
Navya sudah tertidur pulas, Dafin mengecup keningnya agak lama. Mengungkapkan rasa bersalahnya tanpa suara. Jika ingin jujur pada dirinya sendiri, dia menyayangi gadis itu.
Dari tadi Hana mencoba menelpon Dafin, tapi tidak ada jawaban darinya. Tanpa sengaja ponselnya tertinggal di atas meja bar dapur. Saat itu dia sedang berkirim pesan dengan Hana, tiba-tiba Navya pulang dan Dafin meninggalkan benda pipih itu di sana untuk bicara dengan istrinya.
Dia baru ingat saat keluar dari kamar. Sudah beberapa jam dari saat berbicara dengan Navya baru dia ingat ponselnya tidak ada di dekatnya.
Banyak sekali panggilan dan pesan singkat dari Hana. Ada satu pesan yang membuat Dafin bingung, apakah dia harus menemui Hana dan meninggalkan Navya atau tidak.
"Aku tunggu kamu di taman kota, aku akan menunggu kamu di sini sampai kamu datang."
Melihat jam di tangannya, sudah jam sepuluh malam. Yang benar saja, Hana masih di sana malam-malam begini. Tau bagaimana keras kepalanya Hana, dia tidak main-main dengan ancamannya maka Dafin memutuskan untuk pergi. Sebelumnya dia ke kamar untuk mengambil jaket dan melihat keadaan Navya. Setelah yakin bahwa gadis itu sudah terlelap di alam mimpinya, Dafin keluar dari rumah menuju ke tempat Hana menunggu.
Mobil membelah jalanan yang sudah tidak begitu ramai, hingga Dafin bisa memacu kuda besinya agak kencang agar secepatnya sampai di taman kota.
Mencari-cari di sekitar taman kota, akhirnya Dafin mengehentikan mobilnya saat melihat seseorang yang ia kenali sedang duduk sendirian di bawah temaram lampu taman. Gadis itu berdiri saat menyadari Dafin berjalan mendekat ke arahnya. Tanpa bicara apapun dia langsung memeluk erat lelaki itu.
"Aku tau kamu datang, kamu pasti datang. Kamu sangat mencintai aku."
Dafin hanya diam tidak menjawab, dia mengurai pelukan itu. Membuat orang yang ada di depannya bingung. Ternyata Dafin melepaskan jaketnya lalu memakaikannya di tubuh Hana. Sikapnya membuat Hana yang tadinya berfikir Dafin kesal padanya, kini tersenyum senang. Bangga sebab ia masih bisa memenangkan hati Dafin.
Memakaikan jaket dengan sempurna lalu menyentuh kedua bahu gadis itu agar melihat ke arahnya. Raut wajah Dafin masih menyisa kekhawatiran. "Bisa tidak kamu jangan membuat orang khawatir? Sudah jam berapa ini, kamu masih nekat keluar sendirian. Kalau terjadi sesuatu pada kamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
Hana menjawab semua omelan yang keluar dari mulut Dafin dengan senyuman. Kekhawatiran Dafin menjadi tujuan utama nya saat merencanakan keluar dari apartemen tadi. Kali ini Dafin yang memeluk dirinya lebih dulu, Hana semakin besar hati. "Berjanjilah, jangan seperti ini lagi. Aku bisa gila kalau kamu kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Aku minta maaf. Aku salah. Tadi kamu langsung tidak membalas pesanku ataupun mengangkat telepon. Jadi aku pikir kamu tidak peduli lagi dengan perasaan ku. Aku takut kamu meninggalkan aku."
"Kamu tau kan Han, aku tidak bisa melihat kamu terluka. Tolong jangan berbuat aneh-aneh lagi. Oke?!" Hana mengangguk dalam pelukan Dafin. Sementara lelaki itu mengusap rambut Hana lembut.
"Kita pulang ke apartemen sekarang. Kamu pasti belum makan."
"Tapi kamu temani aku ya. Aku mau sama kamu malam ini."
Dafin masih ragu untuk menuruti, tapi dia benar-benar tidak tega meninggalkan Hana sekarang.
Flashback On
Tadi sebelum pulang ke rumah setelah bicara dengan Papi, dia menemui Hana terlebih dahulu. Hana tidak henti beratnya apa benar Damar tau soal hubungan mereka, apa yang akan terjadi jika seluruh anggota keluarga tau, bagaimana mereka akan menilai Hana nanti. Yang mereka tau Hana adalah wanita perebut suami orang yang tidak lain adalah adik angkatnya.
"Dafin, gimana kalau Papi kamu benar-benar tau?"
"Berkat Ega, Papi tau semuanya "
"Tuh kan.. Gimana kalau sampai terdengar sama Tante Finny??"
"Han, tenang dulu..." Dafin mencoba menenangkan tapi tetap saja Hana yang panik.
"Aku bisa-bisa di anggap sebagai pelakor. Padahal aku tidak pernah merebut kamu dari siapapun. Kita sudah saling mencintai sejak dulu, sebelum kamu menikah dengan Hana."
__ADS_1
"Hana!!!! Kamu bisa tenang dulu kan!!" Di bentak oke Dafin membuat Han langsung terdiam. Kali pertama Dafin membentak dirinya. "Aku juga pusing. Sekarang bukan cuma Papi, Navya juga sudah tau. Dan semua gara-gara kamu, seandainya kamu sabar sedikit saja. Jangan selalu menempel di kantor, Ega gak akan curiga."
Saat itu hati Hana sakit sekali, Dafin melimpahkan semua kesalahan padanya. Tanpa bicara dia keluar dari ruangan Dafin. Dafin menyesali perbuatannya, kenapa Hana jadi sasaran kemarahan nya. Apa sebenarnya yang dia mau. Bergegas menyusul Hana, namun terlambat gadis itu sudah tidak berada di meja kerjanya. Datang ke apartemen juga tidak ada hasil, Hana tidak ada di sana dan Dafin memutuskan pulang ke rumahnya.
Bersusah payah Dafin menghubungi nya hingga akhirnya Hana mau membalas pesannya, tapi percakapan mereka lagi-lagi terputus karena saat itu Navya pulang ke rumah.
Flashback Off
Ingatan tentang sikapnya yang agak keras pada Hana siang tadi sehingga gadis itu sakit hati, membuat Dafin merasa bersalah. Mau tidak mau harus menuruti keinginannya sekarang.
"Oke, aku akan sama kamu. Kita ke apartemen sekarang, aku akan pesan makanan untuk kita."
Dan mereka pun berlalu dari sana.
Sepasang mata menyaksikan interaksi antara Dafin dan Hana malam itu. Dia tersenyum miris, menertawakan dirinya. Dia bodoh atau apa, bisa-bisanya dia ingin bertahan dan berjuang sementara yang diperjuangkan hanya bisa melihat orang lain di matanya.
Masih berdiam diri di tempat pertama kali dia datang. Sedangkan orang yang ia ikuti tadi sudah tidak ada lagi di sana. Sudah berlalu beberapa saat yang lalu bersama insan lainnya. Rintik hujan turun, tapi dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Membiarkan hujan menerpa wajah dan tubuhnya, agar dapat menyembunyikan tangisnya.
"Mas Dafin jahat. Harusnya kamu sudah tau Navya, tapi kenapa kamu harus mencintai dia. Bukan dia yang jahat, tapi kamu yang bodoh." Dia mengutukku dirinya sendiri.
Navya sudah menggigil kedinginan, dia tidak lagi berdiri. Kakinya gemetar, hanya berjongkok di sana sambil membenamkan wajah di kedua lututnya. Bagaimana dia bisa pulang, bagaimana bisa menyetir mobil sendiri, selain tubuhnya lemas dan tak bertenaga, hatinya juga sedang terluka.
Dalam ketidakberdayaan Navya, tiba-tiba ada dua orang laki-laki datang menghampirinya dalam kegelapan dan derasnya hujan. Navya sudah tak sadar, tidak lagi bisa menopang tubuhnya. Dia terjatuh dan tepat pada waktunya salah seorang laki-laki itu menangkap tubuhnya dan memapah nya ke dalam mobil.
__ADS_1
Bersambung