
Tiga hari sebelum pernikahan Alvi masih datang ke kantor. Ada beberapa pekerjaan harus ia selesaikan. Kabar pernikahan sudah tersebar di kalangan karyawan. Namun mereka hanya boleh hadir pada saat resepsi, karena acara pernikahan hanya akan di hadiri oleh keluarga dekat dan rekan-rekan bisnis saja.
Di jam makan siang, Alvi menyantap menu makan siang sambil melihat ponselnya. Ingin sekali dia menelepon Navya, atau Videocall. Tapi mereka hanya boleh berkirim pesan saja. Karena ternyata ponsel Navya di pegang oleh Finny. Sehari setelah pertemuan malam itu, dia mencoba melakukan panggilan video, tapi malah wajah Finny yang muncul di layar. Sementara Navya senyum-senyum di belakang Maminya sambil mencuri tatap layar ponsel dimana Alvi yang tersenyum kikuk menggaruk belakang kepalanya.
Jadi dia hanya bisa memandangi foto Navya yang memenuhi layar utama di ponselnya. Ryan mengulum senyum melihat tingkah Alvi, bos nya cuma mengaduk-aduk makanannya sejak tadi.
"Pak, melihat foto saja gak akan membuat perut kenyang."
"Hah?!" Dia tersentak dengan suara Ryan. Lalu melihat makanan di piring yang masih utuh. Dia jadi malu sendiri, lalu menyimpan ponsel dan mulai menyantap makanannya yang terasa seperti hambar di lidah nya.
...💙💙💙...
Tidak habis cara Alvi untuk bisa mengobrol dengan Navya melalui Videocall, tidak tahan untuk diminta menunggu selama seminggu. Dia ingin melihat gadis itu setiap hari, memeluk dan memandangi wajahnya. Sesekali dia menelepon Diana, dengan tersenyum lucu Diana akan memberikan laporan apa saja kegiatan yang Navya lakukan untuk persiapan pernikahan. Dari jauh, Diana akan mengarahkan kamera ponselnya agar Alvi bisa melihat Navya walaupun tidak di izinkan mengobrol. Meskipun kadang-kadang ketahuan oleh Finny.
Melihat dua orang kasmaran itu tersiksa selama satu minggu tidak bertemu, kali ini Diana akan membiarkan Navya dan Alvi mengobrol lewat ponsel miliknya.
"Jangan lama-lama ya Pak. Saya takut di marahin Nyonya Finny."
"Iya, saya janji Di. Tidak akan lama kok."
"Baik Pak." Memberikan ponsel pada Navya yang sudah menunggu dengan wajah berbinar.
"Jangan lama-lama." Ultimatum untuk Navya sebelum dia keluar kamar dan membiarkan mereka mengobrol melalui sambungan telepon. Navya nyengir dan mengangguk sambil menerima ponsel dari tangan Diana.
"Mas.."
"Vy.. "
"....." Malah mereka yang saling salah tingkah. Hanya bicara di telepon saja bisa membuat mereka kikuk.
__ADS_1
"Mas Alvi sedang apa?" Akhirnya Navya yang bicara duluan.
"Saya merindukan kamu." Navya tidak bisa mengulum senyum. Seakan-akan Alvi bicara tepat di depannya.
"Saya juga Mas."
"Entah kenapa sekarang saya tidak bisa jauh dari kamu. Padahal dulu kita pernah tidak bertemu dalam waktu yang lebih lama. Tapi seminggu ini rasanya seperti setahun bagi saya."
"Itu karena kamu yang sudah tidak sabar. Hanya tinggal dua hari saja, setelah itu kalian akan selalu bersama."
Navya dan Alvi sama-sama terkejut mendengar ucapan seseorang. Terutama Alvi yang telinganya di tarik oleh Neneknya. Rima masuk ke kamar Alvi dan memergoki pria itu sedang berbicara dengan Navya. Dia tersenyum melihat tingkah cucunya yang sembunyi-sembunyi menghubungi calon istrinya.
"Nenek...? Malam-malam begini kenapa Nenek belum tidur?" Sambil menyembunyikan ponselnya di bawah selimutnya. Sementara Navya masih menyimak percakapan antara cucu dan Nenek itu. Antara deg-degan dan lucu.
"Kamu ini, tau ini sudah malam. Tapi kamu masih bicara dengan Navya. Kamu mau nanti saat hari pernikahan, kantung mata Navya hitam seperti panda." Nenek sudah duduk di tempat tidur di sebelah Alvi.
"Sayang, maaf ya. Alvi sudah mengganggu istirahat kamu."
"Tidak apa-apa Nek. Vya gak terganggu kok."
"Ya sudah, jangan lama-lama menelponnya. Nenek mau tidur dulu."
"Baik Nek. Selamat istirahat ya Nek."
Kemudian nenek memberikan ponselnya pada Alvian. Tersenyum dan berjalan keluar dari kamar Alvi.
"Sayang, maaf ya." Yang di panggil sayang masih canggung tapi merasa senang. Wajahnya merona malu.
"Iya Mas. Gak apa-apa."
__ADS_1
"Sepertinya omongan nenek ada benarnya, sebaiknya kamu istirahat saja. Sampai bertemu dua hari lagi."
"Mas Alvi juga istirahat ya, malam ini tidur yang nyenyak. Jangan begadang lagi."
"Kamu tau, saya tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini?" Alvi malu sendiri, padahal Navya tidak melihat ekspresi wajahnya tapi Alvi menutup mata dengan sebelah tangannya.
Benar saja, Alvi sangking senangnya dengan rencana pernikahannya dan Navya membuat pria itu selalu tidak bisa tidur nyenyak. Membayangkan dia akan selalu ditemani tidur oleh Navya. Apalagi sekarang mereka yang sedang dipingit, menambah galau dirinya. Rasanya tidak sabar untuk segera menjadikan Navya miliknya seutuhnya. Navya yang mengetahui hal itu dari nenek malah mengejek Alvi, padahal dia pun juga merasakan hal yang sama dengan yang Alvi rasakan.
"Saya gak sabar Navya, saya ingin segera ada di hadapan kamu dan memeluk kamu." Navya tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum senang. "Ya sudah, walaupun tidak rela saya harus menutup teleponnya."
"Iya Mas."
"Selamat malam, Sayang. Selamat tidur."
"Malam Mas Alvi, selamat tidur juga. I Miss You."
Sambungan itu langsung terputus begitu saja bahkan sebelum Alvi menjawab. Setelah mengucapkannya, Navya merasa malu sendiri. Alvi tersenyum, gemas dengan tingkah Navya yang masih malu-malu menunjukkan perasaannya.
I Miss You too.
Setelah saling bicara lewat telepon , akhirnya untuk pertama kalinya setelah beberapa hari Alvi dan Navya bisa tidur dengan nyenyak. Malam menyelimuti mereka dengan mimpi yang indah, membuat mereka tersenyum dalam tidurnya.
Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain, mungkin karena lelah mempersiapkan pernikahan membuat mereka memerlukan istirahat yang cukup untuk mengisi kembali energi yang sudah terkuras.
Navya bersyukur, keluarganya begitu antusias dengan pernikahannya. Meskipun kedua orangtuanya telah tiada, dia bersyukur Finny dan Damar menyayangi nya dengan tulus. Sehari setelah acara makan malam, dia datang ke makam orangtuanya ditemani Diana. Navya tidak menangis, dia berusaha untuk tidak menitikkan air mata kesedihan. Dia akan membuktikan bahwa dia sedang bahagia.
"Ayah, Bunda, Vya ingin meminta restu, Vya akan menikah dengan seseorang yang mencintai Vya dan Vya juga mencintai dirinya. Vya ingin Ayah dan Bunda tau bahwa Vya sangat bahagia, dan akan berusaha untuk selalu bahagia. Ayah Bunda jangan khawatir, Mas Alvi adalah orang yang baik. Vya yakin dia akan menjaga Vya selamanya. Seperti yang sudah ia lakukan sebelumnya."
Setelah dari makam Orangtuanya, seperti biasa Navya juga mengunjungi makam orang tua Alvi.
__ADS_1