
Sudah dua minggu setelah acara lamaran mendadak itu terjadi, sikap Dafin yang berubah malah membuat Navya tidak nyaman. Dia tidak dingin seperti dulu. Bahkan beberapa kali menwarkan untuk mengantar Navya ke kantor.
Sebenarnya Navya menolak, tapi apa yang bisa dia lakukan kalau ibunya malah mendorongnya untuk masuk ke mobil Dafin.
Sementara di kantor Presdir PT. Sinar Mega, Alvi dan Navya juga semakin dekat. Bahkan Alvi mengatakan Vya tak perlu terlalu formal terhadapnya, karena dia adalah adik dari temannya. Tapi bagi Navya bos tetaplah bos, Navya harus sopan kan. Bekerja sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi Alvi, menjadikan Navya selain sibuk membantu Alvi dalam urusan perusahaan dia juga tidak jarang mengurus keperluan pribadi Alvi. Seperti saat ini, Navya sedang menemani Alvi fitting busana yang akan dia pakai untuk acara Perusahaan.
Tak berbeda jauh dengan acara yang diadakan Papi Damar untuk Dafin, acara ini juga semacam perkenalan Presdir baru untuk PT. Sinar Mega. Begitulah kabar yang beredar di kalangan pegawai.
" Kamu ada urusan lain hari ini Vy ?" Mereka sedang ada di dalam mobil, baru saja bertemu dengan EO yang bertanggung jawab untuk acara nanti.
" Hmm.. Gak ada sih Pak."
" Kalo gitu kita kamu temani saya ke butik."
" Baik Pak."
" Setelah itu kita ke toko kue INFY SWEET BAKERY N CAKE. " Timpalnya.
" Oh, iya Pak. Bapak mau pesan kue untuk acara nanti ?"
" Enggak, saya ingin bertemu seseorang."
Navya hanya mengangguk.
drrrtt drrrttt drrrttt....
Navya mengambil ponselnya yang bergetar dari dalam tas nya. Dia hanya melihat nama pemanggil.
Mas Dafin Call.
Ngomong-ngomong si Mami Finny lah yang punya ide merubah panggilan itu. Katanya biar lebih mendekatkan mereka. Oh entah lah, Navya masih canggung dengan keadaan sekarang. Tapi melihat Mami dan Papi nya selalu tersenyum, apa ia tega menghancurkan kebahagiaan orang-orang yang sudah memberikan separuh hidup dan waktu mereka untuk Navya.
Lalu dia biarkan benda itu bergetar, dan dia masukkan lagi ke dalam tasnya. Hal itu diperhatikan oleh Alvi. " Kenapa gak di angkat? Mungkin penting."
" Oh, gak kok Pak. Cuma Mas Dafin"
Mas Dafin.
Alvi mendengkus dan tersenyum tipis, tapi Navya tidak menyadarinya. Ponsel itu kembali bergetar, dan lagi-lagi mengabaikannya. "Angkat saja, mungkin itu penting." Alvi mengingatkan.
" Maaf, sebentar ya Pak." Alvi mengangguk dan tersenyum.
" Ya Mas.. "
" Kamu dimana ?"
" Vya ada di luar Mas, masih ada pekerjaan sama Pak Alvi."
"Trus pulang jam berapa, nanti aku jemput "
" Gak usah Mas, Vya nanti pulang naik taksi aja.
Vya masih ada urusan ke beberapa tempat lagi setelah jam kerja. "
" Hmmm ya sudah, nanti kalau butuh di jemput kabari aku ya"
" Iya Mas."
Navya membisu setelah panggilan telepon itu di tutup. Dia bukannya tidak bersyukur sikap Dafin berubah padanya, tapi itu justru membuatnya takut.
" Kapan kalian menikah ?" Sebenarnya dia sedikit meringis bertanya seperti itu.
__ADS_1
" Belum tau Pak. Kata Mami kalau bisa secepatnya." Tak nada antusias saat menjawabnya, Navya datar saja. Seperti dia tidak menginginkan pernikahan itu. Dan Alvi bisa melihat itu. Selama beberapa hari ini Navya sedikit murung, biasanya dia terlihat bersemangat saat bekerja.
" Apa yang kamu pikirkan?" Alvi bertanya tapi pandangan matanya tetap fokus ke arah jalan di depan.
" Saya?" Kenapa Pak?"
" Kan saya yang nanya duluan ? Kamu malah balik nanya.."
" Oh... hehehe saya gk kenapa-kenapa kok pak." Ditanggapi anggukan saja oleh Alvi.
***
Navya melamun sambil menunggu Alvi selesai dengan urusannya. Alvi bahkan sudah duduk di sofa di sebelah nya, tapi Navya tidak menyadari. " Itu yang dia bilang tidak apa-apa. Aku sudah duduk di sini pun dia tidak sadar."
" Bapak Alvian." Suara seorang karyawan butik itu membuat Navya tersentak dari lamunannya.
"Ini semua barang-barangnya. Ada lagi yang bisa saya bantu ?"
" Hmmm. Sudah cukup. Terimakasih." Kemudian wanita itu berlalu dari hadapan Alvi dan Navya.
" Permisi Tuan, Nyonya.." Yang di tanggapi dengan senyum oleh Navya.
" Bapak sudah selesai?"
" Sudah dari tadi." sambil menunjukkan beberapa paperbag yang ada di atas meja. " Saya gak mau ganggu kamu, jadi saya biarin aja sampai kamu puasa ngelamun." Alvi meledek atau menyindirnya? "ah,, kan itu sama saja." Navya jadi tidak enak sendiri.
" Maaf kan saya Pak."
Alvi hanya tersenyum, " Kamu ada masalah Tau sedang sakit ?" Meletakkan punggung tangannya di kening Navya. " Apa kita pulang saja ?"
Eh!
Lah sekarang kenapa seperti Navya Bos dan Alvi supirnya, dan ngomong-ngomong saat ini mereka hanya pergi berdua. Jadi Alvi yang menyetir.
" Yakin?"
" Iya Pak.. " Sudah berjalan 2 langkah, sementara Alvi masih diam di tempatnya. Navya berhenti sambil menepuk kepala nya pelan, dia melupakan sesuatu. Lantas dia kembali " Maaf Pak." Lalu di mengambil paperbag milik Alvi yang ada di atas meja.
Tapi Alvi langsung menghentikan tangannya, sesaat Navya tercekat. Alvi menyentuh tangannya dan mengambil barang-barang itu dari Navya, " Biar saya saja." Ujarnya lembut.
Navya tak berani bicara apapun atau membantah. Dia hanya mengikuti langkah Alvi keluar dari butik kalangan elit tersebut namun dengan perasaan yang tidak enak. Seakan-akan
dia asisten yang tidak bisa bekerja dengan baik, padahal Alvi tidak pernah berfikir seperti itu tentang dirinya.
***
Infy Sweet Bakery n Cake, inilah tujuan mereka berikutnya. Mereka sudah sampai dari 15menit yang lalu. Namun dua orang penumpang mobil tersebut belum juga turun. Bukannya tidak mau turun, tapi Navya ketiduran dan bosnya itu tidak tega untuk membangunkannya.
Alvi membiarkan Navya tidur, dia sepertinya sangat lelah. Alvi menunggu sambil memainkan ponselnya, melihat laporan keuangan Mahendra Group di LN. Sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan pada kaca mobilnya.
Tok Tok..
Dan suara itu bukan hanya membuat Alvi menoleh sepenuhnya pada sumber suara. Tapi juga membuat Navya terbangun dari lelapnya.
" Kita di mana Pak ?" Navya bertanya sambil mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.
Mengetahui Navya bangun, Alvi membuka kaca mobilnya dan memberikan sorotan tajam pada orang yang sudah mengetuk pintu mobilnya.
" Ma.. Maaf Tuan. Nyonya besar memanggil Anda. " Dia bicara gugup dan tidak berani memandang Alvi.
" Bilang padanya aku segera masuk!"
__ADS_1
" Ba..baik.. Permisi Tuan.. "
" Hmm.." Menjawab pesan yang di sampaikan oleh supir neneknya dengan nada dingin.
" Kita udah lama di sini Pak ? Bapak kok gak bangunin saya. Duh,, maaf ya Pak."
" Saya gak tega kalau harus membangunkan kamu. Seperti nya kamu lelah. Seharusnya tadi kamu bilang saja, kita bisa ke butik besok siang."
" Gak apa-apa Pak. Itu kan udah tugas saya. " Lagian apa berani dia menolak bosnya. Jam kerja juga belum selesai, sudah tugasnya mengikuti kemanapun Alvi pergi. Kecuali Alvi tidak menginginkan dirinya untuk ikut.
" Ayo kita masuk."
" Iya Pak."
Toko kue itu adalah toko milik Rima, Nenek Alvi. Infy di ambil dari nama kedua anak nya. Indra dan Finny. Namun tidak ada yang tau arti nama Infy selain suaminya. Alvi membawa Navya masuk ke dalam Toko.
" Selamat sore Tuan! " Beberapa karyawan toko menyapa Alvi. Mereka sudah mengenal siapa Alvi. Yang di sapa hanya menganggukkan kepala.
" Antarkan dua gelas jus buah dan kue keju ke ruangan." Alvi memerintahkan pada salah satu karyawan senior di sana.
" Baik Tuan Muda."
Kemudian Alvi melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan di dalam toko tersebut. Sementara Navya bingung harus apa, ikut atau menunggu di sofa yang tersedia di dalam toko. Sepertinya bosnya itu ada urusan pribadi dengan seseorang di dalam ruangan itu.
" Mmm Pak.. Saya tunggu di sini saja."
" Kenapa ? Ayo masuk, saya hanya akan bertemu nenek saya. Beliau ada di dalam."
Tapi dia masih ragu, dia bukan siapa-siapa Alvi. Kenapa dia pantas bertemu keluarga Alvi secara pribadi begini. Apa kata teman-temannya kalau tahu hal seperti ini terjadi.
" Ayo.. Jangan khawatirkan apa-apa."
Alvi meyakinkannya. Lagi-lagi demi menjaga perasaan orang lain Navya harus melawan hatinya. Masuk saja dulu, pikirnya.
" Baik Pak."
Saat pintu terbuka, ada seorang Wanita Tua tapi masih terlihat sehat dan cantik dalam usia senjanya.
" Nenek.. " Alvi mendekat ke arah nya, dan memeluk nya.
" Kamu sudah sampai, tapi kenapa tidak turun. Nenek sampai harus menyuruh supir memanggil mu." Tanpa basa basi sang nenek langsung mengomeli cucunya.
Navya yang mendengarnya sedikit meringis, merasa tidak enak karena dirinya yang ketiduran Alvi sampai di marahi.
Namun Alvi memberi tahu neneknya kalau ada seseorang di ruangan itu selain mereka lewat gerakan kepala. Pandangan sang Nenek beralih pada Navya yang masih berdiri di depan pintu.
Aku seperti pernah melihatnya. Rima dan Navya memiliki pemikiran yang sama.
" Siapa ?" Bisiknya ke Alvi, tapi tatapannya tak putus pada Navya.
" Ini Navya Nek, Sekretaris Alvi." Tapi Rima langsung meninggalkan Alvi yang masih berdiri di tempatnya.
"Sini masuk sayang, kenapa masih berdiri di sana." Navya berjalan menghampiri Rima lalu mencium tangannya takzim. Lalu Rima menggandeng Navya untuk duduk di Sofa yang ada di sudut ruangan itu. "Sepertinya kita pernah ketemu kan, kamu ingat ?" Alvi seketika terfokus pada mereka berdua saat mendengar ucapan nenek nya.
" Iya Nyonya. Saya ingat kita bertemu di Best Market waktu dompet Anda terjatuh." Ucapnya sopan.
" Ehhh... jangan panggil begitu. panggil saja Nenek sama seperti panggilan Al."
Alvi sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah nenek nya.
Bersambung
__ADS_1