
Hana sudah berada di luar pagar, saat Dafin berlari mengejar nya lalu menarik tangannya.
"Lepas Dafin. Kamu tidak perlu repot-repot mengantar aku. Kamu masuk saja bersama keluarga tercinta kamu."
"Cukup Hana. Kamu boleh pulang sendiri kalau itu mau kamu. Tapi Kamu berhutang penjelasan padaku."
Ternyata Dafin tidak berniat mengantarnya pulang, Dafin hanya ingin memperjelas pengakuan Hana pada Navya tadi.
"Apa kamu kurang jelas? Pasti kamu mendengar semuanya tadi."
"Jadi benar? Kamu hanya memanfaatkan aku?"
"Tidak sepenuhnya Dafin, sejak awal kamu juga memang tidak menyukai Navya kan? Semua ini juga kemauan kamu, kamu yang ingin Navya pergi dari keluarga kamu kan. Aku hanya membantu kamu."
Dafin melepaskan tangannya dari Hana. Dia mundur beberapa langkah. Merasa asing dengan wanita di depannya.
"Kamu benar, aku salah. Salah karena telah terbawa arus emosiku. Aku yang merasa kamu yang paling bisa memahami aku, kesedihanku, perasaanku. Tapi ternyata semua itu palsu, kamu memanfaatkan rasa kecewaku untuk jadi alat balas dendam kamu. Untung nya semua belum terlambat."
"Apa maksud kamu Fin?"
"Kamu tidak pernah peduli dengan perasaanku Han, aku tulus mencintaimu. Tapi sekarang aku bisa lihat, kamu tidak pernah peduli itu. Kamu hanya menggunakannya untuk kepentingan kamu saja."
Hana bisa menangkap pandangan benci di mata Dafin untuk dirinya. Bukan, bukan seperti ini yang Hana mau. Hana mencintai Dafin.
"Dafin, apa yang kamu dengar memang benar. Aku tidak akan mengelak. Aku menggunakan rasa kecewa kamu untuk menghancurkan Navya. Tapi perasaan aku ke kamu tidak main-main. Aku benar-benar mencintai kamu." Mencoba mendekati Dafin tapi pria itu enggan.
"Fin, please.... Tolong percaya padaku." Netra nya mulai basah.
"Cukup Han. Aku belum siap dengan semua pengakuan kamu. Aku tau kamu selalu merasa Navya adalah orang yang telah menghalangi kebahagiaan kamu. Tapi Mami, Aku tidak menyangka kalau kamu menyimpan dendam pada Mami.
Kali ini suara Dafin melemah, dia merasa bersalah pada Mami. Sudah membohongi Mami.
"Mami sayang sama kamu Han, kamu harus tau. Aku tidak tau alasan kenapa Mami tidak membawa kamu pulang bersama Navya ke rumah ini, tapi Mami sangat menyayangi kamu."
Hana bingung, kenapa Dafin bisa bicara seperti itu. Dafin begitu yakin mengatakan Ibunya sangat menyayangi Hana.
"Aku gak paham maksud kamu."
__ADS_1
"Hana...."
Mereka berdua menoleh, beberapa meter dari tempat mereka berdiri terlihat Bu Sarah ada di sana.
"Aku masuk sekarang, jangan temui aku dulu untuk sementara." Dafin menunduk sedikit pada Sarah, lalu berjalan ke dalam rumah dan menghilang di balik pagar tinggi itu.
Hana tidak bisa bicara lagi, tak ada gunanya memaksa Dafin untuk mengerti dirinya saat ini. Dia paham lelaki itu, dia sedang kecewa, tidak akan berhasil jika Hana tetap memaksa.
Sarah mendekati Hana, yang tadinya menangis dalam diam kini pecah di pelukan Sarah. "Bu, aku mencintai Dafin." Sarah tidak terkejut, dia sudah tau sejak awal. Dia sudah curiga, dan di detik itu adalah pembenaran dari kecurigaannya selama ini. Dia marah, malu, jika keluarga Damar sudah mengetahui ini semua. Tapi melampiaskan pada Hana akan membuat gadis itu semakin hancur.
Hana hanya korban keegoisannya dan suaminya. Hana hanya salah paham pada takdir hidupnya. Berfikir bahwa seluruh keluarga Damar sudah tau semuanya, Sarah mengurungkan niat untuk menjenguk Navya. Dia membawa Hana pulang.
Sambil menepuk-nepuk punggung Hana yang bergetar karena tangis nya, Sarah membawanya menjauh dari area rumah mewah itu.
Mereka sampaikan di persimpangan jalan, Sarah menyetop sebuah taksi.
"Nak, Ibu tidak tau alamat kamu dimana."
Hana yang sudah agak tenang mengusap kedua pipinya dari air mata. Lalu mengucapkan alamat tempat tinggalnya pada supir taksi. Sarah tau anak itu sedang lelah, dia bisa merasakan kesedihannya. Posisinya memang salah, tapi di balik itu semua Hana hanya berusaha mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Dia membawa kepala Hana untuk bersandar di bahunya, membuat gadis itu tenang dan nyaman.
***
"Loh, bukannya tadi kamu mau mengantar Hana?"
"Hana pulang sendiri Mi. Dafin mandi dulu Mi."
"Makan dulu bareng-bareng."
"Nanti aja Mi."
Dafin melirik pada Navya yang hanya diam menikmati makan malamnya. Dia bahkan tidak ingin melihat Dafin. Begitu juga Papi yang tidak menanggapi keberadaan Dafin di sana.
Finny benar-benar bingung. Sikap keluarga nya aneh sekali. Dia melihat mereka semua bergantian. Tapi tidak ada satupun yang buka suara, apalagi suaminya yang sedang menikmati isi piring didepannya. Seakan tidak terjadi apa-apa.
"Vy, apa kamu sudah meminta izin pada Al soal cuti kamu?"
"Belum Mi." Navya belum siap bicara pada pria itu. Semuanya terlalu tiba-tiba. Bagaimana dia akan bersikap di depan pria itu nanti. Rasanya Navya ingin berhenti bekerja saja.
__ADS_1
"Bisa tidak kalau Mami saja yang bicara pada Pak Alvi?"
"Ya sudah, nanti biar Mami saja yang bicara."
"Makasih ya Mi." Kemudian dia meraih gelas dan meminum air putihnya sampai separuh. "Maaf ya Mi, Pi... Vya sudah selesai. Vya ke kamar dulu." Padahal isi piring nya belum habis.
Finny dan Damar mengangguk. Finny memaklumi jika sang anak belum pulih dari sakit nya jadi belum terlalu berselera untuk makan. Sementara Damar pun tau, pikiran gadis itu sedang kacau makanya dia tidak berselera untuk makan.
"Kenapa Mami merasa ada yang aneh dengan keluarga kita. Seperti ada masalah yang rumit tapi Mami tidak tau apa yang terjadi."
"Sudah jangan banyak berfikir, lanjutkan saja makan Mami."
Finny pun menuruti perkataan suaminya.
***
Drrttt... Drrttt....
"Hp Anda bergetar Pak. Dari Nyonya Finny."
Ryan menyerahkan benda pipih yang masih bergetar itu pada Alvi yang sedang mengayunkan barbel di tangan nya. Peluh menetes di wajah dan tubuhnya. Alvi sedang berolahraga bersama Ryan di ruang olahraga pribadinya. Mengambil handuk dan mengelap peluh sambil memberi isyarat pada Ryan untuk menjawab panggilan itu.
"Ya Tante..."
"Al, Tante mau bilang, bolehkah Navya beristirahat dulu di rumah selama beberapa hari?"
"Tidak masalah Tante, Navya boleh masuk kapan pun dia mau."
"Baiklah, terimakasih ya Al."
"Iya Tante.. Sama-sama..."
Alvi melanjutkan kegiatan melatih otot-otot kekarnya. Sebenarnya dia hanya mencari pelarian saja, namun tetap saja pikirannya tidak pernah jauh dari naman Navya. Saat tau tentang perasaannya, gadis itu benar-benar menjauh. Entah benci atau apa, tapi sudah jelas dia merasa tidak nyaman. Beberapa pesan yang Alvi kirim bahkan tidak di baca olehnya. Sekarang gadis bahkan itu menyuruh Tante nya yang meminta izin untuk cuti.
Alvi ingin bertemu dan bicara berdua dengan gadis itu, tapi saat ini tidak mudah baginya untuk bertemu. Navya memilih tinggal di rumah Damar, jika Alvi datang ke sana hanya akan memperkeruh suasana.
Yang dia lakukan hanya memberikan Navya wkatu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Alvi tidak akan memaksa untuk bicara padanya jika dia belum ingin.
__ADS_1
Bersambung