
" Mi kenapa harus dandan begini sih. Vya juga bisa dandan di rumah aja." Dia memandang penampilannya di cermin. Rasanya tidak nyaman.
Sebenarnya penampilan Navya sangat luar biasa. Sangat anggun dengan gaun berwarna biru langit yang mewah, make up yang cantik tapi tidak berlebihan di wajahnya dan disempurnakan dengan high heels berwarna Navy.
" Kamu cantik loh sayang." Puji Finny sambil mengelus pipi mulus Navya.
" Tapi ini berlebihan Mi. Biasanya juga kalau ada acara kantor Papi, Navya tampil biasa aja."
" Kali ini ga boleh biasa aja, kamu harus luar biasa." Sang Mami tersenyum sangat bahagia membayangkan acara pertunangan anaknya nanti.
" Mami kenapa senyum-senyum. Kayaknya seneng banget gitu?" Selidik Navya.
" Ada deh. Nanti kamu juga tau. Mami ada kejutan buat kamu. Udah yuk kita berangkat sekarang." ajak Finny sambil memandang lagi penampilannya di cermin besar di ruangan itu.
" Kejutan ??" Tapi Finny malah sudah berjalan tanpa menjawab kebingungan Vya. " Malah ditinggal aja sih."
" Mi, mobil Vya gimana ?" Saat sudah berdiri di samping Finny.
" Kamu kasih aja kuncinya sama Pak Amir, biar Pak Amir yang bawa pulang. Nanti kita berangkat sama Ega, asistennya Papi. Tapi sekarang dia udah jadi asistennya Dafin."
Navya mengangguk pasrah. Dia masih memikirkan kejutan apa yang Finny katakan tadi, sampai bisa membuat Finny terus tersenyum dari tadi. Dia bahagia sekali hari ini. Wajahnya terlihat sangat cerah dan bersinar di mata Navya. "Mami bahagia sekali." Tapi dia juga tersenyum bahagia. Karena kebahagian Finny dan Damar adalah dunianya. Dia juga bahagia. Navya sangat menyayangi Finny, karena wanita itu sudah memberikan cinta seorang ibu dengan tulus pada nya. Navya berjanji pada dirinya sendiri dia akan melakukan apapun untuk membahagiakan Finny.
" Vy, dulu Mami sangat dekat dengan ibumu. Kami bersahabat tapi sudah seperti saudara." Finny memulai cerita kenangannya kepada Navya.
" Termasuk Tante Syifa Mi ?"
" Iya sayang, dulu Tante Syifa menikah dengan saudara Mami, ya om Indra. " Dia mulai sendu. " Tapi mereka semua sudah meninggalkan Mami." Finny teringat Ibunya, merindukannya. "Mama, papa,, Aku rindu. Aku harap Mam dan Papa sehat selalu." matanya mulai berkaca-kaca.
Navya mengusap-usap punggung Maminya, berusaha memberi ketenangan. "Mami... kenapa sedih. Mereka semua sudah bahagia di sana. Mami juga harus bahagia." Navya memeluk ibunya dari samping.
" Sayang, Mami sayang banget sama kamu. Kamu janji gak akan meninggalkan mami ya. " Ujarnya kembali tersenyum.
" Mami, ya gak mungkin lah. Vya juga sayang banget sama Mami. Apapun yang Mami mau, Vya akan lakukan asalkan Ratuku ini selalu tersenyum. "
" Terimakasih sayang. Mami bahagia sekali." sambil mengusap-usap lengan Navya yang sedang memeluk nya.
***
Ega membukakan pintu belakang saat mereka sudah sampai di depan lobi sebuah hotel.
" Mami kita gak salah tempat?". Kemarin Papi bilang acaranya di aula besar kantor Papi.
__ADS_1
" Enggak sayang." Jawaban singkat Finny.
"Tapi kenapa harus di sini, hanya acara penyambutan Direktur biasanya cuma pegawai perusahaan dan kolega bisnis saja yang di undang." selanjutnya Navya teringat sesuatu lagi.
" Undangan jamuan makan Pak Alvi, bukannya di Hotel Bintang, apa maksudnya acara ini ."
" Kamu suka dekorasi nya sayang ?." Tanya Finny Yang membuyarkan lamunan Navya.
Ballroom hotel itu di sulap menjadi ruangan yang indah. Dekorasi nya di dominasi warna biru, dengan hiasan bunga-bunga berwarna putih dan merah muda. Nuansanya bak berada di hamparan taman bunga yang indah. Biru adalah warna kesukaan Navya. Wajahnya berbinar ketika memasuki tempat itu. Dia sampai berhenti hanya untuk mengagumi dekorasi ruangan itu, membuatnya lupa apa yang sedang ia pikirkan tadi.
" Suka Mi." Wajahnya bahagia.
" Mari Bu, Bapak Damar dan Pak Dafin sudah menunggu." Ega mengantarkan mereka ke sebuah ruang tunggu khusus.
" Haii.. sayang. Kamu tampan sekali." Finny memeluk Dafin.
" Jadi cuma Dafin saja, memangnya ketampanan Dafin itu datangnya dari mana kalau bukan dari Papinya?!" Damar menyindir istrinya yang hanay memuji sang anak.
" Iyaaa deh.. Papi yang lebih segalanya untuk Mami. Tapi malam ini mereka berdua adalah bintangnya. Ada tuan putri cantik dan pangeran tampan." Dengan bahagia Finny mengucapkan itu.
Dafin hanya tersenyum menanggapi perkataan sang ibu, tapi Navya merasa ada yang aneh. Apa maksud ucapan Mami nya. Malam ini acara penyambutan Dafin, tapi apa hubungannya dengan dirinya.
" Kamu cantik sekali sayang, papi jadi pangling"
" Papi, bisa aja. Makasih ya Pi." Balasnya berterimakasih.
Dafin melirik Navya tajam. "Cantik.. huhh!Memang cantik, tapi hatinya tak secantik wajahnya. Demi hidup enak dia memanfaatkan orang-orang yang dengan tulus menyayangi nya."
" Sayang..! Kamu kok diem aja sih ?"
Sang ibu menyenggol lengan Dafin.
" Hmmm... Iya Mi."
Navya hanya diam, dia tau Dafin tidak pernah nyaman saat ada dirinya di anatar mereka.
***
Beberapa saat kemudian, Ega masuk memberitahukan bahwa acara akan segera di mulai. Lalu mereka semua keluar menuju aula tempat acara diadakan.
Para tamu undangan bertepuk tangan saat mereka memasuki ruangan besar itu.
__ADS_1
Seseorang sedang memperhatikan gadis dengan gaun biru, berjalan bersama ketiga orang lainnya yang menjadi pusat perhatian di depan sana.
" Al, kayaknya gue kenal sama cewek yang jalan di sebelah Dafin." Itu suara Chandra, berbisik pada pria di sebelah nya yang wajahnya terlihat penasaran.
" Navya.." Katanya pelan.
" Sekretaris Lo kan ?" Chandra menegaskan, Alvi mengangguk pelan namun pandangannya tidak putus pada gadis itu sampai dia duduk di Meja paling depan.
" Santai Al, Mungkin dia adiknya Dafin." Seakan tau apa Yang ada di dalam pikiran Alvi. Yang diajak bicara hanya diam.
Dan rangkaian acara di mulai, sampai tiba saatnya acara puncak. Damar sudah berdiri di atas panggung. Memberi kata sambutan, dengan rendah hati ia berterimakasih pada seluruh pegawainya yang sudah bersama-sama bekerja keras membangun perusahaannya. Tiba waktunya dia memperkenalkan Dafin sebagai penerus dan menggantikannya menjalankan Wijaya Grup.
Dia memanggil Dafin untuk naik ke atas panggung, memberikan kata sambutan di temani sang Papi.
" Terimakasih atas dukungan kalian selama ini, sekarang izinkan saya menjadi bagian dalam kesuksesan Wijaya Grup kedepannya sebagai penerus dari kepemimpinan Papi saya. Mohon kerjasama dari semuanya." Tepuk tangan membahana setelah Dafin menyelesaikan kata sambutannya.
Lalu Damar kembali berbicara.
" Selanjutnya saya akan memberikan sebuah kejutan malam ini." Dia memberikan isyarat pada sang Istri untuk naik ke atas panggung.
Finny mengajak Navya berdiri dan ikut naik ke atas panggung. Navya bingung tapi tetap mengikuti langkah Maminya. Damar melangkah menyambut Finny dan menggenggam tangan Finny, tanpa Navya sadari Dafin sudah ad Adi depannya dan melakukan hal yang sama seperti Papinya lakukan. Navya tercekat, "apa yang kak Dafin lakukan sekarang!?" Navya bingung dengan perlakuan Dafin.
Tidak sabar karena Navya masih diam saja, Dafin menarik dan menggenggam tangan Navya untuk mendekati Damar dan Finny.
Ada sepasang mata yang melihat semua itu dalam diam. Dari tadi dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Navya.
" Malam ini saya dan istri saya sangat bahagia. selain menyerahkan tanggung jawab menjalankan Wijaya Grup, kami juga akan menyerahkan tanggung jawab yang lain kepada putra kami Dafin." Navya masih mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan Damar. Sementara tangannya masih ada di genggaman Dafin.
" Navya Putri Wisnu.." Navya melihat kedua suami istri yang sedang memancarkan rona bahagia di wajah mereka. " Mungkin sebagian dari kalian sudah mengenal nya, 20 tahun yang lalu kami membawanya pulang ke rumah kami. Saat itu usianya baru 3 tahun. Dia sangat manis, kami sangat menyayangi nya. Dia merupakan anak dari almarhum sahabat kami. Mereka meninggal dunia dalam kecelakaan." Ada hati yang berdegup kencang mendengar ini, "meninggal, kecelakaan..tidak mungkin kan dia anak dari orang tuaku juga"
" Mulai saat itu kami berjanji akan menjaga dan menyayanginya, membuatnya bahagia." Navya tersenyum tapi air matanya menetes. Mengingat sang ibu yang hanya punya sedikit kenang dengan dirinya. Hanya 3 tahun Allah mempercayakan Hafizah merawatnya.
Damar melanjutkan, "Dan malam ini, kami akan menunaikan janji kami untuk terus menjaga Navya.." Bukan hanya Navya, Alvi juga merasa tidak tenang. Ada apa sebenarnya.
" Kami berdua akan menikahkan Dafin Gibran Wijaya dengan Navya Putri Wisnu." Dan itu berhasil membuat Navya terdiam, nafasnya menderu, jantungnya berdetak cepat. Sementara orang yang sedari tadi ada di sampingnya, menggenggam tangannya terlihat santai saja. Mempersembahkan senyuman di wajahnya, yang tanpa Navya ketahui itu bukanlah senyum bahagia tapi senyuman palsu, dia tersenyum karena dia akan mulai merencanakan semua penderitaan untuk Navya. Navya perlahan melepaskan tangannya. Dia terkejut, benar inilah kejutan yang Maminya katakan tadi.
bersambung
Haiii... aku update lagi .. semoga suka yaa...
kasi like komen positif, kritik saran yang sopan yaa biar aku semangat nulisnya... Jangan lupa pencet ❤️ juga yaa untuk tau kelanjutannya.
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰🥰🥰 semoga kita semua sehat selalu..
Terimakasih 😘😘😘