
Navya sedang berada di kamar nya saat Alvi menelponnya untuk membicarakan kesiapan acara kantor mereka.
" Iya Pak, catering sudah siap semua. Sesuai keinginan Bapak, selain kuliner mancanegara akan ada beberapa kuliner lokal dan tradisional. Trus tertib acaranya sudah saya kirim email ke Bapak. Kalau ada yang bapak rubah, bapak kabari saya saja, biar saya bicara sama EO nya."
Navya melaporkan beberapa hal pada Alvi.
" Hmm Ok.. Terimakasih ya Vy."
Navya merasa aneh, Bosnya kenapa harus berterimakasih begitu. " Itu sudah tugas saya Pak."
" Ya tetap saja, kamu pasti capek kan ngurusin itu semua."
" Ya kan memang begitu pekerjaan saya Pak, ngikutin kemana aja Bapak pergi sesuai perintah. Lagian banyak kok yang bantuin saya, gak saya handle sendiri. Bapak juga banyak turun tangan langsung kan."
" Tapi kamu jadi harus sering lembur. Padahal kamu juga sedang mempersiapkan pernikahan." Navya terdiam, membahas pernikahan malah membuat mood nya sedikit buruk. Padahal kesibukannya bekerja membuatnya kadang lupa kalau dia akan menikah." Vy ?"
" Eh,, iya Pak."
" Kamu tidur ?"
" Eng.. Enggak kok Pak."
" Kalau memang kamu ngantuk, kamu tidur saja."
" Hmm. Maaf ya Pak."
" Ya sudah, kamu istirahat saja."
" Siap Pak." Alvi terkekeh dengan jawaban Navya.
" Mmmmm Vy.. Kamu suka yang tadi saya berikan?"
Navya terkejut, dia bahkan belum membuka nya dan belum tahu apa isinya. Dia memutar pandangan mengelilingi ruangan kamarnya, mencari dimana dia meletakkan paperbag itu. "I..iya Pak. Saya suka kok. Sekali lagi terimakasih ya Pak. Sudah repot-repot beliin saya." Jawab saja begitu, tidak mungkin dia bilang belum melihatnya. Bisa-bisa bos nya berfikir kalau dia tidak menghargai pemberian nya.
" Jangan lupa, kamu pakai saat acara nanti ya Vy."
" Baik Pak, akan saya pakai"
" Ya sudah.. kamu istirahat. Selamat malam."
" Ya Pak, Bapak juga, selamat malam."
Navya mematikan sambungan tersebut sambil berjalan ke tempat dia meletakkan paperbag yang Alvi berikan padanya sore tadi. Saat membukanya, Navya tersenyum. Bagaimana Alvi bisa tahu warna kesukaannya. Ada gaun berwarna biru gelap, desain nya sangat elegan, mewah tapi tidak terlalu mencolok. Dan sepasang heels yang pas sekali dipakai bersamaan dengan gaun tersebut.
" Kenapa Pak Alvi repot banget beliin aku ini, kalau karyawan lain tahu bisa habis aku. Tapi kalau tidak dipakai, Pak Alvi bisa tersinggung kan."
Sementara Alvi juga sedang tersenyum sambil melihat foto seorang gadis ada di layar ponsel pintar nya.
__ADS_1
" Apa mungkin aku masih punya kesempatan?"
***
Hari ini Navya sangat sibuk, sejak pagi dia sudah berada di gedung acara, sebuah hotel mewah tempat dimana acara pengenalan Presdir baru akan diadakan. Bukan PT. Sinar Mega, tapi Mahendra Grup. Tak ada yang tau bahwa acara besar ini diadakan oleh perusahaan raksasa Mahendra Grup. Termasuk Navya, dia juga merasa acara ini terlalu mewah. Dari gedung, dekorasi, dan jumlah tamu undangan. Tapi mungkin karena PT.Sinar Mega adalah perusahaan baru, jadi selain menyambut direktur yang baru acara ini juga untuk memperkenalkan perusahaan tersebut kepada para pelaku bisnis. Itu yang ada dalam pemikiran Navya.
Sebenarnya Alvi tidak ingin mengadakan pesta ini, hanya saja dia tidak bisa menolak keinginan sang kakek. Bahkan Rima sebagai nenek nya juga merasa ini belum saatnya, karena dia masih memikirkan Finny. Mungkin saja dia juga memiliki cucu lagi selain Alvi, yang juga berhak atas kedudukan di perusahaan Mahendra Grup. Tapi sang suami Sultan Mahendra menolak untuk menunda, dia memiliki tujuan dibalik semua rencananya mengadakan pesta penyambutan Alvi.
" Jika tidak sekarang, apa harus menunggu aku tiada baru Alvi akan mengambil alih kepemimpinan Perusahaan?" Begitulah yang dikatakan suaminya.
Apa lagi yang harus dikatakan Rima selain menyetujui keinginan suaminya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Navya sudah meninggalkan Aula besar tempat berlangsungnya acara. Sekarang dia tengah berada di depan sebuah kamar hotel. Alvi memintanya membawakan jas dan sepatu yang akan ia pakai untuk acara nanti. Kamar tersebut adalah satu-satunya kamar yang ada di lantai tertinggi di gedung tersebut. Kamar khusus pemilik hotel. Siapa lagi kalau bukan bos nya.
" Aku gak salah kan.. ini lantai 20. Tapi di sini gak ada pintu lain selain pintu ini. Apa aku tanya Pak Alvi aja ya." Navya baru akan menghubungi Alvi saat benda pipih yang ia pegang bergetar menampilkan nama bos-nya.
" Iya Pak."
" Kamu kenapa belum masuk?" Ehhh... Apa Pak Alvi tau dia sudah di depan pintu.
"hmmm saya... bingung Pak." Navya celingukan. " Saya gak salah tempat kan Pak?"
" Enggak Navya... Kamu masuk saja, pintunya tidak dikunci."
" Iya.. iya.. Pak. Saya masuk." Lalu mematikan sambungan telponnya. Ragu dia membuka pintu itu. Begitu membuka pintu dia pikir ia bukan sedang ada di sebuah kamar hotel, tapi lebih mirip seperti apartemen. Saat pandangan nya mengelilingi ruangan itu, dia melihat bukan hanya Alvi yang ada di sana. Ada Rima dan beberapa orang lainnya seperti penata rias. " Nenek, Nenek juga di sini ?"
" Vya ke Pak Alvi dulu ya Nek." Rima tersenyum dan mengangguk.
Navya memberikan jas dan sepatu itu pada Alvi. Dia tidak curiga sedikitpun saat Alvi menyuruhnya membawakan semua itu, karena adalah hal biasa ketika bos meminta asistennya untuk mempersiapkan segala keperluan termasuk beberapa hal pribadi. Alvi bisa saja menyuruh orang dari butik untuk mengantarkannya, namun dia punya tujuan lain meminta Navya yang mengambil dan membawakan nya untuk Alvi.
"Ini pesanan Bapak, ada lagi yang Bapak butuhkan?"
" Terimakasih." Lalu Alvi masuk ke sebuah ruangan seperti ruang ganti.
Lalu Navya duduk di sofa tempat dimana Rima juga duduk. Mereka membicarakan beberapa hal, sambil sesekali tertawa. Tanpa Navya sadari Alvi memperhatikan dirinya Yang sedang mengobrol dengan sang nenek.
" Ehhheemmm... " suara itu berhasil mengalihkan perhatian Navya dan Rima.
" Sepertinya kalian sudah akrab ya."
" Maaf Pak." Navya lalu berdiri saat Alvi berjalan mendekat. Alvi terlihat sangat menawan, dengan setelan formal berwarna biru gelap serta rambut yang di tata rapi. Bukannya setiap hari Alvi tidak tampan, namun hari ini pesonanya lebih terpancar.
"Wahhh cucu nenek tampan sekali. Tapi sayang tidak punya pasangan." Rima meledek cucunya, yang membuat Alvi melotot mendengar ledekan itu. Sementara Navya menahan senyum nya.
"Kamu kalau mau tertawa, jangan ditahan Vy." Alvi berujar sarkas.
"Maaf Pak."
__ADS_1
"Makanya cepat cari pasangan, biar nenek cepat punya cicit." Tapi Alvi tidak menghiraukan perkataan neneknya. Dia malah menuju ke arah pintu.
"Al keluar duluan Nek. Navya kamu bersiap saja di sini. Mereka akan membantu kamu." Ucapnya sambil menunjuk dua orang penata rias di sana dengan matanya. Navya bingung.
"Segala keperluan kamu sudah ada di sini, maaf tadi saya minta orang membawanya dari kamar kamu tanpa persetujuan kamu. Nek Alvi turun duluan, kita bertemu di bawah nanti."
Dia keluar tanpa mendengar jawaban Navya.
"Ayo Nak, kamu bersiaplah." Navya tidak bisa bicara apapun, sikap Alvian padanya terlalu berlebihan. Dia hanya mengikuti langkah Rima dalam diam.
***
"Kamu dimana ?"
"Vya masih mau menuju ke tempat acara Mas."
" Kamu tunggu aku di lobi depan, kita masuk bareng."
" Iya Mas . Maaf Nek, Vya harus menunggu Mas Dafin di depan. Tapi nanti Vya antar nenek ke aula dulu."
"Baiklah Nak, ayo kita turun."
"Kamu cantik sekali Nak, lembut dan baik hati. Seandainya kamu belum bertunangan,nenek akan melamarmu untuk Alvian." Rima berkata dalam hati sambil berjalan bergandengan dengan Rima.
Navya mengantar Rima memasuki ruang tunggu khusus keluarga. Di sana ada Alvi. Alvi mematung melihat dua wanita berbeda generasi yang memasuki ruangan itu. Matanya bahkan tidak berpaling melihat Navya. Sang Nenek yang menyadari itu tersenyum seraya melirik Navya.
"Kamu sudah di sini Al?" Rima sengaja mengeraskan suaranya hingga membuat Al tersadar lalu mendekat untuk membantu memapah nenek nya. Alvi dan Navya berada di sisi kanan dan kiri Rima. Alvi diam-diam melihat Navya sambil membantu memapah Nenek nya.
"Terimakasih sayang ." Ucapannya saat sudah duduk di sofa.
"Pak, saya permisi dulu. Mas Dafin menunggu saya di depan."
Alvi hanya mengangguk, sedikit kecewa namun ia berusaha menutupi itu dari Navya. Navya berjalan menuju ke arah pintu, diikuti pandangan Alvi.
"Cantik kan ?" Alvi menoleh ke arah nenek nya.
"Kamu kenapa tadi bengong begitu?" Nenek meledek lagi. Namun Alvi menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Nek, Dia sudah bertunangan. Dan tunangan nya teman Al." Namun nenek mengedikkan bahu nya dan tersenyum.
"Jodoh ada di tangan Tuhan."
Bersambung
Selamat membaca ...
semoga suka. Jangan lupa kasi like dan komen yaa... 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰
__ADS_1