
Navya sedang menyantap makan malamnya. Sendirian. Alvi hanya duduk dan fokus pada Handphonenya. Dia sudah makan tadi bersama klien dan Diana.
Benar-benar berubah ya. Dulu ketika kami makan berdua sebagai Bos dan sekretaris, dia tidak pernah mengabaikan aku. Ngomong-ngomong kemana dia, kenapa tidak kelihatan.
"Mas?" Mengangkat wajahnya melihat Navya sambil tersenyum. "Tidak makan?"
"Saya sudah makan tadi dengan Diana." (Dengan Klien juga sih). Navya mengangguk paham.
"Jadi mbak Diana kemana?" Celingukan mencari sosok gadis itu.
"Sudah pulang. Saya bilang mau memanggil kamu di kamar, tapi ternyata dia ingin pulang duluan. Diana orangnya sedikit sungkan." Navya terdiam. Jadi wanita itu sedang marah. Diana pasti merasa tidak nyaman karena ada dirinya
Pantas saja, jadi dari tadi dia sedang menghubungi Diana. Wanita itu merajuk. Pasti gara-gara aku.
Jadi sekarang Navya harus apa. Alvi sepertinya menyukai Diana. Tapi karena janjinya pada orangtua Navya membuat seorang wanita yang ia sukai jadi marah.
"Seharusnya saya tidak ikut tadi. Saya jadi tidak enak, Mbak Diana jadi pulang duluan."
"Tidak apa-apa. Saya tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendirian." Navya harus senang atau tidak, di saat gadis yang ia suka sedang marah tapi Alvi masih mengkhawatirkan dirinya. "Sudah selesai makannya?"
"Iya sudah."
"Kita pulang sekarang?"
Hanya membalas dengan anggukan. Mereka kemudian pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan Alvi tidak banyak bicara dengan Navya. Terkadang dia menerima telepon, entah dari Ryan atau Bima. Ada satu panggilan yang menarik perhatian Navya. Saat dia sedang memejamkan matanya, mengantuk. Suara Alvi membuat kantuknya hilang, tapi dia masih tidak membuka matanya.
"Kamu sudah sampai?" Suara Alvi bertanya.
.....
"Kamu baik-baik saja kan? Ya sudah besok istirahat saja."
"Baiklah terserah kamu."
"Ya sudah, saya tutup telponnya."
Alvi melirik Navya, gadis itu terlihat pulas. Lalu dia fokus menyetir untuk mengantarkan Navya ke rumah besar. Dan dia harus kembali ke apartemennya.
Benarkan. Mereka sedang bertengkar. Tapi apa hubungannya denganku. Aku kan tidak salah. Dia sendiri yang mengajak aku ikut.
Aaaaaa aku bingung. Kenapa juga aku seperti senang karena mereka bertengkar.
***
"Aku jemput kamu ya Vy."
"Baiklah kak. Aku tunggu ya."
Navya turun dan sarapan bersama Rima.
__ADS_1
"Kemana Mas Alvi Nek?"
"Alvi, tadi malam setelah mengantarkan kamu masuk dia langsung kembali ke apartemennya."
"Oh begitu."
"Katanya dia sibuk. Ada sedikit masalah di perusahaan. Bima juga menelpon, persiapan peresmian hotel yang baru hampir selesai. Alvi harus ke sana. Jadi sebelum itu dia harus menyelesaikan masalah di sini dulu."
Navya mengangguk paham.
"Mungkin beberapa hari ini Alvi tidak akan ke sini."
"Oh, begitu." Pantas saja tadi pagi Alvi juga tidak melakukan kebiasaannya lagi. Apa sesibuk itukah?
Navya berpamitan pada Rima saat Neni mengatakan bahwa Elma sudah menunggu di halaman rumah.
"Maaf ya Vi, kemarin aku meninggalkan kamu. Aku ada urusan mendadak."
"Iya kak tidak apa-apa." Navya terkejut saat melihat dahi Elma terdapat luka memar yang walaupun ditutup makeup, masih terlihat membiru. Ada luka lecet di lengan kanannya yang ditempeli plester. "Kakak kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Dahi kakak kenapa? Dan ini juga" Menunjuk lengan Elma dengan hati-hati.
"Tidak apa-apa. Kemarin aku tidak sengaja terjatuh saat membersihkan jendela kamarku."
"Kakak yakin?"
"Benar juga."
Mereka sampai di area parkiran kampus, lalu sama-sama keluar dari mobil. Elma menatap tidak senang saat tiba-tiba seseorang yang memanggil Navya, memberikan sebatang coklat yang diikat dengan pita biru muda padanya. Tanpa bicara apapun gadis itu pergi.
"Apa ini ya kak." Elma mengedikkan bahunya ikut bingung. Belum sempat dia membuka amplop, seorang gadis lagi mendekat lalu memberikan setangkai bunga mawar untuk Navya. Lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka. Pada Navya masih ingin bertanya, siapa yang memberikan coklat dan bunga itu.
Navya hanya menggeleng, dan berjalan lagi menuju kelas. Baru saja duduk di kursi, sebuah pesawat kertas melayang ke arah Navya dan mendarat di kakinya. Dia mengambil kertas berwarna biru muda, ada sebuah tulisan di dalamnya.
Elma sedang menahan diri. Dia tersenyum saat Navya memberikan tatapan bingung padanya sambil menunjukkan kertas di tangannya. "Mungkin dari penggemar kamu."
"Gak mungkin."
"Ya mungkin saja, kamu kan cantik dan pintar."
"Kak aku tidak mengenal siapapun di sini. Apalagi teman pria." Dia baru ingat selama hampir dua bulan dia kuliah di sana, tidak pernah ada pria yang menyapa dirinya. Padahal dia memiliki beberapa teman laki-laki di kelasnya, meskipun tidak banyak.
Tapi mereka bahkan tidak pernah memandang Navya, apalagi mengajak nya bicara. Tapi karena dia fokus dengan kuliah, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Sekarang dia baru menyadari, ini cukup aneh baginya.
"Waaa... kamu pasti memiliki penggemar rahasia."
Apa mungkin Mas Alvi.
__ADS_1
Cepat-cepat dia melihat isi surat itu. Lesu setelah membaca isinya.
..."Kamu cantik Navya. Saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Temui saya di Kafe Star sore nanti setelah jam kuliah."...
...Meja nomor 5, Mawar Putih....
Tapi dari kata-katanya, ini jelas bukan Mas Alvi. Mereka sudah saling mengenal. Untuk apa dia mengirimkan hal-hal seperti ini secara misterius, dia bisa mengajak Navya bertemu kapanpun dia mau. Lagipula, sudah ada Diana, tidak mungkin Alvi bersikap seperti itu lagi padanya. Diana sudah mengganti tempat Navya di hati Alvi. Navya cemburu lagi kan kalau mengingat Diana.
"Dari siapa?" Elma berbisik.
"Entahlah, aku tidak tahu." Dia memberikan kertas itu pada Elma.
Mereka mengikuti kelas sampai selesai. Di jam makan siang Navya melihat handphonenya. Sepi rasanya, apa iya Alvi sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat menghubungi bahkan satu pesan pun tidak.
Navya hanya mengaduk-aduk es kopi yang dia pesan, tidak menyadari es nya sudah mencair. Hingga tertumpah di mejanya. Elma menegur Navya yang sejak tadi di ajak bicara namun tidak menjawab.
"Navya, hei.... kamu sejak tadi melamun terus. Aku bicara sendiri."
"Maaf,, maaf kak.."
"Kamu masih memikirkan si pengirim surat dan bunga tadi?"
"Iya,.. eh.. bukan... Maksud ku tadi aku berfikir kalau yang mengirimkan itu Mas Alvi. Ternyata bukan...."
"Lalu, kira-kira siapa?"
"Tidak tau. Tidak peduli juga." Mengedikkan bahu tidak peduli. Lalu meminum es nya.
"Lalu, undangan di kafe itu bagaimana? Kamu tidak akan datang?"
Navya menggeleng. Dia sama sekali tidak peduli. Siapapun pengirim nya, Navya tidak tertarik untuk mencari tau. Dia hanya sedang memikirkan Alvi, pria itu sekarang sudah jarang memberikan perhatian lagi padanya. Dulu sehari lebih dari seperti minum obat mereka akan berkomunikasi, walaupun sekedar berbalas pesan.
aaah, Navya jadi kehilangan laki-laki itu.
"Tapi kak... " Elma menunggu Navya melanjutkan ucapannya sambil menyeruput jus buah.
"Mas Alvi memiliki gadis idaman yang baru, sepertinya dia menyukai sekretarisnya."
Elma terkejut dan tersedak, hampir saja menyemburkan minumannya.
"Kakak tidak apa-apa?" Bangun dari duduknya dan menepuk bahu Elma. "Kakak tidak apa-apa?"
"Ya, tidak apa-apa."
"Pelan-pelan dong minumnya, kita masih punya satu jam lagi untuk kelas terakhir."
"Hahah iya, benar juga." Tertawa sambil melihat jam tangannya. "Kalau begitu aku mau pesan makanan dulu ya." Elma meninggalkan kursinya, tapi Navya masih bengong menatap Elma.
Jam tangan itu, mirip seperti milik Diana.
__ADS_1
Menepuk kepalanya. "Di dunia ini bahkan ada orang yang mirip, hanya sebuah jam tangan saja pasti ada banyak orang yang memiliki bentuk dan merk yang sama dengan orang lain." Gumamnya.
Bersambung