Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Luka Tak Berdarah..


__ADS_3

Kecemburuan Dafin pada Alvi dan Navya membuat Hana yang harus menanggung akibatnya. Dia merasa lelah sekali hari ini, selain harus membereskan kekacauan yang Dafin buat karena tiba-tiba menunda meeting dia juga sangat kecewa dan sakit hati.


Bahkan sejak tadi Dafin menelpon nya, dia tidak mengangkatnya. Kepalanya pusing sekali. Tidak tau bagaimana akan menghadapi pria itu, jika harus marah dia sudah tidak sanggup saat ini. Hana memilih kembali ke Panti Asuhan. Sudah lama juga dia tidak ke sana. Mematikan ponselnya yang dari tadi tidak berhenti berdering, lalu dia mencari taksi.


Setelah membeli berbagai macam makanan dan kebutuhan sehari-hari untuk adik-adiknya di Panti, Hana pergi dengan taksi.


Dafin yang cemas karena Hana tidak juga mengangkat teleponnya, segera melaju menuju apartemen wanita itu. Padahal Hana sama sekali tidak kembali ke sana setelah keluar dari Kafe. Mencoba lagi menelpon walaupun hasilnya nihil, ponselnya masih tidak aktif.


"Hana, kemana kamu..!?"


Berjam-jam mencari Hana, akhirnya Dafin memutuskan untuk pulang dan berencana menemui gadis itu besok pagi. Sebelum turun dari mobil, dia berusaha untuk membuat dirinya tenang. Jangan sampai Navya menyadari kekhawatiran di wajahnya.


"Mas udah pulang? Mau makan atau mandi dulu?"


Dafin tersenyum sambil berjalan ke arah Navya, dengan satu tangan ada di dalam kantong celananya.


"Mas kenapa senyum-senyum begitu?"


"Kamu tutup mata dulu."


Navya menurut saja, lalu Dafin mengambil tempat di belakang Navya. Membuka sebuah kotak kecil dan memakaikan kalung dengan inisial 'D' di leher Navya. Jelas saja membuat gadis itu terkejut dan refleks membuka matanya.


"Apa ini Mas?"


Tanpa menjawab, Dafin menarik Navya ke dalam kamar dan membawa nya berdiri di depan cermin.


"Kamu suka?" Mereka saling menatap lewat pantulan cermin di depannya. Namun Navya masih terlihat bingung dan tidak menjawab pertanyaan Dafin. Dafin kemudian membalikkan tubuh Navya untuk menghadap ke arah dirinya.


"Kenapa? Kamu gak suka?"


"Bukan gitu. Kalung nya bagus. Cuma kenapa inisial nya 'D' ?"


"Terus?? Kamu mau inisial 'A' ?" Wajah Dafin sengaja di buat cemberut.


"Hah?? Kenapa jadi A?"


"Alvian." Katanya pelan tapi masih tertangkap pendengaran Navya.


"Ha..ha...ha.. Ooo... jadi itu maksudnya 'D'." Tawa Navya malah membuat Dafin malu. Dia berlagak marah dan ingin keluar kamar tapi Navya menarik tangan lelaki itu lalu memeluknya dari belakang.


"Makasi ya Mas." Dafin tersenyum dalam diam, membiarkan posisi mereka tetap seperti itu untuk beberapa saat. Kemudian dia berbalik dan menatap Navya.


"Aku minta maaf. Kamu mau kan memaafkan aku?"


"Iya, Vya maafkan Mas."


Dafin kemudian mendaratkan ciuman di bibir Navya. Menyalurkan perasaannya, rasa cinta dan rasa bersalah.


***


Pagi-pagi sekali Dafin sudah berangkat, beralasan pada istrinya ada meeting pagi di kantor. Tujuannya ingin datang lebih awal ke apartemen Hana. Namun tidak ada siapapun di dalam apartemen itu. Lampunya juga mati, karena memang dia tidak kembali dari kemarin. Dafin memutuskan langsung ke kantor dengan harapan akan bertemu Hana di sana.


Dafin terburu-buru masuk ke dalam lift, mengira Hana sudah ada di kantor. Saat dia sudah ada sampai di atas dan melihat meja kerja Hana, tidak sosok yang dia cari. Meja nya juga masih rapi.


"Selamat Pagi Pak?"

__ADS_1


"Pagi Ga.." Ega datang menghampiri dirinya.


"Apa Bapak mencari Hana, bukannya izin tidak masuk kerja selama tiga hari ke depan."


"Apa?"


"Iya Pak. Bukannya dia sudah memberi tahu? Kan biasanya dia meminta izin langsung kepada Bapak.."


"Oh, iya... saya lupa."


Dafin langsung masuk ke dalam ruangan nya. Kembali dia mencoba menghubungi ponsel Hana, namun tetap saja belum aktif. Dia mengingat-ingat lagi tempat dimana Hana akan pergi selain kantor dan apartemen. Sampai akhirnya ada pesan masuk dari Navya.


"Mas, Minggu ini Vya boleh ke Panti gak? Udah lama Vya gak ke sana."


"Oh, ya..! Panti Asuhan." Segera dia menelpon Navya.


"Halo Mas?"


"Kamu mau ke Panti?"


"Iya. Kenapa Mas?"


"Kenapa gak sore ini saja? Biar aku yang antar ya. Nanti aku jemput kamu di kantor."


"Tapi Mas...." Dafin langsung mematikan telepon.


Sebenarnya Dafin tidak sabar ingin menyusul Hana, namun dia harus menunggu Navya pulang kerja. Dan alasannya adalah mengantarkan Navya. Jika dia ke sana tanpa alasan, maka orang-orang di sana akan curiga padanya.


***


"Mas Ryan?" Melihat Ryan yang duduk di sofa, sedang memeriksa beberapa laporan. Ada sebuah laptop yang terbuka dan beberapa map di atas meja.


"Ya, ada apa Mbak Navya?" Melihat sekilas dan langsung memalingkan wajahnya.


"Mas Ryan udah datang dari tadi?"


"Iya Mbak."


"Kalau saya boleh tau, Pak Alvi kemana ya?" Soalnya dari tadi belum datang, gak biasanya terlambat juga."


"Oh itu, tadi Bapak telepon saya, beliau bilang sedang tidak enak badan. Jadi kemungkinan hari ini tidak ke kantor." Ryan bicara tanpa melihat Navya sama sekali.


"Pak Alvi sakit?"


"Iya Mbak."


"Tapi kenapa gak mengabari saya ya."


"Saya gak tau Mbak. Saya pikir beliau sudah mengkonfirmasi ke Mbak Navya sebelumnya."


"Hmm... Mungkin karena hari ini tidak ada jadwal meeting dengan klien. Makanya beliau tidak mengabari saya."


"Kalau begitu saya permisi Mas Ryan."


"Iya Mbak."

__ADS_1


Kemudian Navya keluar dari ruangan Alvi. Dia merasa heran, kenapa Ryan tidak pernah mau memandang dirinya setiap kali mereka bicara. Ryan pasti menunduk atau menatap ke arah lain.


"Pak Alvi sakit apa ya. Apa kemarin dia terluka waktu di dorong Mas Dafin!?"


Karena merasa tidak enak, Navya memberanikan diri untuk menelepon langsung bos nya itu. Dalam deringan pertama sambungan itu langsung dijawab.


"Halo Navya..."


"Pak, maaf apa saya mengganggu Bapak?"


"Oh, enggak kok. Apa ada yang penting?"


"Enggak kok Pak. Cuma saya khawatir aja. Kata Mas Ryan, Bapak sedang sakit. Apa karena semalam?"


"Enggak. Saya hanya merasa tidak enak badan. Karena tidak ada meeting penting hari ini jadi saya memilih istirahat saja di rumah."


"Bapak yakin tidak apa-apa?"


Alvi terdengar tertawa kecil di seberang sana.


"Pak? Kok malah tertawa?"


"Saya senang kamu mengkhawatirkan saya. Tapi Saya benar-benar tidak apa-apa. Malah saya memikirkan kamu."


"Memikirkan saya?"


"Maksud saya apa kalian bertengkar? Dafin tidak menyakiti kamu kan?"


Duh, Navya jadi kangen Dafin kan sekarang. Bukannya bertengkar karena masalah semalam mereka malah jadi semakin dekat sekarang. Navya jadi senyum-senyum sendiri.


"Vya?"


Gadis itu sibuk membayangkan suaminya. Lupa kalau sedang bicara dengan Alvi.


"Navya?"


"Ya Mas Dafin."


"Kamu sedang bersama Dafin?"


"Hah?? Eh maaf Pak. Enggak kok, saya di kantor."


".........." Yang di sana menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Ada yang luka tadi tak berdarah.


"Pak...?"


"Hmm... Navya, saya Istirahat dulu ya. Kamu lanjutkan bekerja lagi."


"Siap Bos!! Semoga cepat sembuh Pak Bos.."


"Terimakasih Navya...."


"Sama-sama Pak..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2