
Alvi sedikit kecewa, pasalnya Navya sama sekali tidak mempertimbangkan ajakannya untuk makan siang bersama. Jelas itu karena Navya menurut dengan perintah Dafin yang memintanya untuk langsung pulang setelah pekerjaan selesai. Sebab dia sedang kasmaran.
Alvi memang tidak berhak untuk marah, namun dia khawatir Navya terbawa perasaan karena terlalu senang dengan perubahan sikap Dafin.
"Terimakasih ya Pak." Navya sudah turun dan bicara dengan Alvi melalui jendela mobil yang terbuka.
"Hmmm... Ya.. sama-sama."
"Gak Mampir dulu Pak?"
"Saya masih harus ke kantor. Salam saja sama Tante dan Om Damar."
"Baik Pak. Nanti saya sampaikan."
"Besok jangan terlambat."
"Siapp Bos." Ucapnya dengan gaya hormat.
Alvi tersenyum, lucu melihat tingkah Navya.
"Saya Pergi dulu."
"Ya pak, hati-hati di jalan."
Alvi membunyikan klakson sekali dan kemudian keluar dari halaman rumah Damar.
***
Di dalam kamar, dia memandangi Ponselnya. Tumben sekali sunyi, tidak ada panggilan masuk ataupun pesan. Siang tadi dia mengirim kan pesan balasan saat lelaki itu bertanya apakah dia sudah selesai meeting atau belum. Pesan itu hanya di baca tanpa ada balasan apapun lagi sampai sore ini. Bahkan saat Navya mengabari bahwa dia sudah sampai di rumah, malah pesan itu tidak dibaca.
Navya memberanikan diri untuk menelepon duluan, namun tidak dijawab oleh si pemilik nomor di seberang sana.
"Mas Dafin kemana ya!? Apa belum selesai meeting."
Dia masih berusaha untuk menghubungi nomor Hp suaminya, namun kali ini nomor itu tidak aktif.
"Mungkin Mas Dafin sedang lelah, nanti pasti dia akan menghubungi kembali."
Navya berbicara sendiri menyemangati. Akhirnya dia keluar dari kamar dan bertemu Finny di ruang tamu
"Mami, udah pulang?"
"Iya sayang, kamu udah makan?"
"Udah Mi. O ya Mi, Mas Dafin ada menghubungi Mami gak?"
"Ada, sebenarnya Mami sih yang duluan nelpon dia. Itu juga gak lama, dia langsung buru-buru mematikan panggilannya.Kenapa Vy?"
"Oh, gak apa-apa Mi." Tiba-tiba ponsel milik Navya bergetar, ada sebuah pesan masuk.
__ADS_1
"Malam nanti aku hubungi kamu, aku sedang sibuk sekarang. Jangan lupa makan."
Navya tersenyum, akhirnya ada balasan dari Dafin. Ternyata Dafin peduli padanya, buktikan dia mengirimkan pesan agar Navya tidak khawatir.
Karena terlalu senang, dia berjalan menuju kamarnya tanpa berpamitan dengan Finny. Tentu saja Finny heran dan geleng-geleng kepala dengan sikap Navya, gadis itu berjalan sambil tersenyum dan melihat ponsel di tangannya.
"Dasar bucin, semoga keputusan ku menikah kan mereka tidak salah dan semoga kalian selalu bahagia."
***
Yang di tunggu-tunggu Navya akhirnya tiba, pukul sebelas malam Dafin sengaja keluar dari kamarnya. Setelah melakukan kewajibannya sebagai suami, dia berpamitan pada Hana akan pergi ke kafe yang ada di dekat Villa untuk minum kopi. Sementara Hana mengatakan ingin tidur karena merasa lelah.
Dafin seperti suami yang diam-diam menelpon selingkuhannya. Dia berdebar, entah karena bersembunyi dari Hana atau karena dia tidak pernah sengaja menelpon Navya hanya untuk mengobrol seperti ini. Dan obrolan mereka terasa sangat canggung.
"Kamu belum tidur?"
"Mas Dafin janji akan menghubungi Vya, jadi Vya gak akan tidur sebelum Mas Dafin menelpon. Mas Dafin dimana? Kenapa ada suara musik?"
"Aku sedang ada di Kafe. Bagaimana keadaan kaki kamu?"
"Vya baik-baik saja. Vya yakin sudah bisa menyetir mobil sendiri."
"Hmmm... baguslah."
"Mas Dafin tidak bersama kak Hana?"
"Oh, Hana sudah tidur."
"Hmmmm Navya.."
"Ya Mas?"
"Sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam."
"Vya belum ngantuk, tapi kalau Mas Dafin sudah mau tidur gak apa-apa."
"Aku... belum."
"Mas kapan pulang?"
"Mungkin lusa. Aku usahakan secepatnya."
"Iya Mas."
"Kamu kangen?"
"Hah? Eng... Nggak kok.. Mas Dafin kepedean."
"Pasti iya. Kalau iya juga gak apa-apa."
__ADS_1
"Mas Dafin apaan sih? Gak lucu tau."
Dafin tersenyum, membayangkan wajah Navya yang menggemaskan jika mereka mengobrol begini secara langsung.
"Karena yang lucu kamu."
"Hah?" Navya terperanjat kaget mendengar ucapan Dafin. Pelan sebenarnya, tapi Navya bisa mendengar dengan jelas.
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Besok aku hubungi kamu lagi."
"Iya, Mas juga istirahat. Selamat malam."
"Hmm...."
"Selamat malam sayang..." Ucapnya lirih setelah panggilan di akhiri..
Navya berguling-guling di ranjang, dia merasakan jantungnya berdebar hebat. Seperti ABG yang kasmaran. Seakan dia melupakan alasan Dafin untuk menikah dengannya, yang dia tau dia hanya harus merebut hati Dafin dan mempertahankan pernikahan mereka.
Sementara itu di tempat lain, senyuman masih terpampang di wajah lelaki itu. Dafin entah mengapa merasa begitu senang setelah mengobrol dengan Navya. Benar, saat ini dialah yang merindukan Navya. Dia yang tidak sabar ingin segera pulang. Tanpa dia sadari, dua pasang mata memperhatikan apa yang dia lakukan. Mendengar semua pembicaraannya.
"Aku tidak peduli, bagaimana perasaan kamu sekarang padaku. Kamu sudah jadi milikku sepenuhnya, setidaknya aku sudah selangkah lebih maju dari Navya. Bukan Navya, tapi aku wanita pertama yang kamu sentuh Dafin. Seterusnya aku tidak akan membiarkan Navya mengambil kamu dariku. Aku akan biarkan kamu bermain-main dengan wanita itu, walaupun aku tau kamu tidak sedang bersandiwara saat ini. Kamu sudah mulai mencintainya, tapi aku gak akan biarkan cinta kalian terwujud. Karena kamu yang sudah mengizinkan aku menjadi orang yang akan menghalanginya."
Hana kembali ke kamarnya. Dia tersenyum dan menghapus air mata yang tiba-tiba keluar dari netra hitam miliknya. Dia tidak akan jadi wanita lemah. Dia tidak akan pernah mundur dari takdirnya, bukan dia sendirian yang menginginkan pernikahan Dafin dan Navya hancur, tapi Dafin sendiri yang ingin mengakhirinya. Dia hanya membantu. Hana harus terus berusaha memiliki Dafin sepenuhnya, dengan usaha Dafin mewujudkan pernikahan mereka itu meyakinkan Hana bahwa posisinya di hati Dafin masih lebih unggul daripada Navya.
Hana menempati posisinya semula di atas ranjang, sudah mengganti lagi bajunya seperti saat Dafin meninggalkan nya tadi. Saat Dafin membuka pintu kamar dia berpura-pura terbangun.
"Kamu sudah pulang?"
"Maaf, kamu jadi terbangun."
"Hmm... gak apa-apa." Hana bangun dan duduk di ranjang. "Sayang..."
"Ya?"
"Mau peluk...." Bicara dengan suara manja sambil merentangkan tangannya. Dafin tersenyum dan berjalan menghampiri istri keduanya itu.
"Kenapa? Baru aku tinggal satu jam."
"Hanya malam ini saja kan kamu bisa kasi aku waktu penuh bersama kamu, besok-besok aku gak tau. Kamu akan lebih sering menghabiskan malam kamu bersama istri sah..."
Dafin membungkam kata-kata Hana dengan mencium bibirnya. Dia tidak menjawab apapun dari perkataan Hana. Hanya mencium wanita yang sudah menjadi istri nya itu dan menyalurkan perasaannya. Entah itu cinta atau rasa bersalah.
Epilog:
Dafin baru menyadari bahwa handphone nya mati, saat dia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sejak kapan ini mati?"
Saat dihidupkan, dia mendapati banyak panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan dari Navya.
__ADS_1
Dafin ingin sekali menelpon Navya saat itu juga, tapi dia sedang bersama Hana. Tidak mungkin dia membiarkan Hana tau bahwa dia sedang menghubungi Navya, itu sama saja menghancurkan kebahagiaan Hana. Akhirnya dia hanya mengirimkan pesan pada Navya bahwa dia akan menghubunginya nanti.