Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Kebenaran atau kesalahpahaman


__ADS_3

Navya dan Dafin masih berada di rumah orangtuanya. Padahal kondisi Navya sudah baik-baik saja, tapi dia masih enggan pulang ke rumah mereka. Hubungan nya dan Dafin seperti orang yang baru saja kenal. Tidak banyak bicara, bahkan hampir tidak ada komunikasi di antara mereka.


Tidak terkecuali di depan Finny, yang biasanya mereka akan menjadi pasangan harmonis kali ini mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terkadang salah satu dari mereka akan mengakhiri kegiatan makan duluan dari yang lain.


Sikap mereka yang tidak bisa di tutupi akhirnya membuat Finny tidak tahan. Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka. Sang suami juga terlihat biasa saja, seakan tau semuanya.


"Pi, apa Papi tau kenapa mereka begitu?"


"Navya gak biasanya kan diam saja."


"Papi gak tau Mi."


"Bohong. Papi pasti tau kan."


"Udah lah, biarkan saja dulu. Mereka sudah dewasa, biar mereka selesaikan masalah mereka sendiri."


"Tapi sudah lebih dari tiga hari mereka bersikap dingin begitu. Pasti ada apa-apa."


Pembicaraan mereka tadi pagi setelah sarapan. Navya sudah masuk ke kamar lagi sejak tadi. Dia hanya sarapan susu hangat dan roti bakar, lalu kembali ke kamar.


Sebenarnya Damar tidak bisa lama-lama menyembunyikan kebenaran. Karena semuanya butuh kejelasan. Pernikahan Dafin dan Hana itu sah walaupun dilakukan secara diam-diam. Sementara Dafin juga masih berstatus suami Navya. Ini bukan hal sepele yang bisa di sembunyikan berlarut-larut.


Setelah berfikir panjang akhirnya Damar meminta Finny dan Dafin untuk ke ruangan kerjanya setelah makan siang hari ini. Dia harus jujur pada istrinya, sebelum wanita itu tau dari orang lain. Kebetulan sekali Navya sedang tidak ada di rumah. Dan Dafin sedang tidak ke kantor.


Mereka berdua sudah ada di dalam ruangan. "Ada apa sih Papi suruh Mami ke sini?"


Belum sempat Damar menjawab, pintu terbuka. Memunculkan Dafin yang melangkah masuk ke dalam. Finny menatap Dafin dan suaminya bergantian.


"Mami bisa tanya sama anak Mami. Apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya, Navya dan Hana." Damar bicara setelah Dafin duduk di sebelah Ibunya. Terlihat lelaki itu menghela nafasnya berat. Demi mengurangi kecemasannya.

__ADS_1


"Maksudnya? Mami jadi makin bingung, dan kenapa dengan Hana?"


Dafin menggenggam tangan ibunya membuat wanita cinta pertama nya itu menoleh sepenuhnya padanya. "Mi, Dafin minta maaf. Sudah mengecewakan Mami." Finny belum menjawab, karena Dafin belum sampai pada poin utamanya.


"Mi, sebenarnya Dafin tidak bersungguh-sungguh dengan pernikahan kami. Semua yang Mami lihat dari hubungan Dafin dan Navya itu palsu, pada awalnya."


Tentu saja Finny terkejut dan langsung melepaskan genggaman tangan anaknya. Memberikan tatapan tidak menyangka pada pria muda di depannya. "Kalian. Kamu dan Navya berbohong."


"Tidak Mi, Navya tidak salah. Semuanya salah Dafin. Yang meminta Navya bersandiwara di awal pernikahan kami adalah Dafin."


Damar hanya diam dan memperhatikan saja. Membiarkan Dafin mengakui semua kebohongannya pada sang Ibu. "Tapi kalian sudah mempermainkan pernikahan." Kali ini ada air mata menetes di pipinya. Dan dua jarinya memijat pelipisnya yang tiba-tiba pusing.


"Dafin mencintai orang lain Mi, dia yang selalu ada untukku. Di saat aku merasa kasih sayang Mami dan Papi sudah terbagi pada gadis kecil yang kalian bawa masuk ke dalam kehidupan kita. Dafin merasa kalian lebih menyayangi dia dan kebahagiaan kita sudah di ganggu olehnya.


Dan saat itu, Hana adalah orang yang selalu ada untukku. Dia selalu menghiburku. Dulu waktu Mami sibuk mengurus Navya yang sakit dan Mami tidak sempat membuat bekal, Hana memberikan separuh roti isinya dengan ku." Mengenang sambil tersenyum miris.


Finny memejamkan matanya. Menitikkan air mata. "Dan saat itu hanya Hana yang menghiburku Mi, dia selalu ada untukku."


"Dan dia tidak pernah pergi dari hidupku, bahkan ketika di luar negri, komunikasi kasi tetap berjalan. Sampai dia membuatku nyaman dan terbiasa dengan kehadirannya. Tapi Hana selalu bilang, Aku tidak boleh membenci Mami dan Papi. Karena dia bilang semuanya itu salah Navya."


Kembali dia meraih tangan ibunya. Mencium punggung tangan itu. "Mi, maafkan Dafin."


Finny hanya bisa menangis. Masih tidak percaya, kedua anak kesayangannya sudah berbohong. Kenapa mereka harus berbohong seperti ini.


Dan Hana, gadis itu. Dia juga menyayangi gadis itu. Tidak pernah Finny dan Damar melepaskan tanggung jawab atas semua kebutuhan Hana. Walaupun tidak secara langsung merawat dan membesarkannya. Tapi mereka tidak pernah lalai atas semua biaya kebutuhan dan pendidikan Hana. Ya, memang Hana mungkin tidak tau soal itu.


Flashback On


"Biar kami pindahkan Hana ke sekolah yang sama dengan Dafin."

__ADS_1


"Tapi Bu, bukankah itu berlebihan!?" Yamin dan Sarah terkejut dengan tawaran Finny.


"Itu bukan hal yang besar, kami sudah berjanji akan bertanggungjawab atas biaya pendidikan dan keperluan sehari-hari Hana. Karena sejak awal memang kami akan mengadopsinya.


Jadi kalian tidak usah khawatir. Semua biaya nya, dan apapun yang dibutuhkan itu urusan kami."


"Terimakasih banyak ya Pak Damar, Bu Finny. Kami tidak dapat membalas semua kebaikan kalian."


"Kenapa harus di balas. Hana juga anak kami kan. Jadi tidak perlu sungkan."


Flashback Off


"Mami menyayangi Hana Fin. Kami berdua juga sayang padanya." Ucapnya lirih sambil menatap suaminya.


"Aku tau Mi. Makanya saat tau Hana punya niat yang tidak baik, aku juga kecewa. Aku tidak menyangka dia membenci Mami dan Papi. Padahal kalian sangat peduli padanya."


Finny benar-benar kecewa. Bukan hanya pada anak-anaknya dan Hana, tapi juga pada dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa membiarkan Navya mengalami hal seperti ini. Tujuannya menikahkan Navya dan Dafin semata-mata untuk kebahagiaan keluarga nya. Tapi ternyata anak-anak nya malah menyimpan luka mereka sendiri. Dan sebagian besar adalah kelalaian dirinya.


"Mami pusing Pi. Mami ingin istirahat." Dia bangun dari duduknya di sebelah Dafin. Sementara anaknya masih duduk dengan kepala menunduk. Jelas saat ini sang Ibu masih belum bisa memaafkan dirinya. Dia juga tidak akan memaksa sekarang, Maminya butuh waktu untuk menerima semuanya.


"Kamu sudah bisa memikirkan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Kali ini Mami serahkan keputusan di tangan kamu."


Damar bangun dan memapah Finny untuk ke kamarnya.


"Dafin, jangan kemana-mana. Papi masih ingin bicara sama kamu." Damar memberi pesan pada anaknya untuk tetap menunggu dirinya di sana sebelum dia keluar dari ruangan itu.


"Iya Pi."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2