
Mereka sudah duduk mengelilingi satu meja. "Selamat ya Pak, ternyata bapak lebih hebat dari dugaan saya. Bapak akan jadi Presdir Mahendra Grup, itu artinya acara ini sekaligus menjadi acara perpisahan dong Pak."
"Kamu bisa saja, Terimakasih Navya. Untuk sementara Saya masih akan ke kantor Sinar Mega kok, karena masih ada proyek yang harus kita selesaikan. Mungkin bulan depan baru akan sepenuhnya saya berada di gedung pusat Mahendra Grup."
Rima sesekali memerhatikan Dafin. Namun ia tidak tahan untuk bertanya. "Calon suami kamu bekerja dimana Navya ?"
"Dafin ini direktur Wijaya Grup Nek." Sontak jawaban Alvi itu membuat Rima terkejut. Ekspresi Rima tidak bisa ditutupi, mereka bertiga bisa melihat itu.
"Ada apa Nek?" Navya bertanya.
"Ah... tidak... tidak apa-apa.. Apakah kamu putra Damar Wijaya dan Finny ?"
"Benar Nek, Mereka adalah orang tua saya. Apa nenek mengenal mereka ?"
"Aku bahkan lebih dari mengenal nya. Kau adalah cucu ku Nak."
"Nenek agak lelah, kalian lanjutkan lah acaranya. Nenek permisi dulu." Dia tidak menjawab pertanyaan Dafin. Rima tidak bisa menahan perasaannya. Dia merindukan anak perempuannya. Dia bahagia, akhirnya dia tau bahwa dia juga memiliki satu lagi cucu laki-laki. Mereka semua berdiri saat Rima juga berdiri. Dia mendekati Dafin, mengusap pipinya " Sampaikan salam ku pada orang tuamu Nak."
Dafin hanya mengangguk dan tersenyum. Namun mereka bertiga menangkap keanehan dari sikap Rima. Tidak terkecuali Alvi, dia bisa melihat perubahan dari neneknya. "Saya akan mengantarkan nenek."
"Iya Pak silahkan." Alvi kemudian menyusul langkah neneknya.
Dafin dan Navya duduk kembali saat Alvi dan Rima sudah menjauh. Mereka berdua hanya diam, melihat ke arah panggung seakan sedang menikmati lantunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi terkenal itu, padahal mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
***
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, sudah banyak tamu yang meninggalkan tempat tersebut. Sultan dan Rima juga sudah tidak ada di sana. "Kamu bawa mobil kan ?" Dafin bertanya pada Navya.
"Bawa kok Mas, kenapa Mas?"
"Kamu bisa kan pulang sendiri? Aku ada janji dengan seseorang?" Sebenarnya Navya ragu, ini hampir tengah malam. Bagaimana Dafin bisa membiarkannya pulang sendirian malam-malam begini. Awalnya Navya pikir mereka akan pulang bersama dengan mengiringi mobilnya dari belakang. Namun dia tidak berani mengatakan itu pada Dafin.
"Iya, gak masalah Mas. Nanti Navya pulang sendiri."
"Oke, aku pergi dulu "
__ADS_1
"Iya Mas."
Alvi memperhatikan interaksi antara Navya dan Dafin. Lalu ia berjalan mendekat kepada Navya setelah Dafin pergi dari hadapan Navya.
"Kamu gak pulang bareng Dafin?"
"Oh,,, itu Mas Dafin ada urusan Pak. Jadi saya pulang sendiri saja. Saya juga bawa mobil kok."
"Kalau begitu kamu pulang sama saya saja. Nanti mobil kamu biar saya suruh orang mengantarkannya ke rumah kamu."
"Eh, gak usah Pak. Saya gak mau merepotkan Bapak. Lagipula rumah Bapak gak searah sama rumah saya. Saya bisa kok Pak pulang sendiri." Apa kata orang-orang yang melihat nanti, jika dia pulang diantar bosnya.
"Tapi saya khawatir sama kamu."
Ehhh. Dia tidak salah dengar kan ?!
"Bapak tenang saja, jalanan kan masih ramai. Kalau begitu saya permisi sekarang ya Pak." Navya harus buru-buru pergi dari hadapan Alvi, takut bos nya akan memaksanya pulang bersama. Navya tidak enak jika ada yang melihat mereka. Di sana masih ada beberapa karyawan yang belum meninggalkan tempat itu.
" Ya sudah, kamu hati-hati. Kalau sudah sampai kabari saya."
"Alvi mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Kamu ikuti dia. kalau ada apa-apa kamu kabari saya."
***
"Kamu dimana Nak, Kamu pulang sama Dafin kan ?"
"Vya udah mau pulang kok Pi. Mas Dafin ada urusan jadi tadi dia pergi menemui temannya."
"Jadi kamu pulang sendiri? Biar Papi telpon Dafin untuk jemput kamu." Damar khawatir pada Navya.
"Gak apa-apa Pi, lagian Vya udah di jalan nih. Papi tenang aja ya, sebentar lagi Vya sampai kok. Udah ya Pi, Vya lagi nyetir."
" Ya udah, kamu hati-hati ya Nak." Lalu Navya mematikan sambungan telponnya. Navya melajukan mobilnya tidak terlalu kencang karena dia sedikit lelah sebenarnya. Dari pagi dia mengurus beberapa keperluan acara, dan sekarang ia harus menyetir sendiri.
Navya tidak tahan, dia terlalu lelah, kepalanya pusing. Jika dia melanjutkan perjalanan nya akan sangat berbahaya, akhirnya dia berhenti sebentar dipinggir jalan, tempat itu memang tidak terlalu ramai tapi Navya memilih tempat dengan pencahayaan yang cukup terang. Memejamkan matanya sebentar sambil menyandarkan kepalanya. Tiba-tiba ada suara yang ketukan yang tidak sabaran dari luar mobilnya dia berfikir ada orang yang ingin berbuat jahat padanya. Dia belum membuka pintu, menajamkan pandangannya untuk melihat dengan jelas siapa orang yang mengetuk kaca mobilnya.
__ADS_1
"Pak Alvi? Kok ada disini?" Lalu Navya buru-buru membuka pintu mobilnya.
Merasa panik, Alvi langsung memegang bahu Navya begitu dia keluar dari mobilnya. "Kamu kenapa ? Kamu gak apa-apa kan ? Kenapa tiba-tiba berhenti di sini?"
"Ehhmm... itu pak,,, saya agak pusing dan ngantuk. Saya pikir mau istirahat sebentar saja."
Alvi menurunkan tangannya pada bahu Navya "Saya sudah bilang kan sama kamu, jangan pulang sendiri. Kamu pasti kelelahan."
"Ayo saya antar kamu pulang!" Alvi menarik tangan Navya tanpa menunggu jawaban Navya.
"Ta.. tapi Pak..." Navya masih ingin menolak.
"Jangan membantah saya Navya !" Alvi tampak sedikit marah. Karena Navya tidak mau mendengarkan dia. Navya hanya bisa menuruti, karena Alvi terlihat marah.
Navya sudah duduk di dalam mobil dengan Alvi yang menyetir. Sementara mobil Navya di bawa oleh supir Alvi. Navya tidak berani bicara, sesekali dia melirik Alvi, wajahnya masih datar. Terlihat sekali tadi dia sangat khawatir pada Navya. Tapi kenapa dia jadi marah begitu. Navya bukan siapa-siapa, hanya seorang asisten.
"Maaf tadi saya bentak kamu. Saya terlalu cemas, saya pikir telah terjadi sesuatu sama kamu."
"I..iya pak. Gak apa-apa. Saya minta maaf sudah merepotkan Bapak. Tapi kenapa Bapak bisa ada di sekitar sini?"
"Saya... hanya kebetulan lewat." Navya tidak berani bertanya lagi, karena itu menyangkut privasi bosnya.
Setelah tiga puluh menit mereka tiba di rumah Damar Wijaya. Satpam membukakan gerbang saat melihat Navya. Dua mobil itu memasuki pelataran rumah Damar. Mereka sama-sama keluar dari mobil itu. "Terimakasih sudah mengantar saya Pak."
"Hmm.. sama-sama. Kalau kamu masih belum fit, besok kamu tidak udh masuk."
"Gak kok Pak, saya bisa kerja besok."
"Gak apa-apa, kamu boleh cuti besok. Saya juga harus ke gedung pusat besok pagi, kamu bisa atur ulang jadwal saya dari rumah saja. Kalau ada yang ingin d bicarakan kamu bisa telpon saya."
"Baiklah... Terimakasih sekali lagi ya Pak. Bapak sudah baik banget sama saya."
" Gak masalah... ya sudah kamu masuk dan istirahat. Saya permisi." Supir Alvi memberikan kunci mobil Navya padanya sebelum dia membukakan pintu mobil dan Alvi masuk ke dalamnya.
" Hati-hati Pak." Alvi membalasnya dengan tersenyum. Kemudian mobil itu melaju keluar dari gerbang rumah Navya.
__ADS_1
Bersambung