
Ternyata kegiatan Navya di kampus selesai lebih cepat dari yang seharusnya dijadwalkan. Tadi dia berpesan pada Hendra agar tidak perlu menunggu dirinya, karena Navya ingin berbelanja untuk keperluannya dan Alvi, juga kebutuhan di apartemen.
Hendra menurut apa yang Navya katakan karena dia juga memiliki hal lain yang harus dikerjakan, tapi dia mengatakan tetap akan menjemput Navya saat gadis itu sudah selesai dengan urusan belanjanya.
Navya duduk di sebuah kafetaria, sambil menunggu Hendra. Seorang pelayan datang membawakan minuman yang dipesan Navya. Saat sedang fokus dengan ponselnya, seseorang duduk di depannya tanpa permisi. Membuat Navya mengangkat kepalanya, melihat dengan seksama siapa sebenarnya pria ini.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya hanya ingin duduk di sini." Pria itu tersenyum jahil.
"Tapi saya yang pertama kali ada di meja ini."
Navya mulai merasa tidak nyaman.
"Kalau begitu, saya ingin duduk bersama kamu." Dia semakin senang sepertinya, melihat wajah kesal Navya.
Navya menghela nafasnya, lebih baik mengalah saja. Tanpa menjawab apapun dia bangun dari duduknya, membawa barang-barangnya pindah ke meja di sebelah.
Tapi pria itu malah mengikutinya. Navya menunjukkan tatapan tidak suka pada Pria yang masih tersenyum jahil padanya itu. "Maaf, anda membuat saya tidak nyaman."
"Tapi saya nyaman-nyaman saja duduk di dekat kamu."
Navya berdiri, menatap kesal pria yang masih belum merubah ekspresi wajahnya. "Owww galak sekali. Kamu sudah berubah ya, buka lagi gadis cengeng yang selalu menangis saat dijahili." Lalu tertawa.
Gadis itu bingung, siapa sebenarnya pria yang sedang usil ini. "Kamu siapa?"
"Siapa yang kamu ingat? Saudara kembar?"
Bola mata Navya membulat, dia ingat siapa pria itu. "Bagas?"
Bagas tersenyum dan mengangguk. Navya refleks duduk lagi lalu merapatkan kursinya lebih dekat dengan Bagas. "Ya ampun, kamu apa kabar?"
"Ya, seperti yang kamu lihat. Aku baik dan sukses." Sambil menyentuh simpul dasinya, dan menyentuh jas nya. Membuat gerakan seperti merapikan.
__ADS_1
"Wahhh kamu hebat ya Bagas. Sudah lama tidak bertemu, kamu sudah sukses seperti ini."
Ini semua demi kamu.
"Kamu sendiri, sudah dewasa semakin cantik."
"Haha... biasa saja."
"Aku dengar, kamu sudah menikah?"
"Iya, ini pernikahan keduaku. Kamu pasti juga tau kan, pasti Ibu yang cerita." Bagas mengangguk, memberikan tatapan iba. Navya mengerti arti tatapan Bagas itu. "Aku baik-baik saja, suamiku yang sekarang adalah orang yang sangat baik."
"Navya." Bagas tiba-tiba menyentuh tangannya, membuat Navya kaget dan langsung melepaskan.
"Kamu bisa tinggalkan pria itu, aku yakin aku adalah pria yang lebih baik daripada suami kamu."
"Maksudnya?"
"Aku sudah melihatnya beberapa hari ini, aku tau kenapa kamu menikah dengannya. Kamu pasti terpaksa kan menerima dia. Navya, aku akan jadi suami yang baik untuk kamu. Aku menyukai kamu."
"Tapi sudah sejak lama aku menyukai kamu. Aku Selalu mencari tahu segalanya tentang kamu, kamu pikir bagaimana aku bisa mengenali kamu jika kita tidak pernah bertemu."
Navya tersenyum. "Jadi kamu mengikuti aku, tapi bagaimana kamu bisa salah menilai suami ku."
"Aku tidak mungkin salah, kamu selalu di jemput oleh suami kamu. Sampai aku tidak punya kesempatan untuk mendekati kamu. Dan Bu Sarah bilang, kalian belum melaksanakan resepsi. Pasti dia tidak memiliki biaya kan untuk mengadakan pesta pernikahan. Atau dia hanya akan memanfaatkan kamu saja untuk mengurusi kebutuhannya."
Navya tercengang dengan hipotesa sepihak yang di utarakan Bagas. Bagaimana laki-laki di depannya ini bisa berfikir begitu. Apa Navya begitu tidak pantas mendapatkan pria yang mencintai dirinya.
"Navya, walaupun kamu seorang janda, bukan berarti kamu tidak bisa mendapatkan pria yang lebih muda dan kaya seperti aku. Aku akan memperlakukan kamu dengan sangat baik."
"Bagas stop! Kamu ini bicara apa. Kamu tidak mengenal suamiku, dan kamu juga tidak tahu apapun tentang aku. Jadi jangan berfikir sesukamu. Lebih baik pembicaraan kita berhenti sampai disini, kamu sudah keterlaluan. Dan asal kamu tahu, suami ku adalah laki-laki yang baik yang sangat aku cintai dan dia juga mencintaiku."
Navya sudah akan pergi saat Bagas berdiri dan menghalangi langkah gadis itu. "Navya kita belum selesai bicara, aku tau siapa pria itu. Dia hanya seorang pelayan kan. Kalian tinggal di negara ini hanya karena dia bekerja di rumah keluarga kaya. Aku tau semuanya." Bagas masih bicara dengan percaya diri, bahwa informasi yang ia kumpulkan tentang suami Navya adalah benar.
__ADS_1
"Maaf aku harus pergi." Navya memaksa lewat tapi Bagas masih menghalangi. Hingga tiba-tiba seseorang menarik Navya dan membawanya ke belakang tubuhnya.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu." Suara dingin itu membuat Navya merinding. Tidak pernah dia mendengar nada bicara Alvi yang seperti itu.
"Tu, Tuan Alvian Mahendra?"
"Anda mengenal saya rupanya."
"Tentu saja, saya baru menandatangi kontrak dengan anak perusahaan Mahendra Group bersama Tuan Bima."
Alvi tidak merubah ekspresi wajahnya, dia tidak perduli dengan apa yang Bagas katakan. "Pergi dari sini dan jangan ganggu wanita ini."
"Maaf, tapi ini urusan saya dengan wanita yang ada di belakang Anda. Saya pikir, Anda buka. orang yang akan suka ikut campur urusan orang lain."
Alvi menarik Navya hingga dia berdiri sejajar dengan Alvi. Meletakkan tangan di bahu istrinya, Alvi memeluk Navya. Membuat Bagas menatap heran dengan apa yang dilakukan Alvi.
"Semua urusan Navya adalah urusan saya, karena dia istri saya."
Bagas tertawa, masih belum percaya dengan apa yang ia lihat. "Mana mungkin, Anda Pewaris keluarga Mahendra...." Tapi dia menatap Navya dan Alvi secara bergantian.
"Jika tidak ada hal yang lain, saya rasa cukup sampai di sini pembicaraan ini. Dengan tegas saya peringatkan pada Anda, jangan pernah lagi mengganggu istri saya apalagi berusaha menemuinya." Alvi sama sekali tidak menanggapi ucapan Bagas, walaupun dia tau arah pembicaraannya. Alvi memilih menahan emosinya. Alvi melangkah pergi menggandeng Navya dan meninggalkan Bagas yang masih terdiam di tempatnya, menatap kepergian suami istri itu sampai mobil mereka menghilang dari area kafe. Bagas masih tidak percaya, Alvian Mahendra adalah suami Navya.
Epilog:
Bagas terlihat kesal dan malu. Dia masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintunya keras.
Bisa-bisanya dia mendapatkan informasi yang keliru soal siapa suami Navya. Jelas-jelas dia sangat jauh jika dibandingkan dengan seorang Alvian Mahendra. Tapi dengan santainya dia meremehkan pria yang menikahi Navya.
"Kamu sengaja mengerjai aku? Kamu tau siapa sebenarnya suami Navya? Alvian Mahendra!
Aku membayar mu mahal, bukan untuk dipermalukan seperti ini. Beraninya memberikan informasi yang salah padaku. Kurang ajar!"
Dia membanting ponselnya dengan keras. "Sial!"
__ADS_1
Kesal sekali rasanya, Karena dia tau tidak akan bisa mengalahkan Alvi untuk menarik perhatian Navya. Dan yang sekarang ada satu hal ia takutkan, yang terjadi tadi akan berpengaruh terhadap kerjasama perusahaan milik orang tuanya dengan Mahendra Group.
Bersambung