Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Saya ada di sini


__ADS_3

Navya sudah berada di sebuah pantai yang ada di kota itu. Dia duduk di meja kafe dengan latar belakang pemandangan pantai yang indah kemudian memesan jus buah. Beberapa kali dia mengambil foto. Sebenarnya dia merasa iri, bukan hanya satu dia melihat beberapa pasangan kekasih sedang asyik berjalan berdua dipinggir pantai, duduk berdua sambil menikmati eskrim atau sekedar duduk di sana untuk menikmati pemandangan. Sepertinya mereka juga pasang yang sedang berbulan madu. Sementara dirinya datang ke sini bersama suami namun hanya berjalan-jalan sendirian. Sejak dia turun dari taksi ada seseorang yang mengikuti dirinya, namun dia tidak menyadari. Setelah menghabiskan jus, dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di pinggir pantai. Pantai itu tidak terlalu ramai, karena mereka datang bukan saat liburan ataupun weekend. Tanpa dia sadari tangannya di tarik oleh seorang, kemudian berusaha merampas tas miliknya.


"Tolong... " Navya berusaha melepaskan cengkraman tangan orang itu dengan menggigit nya. Tangannya terlepas namun tas nya masih di pegang oleh lelaki tidak dikenal itu. Tiba-tiba lelaki itu terjerembab jatuh, sebuah pukulan menghantam wajahnya dengan keras. Kemudian tubuh itu menarik Navya ke belakang nya dan memberikan pukulan lagi pada perampok tersebut.


"Beraninya kau menyentuh nya!!"


Sementara Navya menangis karena takut dan terkejut. Beberapa orang dan petugas keamanan datang karena melihat keributan tersebut. Petugas mengamankan orang yang berniat merampok Navya.


"Kami akan bawa dia ke pos Pak." Alvi mendengar Navya sesenggukan, kemudian beralih pada gadis tersebut.


"Kamu baik-baik saja kan?" Alvi memegang kedua bahu Navya dengan khawatir. Tanpa menjawab apapun gadis itu refleks memeluk penyelamat nya, sangat terkejut dengan kejadian yang dia alami barusan. Alvi bisa merasakan debaran jantung gadis itu sangat kuat dan tubuhnya bergetar, dia mencoba menenangkan Navya dengan menepuk bahunya. Tangisan itu mengingatkan dirinya pada saat dia menemukan Navya 20tahun lalu, juga sedang menangis menahan sakit di kakinya yang terluka akibat terjatuh.


"Gak apa-apa, ada saya di sini. Kamu tenang ya." Perlahan Navya melepaskan pelukannya, sudah tidak menangis namun tubuhnya masih bergetar. Alvi memapahnya untuk duduk di sebuah kursi di kafe yang tidak jauh dari sana.


"Kamu minum dulu ya..." Memberikan botol air mineral yang sudah dia buka tutupnya. Navya masih diam, namun menuruti apa ya yang Alvi katakan. "Navya..." Alvi memberanikan menggenggam tangannya yang masih bergetar, mencoba memberikan ketenangan padanya. Hal itu membuat pandangan Navya sepenuhnya beralih padanya "Sudah jangan khawatir, saya ada di sini sama kamu."


"Saya takut Pak, saya gak tau dia datang dari mana langsung menarik tangan saya...."


"Sudah jangan di ingat lagi, yang penting kamu sekarang tenangkan diri kamu dulu." Navya mengangguk, berusaha untuk tenang menetralkan deru nafasnya.


"Sebentar saya akan menghubungi Ryan." Saat Alvi hendak berdiri, Navya menarik baju Alvi dan membuat langkah lelaki itu terhenti.


"Di sini saja Pak." Masih terlihat sisa kekhawatiran di wajah nya, membuat nya tidak tega meninggalkan Navya walaupun hanya sebentar. Kemudahan dia duduk lagi di samping gadis itu. Dia menelpon Ryan dan memberikan perintah untuk menangani pelaku yang mencoba merampok Navya.


Cukup lama mereka duduk di sana, sampai Navya benar-benar merasa tenang. "Kamu sudah baikan?" Yang hanya di balas anggukan saja oleh Navya.


"Sudah menghubungi Dafin ? Atau mau saya yang mengabari nya ?"


"Jangan Pak!" Hampir seperti berteriak, bahkan dia juga terkejut dengan intonasi suaranya sendiri. Membuat Alvi sedikit heran dengan sikapnya. "Hmm maksud saya, jangan beritahu Mas Dafin Pak. Takutnya dia khawatir. Lagipula dia sedang ada pekerjaan di sini, saya gak mau ganggu."


"Tapi kamu kan istri nya. Dia harus tau kabar kamu."


"Gak usah Pak, lagian saya juga gak apa-apa. Bapak udah nolongin saya tadi. Janji ya Pak, jangan beritahu Mas Dafin."

__ADS_1


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi saya minta sama kamu, lain kali kamu harus hati-hati. Jangan keluar sendirian apalagi di daerah asing begini."


"Iya Pak, terimakasih karena Bapak sudah tolong saya tadi."


"Itu sudah kewajiban saya. Sekarang kamu kamu kemana? Biar saya temani kamu. Kamu mau ke pusat oleh-oleh kan?"


"Emangnya bapak gak sibuk?"


"Saya bisa atur ulang jadwal saya kalau kamu sudah masuk kerja nanti."


"Baik Bos.." Navya menjawab sambil tersenyum. Dia sudah merasa tenang, bersyukur ada Alvi yang datang menolong nya tadi. Tapi kenapa bisa tiba-tiba ada Alvi di sana?


"Oh ya Pak, bapak ngapain di sana tadi ?" Mereka sudah berjalan menuju pusat penjualan oleh-oleh dan souvernir.


"Tadinya saya ada janji dengan seseorang, kebetulan saya lihat kamu di sana." Bukan dirinya sekali jika harus berbohong, tapi tidak mungkin kan dia mengatakan bahwa dia mengikuti Navya ke sana.


"Oh begitu... sekali lagi terimakasih ya pak sudah nolongin saya."


"Maksudnya, Bapak minta balasan ?" Navya terkejut, kenapa Alvi jadi perhitungan seperti ini.


"Pintar sekali. Ayo ikut saya." Alvi meminta gadis itu mengikuti dirinya. Mereka masuk ke sebuah toko souvernir elit yang menjual berbagai macam kerajinan dan perhiasan. Alvi berhenti pada sebuah etalase yang memajang perhiasan dari mutiara.


"Kamu bantu saya memilih mana yang paling bagus."


"Bapak mau kasih buat orang spesial ya ?"


"Hmmm.. ya .. bisa dibilang begitu."


Butuh waktu beberapa menit untuk Navya memilih mana yang menurutnya bagus. Dan akhirnya dia memilih sebuah kalung dengan hiasan berbentuk hati yang di apit mutiara di kanan dan kirinya. Namun saat melihat harga nya, Navya ingat tujuan Alvi membawa dirinya ke sini untuk meminta balasan karena sudah menolong dirinya di pantai tadi.


"Eh,, Tapi saya gak punya uang cukup untuk bayarin perhiasan ini Pak." Mulai terserang panik.


Alvi tergelak sambil geleng-geleng kepala, kemudian dia menepuk kepala Navya pelan. "Kamu itu polos sekali. Siapa juga yang menyuruh kamu untuk membayar."

__ADS_1


"Saya mau yang ini ya Mbak. Tolong di packing yang cantik" Perintah nya kepada seorang pramuniaga toko. Setelah melakukan pembayaran mereka keluar dari toko tersebut.


"Saya masih punya permintaan ke kamu, tapi sebelum itu saya akan temani kamu membeli oleh-oleh."


"Memangnya apa lagi pak?"


"Temani saya makan. Saya lapar, tadi belum sarapan." Alvi bicara sambil memegang perut, bergaya seperti anak-anak ayang sedang meminta makan pada ibunya.


Navya merasa lucu, dia tidak menyangka seorang Alvian Mahendra yang cool bisa bertingkah menggemaskan begitu. "Oke oke, saya akan temani bapak makan setelah ini. Saya janji belanjaannya tidak akan lama."


Navya membeli banyak sekali souvernir dan oleh-oleh khas daerah itu. Untuk Mami Papi, anak-anak Panti dan keluarga Bu Sarah juga untuk teman kantornya. Pelayan toko menyerahkan tiga buah paperbag besar pada nya yang langsung di ambil oleh Alvi.


"Loh, Pak biar saya aja." Navya mencoba mengambil nya dari Alvi.


"Saya saja, ini lumayan berat. Kamu bawa yang ini." Dia memberikan satu paperbag yang paling kecil pada Navya.


"Tapi kan...."


"Ayo pergi, saya lapar!" Dengan nada mode perintah saat di kantor, Alvi meninggalkan Navya yang masih ingin mengatakan sesuatu. Navya tidak bisa bicara apa-apa lagi selain menurut saja pada Alvi. Sebuah senyuman terbit di bibir lelaki itu tapi Navya tidak menyadari, dia merasa seperti seorang yang sedang berjalan-jalan bersama kekasihnya. Hanya saja Navya tidak menggandeng tangannya. Hal itu saja sudah membuat hatinya senang.


Epilog


"Yan, jangan lupa kamu foto kebersamaan saya dengan Navya."


"Baik Bos"


"Setelah kamu kirimkan semua fotonya ke saya, kamu hapus dari ponsel kamu!!!!!"


"Baik Bos"


Isi pesan Alvi kepada pengawal pribadinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2