
Tatapan Navya mengikuti langkah Finny yang melewati pintu menuju taman belakang. Lalu dia melihat Damar dan Alvi bergantian dengan wajah sendu.
Bukan karena tidak mendapatkan izin, tapi dia sudah membuat Maminya sedih. "Sabar sayang, sebentar saja. Papi yakin, Mami hanya butuh waktu untuk berfikir. Biarkan sebentar lagi sampai emosinya mereda."
"Iya Pi, Vya mengerti." Senyuman Alvi seakan menguatkan dan meyakinkan dirinya. Navya mengangguk paham.
Bertepatan dengan itu Dafin dan Hana datang. "Tumben sekali kalian duduk di sini, ada kak Alvi juga." Sambil matanya melihat ke sana kemari mencari seseorang. "Dimana Mami?"
Beberapa saat kemudian setelah mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Dafin. Dafin paham betul, memang agak sulit membujuk Finny. Sama seperti saat dulu Dafin ingin kuliah di luar negeri, Maminya juga tidak bicara padanya selama dua hari. Tapi akhirnya dia sendiri yang datang pada anaknya dan mengatakan dia mengizinkan.
"Sebentar ya, biar aku dan Hana ke sana menemui Mami. Kak Alvi ayo ikut aku."
Alvi mengiyakan dan mengikuti Dafin.
"Mami... " sapa Dafin. Di susul Hana yang mencium tangan Finny dan di lanjutkan cipika-cipiki.
"Kenapa duduk di sini?" Seraya mendudukkan tubuhnya di sebelah wanita itu.
"Mami salah ya kalau melarang Navya pergi ke luar negeri? Mami hanya takut dia kenapa-kenapa, dia akan hidup sendirian di sana."
Dafin tersenyum, lalu memeluk Finny, wanita itu meletakkan kepalanya di bahu anaknya. "Ternyata Navya mau ke luar negeri? Wahh... bagus lah.. Kapan-kapan kita bisa mengunjungi Navya sambil liburan."
"Kamu malah mendukung adik kamu. Mami akan sendirian kalau Navya pergi." Dafin melirik Hana yang ada di sebelah Maminya. Dan hal itu di sadari Finny.
__ADS_1
Oh ya Ampun. Dia lupa ada Hana. Dafin dan Hana akan tinggal di rumah mereka kan. Finny menoleh pada menantunya. "Hana, maafkan Mami sayang. Bukan itu maksud Mami. Tapi Mami sulit melepaskan Navya sendirian di tempat asing."
Hana tersenyum hangat. "Gak apa-apa Mi. Hana tau Mami khawatir pada Navya kan. Tapi menurut Hana, kalau Mami ingin Navya bahagia, Mami harus percaya dengan pilihan nya."
Finny teringat dulu saat dia melihat hasil lukisan dan coretan Navya di kamarnya, dia sangat kagum dengan putri nya itu. Navya lalu mengutarakan ingin kuliah di bidang fashion design, terutama mendesain perhiasan. Dan sudah membuat daftar kampus, dan pilihannya jatuh pada negara terdekat. Namun hal itu secara mentah-mentah di tolak oleh Finny. Navya bahkan tidak berani berkeras dengan keinginannya karena Finny menangis sedih membayangkan Navya akan pergi. Alasan karena dia terlalu khawatir dengan Navya.
"Kamu kuliah aja di sini. Nanti bisa bekerja di kantor Papi. Jangan susah-susah mencari kerja di luar sana."
"Iya, Vya gak akan pergi kok. Vya sayang sama Mami. Apapun yang Mami katakan Vya akan ikut, untuk kebaikan Vya dan kebahagiaan Mami."
Begitulah akhirnya Navya mengikuti apa yang ia inginkan. Selalu seperti itu. Karen Navya tau dia bukan ibu kandungnya, Navya merasa rasa sayang Finny sudah sangat berlimpah padanya. Jadi tidak ada alasan bagi Navya untuk menolak apapun permintaan Finny. Jika Maminya bilang A, maka Navya ikut saja.
Dia pikir itu adalah bentuk baktinya pada Finny, hingga dia tidak pernah berfikir soal keinginan nya.
"Tapi Mami takut Nak. Mami takut kalau dia kenapa-kenapa, Mami akan merasa gagal menjaga Navya. Dan Mami akan sangat bersalah pada Hafizah."
Kali ini Alvi yang mencoba buka suara. Dia duduk bersimpuh di hadapan Finny. "Tante, apa janji Tante pada Ibu Hafizah hanya untuk menjaga Navya saja? Hanya memastikan dia selalu berada di dekat Tante?" Kali ini dia menggenggam tangan adik dari ayahnya itu.
"Tante, kita semua bisa melihat, Bu Hafizah sangat yakin Tante bisa menjadi orang tua yang baik untuk Navya makanya dia percayakan anaknya pada Tante. Dan tanggung jawab yang Tante ambil untuk menjaga Navya bukan berarti harus membuat dia ada selalu di sisi Tante. Itu sama saja membatasi kebebasannya. Apa Tante yakin itu akan memberikan dia bahagia?"
Finny berfikir, mungkin apa yang Dafin dan Alvi katakan benar. Dia terlalu takut melepaskan Navya, janjinya pada sahabat nya membuat Finny jadi posesif terhadap anak angkatnya itu. Tapi dia tidak pernah berfikir apa yang sebenarnya Navya inginkan selama ini untuk hidup nya. Finny menyadari dia terlalu banyak memaksa. Termasuk pilihan paling penting dalam hidupnya, yaitu menikah.
Menikahkan dengan Dafin untuk mengikat Navya, bukannya memberikan kebahagiaan malah sudah membuat Navya menanggung luka.
__ADS_1
Finny memejamkan matanya, dan tiba-tiba ada cairan bening menetes membasahi pipinya. Dia mulai terisak, menyadari kesalahannya. "Mami sayang pada Navya, bukan maksud Mami mengekang kebebasannya. Mami menyesal sudah tidak perduli dengan perasaannya."
"Dan Mami jangan khawatir, Dafin yakin kak Alvi akan melakukan segala hal untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan Navya selama di sana." Finny menatap Alvi. Dan laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum.
"Navya akan tinggal di rumah milik alm. Papa, tapi untuk sementara Navya akan tinggal bersama pengurus rumah yang lama dan beberapa pengawal. Mereka akan membantu semua keperluan Navya. Sambil menunggu Nenek dan Kakek ke sana sebulan lagi. Nenek akan menetap di sana sampai Navya menyelesaikan pendidikannya."
"Dan saya akan tempatkan seorang pengawal di sisi Navya selama dia di sana. Tanpa dia ketahui tentu nya."
Dafin menatap Alvi yang sedang berbicara dengan Maminya.
Begitu besar pengorbanan kamu untuk Navya kak. Aku bersyukur ada kamu yang akan menjaganya. Semoga kalian berjodoh, jangan pernah menyerah untuk merebut hatinya kak.
Terselip doa yang tulus di balik senyuman Dafin untuk Alvi dan Navya. Sekarang dia merasa Alvi memang pantas untuk mendampingi Navya,. Kaka sepupu nya itu benar-benar membuktikan bahwa dia sangat tidak ingin Navya terluka sedikitpun.
Hana mengusap air mata di pipi Finny. "Mi jangan sedih lagi, jangan menyalahkan diri mami sendiri, Mami adalah ibu terhebat untuk kami. Ayo kita temui Navya. Katakan kalau Mami setuju. Dia pasti akan sangat senang." Finny mengangguk.
"Terimakasih Sayang." Ucapannya mengelus pipi Hana dengan sayang.
"Mami akan beri tahu Navya." Alvi sudah berdiri di depan Finny, dan wanita itu juga akan bangun dari duduknya untuk mendatangi Putrinya.
Navya sedang harap-harap cemas menunggu keputusan Maminya.
"Tunggu." Dafin mencegah mereka yang sudah akan beranjak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Bersambung