Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Usaha


__ADS_3

Dafin kembali ke kamar saat larut malam. Dia mendapati Navya masih terjaga dan sedang duduk di dekat jendela. Gadis itu menoleh saat Dafin menutup pintu.


"Mas Dafin udah pulang? Saya ambilkan pakaian ganti ya." Dafin diam saja , namun tidak menolak. Dia menerima pakaian tidur yang Navya berikan dan berjalan menuju ruang ganti.


Navya sudah berfikir saat sendirian di kamar tadi. Apapun tujuan Dafin dalam pernikahan ini, Navya tetap akan menjalani nya sebagaimana pernikahan sebenarnya. Secara agama dan hukum dia adalah istri sah Dafin, dan akan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Maka dia tidak akan membahas apa yang dia dengar di restoran tadi. Dia berharap usaha nya nanti bisa membuat Dafin berubah pikiran dan suatu saat Dafin bisa menerima nya serta pernikahan mereka dengan tulus.


"Mas Dafin mau tidur?" Bertanya saat Dafin sudah keluar dari ruang ganti dan duduk di ranjang."


"Aku lelah. Kamu pijat aku!"


"Iya Mas." Navya naik ke ranjang dan duduk bersimpuh lalu mulai memijat bahu Dafin.


"Lebih keras! Percuma kamu di beri makan oleh keluarga ku kalau tidak bisa menggunakan tenaga mu."


"I..iya Mas." Hening sebentar, tangannya masih memijat bahu Dafin.


"Besok apa saya boleh keluar sebentar Mas?"


"Aku tidak perduli apa yang kamu lakukan. Yang penting kamu tidak membuat masalah dan menyusahkan aku."


"Baik Mas, saya akan berhati-hati."


"Kamu harus ingat baik-baik, aku tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan ini." Ya, Navya tau itu. Dia juga paham pernikahan ini keinginan Mami dan Papi. Tidak hanya Dafin, Navya juga terpaksa menyetujui ini.


"Semua karena pengaruh mu." Dafin mengatakan itu seraya menepis tangan Navya dengan keras. Navya terkejut. "Mereka bahkan tidak pernah memikirkan kebahagiaan ku, apa yang aku inginkan. Semuanya hanya tentangmu, bagaimana caranya agar kau bahagia, agar kau tidak bersedih." Ini tidak benar, Navya tidak pernah meminta apapun pada Finny dan Damar.


"Apa maksud Mas Dafin?"


"Jangan berlagak tidak paham, setelah merebut perhatian dan kasih sayang mereka kau meminta mereka menikahkan mu dengan ku. Agar kau tetap bisa hidup enak di dalam keluarga ku."

__ADS_1


"Saya tidak pernah melakukan itu Mas." Navya menggeleng keras. Dia terkejut dengan semua tuduhan Dafin. "Mas Dafin salah paham."


Dafin mencengkeram dagu Navya kuat, "Salah paham?? Semua sudah jelas, sejak kau masuk dalam keluarga ku, kehidupan ku berubah. Kasih sayang orangtuaku dan perhatian mereka teralihkan padamu." Navya terjatuh di tempat tidur karena Dafin mendorong nya.


"Tapi Mami sangat menyayangi Mas Dafin."


"Aku tau! Tapi semua itu sudah kau rebut. Mulai sekarang kau akan membayar semua penderitaan ku." Dafin mendekati Navya lagi. Gadis itu sedikit bergeser untuk menghindari Dafin, namun pria itu sudah menarik bahunya dan memegang nya kuat. "Lakukan apapun yang aku perintahkan. Tapi tetap lah bersandiwara menjadi istri yang bahagia di depan siapapun. Kau paham!?"


Gadis itu hanya mengangguk, tapi tak berani melihat wajah Dafin.


"Minggir dari sana, aku mau tidur!" Hampir saja dia terjatuh dari ranjang saat Dafin mendorong keras tubuhnya. Sementara laki-laki itu sudah merebahkan tubuhnya di sana.


Navya terdiam di pinggir tempat tidur, dia benar-benar tidak menyangka dengan semua tuduhan yang Dafin lontarkan padanya. Dia sudah dengar pembicaraan Dafin dengan Hana di restoran tadi, namun saat Dafin mengatakan langsung padanya rasanya lebih menyakitkan. Dia bahkan tidak pernah meminta apapun pada Finny dan Damar, tapi mereka sudah melakukan banyak hal untuk dirinya.


Bagaimana dia berani meminta pernikahan ini.


***


Membuka matanya saat merasai wajahnya basah oleh percikan air. "Hei bangun! Siapkan keperluan ku semuanya, aku akan meeting pagi ini."


"Baik Mas." Dafin lalu berjalan menuju kamar mandi. Navya menyiapkan segala keperluan Dafin, dari mulai pakaian dan sepatu. Dia meletakkan nya di ruang ganti. Masih memakai kemeja dan celana formal kemudian Dafin keluar dan duduk di sofa saat Navya sedang merapikan tempat tidur.


"Ambilkan sepatu dan jas ku."


"Iya Mas."


Beberapa saat kemudian Navya keluar dari ruang ganti membawa sepatu dan jas. Meletakkan sepatu di dekat kaki Dafin setelah nya dia memakaikan jas ke tubuh Dafin. Dafin duduk kembali dan menunjuk sepatunya. Navya paham dan mengambil nya lalu memakaikan sepatu pada kaki Dafin. Tanpa bicara apapun Dafin keluar dari ruangan itu setelah Navya selesai dengan tugasnya, sementara gadis itu masih terpaku pada posisinya. Di sudah bertekad bahwa niatnya tidak akan berubah, bagaimana pun Dafin memperlakukan dirinya, dia akan tetap berusaha menjalankan perannya sebagai seorang istri. Berusaha membuat Dafin menerima dirinya dan pernikahan mereka.


***

__ADS_1


Hari ini Navya berniat akan berjalan-jalan sebentar sekalian membeli beberapa oleh-oleh. Sebelum pergi dia mengirim pesan pada suaminya, walaupun malam tadi dia sudah mengatakan pada Dafin akan keluar tapi dia tetap mengabarinya ketika akan keluar.


send to Mas Dafin


Mas, saya keluar sebentar. Mau beli oleh-oleh buat Mami dan Papi. Saya akan kembali sebelum makan siang.


Pesan itu dibaca oleh Dafin namun lelaki itu tidak berniat untuk membalasnya. Navya memaklumi itu, Dafin tidak perduli padanya jadi dia tidak akan membalas pesan itu. Memakai baju santai dan membawa tas selempang kecil, Navya keluar dari hotel. Di depan lobi hotel dia sedang memesan taksi online. Sambil berjalan dan memainkan ponselnya tanpa sengaja dia menabrak seseorang.


"Awwww" Navya hampir saja terjatuh, namun dengan sigap orang itu menangkapnya dan menopang tubuhnya. Mereka berdua saling menatap merasa seperti dejavu.


"Kamu ceroboh sekali. Memang hobi kamu menabrak saya ya ?" Ucapnya sambil tertawa seraya membantu Navya berdiri sempurna, berusaha menormalkan suasana yang agak canggung.


Navya ikut tertawa "Bapak, malah ngeledek saya. Maafin saya ya Pak, Saya gak liat tadi."


"Ya kalau kamu lihat saya, kamu gak akan menabrak saya. Kamu mau kemana, sendirian?" Alvi bertanya sambil memperhatikan sekelilingnya mencari keberadaan seseorang.


"Oh, itu.. saya mau jalan-jalan sebentar Pak. Sekalian beli oleh-oleh. Hmm.. Mas Dafin sedang meeting, mungkin sampai sore." Tau siapa yang di maksud boleh Alvi.


"Ooh... Kamu gak apa-apa pergi sendirian?"


Navya terkekeh "Ya gak apa-apa lah pak. Saya kan bukan anak TK." Alvi tersenyum menanggapi celotehan sekretaris nya itu.


"Ya sudah saya permisi ya Pak."


"Hmmm.. yaa... Hati-hati Vi."


Alvi belum beranjak sampai Navya masuk ke dalam taksi online. Kemudian Alvi menelpon seseorang agar membawa kan mobilnya ke depan lobi hotel.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2