
(Flashback On)
Hana mulai mengenal Dafin saat Damar dan Finny sering mengajaknya berkunjung ke Panti Asuhan setelah kematian orang tua Navya. Hana berfikir bahwa Dafin adalah anak yang sombong karena Dafin tidak pernah ingin bicara pada siapa pun. Terkadang dia menyendiri, bahkan terkadang dia tidak pernah keluar dari mobilnya. Saat melihat betapa besarnya kasih sayang Finny kepada Navya, Hana mengerti kenapa Dafin sering menyendiri. Seperti dirinya yang menganggap Navya telah menghalangi jalan kebahagiaan nya, dia merasa bahwa Navya juga sudah mengganggu kebahagiaan Dafin bersama keluarganya.
Hana selalu berusaha mendekati Dafin untuk menemani nya, namun Dafin terlalu seperti tidak ingin diganggu. Tapi Hana tidak pernah lelah, ketika Dafin menyendiri Hana akan membawakan beberapa makanan kecil dan minuman. Terkadang mengajaknya bicara walaupun Dafin tidak pernah merespon.
Usia mereka hanya terpaut satu tahun, Hana lebih muda dari Dafin namun tingkatan sekolah mereka sama. Saat SMA salah satu donatur tetap Panti Asuhan Cinta Kasih memberikan tawaran pada Hana untuk bersekolah di sebuah sekolah elit. Dia juga didaftarkan sebagai penghuni di asrama putri karena jarak panti asuhan dengan sekolah itu jauh dan tidak memungkinkan untuk nya pulang pergi setiap hari. Di sana dia kembali bertemu dengan Dafin sebagai teman sekelas.
Karena status Hana yang bukan dari kalangan atas, dia tidak jarang di ejek oleh teman-temannya. Dafin yang saat itu merupakan seorang ketua kelas, selalu melindungi Hana. Pada awalnya niat Dafin hanya agar situasi di kelas tetap kondusif, namun lama-kelamaan sikap Dafin itu membuat Hana menyukai dirinya. Kecerdasan Hana dalam berbagai mata pelajaran membuat Dafin sering menjadikan dia teman berdiskusi dan partner dalam kelompoknya. Dan karena kedekatan mereka, tidak ada lagi siapapun yang berani mengganggu Hana di sekolahnya. Dafin juga merasa nyaman dengan keberadaan Hana di dekatnya, karena selain pintar Hana juga selalu ada untuknya, selalu memberikan perhatiannya kepada Dafin.
Hana semakin menyukai Dafin, namun dia cukup tau diri untuk tidak mengutarakan isi hatinya. Hingga pada saat hari kelulusan Dafin mengatakan bahwa dia menyukai Hana dan meminta Hana menunggunya karena dia melanjutkan kuliahnya di LN. Hana yang juga memiliki perasaan yang sama menyetujui permintaan Dafin, Hana sendiri memilih kuliah di sebuah kota di dalam negeri.
Jarak itu malah membuat mereka semakin dekat, Dafin sering mengirimi Hana pesan dan mereka saling berkomunikasi. Setelah lulus kuliah Hana mendapatkan tawaran bekerja di tempatnya magang. Dan Dafin masih melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun mereka masih menjaga komunikasi dengan baik.
Saat Dafin mengabari akan kembali Hana sangat senang, Dafin meminta Hana untuk menjadi sekretaris nya di Wijaya Grup. Namun Hana harus menyelesaikan masa kontrak kerja di perusahaan tempat dia bekerja sebelum memutuskan menerima tawaran dari Dafin.
Dafin sudah berniat ingin memberitahukan hubungan dirinya dengan Hana kepada orangtuanya, tapi tiba-tiba Finny meminta dirinya menikah dengan Navya. Hana yang mengetahui rencana pernikahan itu sangat kecewa, namun Dafin berhasil meyakinkan dirinya
"Kenapa selalu Navya. Semua impianku hancur karena Navya." Saat itu dia menangis di pelukan Dafin. Mengingat saat dirinya sudah bersiap akan pindah ke rumah keluarga yang akan mengadopsinya, namun harapannya luruh begitu saja saat Finny mengatakan akan merawat Navya sepeninggal Hafizah dan Wisnu. Ya, calon orang tua angkatnya adalah Finny dan Damar. Hafizah mengenalkan Hana kepada Finny saat mereka datang ke Panti asuhan dulu. Namun karena musibah yang menimpa Hafizah dan Wisnu serta janjinya untuk menjaga Navya, Finny mengurungkan niatnya mengadopsi Hana dan lebih memilih membawa Navya ke rumah mereka.
"Maafkan aku Han. Tapi kamu harus percaya padaku, pernikahan ini tidak akan lama. Aku tidak pernah mencintai Navya. Bukan hanya impian kamu yang dia hancurkan, dia juga sudah merebut kasih sayang dan semua perhatian keluarga ku. Kali ini aku tidak akan membiarkan dia bahagia. Demi kita berdua, aku akan membuat dia merasakan kepedihan dalam hidupnya."
"Kamu janji tidak akan jatuh cinta pada Navya?"
"Aku janji, dan setelah enam bulan pernikahan itu aku akan meninggalkan dia. Kita akan bersama. Kamu bisa kan bersabar menunggu?"
"Ya, aku akan nunggu kamu." Dafin mengurai pelukan mereka dan mengusap air mata Hana.
__ADS_1
"Jangan menangis, aku janji akan selalu ada untuk kamu." Dafin mengecup kening Hana.
(Flashback Off)
Sama seperti saat itu, sekarang Hana tengah bersandar di dada bidang Dafin yang sedang membelai kepala nya. Mereka masih duduk di sofa di kamar Hana.
"Kamu gak kembali ke kamar?" Menggeser kepalanya demi menatap Dafin. Laki-laki itu menggeleng pelan.
"Aku mau tidur disini saja boleh?" Dafin sedang menggodanya, dan ucapan itu berhasil membuat Hana kaget dan langsung bangun dari posisinya.
"Kamu gila!"
Dafin tertawa melihat ekspresi gadis itu.
"Yahhh daripada aku harus melihat kamu cemburu."
"Kenapa?" Dafin mulai meraih tangan Hana dan mendekatkan wajahnya. "Kamu gak mau berduaan sama aku?" Semakin dekat sampai Hana bisa merasakan hembusan nafas Dafin. Hana memejamkan matanya, sampai beberapa detik berlalu tidak ada yang terjadi lalu dia membuka matanya. Dafin tertawa karena ekspresi kebingungan Hana.
"Dafin!!!!" Merasa di goda oleh Dafin, Hana menjadi malu sendiri. "Kamu ngerjain aku, awas kamu yaa aku balas..." Dia menghujani Dafin dengan cubitan di pinggang lelaki itu yang membuat Dafin tak bisa menahan gelak tawanya.
"Haha...hahaha... Ampun Han... Oke-oke aku minta maaf." Memohon agar Hana melepaskan dirinya.
"Aku gak mau, aku kan malu Dafin...!" Memilih membelakangi Dafin dengan wajah cemberut.
"Heiii...." Dafin berpindah posisi untuk duduk di depan Hana. Lalu tanpa aba-aba dia mengecup bibir Hana sekilas dan berhasil membuat nya terkejut. "Sudah jangan marah." Gadis itu tersenyum tipis.
" Ya sudah Aku kembali ke kamar dulu. Nanti malam kita makan malam bersama klien lagi. Tapi aku harus mengajak Navya, mereka tau aku datang bersamanya jadi mereka ingin bertemu."
__ADS_1
"Apa aku tidak usah ikut saja."
"Kenapa?"
"Aku takut tidak bisa menahan diriku jika melihat kamu bersamanya." Dafin tau apa yang gadis itu rasakan, siapa yang tidak cemburu melihat kekasihnya bersama orang lain. Meskipun Dafin tidka mencintai Navya, tapi yang orang lain tau Navya adalah istri nya. Maka Dafin dan Navya harus bersikap sebagai pasangan suami istri di depan banyak orang.
Dafin menangkup wajah Hana dengan kedua tangan nya, "Tenang saja, ini hanya sementara, hanya jika berada di depan mereka."
"Iya, aku percaya."
"Terimakasih Sayang." Dia mengecup kening gadis itu lagi. "Baiklah... aku harus pergi."
Hana mengantarkan Dafin sampai ke depan pintu, kemudian pria itu keluar dan menuju ke kamarnya yang ada di sebelah kamar Hana. Tanpa dia sadari sepasang mata melihatnya keluar dari kamar itu.
Epilog
Ryan:
"Saya melihat Pak Dafin keluar dari kamar sekretaris nya Pak."
Me:
"Minta orang-orang kamu mengawasi gerak gerik mereka dan seperti biasa kamu tetap fokus pada Navya. Laporkan pada saya apapun informasi yang kalian dapatkan."
Ryan:
"Baik Pak."
__ADS_1
Bersambung