
Hana dan Bu Sarah sudah sampai di apartemen. Sarah membawa Hana duduk di sofa. Dia baru kali pertama datang ke apartemen mewah itu. Masih merasa asing, tapi dia memberanikan diri masuk ke dapur dan mencari sesuatu untuk di minum. Akhirnya dia menemukan dispenser air dan gelas di meja bar.
Sarah belum bertanya apapun pada Hana. Dia ingin Hana sendiri yang akan menceritakan semuanya. Dia hanya mengambilkan air minum untuk gadis itu. Lalu duduk di sebelahnya.
"Kamu minum dulu ya." Mengangguk dan meminumnya.
Untuk beberapa menit selanjutnya, hanya suara detik jarum jam yang terdengar di ruangan itu.
"Pasti Ibu kecewa pada Hana."
Sarah masih diam. Belum sampai pada poin dimana dia harus bicara.
"Hana melakukan hal-hal yang berbalik dari apa yang sudah di ajarkan oleh Ibu selama ini."
"Tapi apa Hana salah Bu? Hana menginginkan sebuah keluarga, ingin di cintai seseorang yang Hana juga cintai." Tangisnya pecah lagi.
"Sejak awal Hana sudah menyukai Dafin Bu. Hana tulus menyayangi Dafin, tapi rasa sakit hati Hana pada ibunya dan Navya membutakan Hana. Setiap hari dia menceritakan kekesalannya pada Navya, pada ibunya nya yang lebih memperhatikan Navya." Hana menceritakan dengan nada penyesalan.
"Hal itu membuat Hana kesal, karena Hana juga tidak suka melihat Dafin sedih. Hana merasa beruntung Dafin menjadi lebih dekat dengan Hana. Hana berhasil membuat Dafin lebih peduli dengan Hana, dan semakin membenci Navya."
Berhenti sebentar, menetralkan emosinya untuk melanjutkan ceritanya.
"Bahkan ketika Dafin kuliah di luar negri pun, Hana tidak mau melewatkan komunikasi dengan Dafin agar rasa bencinya tidak berkurang untuk Navya."
"Tanpa sadar, Hana merencanakan balas dendam untuk Navya dan Tante Finny. Apalagi saat Tante menikahkan mereka berdua. Hana biarkan mereka menikah, tapi Hana minta Dafin meninggalkan Navya setelah berhasil membuat Navya jatuh cinta. Biar mereka merasakan kecewa seperti yang Hana rasakan."
"Hana mengikat Dafin, dengan memintanya menikahi Hana." Kali ini Sarah terkejut. Tidak menyangka Hana sampai di tahap itu. Tapi dia juga tidak menyela cerita gadis itu.
"Maafkan Hana Bu. Maafkan Hana yang sudah mengecewakan Ibu. Sekarang Hana menerima hukuman nya secepat ini, Dafin malah membenci Hana." Hana menangis lagi menyesali perbuatannya yang membuat Dafin membencinya. Menangis di pelukan Sarah sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
Sarah sudah tidak sanggup menahan, dia juga merasakan sakit yang Hana rasakan. Dan luka itu berasal darinya. Dia juga menangis.
"Maafkan Ibu Nak. Maafkan Ibu dan Bapak." Kata-kata itu membuat Hana menatap pada Sarah sepenuhnya. Kenapa Ibu menangis. Apa maksud nya Ibu yang salah.
"Dulu saat Ibu Finny datang untuk menjemput Navya, dia juga berniat untuk membawa kamu Nak. Ibu Hafizah yang menyerahkan kamu padanya, tujuan kedatangan Ibu Hafizah ke rumah keluarga Pak Damar adalah untuk membawa identitas kamu. Agar mereka bisa mengenal kamu lebih baik. Tapi kecelakaan itu terjadi, beliau hanya menemukan dokumen dan foto kamu yang mereka yakini adalah pilihan Bu Hafizah sebagai calon anak angkat mereka.
Saat itu Bu Finny belum mengenal kamu, tapi dia yakin dengan keputusan sahabatnya. Kamu pasti adalah anak yang manis dan baik hati, akan cocok jika menjadi putrinya. Tapi Ibu dan Bapak yang mengatakan untuk jangan membawa kamu pada hari itu, makanya dia hanya membawa Navya saja.
Flash back On
"Dimana Hana, Bu Sarah?" Sore itu keluarga Finny dan Damar datang, Navya dan Dafin juga turut bersama mereka.
Sarah mulai gelisah. Dia sudah tau bahwa Hana akan di adopsi oleh Finny, Hafizah pernah mengatakannya. Ia pikir setelah Hafizah dan Wisnu meninggal, maka rencana itu batal karena Finny juga akan memenuhi janji untuk menjaga Navya. Tapi ternyata Finny tidak bisa melepaskan tanggung jawab soal Hana, dia sudah berniat mengadopsi Hana maka dia juga akan membawa Hana pulang ke rumah nya.
"Hana sedang ada di belakang Bu." Mereka menuju taman belakang. Terlihat Hana bermain denah Dafin. Anak laki-laki itu hanya duduk saja, tapi dia terlihat tersenyum saat Hana menceritakan sebuah lelucon padanya.
"Mereka terlihat akrab, ku harap Dafin bisa terima saat tau Hana akan menjadi saudara nya nanti."
"Sayang...?" Damar tiba-tiba datang bersama Pak Yamin, suami Hana. Di tangan Damar memegang sebuah kertas. "Kita harus bicara."
Semakin cemas wajah Sarah. Dia takut nanti Finny akan tetap membawa Hana bersama mereka.
Pak Yamin membawa mereka duduk di ruang tengah. Damar memberikan kertas yang ia pegang tadi kepada istrinya. Finny terkejut, dia memandang haru Sarah yang ada di depannya.
Sarah menunduk, tidak kuasa menahan tangisnya. Begitu juga Yamin yang mengusap bahu istrinya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kami menyesal Bu, Kami mencoba melamar pekerjaan di panti asuhan ini beberapa tahun yang lalu. Agar kami bisa melihat tumbuh kembang nya, bisa ikut merawatnya.
Bersyukur Pak Wisnu menerima saya dan suami saya untuk membantu Bu Hafizah melakukan pekerjaan rumah dan menjaga anak-anak Panti. Tapi kami tidak berani mengatakan semuanya pada Pak Wisnu." Sarah bicara dengan terbata-bata diiringi dengan suara tangisnya.
__ADS_1
"Karena jika kami mengatakan dia adalah anak kami, kami takut Hana tidak boleh tinggal di sini lagi. Sementara kami tidak punya biaya untuk merawatnya." Yamin menambahkan sambil meremas jari-jarinya.
Finny melihat suaminya, Damar mengangguk sambil tersenyum. Meyakinkan Finny bahwa dia tidak boleh egois. Hana akan lebih bahagia bersama kedua orangtuanya.
"Kenapa harus minta maaf. Kalian lebih berhak atas dirinya." Sontak mereka berdua melihat Finny bersamaan.
"Aku bersyukur, kalian masih menyimpan rasa sayang dan kepedulian pada anak kalian. Ya, mungkin keadaan ini berat baginya, dia pasti pernah berpikir bahwa orangtuanya tidak menyayangi nya sampai-sampai dia berada di sini. Tapi suatu saat kalian harus mengatakan kebenaran. Tidak baik membuat dia terus-terusan salah paham."
"Baik Pak... Terimakasih banyak."
"Kami tidak akan membawa Hana bersama kami. Hana akan lebih baik tinggal di sini bersama kalian. Tapi aku harus menepati janjiku pada sahabat ku, Navya akan ikut bersama kami."
Hana kecil yang tiba-tiba datang dan mencuri dengar sepenggal pembicaraan itu merasa kecewa. Dia sudah menyiapkan baju-bajunya yang akan ia bawa ke rumah keluarga barunya.
Tapi apa yang terjadi, apa yang ia dengar barusan. Hilang sudah senyum di bibirnya, dia berlari ke kamar, menangis. Dafin yang baru saja tiba di sana bingung, kenapa Hana menangis.
Dari awal Dafin sama sekali tidak tau bahwa Ibunya akan mengadopsi seorang anak dari Panti Asuhan itu. Jika saat itu Hana pun ikut ke rumah nya, bisa jadi sikap Dafin juga akan sama sebagaimana dia memperlakukan Navya. Itu yang tidak pernah di sadari oleh Hana.
"Tapi kami tidak akan melepaskan tanggung jawab soal masa depan Hana. Biarkan kami menanggung semua biaya pendidikan Hana, dia akan bersekolah di tempat yang sama dengan Dafin. Sampai dia mau kuliah di tempat yang ia pilih, biarkan kami yang menanggung semua biayanya."
"Tapi kalian jangan pernah katakan apapun, biar dia berpikir kalian yang sudah berusaha untuk dia dengan di bantu oleh donatur."
"Agar dia melihat jasa kalian sebagai orang tua yang berjuang untuknya."
Tangis haru Sarah dan Yamin pecah lagi. Mereka sangat bersyukur, di antara sekian banyak dosa yang telah merek lakukan karena telah menelantarkan anak mereka, masih ada kebaikan yang Tuhan persembahkan untuk anak mereka melalui tangan orang-orang yang baik.
Tak lupa dalam hati mereka juga berterima kasih pada Almarhum Wisnu dan istrinya yang sudah sangat sayang pada Hana. Berencana memilihkan orang tua angkat yang sangat baik untuk Hana. Mungkin jika Finny tetap bersikeras membawa Hana, mereka tidak akan menyesal. Sebab Damar dan Finny adalah orang-orang yang baik dan tulus. Sama seperti Wisnu dan Hafizah.
Flashback Off
__ADS_1
Bersambung