Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Tetap Bersama Saya


__ADS_3

Navya buru-buru akan berangkat kerja. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, tapi dia sudah ada di meja makan. Bi Ani membawakannya segelas susu hangat. "Mbak gak sarapan dulu ?" Seraya meletakkan di depan Navya.


"Nggak usah Bi, susu aja cukup. Nanti saya sarapan di luar. Takut gak sempet.


"Kamu sudah siap-siap Nak." Finny melihat Navya sudah rapi dan bersiap berangkat kerja.


" Iya Mi, Vya mau ke kota B, Pak Alvi ingin Vya ikut melihat proyek hotel yang ada di sana. Sebentar lagi dia jemput."


" Ya sudah kamu hati-hati ya sayang."


"Iya Mi, Vya pamit ya.. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Navya keluar dari halaman rumahnya setelah satpam membukakan pintu gerbangnya. "Mbak gak naik mobil?"


"Nggak Pak, saya di jemput, ada kerjaan keluar kota."


"Kenapa gak tunggu di dalam saja Mbak, nanti saya panggil kalau jemputan nya sudah datang."


"Gak apa-apa Pak. Soalnya saya perginya sama Bos saya, gak enak kan kalau dia yang nunggu saya."


"Oo gitu... Iya deh mbak."


Sekitar 10menit menunggu akhirnya Navya melihat sebuah mobil yang ia kenal sebagai mobil Alvi. "Saya pamit ya Pak." Ucap Navya saat melihat mobil Alvi yang akan mendekat.


"Iya mbak, hati-hati."


Navya membuka pintu mobil itu saat sudah berhenti di depannya. Dia duduk di kursi depan di sebelah supir.


"Selamat pagi Pak." Menyapa sopan pada Alvi.


"hmm... pagi."


Kemudian mobil itu mulai melaju membelah jalanan kota. Tidak banyak yang Alvi dan Navya bicarakan. Proyek yang akan mereka tinjau bukan milik Sinar Mega melainkan Mahendra Grup maka Alvi memberikan beberapa file untuk dipelajari Navya berkaitan dengan pembangunan Proyek tersebut.


Mereka akhirnya sampai di tujuan setelah menempuh perjalanan dua jam lebih. Masuk ke sebuah resto yang berada tak jauh dari proyek pembangunan Hotel mereka, di sana sudah ada dua orang dari pihak kontraktor yang menunggu mereka. Setelah berbincang selama hampir satu jam, mereka melanjutkan untuk langsung meninjau lokasi pembangunan.


Alvi sudah mengatakan pada Navya untuk menunggunya di resto saja, tapi Navya merasa tidak enak. Dia tetap mengikuti Alvi. Padahal Navya merasa dia sedikit pusing, karena dia belum makan apapun pagi tadi. Hanya segelas susu yang dibuatkan Bi Ani. Karena Alvi masih bicara dengan pihak kontraktor, Navya memilih menunggu dan bersandar di sebuah tiang kayu. Navya tidak menyadari bahwa itu adalah tiang penyangga. Tiba-tiba sebuah balok kayu jatuh dari atas dan hampir menimpa Navya jika saja Alvi tidak langsung menghalangi tubuh nya. Namun lengan Alvi lah yang menjadi sasaran tertimpa kayu tersebut.


"Kamu gak apa-apa Vy?" Alvi bertanya pada Navya yang masih bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dia masih berada dalam pelukan Alvi.


"Bapak tidak apa-apa? Lengan Bapak tertimpa balok tadi ?" Beberapa pekerja mengkhawatirkan keadaan Alvi. Mendengar itu Navya tersadar bahwa Alvi baru saja melindungi dirinya.


Lalu dia memegang bahu Alvi yang tadi tertimpa balok kayu "Aww..!"


"Pak, aduh maafin saya.. Pasti sakit ya Pak..." Ujarnya Panik. Wajah nya semakin pucat.

__ADS_1


"Gak cuma sakit sedikit saja, yang penting kamu tidak apa-apa."


"Mari Pak, kita ke pos kesehatan. Agar luka Bapak diperiksa petugas."


"Saya tidak apa-apa, Saya permisi sebentar. Nanti Anda bisa hubungi asisten atau sekretaris saya, agar bisa mengatur jadwal pertemuan selanjutnya."


"Oh ya Baik Pak."


Alvi kemudian melangkah meninggalkan lokasi tersebut. Navya mengikuti nya di belakang. Dia merasa bersalah, harusnya dia tidak ikut ke proyek sesuai anjuran Alvi tadi. Bukannya menuju parkiran, Alvi malah berjalan memasuki resto yang tadi mereka datangi bersama pihak kontraktor. Navya heran tapi ikut saja, dia pikir Alvi ingin makan. Alvi duduk di sebuah kursi, sementara Navya masih berdiri menunggu perintah Alvi.


"Duduk!"


"Hah?"


"Saya suruh kamu duduk Navya." Alvi menarik tangan Navya agar menuruti ucapannya.


"Apa kita mau meeting lagi Pak?"


"Kamu pesan makanan."


"Buat Bapak ?" Navya sedikit heran, karena selama menjadi asisten Alvi dia tau, biasanya Alvi tidak akan berangkat bekerja sebelum sarapan di rumah bersama neneknya.


"Buat kamu." Alvi menatap Navya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sa,,saya Pak ? Tapi saya..."


Bukannya menjawab, Navya malah menatap lengan Alvi yang tertimpa balok tadi. "Maafkan Saya Pak. Sebaiknya kita periksa lengan Bapak ke dokter, saya takut ada luka atau memar."


"Navya !" Si pemilik nama terdiam. "Saya suruh kamu sarapan, bukannya mikirin lengan saya."


"Iya baik Pak."


Navya lalu memesan sarapan untuk dirinya dan secangkir kopi untuk Alvi. Sebenarnya dia tidak nyaman makan di depan bosnya. Tapi apa boleh buat, Alvi memaksanya. Dia juga membenarkan hal itu, jika dia pingsan karena tidak makan maka bukannya membantu pekerjaan Alvi dia malah akan menyusahkan.


"Kenapa kamu tidak sarapan?"


"Saya takut terlambat Pak."


"Saya kan sudah bilang, tidak usah terburu-buru."


"Maaf Pak."


"Sudah berapa kali kamu bilang maaf!?"


"Tapi Saya sudah membuat bapak terluka." Navya menunduk.


Alvi tersenyum, "Saya baik-baik saja. Saya justru mengkhawatirkan kamu."

__ADS_1


Navya mengangkat kepalanya demi menatap lelaki di depannya. Apa yang bosnya ucapkan tadi, kenapa dia punya hak untuk begitu di kahawatir kan oleh bos nya.


"Maksud saya kalau kamu kenapa-kenapa, kan perjalanan bisnis kita ini sia-sia. Habiskan makanan kamu."


"Iya Pak."


Navya sudah selesai dengan kegiatan mengisi perutnya. Sementara Alvi masih sibuk dengan beberapa berkas laporan di tangannya. Navya berfikir ini untuk membicarakan perihal dirinya yang akan menikah.


"Pak.."


Alvi menatap pada si pemanggil. "Sudah selesai?"


"Hmm iya sudah Pak. Itu Pak, ada yang mau saya bicarakan."


Alvi mendengarkan Navya tapi masih tetap sibuk dengan kumpulan file di depannya. "Apa yang mau kamu bicarakan?"


"Pak, seminggu lagi saya akan menikah. Kemungkinan akan mengundurkan diri."


Hal itu membuat Alvi langsung memfokuskan tatapannya pada Navya. "Kenapa harus mengundurkan diri? Apa Dafin atau keluarga kamu melarang kamu bekerja ?"


"Tidak Pak, tapi peraturan perusahaan mengatakan pegawai baru tidak akan menikah sebelum kontrak pertama selesai yaitu enam bulan pertama."


Ya benar, Alvi melupakan itu. Bahkan ia tak pernah memikirkannya.


"Kebetulan Bapak juga akan pindah ke gedung pusat Mahendra Grup. Tapi saya akan tanggung jawab kok Pak, pekerjaan yang saya tangani akan saya selesaikan sebelum bapak sepenuhnya pindah ke gedung pusat."


"Tetaplah bersama Saya Navya. Saya hanya mau kamu."


Navya terkejut. Apa maksudnya?


"Hmmm... Maksud saya, saya ingin kamu tetap bekerja dengan saya. Tetap menjadi sekertaris pribadi saya ketika saya sepenuhnya menjadi Presdir di Mahendra Grup."


"Tapi saya takut Pak, saya kan belum banyak pengalaman. Mahendra Grup itu kan perusahaan besar."


Alvi tertawa pelan. "Saya yakin sama kamu, kenapa malah kamu yang tidak percaya diri."


"Saya takut membuat kesalahan Pak."


"Kesalahan bisa diperbaiki Navya, apa yang tidak diketahui bisa dipelajari. Kamu bisa bekerja dengan saya lagi setelah kamu menikah, saya malas kalau harus mencari orang baru lagi. Saya sudah terbiasa sama kamu."


"Terimakasih Pak, Bapak baik banget sama saya."


Alvi hanya tersenyum. Dia tidak bisa membiarkan Navya hilang dari pandangan nya. Tidak tau kenapa dia hanya ingin Navya ada di dekatnya.


Bersambung


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2