue neneknya. Sekarang toko tersebut dikelola oleh Finny. Sementara Hana membuat Teh.


"Han?" Sebenarnya ragu, tapi Sarah penasaran maka dia beranikan untuk bertanya.


"Iya Bu?"


"Kamu bekerja sebagai apa di perusahaan Pak Damar?"


"Hana sekretaris Pak Dafin Bu. Pak Damar sudah jarang ke kantor, karena Dafin yang sekarang menjabat sebagai pemimpin perusahaan."


"Jadi, kamu sering bertemu dengan Mas Dafin?"


"Ya bukan sering lagi Bu, bahkan setiap hari. Kan Hana yang menyiapkan semua keperluan Pak Dafin di kantor. Emangnya kenapa Bu?"


"Gak apa-apa Nak. Oh ya Nak, kalau kamu sudah ada calon yang cocok, segera kenalkan sama Bapak dan Ibu."


"Ibu apaan sih?"


"Nak, kamu itu sudah dewasa. Perempuan itu gak boleh terlalu lama sendiri. Lihat Mbak Navya, sudah ada suami yang menjaganya. Dulunya kalau ke sini sendiri, sekarang diantar Mas Dafin."


"Aww!" Tiba-tiba air panas tumpah mengenai kakinya. Kata-kata Bu Sarah membuat dirinya tidak fokus saat menuangkan air ke dalam teko. Terasa perih dan panas di bagian kaki yang terkena air panas, namun tak seperih hatinya ketika orang-orang membanggakan hubungan Dafin dan Navya begitu harmonis.


"Ya ampun sayang, kenapa bisa begini?" Bu Sarah jadi heboh dan langsung membawa Hana ke kamar mandi untuk menyiram kakinya dengan air.


"Ada apa Bu?" Pak Yamin, Navya dan Dafin juga datang ke dapur saat mendengar keributan yang terjadi di dapur.


"Ini loh, Hana.. Kakinya terkena air panas."


Dafin yang melihat kaki Hana memerah langsung menarik tangannya dan membawanya ke ruang tengah. Lalu Dafin ke mobil dan mengambil kotak obat yang ada di mobilnya. Dia terlihat cemas dan sedikit marah. Tanpa bicara apapun Dafin mengoleskan obat di kakak Hana. Mereka tidak saling bicara.


"Sudah.." Ucapnya sambil menutup kembali kotak obatnya lalu mengembalikan lagi ke mobil. Sementara Hana pamit untuk istirahat di kamar saja.


Suasana terasa canggung di antara mereka berlima beberapa saat yang lalu. Navya juga melihat gelagat aneh dari Hana dan Dafin. Namun dia berusaha menepis itu semua. Mungkin itu hanya kebaikan seorang atasan terhadap karyawannya. Bukankah Alvi juga begitu terhadap dirinya. Bu Sarah terlihat cemas dengan keadaan yang barusan terjadi. Bahkan dia lebih banyak diam sampai Dafin dan Navya berpamitan untuk pulang. Dafin juga menitipkan obat luka bakar untuk diberikan kepada Hana.


"Vya gak tau kalau kak Hana ada di sana." Mereka sudah ada di dalam mobil menuju ke rumah mereka.


"Ya, dia memang meminta cuti beberapa hari."


"Jadi mas Dafin tau kak Hana pulang ke Panti?"


"Oh kalau soal itu tidak, aku tidak tau."


"Hmmm.... begitu..."


Seterusnya Dafin tidak bicara apapun lagi sampai mereka tiba di rumah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2